Tiga bulan berlalu dengan cara paling biasa yang bisa dibayangkan: tidak ada kejadian besar, hanya banyak hari kecil yang dijahit satu sama lain. Radit belajar bahwa Tari menaruh sendok di wadah yang salah, dan Tari belajar bahwa Radit membaca satu halaman tiap malam dengan suara yang makin rendah sampai kadang berhenti di tengah kalimat, karena ia sendiri yang ketiduran lebih dulu. Mereka bertengkar dua kali, soal handuk dan soal siapa yang lupa mematikan lampu teras, dan dua kali pula Radit berkata "saya salah" sebelum Tari sempat mencari kalimat pembukanya. Satu kali Tari yang lebih dulu berkata "aku takut", dan Radit hanya menggeser kursi lebih dekat.
Sabtu pagi itu, Tari terbangun oleh bau yang dikenalnya.
"Mas." Ia menyembul dari balik pintu dapur dengan kerudung instan yang miring. "Itu telur?"
"Itu telur yang sedang berpikir," kata Radit, mengangkat wajan dengan ekspresi laki-laki yang membela anaknya. "Belum gosong. Hanya matang dengan serius."
"Mas janji tidak akan merah telinganya."
"Telinga saya normal." Ia menyentuh daun telinga kirinya cepat-cepat. "Itu karena kompor."
Tari mengambil spatula dari tangannya, mematikan api, dan memindahkan telur yang memang sedikit terlalu serius itu ke piring. Dari ruang depan terdengar bel berbunyi tiga kali, dua kali pendek dan satu panjang, bunyi yang hanya dipakai satu orang di dunia.
"Mama," kata mereka berbarengan.
Mama masuk lebih dulu dengan rantang bertingkat tiga di tangan kiri dan helm di tangan kanan, karena rupanya ia membawa Si Merah lagi dan menolak diantar siapa pun. Di belakangnya Nur, dengan gamis krem dan senyum yang sudah terbit sebelum pintu terbuka sepenuhnya, lalu Arif yang membawa kantong plastik berisi entah apa, lalu Danu terakhir, mendorong pintu dengan bahu, membawa kotak karton besar di dua tangan dengan wajah yang menahan kebanggaan.
"Martabak!" seru Danu. "Dari gaji! Gaji sendiri, bukan pinjam dari Mas Radit!"
"Danu belikan sejak Kamis," kata Nur. "Ia menyimpan uangnya di bawah bantal supaya tidak jajan."
"Bu, itu rahasia."
"Ibu tidak menyimpan rahasia anak yang sudah bekerja di bank."
Mereka duduk. Meja jati itu menampung semuanya dengan tenang: Radit di ujung, Tari di sisinya, Mama dan Nur berseberangan karena mereka ingin saling melihat, Arif dan Danu di sisi yang tersisa. Enam kursi. Enam orang. Tari menatap meja itu sebentar, lalu menatap Radit, dan tahu bahwa laki-laki itu sedang memikirkan hal yang sama, karena matanya melunak, hanya untuk satu detik.
"Papa tidak ikut?" tanya Radit.
"Papa memancing di empang yang dulu," kata Mama, membuka rantang dengan gerakan seperti membuka peti harta karun. "Ia berpesan, kalau menantunya masak telur, jangan dikomentari."
"Aku tidak masak," kata Radit, "aku memikirkannya."
"Bagus. Mikir saja sudah cukup."
Sarapan itu kacau dan hangat. Arif menceritakan sesuatu tentang ujian yang tidak ada yang mengerti. Danu menjelaskan cara mendeteksi uang palsu kepada Mama yang sama sekali tidak bertanya. Nur dan Mama berebut menambahkan nasi uduk ke piring Tari, sampai Tari harus mengangkat tangan: "Cukup, Bu, Ma. Aku bukan dua orang."
Nur mengangkat sendok tinggi-tinggi, membuka mulut, dan menutupnya lagi. Ia memandang Tari dengan mata yang nyata sekali sedang menahan sesuatu.
"Ibu tidak bertanya," kata Nur, lebih cepat dari yang perlu.
"Aku tahu, Bu."
"Ibu hanya mau bilang, tepung bayi yang dulu itu sudah Ibu pakai bikin bubur untuk Danu waktu flu, jadi tidak ada urusan lagi."
"Bu!" seru Danu.
Tari tertawa sampai harus memegang tepi meja. Radit, di ujung, menunduk dalam-dalam, bahunya bergetar, dan baru ketika ia mengangkat wajah, Tari melihat bahwa matanya basah oleh tawa, bukan oleh sedih.
"Kalian ini," kata Mama, menyeka mata sendiri dengan serbet. "Besan, kita akhirnya sampai di sini, ya."
"Sampai di sini, Besan."
Pukul sebelas, ketika tamu terakhir berpamitan, Mama memeluk Tari agak lama di ambang pintu. "Kamu bahagia, Nak?"
"Bahagia, Ma. Bukan tanpa takut. Tapi bahagia."
"Itu bahagia yang bisa dipercaya." Mama menepuk pipinya, lalu menepuk pipi Radit juga, yang membeku karena terkejut. "Dan kamu, makan yang banyak. Telurmu terlalu serius."
°°°°
Rumah kembali sunyi. Di dapur Tari mencuci gelas, Radit mengeringkannya, dan sinar matahari jatuh miring di atas meja jati, menyorot permukaan kayunya yang mulai punya bekas lingkar gelas dan satu goresan kecil, jejak sendok Danu.
"Tari."
"Ya?"
"Sebentar saja. Duduk."
Ia menurut. Radit tidak duduk. Ia berdiri di seberang meja, merogoh saku belakang celananya, dan mengeluarkan selembar kertas HVS yang dilipat empat. Kertasnya sudah lecek, jelas sudah dibawa-bawa beberapa hari. Ia membukanya, meratakannya di atas meja jati dengan telapak tangan, lalu menggesernya perlahan ke sisi Tari.
Di bagian atas, dengan huruf cetak yang rapi, datar, tidak berhias, tertulis:
100 Pertanyaan dari Radit
Tari membacanya sekali. Lalu sekali lagi. Lalu tawanya naik begitu saja dari dadanya, dan ia menutup mulut dengan telapak tangan karena sudah tidak bisa ditahan.
"Mas," katanya di antara tawa. "Mas serius?"
"Saya serius. Saya kerjakan tiga malam, setelah kamu tidur." Radit memandang kertas itu dengan wajah seorang murid yang menyerahkan tugas. "Saya baru menulis sepuluh. Sisanya saya cicil."
"Seratus pertanyaan itu bukan cicilan."
"Waktu itu kamu memberi saya seratus, dan saya menjawab semuanya sekaligus. Sekarang saya yang bertanya, dan saya tidak mau terburu-buru." Telinganya merah, kali ini sungguhan, dan ia tidak menyentuhnya. "Saya mau mengenal kamu seumur hidup. Itu tidak bisa selesai dalam satu kertas."
Tari menurunkan tangan dari mulutnya. Ia membaca nomor satu: Apa yang paling kamu takutkan pagi ini, dan apakah kamu mau mengatakannya? Nomor dua: Apa yang ingin kamu makan malam ini, tanpa perlu saya tebak? Nomor tiga: Kalau suatu hari saya salah, bagaimana caranya kamu mau diberi tahu bahwa saya menyesal? Pertanyaan-pertanyaan itu tidak punya jawaban yang indah. Semuanya sederhana, seperti orang yang menanyakan hal paling penting dengan suara paling biasa.
Pertanyaan nomor sepuluh, yang terakhir, ditulis dengan tulisan lebih kecil: Apakah rumah ini sudah terasa seperti rumah?
Tari menatap Radit lama, lalu menatap kertas itu, lalu dapur yang disinari matahari, meja jati dengan goresan sendok Danu, gelas-gelas yang tadi dicuci berdua, kursi-kursi yang tadi pagi penuh. Ia teringat seorang gadis di meja CS 02, yang terasa seperti seumur hidup lalu, yang menyodorkan kertas ke tangan seorang pemuda dan berpikir bahwa itu cara tercepat untuk tahu apakah seseorang akan pergi.
Ia tidak lagi membutuhkan cara itu. Tapi ia suka ada kertas ini di antara mereka, bukan untuk menguji, melainkan karena bertanya adalah satu cara untuk tetap tinggal.
"Mas," katanya. "Boleh pinjam pulpen?"
Radit mengeluarkannya dari saku kemejanya, pulpen hitam biasa, dan menyerahkannya dengan dua tangan.
Tari mengambilnya, menarik kertas lebih dekat, dan mulai menulis di samping nomor satu, dengan huruf kecil dan miring dan tidak sabar: Takut ditinggal sepi. Tapi pagi ini ada telur yang serius dan martabak yang bukan pinjaman. Jadi aku baik-baik saja. Sekarang giliran Mas.
Di seberang meja Radit tersenyum, dan kali ini senyumnya tidak ia sembunyikan.
TAMAT