Tiga pekan kemudian, aku pulang membawa laporan yang sudah ditandatangani Bu Rani. Pemeriksaan tagihan pesanan rombongan selesai tanpa pembayaran ganda yang sempat kami khawatirkan. Ridwan masih menertawakan kebiasaanku memberi tanda warna terlalu banyak, tetapi ia juga meminta satu salinan daftar agar mudah mencari kuitansi saat aku tidak di sana.
Aku menyimpan map itu di rak kerja, lalu mengganti pakaian. Di kalender dekat kulkas, namaku tertera untuk menjemput Rafi besok. Aku yang menuliskannya setelah memastikan bisa pulang lebih awal. Pada hari lain, nama Aldo tetap berada di sana. Sesekali ada nama ibunya, disertai tanda bahwa beliau sudah menyanggupi.
Tidak semua pekan berjalan mulus. Pernah Aldo lupa memberi kabar bahwa ia terlambat, dan aku marah karena makan malam menunggu. Ia tidak menjawab bahwa aku seharusnya memahami kesibukannya. Ia menghubungi begitu bisa, lalu mengurus makanan yang belum sempat ia siapkan. Kami tidak menjadi pasangan yang selalu tenang. Kami mulai menjadi pasangan yang tidak menganggap akibat kesalahan selesai hanya dengan mengatakan tidak sengaja.
Sore itu kami akan makan bersama orang tua kami. Aku mengundang Ibu dan Bapak, sedangkan Aldo menanyakan waktu yang cocok kepada ibunya. Rafi membuat kartu nama untuk tempat duduk. Ia menuliskan namaku sedikit miring, lalu meminta aku memeriksa apakah hurufnya sudah benar.
'Kalau begini, orang tahu ini tempat Kak Alia,' katanya.
'Kalau kartunya hilang, aku tetap boleh duduk, kan?'
Ia tertawa. 'Boleh. Kan rumah Kakak juga.'
Aku meletakkan kartu itu di dekat piring. Kalimatnya sederhana, tidak dimaksudkan untuk menyelesaikan apa pun. Justru karena itu aku merasakan dadaku hangat.
Di ruang keluarga, foto kecil ibu Rafi berada di rak yang bisa dilihatnya. Di sebelahnya ada gambar rumah dan pohon mangga yang ia berikan setelah pernikahan kami. Foto pernikahanku dengan Aldo ditempatkan di dinding lain, bukan menutupi foto lama. Tidak ada benda yang perlu menghilang agar benda yang baru boleh hadir.
Aldo keluar dari dapur membawa mangkuk. Ia bertanya apakah meja sudah cukup lapang untuk semua hidangan. Aku menggeser satu alas, dan ia memindahkan mangkuk sesuai tempat yang kutunjuk. Kami masih berbeda kebiasaan: ia suka semua berbaris rapi, aku lebih peduli agar gelas tidak mudah tersenggol. Kali ini kami menemukan susunan yang bisa dipakai, bukan menentukan kebiasaan siapa yang lebih benar.
Ketika tamu datang, aku sedang menerima telepon singkat dari Ridwan. Ia memastikan satu tanggal pada salinan kuitansi. Aku menjawab sambil berdiri di kamar kerja, lalu mendengar Bu Ratna bertanya apakah aku masih sibuk.
'Sebentar. Ada catatan yang perlu dipastikan,' jawab Aldo. 'Mari duduk dulu, Bu. Saya ambilkan minum.'
Tidak ada yang memanggilku berkali-kali untuk menyiapkan gelas. Ketika telepon selesai, aku keluar dan melihat Ibu sudah berbicara dengan Bu Ratna. Bapak membantu Rafi melipat satu kartu yang tidak bisa berdiri. Aldo sedang menaruh minum di meja.
'Maaf tadi harus menjawab sebentar,' kataku.
'Sudah beres?' tanya Ibu.
'Sudah. Tinggal makan.'
Kami duduk di tempat yang dipilih Rafi. Aku mengambil nasi, lalu menyerahkan mangkuk kepada Bapak. Pembicaraan bergerak dari tugas sekolah Alisha sampai tanaman Rafi yang daunnya bertambah. Alisha yang datang bersama Ibu segera memprotes bahwa bukunya jangan dibawa-bawa dalam obrolan makan. Kami tertawa; ia lalu sibuk mendengarkan Rafi menjelaskan gambarnya.
Bu Ratna menanyakan pekerjaanku. Aku mengatakan pembagian tugas mulai teratur, meskipun belum semua laporan bisa selesai sesuai rencana. Ia mendengarkan tanpa mengaitkannya dengan seberapa sering aku bisa berada di rumah. Ketika Rafi perlu mengambil botol minum, Aldo bangkit membantunya sebelum anak itu meminta kepadaku.
Aku tidak duduk menilai setiap gerakan suamiku sepanjang malam. Aku berbicara, makan, dan menikmati keluargaku berada di satu meja. Perubahan yang paling terasa justru membuatku tidak perlu terus mengawasi apakah aku akan diberi tugas yang belum kusanggupi.
Seusai makan, kami membereskan bersama. Bapak menolak membawa pulang semua sisa hidangan karena menurutnya keluarga kami juga perlu makan besok. Ibu memilih satu wadah kecil, sedangkan Aldo memastikan tidak ada barang Rafi yang tertinggal di tas neneknya. Aku mengantar mereka ke pintu dengan perasaan bahwa kunjungan ini benar-benar kunjungan, bukan sidang untuk membahas hidupku.
Malam semakin sepi setelah semua pulang. Aldo mencuci piring terakhir, sementara aku menemani Rafi menyimpan kartu-kartu tempat duduk. Ia ingin menyimpan kartuku di dekat gambar rumah.
'Boleh,' kataku. 'Tapi besok kalau mau dipakai menggambar belakangnya juga tidak apa-apa.'
Ia memandang kertas itu, mempertimbangkan tawaran tersebut dengan sungguh-sungguh. Aku tertawa dan mengucapkan selamat malam. Aku tidak perlu meminta benda itu disimpan selamanya untuk merasa diterima.
Setelah Rafi tidur, aku dan Aldo duduk di ruang keluarga. Ia menyandarkan punggung, terlihat sama lelahnya denganku. Aku meraih tangannya, lalu meletakkan tangan kami di antara dua bantal.
'Aku senang malam ini,' kataku.
'Saya juga. Rumahnya terasa ramai.'
'Dan aku tidak merasa cuma bertugas membuat semuanya berjalan.'
Aldo menoleh kepadaku. 'Saya tahu saya pernah membuatmu merasa begitu. Saya tidak ingin kembali memakai kebutuhan Rafi sebagai alasan mengabaikanmu.'
'Aku ingin kita saling mengingatkan. Tapi aku juga ingin kita terus melakukan bagian masing-masing tanpa harus menunggu diingatkan.'
Ia mengangguk. Aku mengusap punggung tangannya dengan ibu jari. 'Aku mencintaimu, Aldo. Bukan karena akhirnya semua menjadi mudah. Aku melihat Mas mau tinggal dalam pembicaraan yang sulit dan mengerjakan bagian yang memang harus Mas kerjakan.'
'Saya mencintaimu sebagai istri saya, Alia. Bukan orang yang saya pinjam untuk merapikan rumah atau membesarkan anak.'
Aku mendekat setelah ia membuka lengannya. Pelukan itu tidak menyelesaikan semua hari yang akan datang. Ia menegaskan sesuatu yang kini sudah punya bentuk di luar kata-kata: waktuku dihormati, barangku memiliki tempat, pekerjaanku tidak dianggap gangguan, dan anaknya tidak dibebani untuk menjamin hubungan kami.
Besok aku akan menjemput Rafi karena aku sudah memilih bisa. Lusa Aldo akan melakukannya sendiri. Foto orang-orang yang kami rindukan tetap berada di rumah, sementara kami yang hidup belajar mengisi hari ini. Aku memejamkan mata sejenak, bersandar tanpa merasa harus mengecil agar bisa tinggal. Di rumah ini aku akhirnya menjadi istri, dan tetap menjadi Alia.
TAMAT