Undangan pernikahan Mira tiba melalui Ibu. Bu Leha menitipkannya ketika berbelanja di warung Pok Mumun, lalu memastikan dua kali bahwa namaku akan ditulis bersama Aldo. Ibu menceritakan bagian itu sambil menahan senyum.
'Sekarang katanya jangan sampai suamimu tidak diajak.'
'Dulu waktu belum ada suami, aku juga tidak boleh tenang,' gumamku.
Ibu menepuk lenganku, tetapi ia ikut tertawa. Aku memandang nama Mira di kartu itu dan teringat janji yang pernah kuucapkan dengan sangat percaya diri: hadiah mahal untuk pernikahannya. Saat itu, separuh keberanianku berasal dari keinginan membungkam ibunya. Sekarang aku yang harus memikirkan apa yang benar-benar ingin kuberikan kepada Mira.
Aku tidak ingin membayar ejekan Bu Leha dengan uang Aldo.
Malamnya, aku mencari hadiah sambil duduk di meja kerjaku. Aldo mengetuk pintu sebelum masuk. Ia bertanya apa yang sedang kulihat, lalu duduk di kursi tambahan ketika aku menunjukkan beberapa pilihan.
'Kamu pernah berjanji hadiah mahal?' tanyanya.
'Lidahku memang kadang belanja duluan sebelum dompet menyetujui.'
Ia tertawa, kemudian bertanya apakah aku ingin menambah anggarannya dari pengeluaran bersama. Aku menggeleng. Ini janji pribadiku, dan aku masih bisa memilih hadiah yang baik tanpa mengorbankan kebutuhan lain.
'Kalau begitu, kamu pilih yang menurutmu pantas. Tidak perlu menjadikan harganya pertandingan,' katanya.
Aku memilih satu set perlengkapan tidur yang kualitasnya baik, lalu memeriksa ukurannya. Bukan barang paling mahal di daftar, tetapi sesuatu yang bisa dipakai Mira tanpa perlu dipamerkan di grup warga. Aku menghubunginya untuk memastikan kebutuhannya, tidak sekadar membeli sesuatu yang menurutku cocok.
Mira membalas bahwa ia senang aku bertanya. Ia menyebut ukuran tempat tidur yang akan dipakai setelah menikah, lalu berterima kasih sebelum aku sempat melakukan pembayaran. Untuk pertama kalinya, janji itu terasa seperti hadiah kepada orangnya, bukan jawaban kepada ibunya.
Pada hari acara, Rafi bersama neneknya setelah Aldo menanyakan kesediaan beliau. Kami datang berdua. Aku memakai pakaian yang nyaman dan membawa kotak hadiah, sementara Aldo memegang undangan agar aku tidak perlu merogoh tas di dekat meja penerima tamu.
Bu Leha melihat kami sebelum kami mencapai pintu. Ia menghampiri dengan senyum lebar dan tangan penuh gelang. Aku mengucapkan selamat untuk Mira. Ia menjawab, lalu memandang Aldo dari kemeja sampai sepatunya.
'Nah, akhirnya datang dengan suami juga. Dulu kan sering bikin orang bertanya-tanya.'
Aku merasakan Aldo berhenti di sampingku. Sebelum ia mengatakan apa-apa, aku menjawab dengan nada ringan.
'Dulu orang bertanya, saya jawab. Kadang jawabannya tidak didengar karena pertanyaannya diulang terus, Bu.'
Bu Leha tertawa seolah aku baru melontarkan lelucon. 'Namanya juga tetangga. Sekarang sudah enak, ada yang menanggung.'
'Saya tetap bekerja, Bu. Kami sama-sama mengurus hidup kami.'
Aldo mengangguk. 'Alia punya pekerjaan dan pilihannya sendiri. Kami datang untuk mengucapkan selamat kepada Mira.'
Ia tidak menarik pinggangku untuk menunjukkan bahwa aku miliknya. Ia juga tidak menyebut jumlah penghasilan atau barang yang bisa dibelinya. Setelah itu ia bertanya di mana kami bisa meletakkan hadiah. Pertanyaan sederhana itu menutup ruang untuk meneruskan penilaian terhadap hidupku tanpa membuat acara Mira berubah menjadi pertengkaran.
Aku menyerahkan kotak kepada penerima hadiah dan memasukkan kartu kecil di atasnya. Namaku tertulis di kartu itu. Aldo tidak keberatan ketika kutanya sebelumnya; ia memahami bahwa aku sedang menepati janji sendiri.
Mira menyambutku beberapa saat kemudian. Wajahnya tampak lelah sekaligus gembira. Aku mengucapkan doa singkat, lalu mengatakan bahwa hadiah sudah dititipkan. Ia meminta kami menunggu sebentar untuk berfoto. Aku menyerahkan tas kepada Aldo, merapikan ujung lengan bajuku sendiri, lalu berdiri di sampingnya tanpa perlu diarahkan siapa pun.
'Kamu ingat janji dulu?' tanyanya.
'Ingat. Aku juga ingat kamu hampir tumbang waktu itu. Semoga hari ini sudah makan.'
Ia tertawa dan mengatakan ibunya berkali-kali menyuruhnya mencicipi makanan. Aku tidak menambahkan cerita tentang siapa yang dulu tidak mau membantu menggendongnya. Hari ini bukan tempat untuk mempermalukan pasangannya atau mengubah satu kejadian menjadi kesimpulan tentang seluruh hubungan mereka.
'Terima kasih sudah datang, Alia,' katanya.
'Sama-sama. Yang penting hadiahnya bisa dipakai. Jangan disimpan terus karena takut kotor.'
Kami memberi kesempatan tamu lain menyalami pengantin. Setelah makan, Aldo bertanya apakah aku ingin pulang atau menemui Ibu terlebih dahulu. Rumah orang tuaku tidak jauh. Aku memilih berjalan ke sana sebentar, sementara ia membawa mobil pelan-pelan agar hadiah titipan Ibu bisa kami bawa pulang tanpa kesulitan.
Di depan warung Pok Mumun, beberapa tetangga menyapa. Aku berhenti membeli air. Pok Mumun menanyakan kabar Kitty dan tertawa ketika kukatakan motor itu masih setia, asal pemiliknya tidak lupa mengisi bensin.
'Sekarang bisa dibelikan yang baru, dong,' ujar salah seorang dari bangku.
'Yang lama belum protes. Saya yang sering lupa merawat.'
Aku membayar air dan berpamitan. Tidak perlu menjawab setiap kalimat sampai semua orang sepakat. Dulu aku merasa harus pulang membawa kemenangan setelah menghadapi mereka. Kali ini aku lebih ingin pulang tanpa meninggalkan diriku sendiri di tengah pembicaraan.
Aldo menunggu di depan rumah Ibu. Ketika aku masuk mobil lagi setelah kunjungan singkat, ia bertanya apakah ucapan Bu Leha membuatku kesal.
'Sedikit. Aku tidak suka pernikahanku dianggap bukti bahwa akhirnya ada yang mau menanggungku.'
'Saya dengar itu. Kamu sudah menjawab dengan jelas.'
'Aku senang Mas tidak menjawab dengan pamer uang.'
'Itu tidak menjelaskan siapa kamu.'
Aku menatapnya dan tersenyum. Kami tidak melanjutkan percakapan menjadi pidato tentang tetangga. Ia bertanya apakah aku ingin singgah membeli makanan untuk Rafi, dan aku menyarankan kami menanyakan dahulu apakah anak itu sudah makan. Aldo mengambil ponselnya sebelum memesan apa pun.
Dalam perjalanan, aku melihat foto Mira yang baru dikirimnya. Di bawah gambar itu ada ucapan terima kasih untuk hadiah yang sesuai ukuran. Aku membalas singkat, lalu menyimpan ponsel. Janji yang dulu kubuat untuk memenangkan percakapan akhirnya selesai sebagai sesuatu yang berguna bagi orang lain. Itu terasa lebih baik daripada mengetahui berapa banyak tetangga yang kagum.