Pagi itu Aldo mengantarku bekerja setelah mengantar Rafi ke sekolah, jadi aku tidak membawa Kitty. Jumat sore, aku sedang menyerahkan ringkasan tagihan kepada Bu Rani ketika Pak Willy memanggil dari dekat pintu restoran. Di sampingnya berdiri seorang perempuan yang kukenal dari perjalanan ke Lembang. Untuk sesaat aku memerlukan waktu menghubungkan wajah itu dengan jalan, mobil yang berhenti mendadak, dan suara seorang nenek yang mengkhawatirkan cucunya.
'Kanina,' katanya lebih dahulu. 'Kita pernah bertemu waktu di jalan itu.'
'Iya. Alia. Bagaimana kabar Oma Salma?'
'Baik. Beliau titip salam untuk yang dulu berhenti membantu.'
Pak Willy menarik kursi di meja yang masih kosong. Ia bertanya apakah aku punya waktu sebentar setelah pekerjaan selesai. Aku memandang Bu Rani. Ia mengatakan ringkasannya sudah lengkap dan tidak ada yang perlu ditambahkan hari itu.
Aku duduk di seberang mereka. Kanina meletakkan tas di pangkuannya. Suasananya tidak seperti dua orang yang sudah menyelesaikan semua urusan lama, tetapi setidaknya kali ini tidak ada mobil yang harus segera meneruskan perjalanan.
'Saya mengajak Kanina datang karena ada yang ingin saya luruskan,' kata Pak Willy.
Aku menoleh kepadanya. 'Soal apa, Pak?'
'Waktu bertemu di jalan dulu, saya sempat ingin memakai kamu sebagai alasan agar tidak perlu berbicara dengan Kanina. Mengaku punya hubungan yang sebenarnya tidak ada.'
Aku terdiam, mengingat bagaimana ia berubah murung setelah pertemuan itu. Aku masih ingat ia sudah mengatakan rencana pacar pura-pura itu di mobil. Saat itu aku menegaskan bahwa kami tidak punya hubungan dan aku tidak cemburu kepada Kanina. Yang belum kutahu adalah apakah ia sudah meluruskan kesan itu kepada Kanina sendiri.
'Jadi hari ini Bapak ingin meluruskannya kepada Kanina juga?'
'Iya. Kamu sudah mendengar dari saya sejak perjalanan itu, tapi Kanina juga berhak tahu bahwa saya sempat ingin memakai alasan yang tidak benar. Saya tidak ingin membiarkannya menebak-nebak hanya karena sekarang kamu sudah menikah.'
Kanina menatapku. 'Dia sudah menjelaskannya kepadaku. Aku juga ingin kamu tahu bahwa kamu tidak perlu memberi penjelasan tentang hubungan kalian. Itu bukan tugasmu.'
Aku menarik napas. Di belakang kami, Ridwan membawa nampan melewati lorong meja. Restoran tetap berjalan seperti biasa, sementara satu kemungkinan kebohongan yang dulu sudah kuprotes akhirnya diluruskan kepada orang yang hampir dibuat salah paham.
'Saya memang bukan pacar Bapak. Dulu juga bukan,' kataku. 'Kalau Bapak perlu menolak pembicaraan, Bapak bisa menolak sendiri. Jangan memakai orang lain.'
'Benar. Saya minta maaf.'
'Saya terima permintaan maafnya. Tapi saya ingin batas ini berlaku juga di tempat kerja. Bercanda boleh, asal tidak membuat orang lain menyangka ada hubungan atau membuat saya sulit menolak.'
Pak Willy mengangguk tanpa tertawa untuk mencairkan suasana. Aku menghargai itu. Ia tidak menyebutku terlalu serius atau mengatakan bahwa aku seharusnya sudah memahami candanya.
Kanina meletakkan tas di kursi kosong. 'Kami belum memutuskan akan kembali bersama,' katanya. 'Aku datang bukan untuk meminta kamu membantu membujuknya.'
'Saya juga tidak pandai jadi perantara. Pernah ingin makan bakso saja ujungnya repot sendiri.'
Ia tertawa kecil. Pak Willy menggeleng, tetapi kali ini aku ikut tersenyum. Humor itu tidak menghapus pembicaraan tadi; hanya memberiku kesempatan kembali menjadi diriku setelah mengatakan hal yang penting.
Mereka menjelaskan bahwa akan bertemu lagi untuk berbicara, tanpa janji kepada Oma Salma bahwa hubungan mereka pasti dimulai ulang. Aku tidak menanyakan sebab mereka putus dulu. Itu cerita yang boleh mereka pilih untuk dibuka satu sama lain, bukan bahan yang kubutuhkan untuk memberi putusan.
'Kalau nanti Oma bertanya?' kataku.
'Kami yang menjawab,' kata Kanina. 'Beliau boleh berharap. Kami tetap yang menjalani.'
Aku mengangguk. Tidak ada cincin, pelukan, atau kesimpulan mendadak. Namun, aku merasa urusan yang tertinggal sejak perjalanan itu akhirnya berada di tangan orang yang memang terlibat. Aku tidak lagi perlu menebak apakah diam Pak Willy berarti aku harus melakukan sesuatu.
Setelah Kanina pergi lebih dahulu, aku mendatangi meja Bu Rani untuk mengambil tas. Ia sedang menyusun jadwal staf minggu depan. Namaku berada di bagian pemeriksaan laporan, sedangkan Ridwan tercatat pada shift kasir yang sudah disepakati.
'Sudah selesai bicara?' tanyanya.
'Sudah, Bu.'
Ia mengangguk, lalu menunjukkan satu tanggal yang perlu kutinjau. Tidak ada pertanyaan tentang Kanina. Aku tidak akan menjadikan penjelasan Pak Willy sebagai kabar yang beredar di belakang orang lain.
Pak Willy datang membawa lembar jadwal lain. Ia berhenti di sisi meja dan berkata bahwa urusan pribadinya tidak seharusnya memengaruhi pembagian kerja. Bu Rani memandangnya beberapa saat.
'Kalau ada perubahan, sampaikan lewat jadwal, Pak. Jangan karyawan menebak dari siapa yang diajak pergi atau siapa yang paling sering diajak bicara.'
'Baik. Saya akan perbaiki cara menyampaikannya.'
Aku menahan diri untuk tidak ikut menambahkan apa pun. Bu Rani mampu menyampaikan keberatannya sendiri. Ia tidak membutuhkan aku menjelaskan perasaannya, apalagi menyimpulkan bagaimana ia seharusnya menghadapi kedatangan Kanina.
Di luar restoran, Aldo menunggu setelah menanyakan apakah aku ingin pulang bersama. Rafi duduk di belakang dengan buku cerita. Saat aku masuk, ia menunjukkan satu halaman yang menurutnya lucu. Aku membacanya, lalu tertawa karena gambarnya memang konyol.
'Tadi bicara dengan Pak Willy?' tanya Aldo setelah kami berjalan.
'Iya. Ada urusan lama waktu perjalanan ke Lembang yang akhirnya dia jelaskan. Tentang Kanina.'
Aldo mengangguk dan menunggu. Ia tidak meminta rincian untuk memastikan aku tidak pernah menyukai atasanku. Aku menceritakan bagian yang menyangkut diriku: keinginan memakai namaku sebagai hubungan pura-pura yang sudah kuprotes sejak di mobil dulu, dan pelurusan yang kini disampaikan kepada Kanina.
'Kamu ingin saya melakukan sesuatu?' tanyanya.
'Tidak. Aku sudah bicara. Aku hanya ingin Mas tahu kenapa tadi sedikit terlambat.'
'Baik.'
Jawaban sesingkat itu membuatku lebih lega daripada tawaran menelepon Pak Willy. Aldo tidak mengambil urusanku sebagai kesempatan menjadi pembela yang menentukan semuanya. Ia mempercayai bahwa aku bisa menjelaskan posisiku, lalu tetap ada jika aku memang memerlukan bantuan.
Di rumah, aku meletakkan tas di ruang kerjaku. Di meja sudah ada gelas kosong yang baru dicuci, bukan barang yang dipindahkan untuk memberi tempat pada kebutuhannya. Dari ruang makan Aldo memanggil agar aku datang setelah berganti pakaian. Ia dan Rafi sudah menyiapkan makan malam sederhana.
Aku menutup pintu kamar setelah mengambil baju, meninggalkan buku-bukuku di tempat yang kupilih sendiri. Beberapa urusan hari itu tidak berakhir dengan hubungan baru atau masalah yang lenyap. Semuanya berakhir dengan orang yang bersangkutan mengambil kembali tanggung jawabnya. Aku merasa itu kemajuan yang pantas dibawa pulang.