Alisha menyambutku dengan pensil terselip di belakang telinga. Di tangannya ada lembar tugas yang bagian bawahnya penuh coretan. Aku baru melepas sandal ketika ia menarik ujung lenganku.
'Kakak bantu lihat ini. Jangan dijawab semua, nanti tulisannya beda.'
'Memangnya aku pernah memalsukan pekerjaanmu?'
'Pernah kasih jawaban terlalu panjang.'
Aku tertawa. Rumah Ibu masih memiliki kemampuan membuatku merasa pulang melalui hal yang tidak penting: sandal yang hilang sebelah, bau bawang dari dapur, dan adik yang menganggap aku datang khusus untuk membaca soal. Aku meletakkan tas, lalu duduk di dekatnya. Tadi aku datang dengan ojek setelah pulang kerja; Kitty kutinggal di rumah, sehingga nanti aku bebas memilih kendaraan pulang.
Tugas itu meminta Alisha menuliskan kegiatan anggota keluarga. Ia sudah menulis bahwa Bapak bekerja di sekolah dan Ibu mengurus berbagai keperluan rumah. Di sebelah namaku, ia menambahkan gambar meja dengan banyak kertas.
'Sekarang Kakak kerjanya duduk terus?'
'Kadang masih mondar-mandir mencari kuitansi. Meja tidak menjamin orang bisa duduk tenang.'
Alisha menghapus satu garis yang dianggapnya miring, lalu kembali menulis. Aku membantu mengeja kata yang sulit tanpa mengubah jawabannya. Ketika Ibu memanggil dari dapur, ia sudah bisa melanjutkan sendiri.
Aku membantu mengangkat sayur ke meja. Ibu menatap wajahku, tetapi menunggu sampai kami duduk sebelum bertanya apakah aku lelah.
'Lelah, Bu. Bukan cuma karena pekerjaan.'
Ia mengangguk dan menggeser piring ke dekatku. 'Makan dulu. Nanti kalau ingin cerita, Ibu dengar.'
Aku ingin menangis justru karena tidak diminta segera menjelaskan. Selama dua hari terakhir aku terus menimbang kalimat agar Aldo tidak merasa diserang, Rafi tidak merasa ditolak, dan pekerjaanku tidak terganggu. Di rumah ini, aku boleh memakan dua suap sebelum menemukan kata-kata.
Bapak pulang ketika kami hampir selesai makan. Ia bertanya apakah Kitty masih kupakai. Aku mengatakan motornya baik-baik saja, tidak lagi mengandalkan bensin sisa yang membuatku pernah kelabakan. Ia mengangguk puas, lalu mengambil air minum.
Setelah Alisha masuk kamar untuk menyiapkan buku, aku menceritakan jadwal penjemputan dan ruang kerja. Ibu mendengarkan. Bapak menaruh gelasnya ketika aku sampai pada percakapan tentang meninggalkan pekerjaan untuk menjemput Rafi.
'Sekarang siapa yang menjemput?' tanyanya.
'Aldo. Kemarin dia mengubah rapatnya.'
'Bagus. Berarti jalan keluarnya memang ada.'
'Aku takut dianggap tidak mau ikut membesarkan Rafi.'
Ibu menatapku. 'Apa kamu tidak mau?'
'Aku mau ada untuknya. Aku tidak mau semua hal otomatis menjadi tugasku karena aku istrinya.'
'Kalau begitu, itu yang perlu kamu pertahankan. Tidak perlu menjawab tuduhan yang belum tentu orang ucapkan.'
Aku mengangguk. Bapak bertanya apakah aku sudah mengatakan bahwa meja bukan satu-satunya masalah. Aku menjawab sudah, tetapi belum yakin Aldo memahami perasaan menjadi orang tambahan di rumahnya sendiri.
'Bapak bisa menelepon dia,' katanya, lalu segera menambahkan, 'kalau kamu memang membutuhkan. Bukan untuk membentak atau memutuskan urusan kalian.'
Aku menggeleng pelan. 'Aku ingin bicara sendiri dulu. Terima kasih, Pak.'
Ponselku bergetar. Aldo menanyakan apakah aku masih di rumah orang tuaku dan apakah ia boleh datang setelah mengantar Rafi ke rumah ibunya. Aku menatap pesan itu lebih lama. Ibunya yang ia maksud adalah mama Aldo, nenek Rafi; kali ini ia menuliskan jelas agar aku tidak perlu menebak pengaturan mendadak.
Aku membalas bahwa ia boleh datang pukul delapan. Aku ingin berbicara di teras, tidak membawa semua orang menjadi penengah. Bapak dan Ibu menyetujuinya. Mereka menawarkan teh, lalu membiarkan kami memilih tempat duduk.
Aldo tiba tepat waktu. Setelah bersalaman dengan Bapak, ia menemuiku di teras. Di seberang jalan terdengar anak-anak memanggil temannya. Aku melihat ia tidak membawa hadiah atau bunga, dan untuk malam itu aku senang.
'Rafi bersama Ibu. Saya jemput pukul sembilan,' katanya. 'Beliau bersedia setelah saya tanyakan kemarin.'
'Terima kasih sudah mengatur sendiri.'
Ia duduk, menjaga jarak kursi agar aku tidak merasa terkurung. 'Saya memikirkan yang kamu katakan tentang tempat untuk istri yang hidup.'
Aku menunggunya melanjutkan.
'Saya merasa sudah memilihmu saat menikah. Jadi saya mengira kamu pasti tahu bahwa kamu penting. Ternyata di rumah saya masih memakai kebiasaan lama, lalu berharap kamu masuk tanpa mengubah susunannya.'
'Aku tahu Mas memilih menikah denganku. Aku belum selalu merasa dipilih ketika ada dua kebutuhan yang bertabrakan.'
Ia menunduk. 'Karena saya langsung mengutamakan kebutuhan saya dan Rafi.'
'Rafi anak kecil. Kadang kebutuhannya memang harus didahulukan. Tapi bukan berarti semua yang berhubungan dengannya harus kuurus. Kalau kita sama-sama bekerja, kita perlu membaginya. Aku tidak bisa terus diminta membuktikan sayang dengan mengalah.'
Aldo mengangguk. Aku melihat jemarinya saling meremas. Ia tidak tampak sedang menyiapkan sanggahan, hanya kesulitan mendengar hal yang tidak menyenangkan tentang dirinya sendiri.
'Saya ingin memperbaiki itu,' katanya.
'Mulai dari hal yang sudah kita sepakati. Jangan tambahkan janji baru sebelum yang lama dijalankan. Ruang kerja sudah ada. Sekarang aku ingin barang-barangku tidak dipindahkan tanpa bertanya, dan jadwalku tidak diberikan kepada siapa pun sebelum aku setuju.'
'Baik. Kalau saya lupa dan mengulang?'
'Aku akan mengatakan. Tapi jangan membuatku harus menjelaskan dari awal seolah percakapan ini tidak pernah terjadi.'
Ia menarik napas dan mengangguk lagi. Kami membicarakan satu rencana yang sungguh dekat: besok malam meninjau kalender, kemudian berhenti mengubahnya sendirian. Aldo akan menghubungi sekolah untuk memastikan nomor utamanya tetap dipakai. Aku akan menyampaikan hari ketika bisa ikut menjemput, bukan menyerahkan seluruh hari kosong yang kumiliki.
Ketika jam mendekati sembilan, aku masuk mengambil tas. Ibu bertanya apakah aku akan pulang bersama Aldo. Aku mengatakan iya, setelah kami menjemput Rafi. Ia tidak meminta laporan tentang hasil percakapan, hanya membungkuskan makanan secukupnya.
Bapak mengantar sampai pintu. 'Kalau kalian datang lagi, tidak perlu menunggu ada masalah,' katanya.
Aldo menjawab bahwa kami akan mengingatnya. Aku memeluk Ibu sebentar, lalu berjalan ke mobil. Masalah rumah tanggaku belum selesai di teras ini. Tetapi aku tidak pulang karena malu pada orang tua atau karena disuruh menjadi istri yang sabar. Aku pulang karena masih ingin melihat perubahan yang sudah mulai dikerjakan, dengan hak untuk mengatakan jika perubahan itu berhenti.