Hari Selasa, aku berangkat dengan map biru yang akhirnya punya tempat di kamar kecil. Di dalamnya ada pemeriksaan tagihan pesanan rombongan yang harus dikirim sebelum sore. Bu Rani sudah mengingatkan bahwa satu pelanggan datang langsung untuk mencocokkan pembayaran; ia tidak ingin orang itu diminta menunggu hanya karena kami salah membawa salinan.
Aldo mengantar Rafi lebih awal. Sebelum keluar, ia menunjukkan kalender di dekat kulkas. Namanya tercantum pada jadwal penjemputan siang itu. Aku mengangguk, kemudian menambahkan waktu kepulanganku di bawahnya.
'Kemungkinan lewat lima. Aku kabari kalau sudah selesai.'
'Baik,' katanya. 'Saya lihat nanti jadwal rapat saya.'
Kalimat itu belum terasa bermasalah sampai siang hari, ketika ponselku berbunyi tepat saat Ridwan menyodorkan kuitansi terakhir.
'Rapat saya mundur,' kata Aldo. 'Masih bisa jemput Rafi?'
Aku menatap jam. 'Sekarang tidak bisa. Pelanggan sudah datang. Aku yang memeriksa catatannya.'
'Tidak ada orang lain yang bisa menggantikan sebentar?'
'Mas menanyakan itu kepadaku atau kepada tempat kerjaku?'
Ia terdiam. Aku meminta maaf kepada Ridwan dengan isyarat dan bergeser ke dekat pintu. Aku tidak ingin pertengkaran rumah tangga menjadi tontonan, tetapi aku juga tidak akan menyetujui sesuatu hanya untuk segera mengakhiri telepon.
'Kalau aku pergi sekarang, orang yang sudah datang harus menunggu. Kita sudah membicarakan ini.'
'Saya tahu. Saya hanya mencari jalan tercepat.'
'Yang tercepat untuk Mas belum tentu bisa kulakukan.'
Di seberang sana terdengar suara pintu ditutup. Aldo mengatakan akan menghubungi ibunya. Aku menjawab agar ia segera memberi kepastian kepada sekolah. Setelah panggilan berakhir, tanganku masih menempel pada ponsel beberapa detik sebelum kumasukkan ke tas.
Bu Rani menungguku di meja pemeriksaan. Ia tidak bertanya siapa yang menelepon. Ia menunjukkan dua salinan tagihan yang sudah disandingkan.
'Angka yang kedua belum diberi tanda lunas. Kita periksa bersama pelanggan, jangan langsung stempel,' katanya.
Aku duduk dan menarik napas. 'Baik, Bu. Bukti transfernya ada di sini.'
Selama setengah jam berikutnya, aku bekerja dengan perhatian penuh. Pelanggan menunjukkan bukti pembayaran, Ridwan mengambil salinan transaksi, dan Bu Rani memeriksa nomor pesanan. Ada satu pembayaran yang masuk dengan nama pengirim berbeda. Kami mencocokkan jumlah serta tanggal sebelum mengubah catatan.
Ketika akhirnya map ditutup, aku merasa lega karena tidak pergi meninggalkan pekerjaan yang memang menjadi tanggung jawabku. Namun, kelegaan itu masih disertai kekhawatiran tentang Rafi. Aku membuka pesan Aldo.
'Ibu sedang ada urusan dan tidak bisa menjemput. Saya sudah berangkat. Sekolah sudah tahu.'
Pesan berikutnya datang beberapa menit kemudian: foto tas Rafi di kursi belakang mobil, disertai keterangan bahwa mereka sudah bersama. Bukan permintaan agar aku memuji. Hanya kabar yang seharusnya memang diberikan.
Aku menjawab, 'Terima kasih sudah memberi tahu. Aku lanjut bekerja dulu.'
Sore hari, Bu Rani memintaku menyerahkan catatan pengganti kepada Ridwan. Aku mengecek daftar itu sekali lagi agar tidak ada orang yang kebingungan ketika aku meninggalkan meja untuk memeriksa berkas di ruang lain. Membagi pekerjaan bukan meninggalkan orang lain dengan masalah; karena itu aku ingin pembagiannya jelas.
Di rumah, Aldo sedang mencuci kotak bekal. Rafi duduk di meja makan, menyelesaikan gambar. Anak itu melambaikan tangan dan bercerita bahwa ia sempat menunggu bersama guru di dekat kantor sekolah.
'Lama?' tanyaku.
'Sedikit. Ayah bilang akan datang. Aku menggambar dulu.'
'Kamu sudah menyimpan botol minummu?'
Ia mengangguk dan menunjuk rak. Aku tidak menanyainya lagi tentang penjemputan. Ia sudah mendapat kepastian dari ayahnya; ia tidak perlu mengulang cerita untuk membantu kami menentukan siapa yang salah.
Setelah makan malam, Aldo mengajakku duduk di teras. Aku membawa dua gelas air, lalu menaruh satu di dekat tangannya.
'Rapat saya tidak jadi saya ikuti sampai akhir,' katanya.
Aku menunggu, ingin tahu ke mana kalimat itu akan dibawa.
'Saya menjelaskan harus menjemput anak. Bagian saya diteruskan rekan. Ada beberapa hal yang perlu saya susulkan besok.'
'Mas kecewa?'
'Iya. Saya ingin menyelesaikannya hari ini.' Ia mengusap wajah. 'Tapi saya juga sadar waktu meneleponmu, saya langsung mencari siapa yang bisa memindahkan jadwal. Saya belum mencoba mengubah jadwal sendiri.'
Aku mengangguk. 'Itu yang membuatku marah. Pekerjaanku selalu menjadi pilihan pertama yang dianggap bisa ditinggal.'
'Saya tidak bermaksud menganggapnya lebih kecil.'
'Aku percaya Mas mungkin tidak bermaksud begitu. Tapi akibatnya tetap seperti itu. Pelanggan datang menemuiku, catatannya kupegang, dan aku harus menjelaskan kalau meninggalkannya. Tidak kelihatan sebesar rapat Mas bukan berarti tidak penting.'
Aldo menatap gelasnya. 'Saya minta maaf. Tadi saya sempat berpikir, kita sudah menikah, jadi kamu pasti bisa membantu.'
'Aku bisa membantu kalau memang bisa. Menikah tidak membuat waktu bertambah.'
Ia mengangguk. Kami tidak segera berbicara lagi. Dari dalam terdengar Rafi tertawa menonton acara anak. Suara itu membuatku lega karena hari yang berat bagi orang dewasa tidak perlu menjadi hari yang menakutkan baginya.
'Saya akan membuat daftar cadangan penjemputan,' kata Aldo. 'Saya tanya orangnya dulu, bukan langsung menuliskan namanya. Kalau semua tidak bisa, saya yang mengubah pekerjaan.'
'Aku juga boleh ada dalam daftar kalau sudah menyatakan bisa. Jangan dihapus seolah aku tidak mau terlibat sama sekali.'
'Baik.'
Aku menyesap air yang sudah tidak dingin. 'Besok aku mau berkunjung ke rumah Ibu setelah kerja. Sudah beberapa waktu aku tidak duduk lama di sana.'
'Kamu mau menginap?'
'Belum berencana. Aku ingin bertemu mereka. Kita juga masih perlu membicarakan beberapa hal saat sama-sama tenang.'
Aldo tidak menahanku. Ia meminta aku memberi kabar tentang waktu pulang, dan aku menyanggupinya. Percakapan kami belum terasa ringan, tetapi ia tidak menjadikan rapat yang ditinggalkannya sebagai utang yang harus kubayar. Aku melihat kotak bekal Rafi mengering di rak, kalender yang belum dipenuhi namaku, dan pesan sekolah yang sudah dijawab olehnya sendiri.
Hari itu tidak selesai dengan pelukan atau ucapan bahwa semua baik-baik saja. Hari itu selesai dengan Rafi dijemput, pekerjaanku dituntaskan, dan Aldo menanggung akibat pilihan yang sebelumnya selalu hendak ia pindahkan. Aku membutuhkan lebih dari satu hari seperti ini. Setidaknya, sekarang ia tahu bentuk perubahan yang kumaksud.