Sabtu pagi, aku membeli dua kotak penyimpanan dari toko alat tulis dekat rumah. Tidak besar dan tidak mahal. Aku memilih yang tutupnya rapat agar surat serta foto milik Aldo tidak perlu dipindahkan ke kantong sembarangan. Nota pembeliannya kusimpan di dompet, sedangkan kotaknya kubawa dengan kedua tangan karena tas belanjanya terlalu tipis.
Ketika tiba di rumah, pintu kamar kecil masih tertutup.
Aldo duduk di ruang keluarga dengan Rafi. Buku gambar terbuka di antara mereka. Aku meletakkan kotak di dekat meja makan dan melihat jam. Sudah lewat sepuluh. Kami memang baru akan memindahkan rak sore nanti, tetapi Aldo berjanji memeriksa barang-barangnya sejak pagi.
'Mas sudah mulai?' tanyaku.
Ia menatap kotak yang kubawa. 'Belum. Tadi Rafi minta ditemani menggambar.'
'Sekarang aku sudah selesai,' kata Rafi cepat.
Aku menyesali cara pertanyaanku terdengar. Bukan karena aku tidak berhak menanyakan janji, melainkan karena anak itu langsung memandang bukunya seolah ia telah membuat kesalahan.
'Kamu boleh menggambar lagi,' kataku. 'Ini urusan jadwal Ayah dan aku. Bukan karena kamu meminta ditemani.'
Aldo mengusap kepala Rafi. 'Betul. Ayah yang harus mengatur waktu. Kamu lanjutkan kapalmu dulu, ya.'
Rafi mengangguk dan mengambil pensil warna. Aldo mengikutiku ke ruang makan. Aku menarik kursi, tetapi tidak langsung duduk.
'Mas bisa mengatakan belum siap,' ujarku. 'Yang membuatku kecewa, aku sudah membeli kotak dan menyiapkan waktu, sementara Mas belum memulai atau memberi kabar.'
'Saya pikir masih sempat.'
'Mungkin masih. Tapi aku tidak ingin sore nanti baru tahu semuanya ditunda lagi.'
Ia menghela napas. Aku mendengar kejengkelan dalam napas itu, lalu melihatnya mengambil salah satu kotak dan membaliknya. Tindakan kecil itu membuatku berharap kami bisa segera mulai. Namun, ia meletakkannya kembali.
'Kamu terlihat ingin cepat sekali mengosongkan kamar itu.'
Aku menatapnya. 'Kita mau memindahkan satu rak, Mas. Bukan mengosongkan kamar.'
'Saya tahu. Hanya rasanya seperti harus membereskan semuanya sekarang.'
'Aku tidak bisa menentukan kapan Mas selesai berduka. Aku bisa meminta janji tentang tempat tinggalku ditepati.'
Aldo diam. Dari ruang keluarga terdengar Rafi bersenandung. Aku duduk dan merapatkan tangan di atas meja supaya tidak mengambil kotak itu lalu menyortir sendiri. Mengerjakan semuanya akan lebih cepat. Itu juga akan membuat masalah kami semakin buruk.
'Apa Mas merasa aku ingin menyingkirkan almarhumah?' tanyaku.
'Saya tidak ingin berpikir begitu.'
'Tapi Mas mengatakannya seolah itu yang sedang kulakukan.'
Ia menunduk. 'Iya. Itu tidak adil.'
Aku menunggu kelanjutan kalimatnya, bukan untuk memperoleh pengakuan yang lebih panjang, melainkan karena aku belum tahu apa yang akan ia lakukan setelah menyadarinya.
'Saya takut membuka kotak itu,' katanya akhirnya. 'Selama belum dibuka, saya bisa berpikir semua masih tersimpan dengan baik. Kalau sudah disortir, saya harus memilih mana yang disimpan di depan dan mana yang masuk lemari.'
'Mas boleh menyimpan semuanya kalau memang masih ingin. Kita sedang mencari cara menaruhnya dengan aman.'
'Tapi tempatnya berubah.'
'Iya. Karena sekarang ada orang lain yang tinggal di sini. Itu tidak membuat kenangannya kurang berarti.'
Kalimat itu keluar lebih pelan daripada yang kuinginkan. Aku tidak ingin mengajar Aldo tentang kehilangan. Aku pun menyimpan foto Afnan. Tetapi aku membawa kotak kenanganku di antara barang milikku sendiri, bukan menjadikannya alasan agar Aldo tidak mendapat ruang.
'Aku tidak meminta menjadi satu-satunya perempuan yang pernah Mas cintai,' kataku. 'Aku meminta jangan terus diperlakukan seperti orang yang boleh tinggal selama tidak mengubah apa-apa.'
Aldo memandangku cukup lama, lalu bangkit. 'Saya mulai sekarang. Kamu mau menemani di dekat pintu? Tidak perlu ikut memeriksa isinya.'
Aku mengangguk. 'Kalau Mas memang ingin ditemani.'
Ia membuka kamar kecil dan mengambil kotak dari rak tengah. Aku duduk di bangku dekat pintu. Selama beberapa menit ia hanya mengangkat amplop, membaca tulisan di luarnya, lalu menaruhnya kembali. Aku tidak melihat isinya. Sesekali Rafi mendekat, penasaran mendengar rak digeser sedikit.
'Ada foto Ibu?' tanyanya.
Aldo menoleh. 'Ada. Kamu ingin melihat?'
Rafi mengangguk. Ayahnya memilih satu foto dan menyerahkannya. Anak itu duduk di lantai, memandang gambar itu lama, lalu bertanya apakah boleh menaruhnya dekat buku cerita.
'Boleh,' jawab Aldo. 'Kita cari bingkai yang ukurannya cocok.'
Aku memandang foto yang dipegang Rafi tanpa mendekat. Keinginannya sesederhana ingin melihat ibunya. Tidak ada bagian dari diriku yang perlu dikurangi untuk memberinya tempat bagi kenangan itu.
'Kalau meja Kak Alia di sini, fotonya tetap boleh di luar?' tanyanya.
'Boleh,' jawabku. 'Mejaku untuk bekerja. Foto ibumu tidak perlu disembunyikan karena aku punya meja.'
Rafi tampak puas. Ia membawa foto itu untuk ditunjukkan kepada Aldo sekali lagi sebelum menaruhnya di tempat yang aman. Setelah itu, ia kembali menggambar. Kami tidak memintanya mengatakan bahwa ia menyayangiku juga.
Menjelang makan siang, Aldo memindahkan surat-surat ke salah satu kotak baru. Tidak ada yang dibuang. Ia memberi tanda pada tutupnya, lalu memilih rak atas lemari yang kering dan tidak terjangkau tangan kecil Rafi. Kotak kedua masih kosong; ia mengatakan akan menyimpannya untuk barang yang belum selesai diperiksa.
'Rak ini sekarang bisa digeser,' katanya.
'Kita makan dulu. Sore tetap sesuai rencana.'
Ia menatapku seperti tidak menduga aku bisa menunggu beberapa jam lagi. Aku tidak sedang mengejar kemenangan sebelum makan siang. Aku membutuhkan kepastian bahwa pekerjaan itu benar-benar dilakukan, bukan diletakkan kembali pada waktu yang tidak pernah datang.
Sore harinya kami menggeser rak bersama. Aldo mengangkat satu sisi, aku menjaga sisi lainnya agar tidak menggores dinding. Meja kecil dari ruang makan masuk dengan jarak cukup untuk kursi. Aku menaruh buku dan map biru, lalu mencoba duduk. Jendela berada di sebelah kiri; cahaya sore jatuh tepat di atas halaman.
Aldo berdiri di pintu. 'Saya minta maaf karena tadi membuatmu seolah sedang bersaing dengan almarhumah.'
'Aku menerima permintaan maafnya. Jangan gunakan itu lagi setiap kali aku meminta tempat.'
'Saya akan mengingatnya.'
Aku belum ingin menutup hari dengan mengatakan semua sudah baik. Tetapi ketika aku meninggalkan kamar untuk membantu menyiapkan makan malam, pintunya tetap terbuka. Buku-bukuku tidak lagi berada dalam kardus, dan kenangan tentang ibu Rafi tetap aman di rumah yang sama.