Pagi berikutnya, Aldo sudah menggeser sebuah meja kecil ke dekat jendela ruang makan ketika aku keluar kamar. Di atasnya ada tempat pensil baru dan stopkontak tambahan. Kardus biruku diletakkan di samping kaki meja, rapi dan mudah dijangkau.
Aku berhenti di ambang pintu.
'Saya pikir di sini cahayanya cukup,' katanya. 'Kalau kamu bekerja malam, lampunya juga dekat.'
Aku memandang dua kursi makan yang kini merapat ke dinding. 'Kita belum melihat ruangnya bersama.'
'Saya hanya menyiapkan. Kalau tidak suka, bisa dipindah.'
Ada usaha di sana. Aku melihatnya. Tetapi aku juga mendengar kalimat yang sama seperti kemarin: ia sudah memutuskan, aku tinggal menerima atau meminta seluruh pekerjaan itu diulang. Jika aku langsung mengatakan terima kasih lalu duduk, inti pembicaraan kami akan hilang di balik meja yang sudah telanjur digeser.
'Aku menghargai Mas menyiapkan ini. Sekarang boleh kita melihat pilihan yang lain dulu?'
Aldo meraih punggung kursi, lalu melepaskannya. 'Sekarang? Saya harus berangkat.'
'Kalau begitu, nanti malam. Meja ini boleh tetap di sini sampai kita memutuskan. Tapi jangan anggap ini sudah selesai.'
Ia mengangguk, tidak tampak senang. Aku pun tidak senang. Menjaga janji rupanya lebih sulit ketika harus dilakukan pada pagi biasa, dengan sarapan yang mulai dingin dan jam kerja yang tidak menunggu.
Rafi datang membawa kotak pensilnya. Ia menatap meja itu, lalu wajahku.
'Kak Alia pindah duduk di sini?'
'Kami sedang mencari tempat untuk barang-barangku,' jawabku. 'Kamu tetap boleh sarapan di kursi yang biasa.'
Aku menarik kembali kursinya dari dekat dinding. Ia duduk dan mulai mengoles roti. Aldo menyiapkan botol minum tanpa meminta aku mengambil alih. Kami sarapan dengan percakapan pendek tentang hari sekolah Rafi. Tidak seorang pun memintanya memilih di mana mejaku sebaiknya berada.
Siang harinya, Bu Rani meminta aku memeriksa catatan tagihan pesanan rombongan. Satu jumlah pembayaran tidak cocok dengan salinan kuitansi. Ridwan datang membawa buku transaksi kasir, masih dengan celemek yang dulu juga kupakai setiap hari.
'Yang ini dibayar dua tahap,' katanya sambil menunjuk tanggal. 'Bukan kurang bayar. Bukti yang kedua terselip di halaman belakang.'
Aku membalik lembar itu. 'Benar. Terima kasih. Aku hampir mengirim pertanyaan ke pelanggan.'
'Makanya jangan cuma percaya tabel, Mbak. Kertas lusuh ini kadang ada gunanya.'
Aku tertawa. Bu Rani menyodorkan map berikutnya. 'Kalau sudah cocok, beri tanda. Jangan sampai dua orang menagih pesanan yang sama.'
Pekerjaan itu mengembalikanku pada hal konkret: jumlah, tanggal, orang yang bisa kutanya. Aku merindukan kejelasan seperti itu di rumah, tetapi aku tahu Aldo bukan kuitansi yang bisa kususun sampai semua angkanya seimbang.
Menjelang istirahat, ponselku bergetar. Aldo menulis bahwa rapatnya kembali dipindah. Ia tetap akan menjemput Rafi, tetapi perlu membawa anak itu sebentar ke kantor. Ia bertanya apakah aku bisa pulang tepat waktu sore nanti.
Aku membaca pesan itu dua kali sebelum menjawab bahwa pemeriksaan tagihan belum selesai. Aku mungkin pulang lewat setengah jam. Tidak ada janji yang kubatalkan; kami memang belum membuat kesepakatan bahwa aku wajib tiba sebelum mereka.
'Baik. Saya bawa buku gambarnya,' balas Aldo.
Jawaban itu singkat. Aku tidak mengisi keheningannya dengan permintaan maaf. Aku kembali memeriksa map dan menyelesaikan bagianku. Kali ini aku tidak membawa laporan pulang, karena meja makan tidak perlu menjadi tempat seluruh pekerjaan tertunda.
Ketika tiba di rumah, Rafi sedang menggambar di lantai. Aldo duduk di dekatnya dengan laptop terbuka. Ia menoleh, tetapi tidak langsung bertanya kenapa aku terlambat.
'Kami baru sampai,' katanya. 'Tadi menunggu di kantor cukup lama.'
Aku meletakkan tas. 'Rafi sudah makan?'
'Sudah. Saya beli sebelum pulang.'
Rafi menunjukkan gambar mobil yang parkir di depan gedung tinggi. Aku duduk sebentar dan menanyakan siapa pengemudinya. Ia berkata mobil itu bisa berjalan sendiri. Aldo menutup laptop ketika Rafi ingin menceritakan bagian yang lain.
Setelah anak itu tidur, kami berdiri di depan kamar kecil. Aldo membuka pintunya. Lemari memenuhi satu sisi dinding, sedangkan di sisi lain ada rak dan beberapa kotak. Tidak ada ruang lapang yang bisa segera disebut milikku.
'Saya belum tahu harus memindahkan ini ke mana,' kata Aldo.
'Apa yang paling sulit Mas pindahkan?'
Ia menunjuk sebuah kotak di rak tengah. 'Surat dan foto. Saya takut nanti tertumpuk lalu rusak.'
'Kalau kita sediakan tempat khusus yang aman, apakah Mas bersedia memindahkannya?'
Aldo tidak langsung menjawab. Aku menunggu. Kali ini aku tidak ingin mengatakan apa pun yang membuatnya lega sebelum ia benar-benar memikirkan pertanyaanku.
'Bersedia. Tapi saya ingin memeriksanya sendiri dulu.'
'Boleh. Aku tidak perlu membaca atau menyentuh isinya.'
Kami mengukur dinding dengan pita ukur yang diambil Aldo dari laci. Ternyata meja kecil bisa masuk jika satu rak dipindahkan. Tidak perlu mengosongkan seluruh kamar. Lemari pun masih bisa digunakan untuk menyimpan barang kenangan yang memang ingin ia pertahankan.
'Sabtu pagi saya periksa kotak-kotak ini,' katanya. 'Sore kita pindahkan rak bersama. Bisa?'
'Bisa. Kalau ternyata Mas belum selesai, beri tahu. Jangan diam sampai aku harus bertanya lagi.'
Ia mencatat waktu itu di ponsel, lalu menyerahkannya agar aku membaca. Tidak ada kalimat tentang tugas yang sudah selesai. Ada jadwal dan pekerjaan yang masih harus dilakukan.
Kami kembali ke meja makan. Aku mengambil kalender kertas dan menandai jam kerjaku. Aldo mengisi jam sekolah Rafi, waktu kelasnya, dan rapat yang sudah pasti. Pada dua kotak yang bertabrakan, ia tidak langsung menuliskan namaku.
'Untuk yang ini saya minta bantuan Ibu setelah bertanya kapan beliau bisa,' katanya. 'Kalau tidak bisa, saya ubah pekerjaan saya.'
'Aku kadang bisa membantu. Tanyakan dulu, dan aku akan menjawab sesuai keadaan. Bukan berarti aku ingin dihitung sebagai tamu di rumah ini.'
Aldo meletakkan pena. 'Saya sempat mengira kamu tidak mau ikut mengurus Rafi.'
'Aku mau menyayanginya. Itu berbeda dengan kehilangan hak menentukan waktu. Mas dulu mengatakan mengerti. Sekarang aku perlu melihatnya ketika kita tinggal serumah.'
Ia mengangguk perlahan. Pembicaraan itu belum membuat kami hangat seperti malam lamaran. Namun, ketika selesai, namaku tidak lagi memenuhi kotak-kotak kosong yang belum sempat dibicarakan. Untuk malam ini, perubahan itu cukup nyata untuk kulihat.