Enam minggu setelah menikah, aku menemukan namaku di tempat yang tidak pernah kubicarakan dengan Aldo: kolom penanggung jawab penjemputan Rafi.
Bukan kolom kontak darurat. Bukan tambahan nomor jika ayahnya sedang tidak bisa dihubungi. Di layar ponsel Aldo, tepat di bawah jadwal kegiatan sekolah, tertulis bahwa aku akan menjemput setiap Selasa dan Kamis. Pada hari yang sama, kalender kerjaku memuat pemeriksaan laporan dan pertemuan yang sudah dijadwalkan sejak bulan lalu.
'Ini mulai kapan?' tanyaku.
Aldo sedang mengancingkan lengan kemejanya. 'Minggu depan. Jam pulangnya lebih awal karena ada kegiatan guru. Saya pikir kamu bisa mengaturnya.'
Aku meletakkan ponselnya di meja. 'Mengatur apa?'
'Jadwalmu. Sementara saja. Saya ada rapat di luar kantor.'
Sementara. Dua hari, lalu mungkin bergeser menjadi empat. Aku mengenali kata itu dari pekerjaan: tugas yang dianggap kecil karena bukan orang yang membaginya yang harus mengerjakan.
'Mas sudah memberikan namaku ke sekolah?'
'Sudah. Kamu istrinya saya sekarang. Nomormu memang perlu dicatat.'
'Aku bertanya soal jadwal menjemput, bukan soal nomor telepon.'
Ia berhenti mengancingkan lengan yang kedua. 'Rafi harus pulang dengan seseorang yang dia kenal, Alia.'
Aku menatap pintu kamar yang masih terbuka. Dari ruang makan terdengar sendok beradu dengan piring. Rafi sedang sarapan. Aku menurunkan suara, bukan karena ucapanku perlu disembunyikan, melainkan karena ia tidak perlu menjadi pendengar pertengkaran tentang dirinya.
'Kita bicara nanti malam. Sekarang tolong perbaiki jadwal itu dulu. Aku belum menyanggupinya.'
'Saya sudah telanjur bilang.'
'Kalau begitu, Mas yang perlu mengatakan ada perubahan.'
Aldo mengambil jam tangannya. Gerakannya lebih cepat daripada tadi. 'Saya tidak meminta kamu berhenti bekerja. Cuma menjemput anak sendiri.'
Kalimat itu membuatku diam.
Selama berbulan-bulan kami membicarakan siapa yang akan bertanggung jawab atas Rafi. Aldo mengatakan bahwa menikah tidak akan memindahkan tugasnya sebagai ayah kepadaku. Sekarang, hanya karena namaku sudah tercatat sebagai istrinya, semua percakapan itu bisa diringkas menjadi kata cuma.
'Aku juga tidak mengatakan aku menolak menyayangi Rafi,' jawabku. 'Aku mengatakan aku tidak bisa berada di dua tempat pada jam yang sama. Seharusnya Mas bertanya sebelum memberi janji memakai waktuku.'
Aldo membuka mulut, lalu menoleh ketika Rafi memanggil dari ruang makan.
'Ayah, botol minumku di mana?'
'Di rak sebelah kulkas,' jawabku, hampir bersamaan dengan Aldo.
Kami sama-sama terdiam. Botol itu semalam kucuci dan kutaruh di sana. Membantu tanpa diminta tidak pernah menjadi masalah bagiku. Yang membuat dadaku sesak adalah ketika pertolongan berubah menjadi bukti bahwa aku bisa diberi seluruh urusan berikutnya tanpa perlu diajak bicara.
Aku mengambil tas kerja. Di ruang makan, Rafi menunjukkan bekal yang disusunnya sendiri. Potongan roti itu tidak rapi, tetapi kotaknya sudah tertutup rapat.
'Hebat. Hari ini tidak ada yang tertinggal?' tanyaku.
Ia memeriksa tasnya sekali lagi. Aldo berdiri di belakangku, memegang kunci mobil.
'Nanti Kak Alia yang jemput hari Selasa?' tanya Rafi.
Aku menatap Aldo. Jadi bukan hanya sekolah yang sudah diberi tahu.
'Ayah masih perlu mengatur jadwalnya,' kata Aldo akhirnya. 'Nanti Ayah kasih tahu lagi. Kamu tidak perlu memikirkannya sekarang.'
Rafi mengangguk dan kembali merapatkan resleting tas. Aku mengusap bahunya sebentar sebelum berpamitan. Ia tidak bersalah karena senang akan dijemput orang yang dikenalnya. Aku tidak ingin penolakanku terhadap cara Aldo mengambil keputusan terasa seperti penolakan terhadap dirinya.
Di perjalanan kerja, aku membuka kalender. Tidak ada ruang kosong yang bisa kupindahkan begitu saja. Bahkan bila ada, itu tetap bukan alasan untuk mengambilnya tanpa bertanya. Aku mengirim pesan singkat kepada Aldo: malam ini setelah Rafi tidur, aku ingin membicarakan jadwal dan ruang kerjaku.
Ruang kerja itu persoalan lain yang selama beberapa minggu kutunda karena tidak ingin mengubah setiap hari menjadi perundingan.
Sebelum menikah, kami sepakat aku bisa menggunakan satu sudut kamar kecil untuk bekerja ketika diperlukan. Pada hari pemindahan barang, Aldo meminta meja itu ditaruh sementara di ruang makan. Kamar kecil masih berisi lemari dan barang almarhumah. Aku setuju menunggu sampai ia siap menyortirnya; aku tidak meminta semuanya dibuang. Enam minggu kemudian, kardus buku dan berkas kerjaku masih berada di belakang kursi makan.
Siang itu, aku memerlukan satu catatan yang tertinggal di rumah. Saat menelepon, Aldo menawarkan mencarikan.
'Yang map biru, dekat kardus paling atas,' kataku.
'Kardusnya dipindah ke gudang. Tadi menghalangi orang lewat.'
'Semua?'
'Iya. Nanti saya ambilkan.'
Aku memejamkan mata. 'Tolong jangan bongkar. Aku cari sendiri setelah pulang.'
Ia bertanya apakah aku marah. Di depanku, pekerjaan menunggu. Aku tidak ingin membicarakan seluruh rumah tangga melalui telepon di sela jam kerja.
'Aku kecewa. Kita bicarakan malam ini seperti pesanku tadi.'
Panggilan berakhir. Aku meminjam salinan catatan dari tim dan melanjutkan pemeriksaan. Tidak ada bencana besar hari itu. Justru karena semuanya tampak bisa diatasi, mudah sekali mengatakan bahwa aku terlalu peka. Namun aku tahu letak masalahnya: barangku bisa dipindahkan tanpa persetujuan, waktuku bisa diberikan kepada sekolah tanpa pertanyaan, sementara aku diminta menunggu untuk memiliki tempat sendiri.
Malamnya, setelah Rafi tidur, aku membawa kardus biru dari gudang ke meja makan. Aldo duduk di depanku. Ia sudah melepas kemeja kerja, tetapi wajah lelahnya tidak membuat persoalan pagi tadi hilang.
'Saya sudah menghubungi sekolah,' katanya. 'Untuk Selasa dan Kamis saya yang menjemput. Rapat saya atur ulang.'
'Terima kasih. Tapi kita belum selesai.'
Ia memandang kardus itu. 'Saya tidak bermaksud membuang barangmu.'
'Aku tahu. Aku tidak menuduh Mas membuangnya. Aku bertanya kenapa barangku bisa dipindahkan tanpa bertanya, sedangkan janji tentang ruang untukku selalu menunggu waktu yang belum jelas.'
'Barang di kamar itu milik almarhumah, Alia.'
'Aku tidak meminta Mas menghapusnya.' Aku membuka tutup kardus. Di dalamnya ada buku catatan lama dan berkas yang sudutnya sudah terlipat. 'Aku meminta Mas menyediakan tempat untuk istri yang sekarang tinggal di sini.'
Aldo menunduk. Untuk beberapa saat hanya dengung kulkas yang terdengar.
'Saya pikir kamu memahami,' katanya pelan.
'Aku berusaha memahami kehilangan Mas. Aku juga perlu dipahami. Aku bukan orang yang selalu bisa diminta menjaga Rafi sambil menunggu rumah ini memberi tempat untukku.'
Aku tidak menangis ketika mengatakannya. Suaraku justru terdengar asing karena terlalu tenang.
'Besok kita pilih tempat untuk mejamu,' jawab Aldo.
'Besok kita lihat bersama,' kataku. 'Jangan putuskan lagi sendiri. Dan malam ini aku ingin Mas mendengar dulu, tanpa menutup pembicaraan dengan satu pekerjaan yang bisa dicentang.'
Aku menggeser kardus itu ke tengah meja. Untuk pertama kalinya sejak akad, barang yang belum mendapat tempat itu tidak lagi kusembunyikan di belakang kursi.