Selama beberapa minggu berikutnya, aku dan Aldo membicarakan hal-hal yang kami sepakati di taman. Kami tidak mengadakan pertemuan khusus setiap hari. Kadang kami berbicara lewat telepon setelah pekerjaan selesai, kadang bertemu pada akhir pekan, dan kadang membiarkan satu minggu berlalu karena jadwal kami berbeda.
Kami membicarakan tempat tinggal. Aldo menjelaskan kebutuhan Rafi untuk tetap dekat dengan sekolahnya. Aku mengatakan bahwa aku bersedia mempertimbangkan tinggal di rumahnya setelah menikah, tetapi ingin ada ruang kerja yang bisa kugunakan dan kamar yang cukup nyaman untuk semua orang. Kami sepakat melihat kondisi rumah bersama sebelum memutuskan apa yang perlu diubah.
'Aku tidak ingin pindah lalu merasa tidak punya tempat sendiri,' kataku.
'Saya ingin rumah itu menjadi tempat yang nyaman untuk kita semua, bukan hanya rumah saya yang kamu masuki.'
'Kita perlu mengatur barang dan ruangnya bersama.'
'Saya setuju.'
Kami juga membicarakan keuangan. Aldo menunjukkan daftar cicilan rumah, biaya sekolah Rafi, dan pengeluaran rutinnya. Aku menjelaskan tabungan serta kewajiban yang kumiliki. Tidak semua detail terasa mudah dibicarakan, tetapi kami melakukannya tanpa menyembunyikan angka atau saling menghakimi.
'Kalau kita menikah, aku ingin tetap memiliki rekening pribadi,' kataku.
'Saya setuju. Kita juga bisa memiliki rekening bersama untuk kebutuhan rumah dan tabungan yang kita sepakati.'
'Pembagiannya harus sesuai kemampuan masing-masing.'
'Benar. Kita tidak harus membagi semuanya sama rata kalau penghasilan kita berbeda, tapi kita harus membicarakan kontribusinya dengan adil.'
Kami berkonsultasi dengan keluarga masing-masing. Ibu dan Bapak mendengarkan, sementara Bu Ratna meminta maaf atas tekanan yang pernah ia berikan. Aku menerima permintaan maaf itu. Ia mengatakan bahwa ia mulai memahami aku perlu diterima sebagai diriku sendiri, bukan sebagai jawaban untuk kebutuhan keluarga Aldo.
'Ibu dulu terlalu khawatir,' katanya saat kami bertemu lagi. 'Ibu minta maaf karena mengaitkan Rafi dengan keputusanmu.'
'Terima kasih, Bu. Saya mengerti Ibu ingin yang terbaik untuk Aldo dan Rafi. Saya hanya perlu memastikan keputusan ini benar-benar milik saya.'
'Ibu menghormati itu. Kalau nanti kamu menjadi bagian dari keluarga kami, Ibu ingin kita saling mengenal tanpa memaksa.'
'Saya juga ingin begitu.'
Rafi mengetahui bahwa kami sedang membicarakan kemungkinan menikah, tetapi Aldo menjelaskannya dengan hati-hati. Ia mengatakan bahwa belum ada tanggal dan bahwa siapa pun boleh menyampaikan perasaannya.
'Kalau Kak Alia jadi menikah dengan Ayah, apakah Kakak akan tinggal bersama kita?' tanya Rafi suatu sore ketika kami bertemu di taman.
'Kalau kami memutuskan menikah, kita akan membicarakan rumah dan kebiasaan bersama. Tapi aku tetap bukan pengganti ibumu.'
Rafi mengangguk. 'Aku tahu. Ibu sudah meninggal, tapi aku masih menyimpan fotonya. Ayah juga selalu bercerita tentang Ibu.'
'Betul. Aku bisa menjadi orang yang menyayangimu, kalau kamu juga nyaman.'
'Aku nyaman. Tapi Kakak tetap boleh sibuk kerja?'
'Tentu. Aku akan bekerja, dan kita bisa membuat waktu untuk bertemu.'
Rafi tampak puas dengan jawaban itu. Aldo tidak berusaha membuat percakapan tersebut menjadi janji. Ia membiarkan Rafi bertanya dan mendengarkan jawabanku.
Setelah beberapa minggu, aku menyadari bahwa rasa takutku mulai berbeda. Aku masih merasa gugup membayangkan pernikahan, tetapi kini rasa gugup itu datang bersama keinginan, bukan hanya dorongan dari luar. Aku mulai merindukan Aldo saat kami tidak bertemu. Aku mempercayainya lebih banyak, meski tahu kepercayaan perlu terus dijaga.
Suatu Minggu, aku mengajak Aldo berjalan di taman yang sama tempat kami membahas kemungkinan menikah. Aku mengatakan bahwa aku sudah memikirkan semua pembicaraan kami.
'Aku ingin Mas melamarku lagi,' kataku.
Aldo terdiam. 'Kamu yakin ingin mengatakan itu?'
'Iya. Aku sudah mempertimbangkan tempat tinggal, keuangan, Rafi, pekerjaanku, dan keluargaku. Aku tahu masih ada hal yang akan kita pelajari setelah menikah. Tapi aku tidak menjawab karena kasihan atau karena orang lain menyuruhku.'
'Apa yang membuatmu memilih saya?'
'Karena aku menyayangimu dan merasa kita bisa membangun hidup dengan saling mendengar. Mas tidak sempurna, aku juga tidak. Tapi aku melihat Mas mau bertanggung jawab atas kesalahan dan menghormati batas yang kusampaikan.'
Mata Aldo tampak berkaca-kaca. 'Saya ingin melamarmu dengan cara yang lebih pantas. Bukan sebagai orang yang membutuhkan istri untuk menyelesaikan hidupnya, tetapi sebagai seseorang yang ingin berbagi hidup denganmu.'
'Aku ingin mendengar lamaran itu. Tapi aku tidak perlu acara besar.'
'Baik. Saya akan bertanya dengan sederhana.'
Ia berdiri di hadapanku. Tidak ada kerumunan atau musik. Ia hanya menggenggam sebuah kotak kecil yang sudah dibawanya, lalu menatapku.
'Alia, aku mencintaimu. Aku tahu kamu memiliki hidup, cita-cita, dan kenanganmu sendiri. Aku tidak ingin mengambil semua itu. Aku ingin berjalan bersamamu, menjadi pasanganmu, dan membangun rumah tangga yang kita putuskan bersama. Maukah kamu menikah denganku?'
Aku menatap wajahnya dan mengingat hari ketika lamaran pertamanya terasa seperti tuntutan. Kali ini, ia tidak membawa alasan tentang siapa yang harus mengurus Rafi atau bagaimana keluarga akan menilai kami. Ia bertanya dan memberiku ruang untuk menjawab.
'Iya, Aldo. Aku mau menikah denganmu.'
Ia mengembuskan napas lega, lalu memasangkan cincin sederhana di jariku. Aku tertawa kecil karena tangannya sedikit gemetar.
'Kamu gugup?' tanyaku.
'Sangat. Kali ini saya tahu jawabanmu benar-benar pilihanmu.'
'Dan aku tahu Mas bertanya karena ingin menjadi pasangan, bukan mencari seseorang untuk mengisi kekosongan.'
Kami menghubungi keluarga setelah itu. Ibu menangis bahagia, sementara Bapak memelukku dan mengingatkanku bahwa aku tetap boleh datang kapan saja. Bu Ratna mengucapkan selamat dan meminta kami merencanakan semuanya sesuai kemampuan, tanpa tekanan membuat acara besar.
Beberapa bulan kemudian, setelah semua persiapan dibicarakan bersama, kami mengadakan pernikahan sederhana. Rafi berdiri dekat Aldo dan tersenyum saat aku datang. Aku memakai gaun pilihan sendiri, bukan karena ingin memenuhi bayangan orang lain tentang pengantin.
Sebelum upacara dimulai, Aldo bertanya pelan, 'Kamu yakin?'
'Aku yakin. Gugup, tapi yakin.'
'Kalau ada yang ingin kamu ubah, katakan sekarang.'
'Aku hanya ingin kita tetap berbicara seperti ini, bahkan setelah menikah.'
'Saya akan berusaha. Kamu juga boleh mengingatkan saya.'
Akad berlangsung khidmat. Aku mendengar Aldo mengucapkan ijab kabul di hadapan Bapak sebagai waliku dan para saksi. Ketika akad dinyatakan selesai, aku tidak merasa masa laluku hilang. Aku membawa semua kenangan, luka, dan pelajaran yang telah membentuk diriku. Aku juga membawa pilihan baru yang kuambil dengan sadar.
Setelah acara, Rafi menghampiriku dengan gambar kecil rumah dan pohon mangga. Kali ini, ia menggambar tiga orang di halaman, tetapi ia tidak menuliskan nama atau membuat janji tentang bagaimana kami harus menjadi keluarga.
'Ini untuk Kak Alia,' katanya.
'Terima kasih. Aku akan menyimpannya.'
Aldo berdiri di samping kami. Ia tidak mengatakan bahwa sekarang semuanya sempurna. Kami tahu kehidupan akan tetap membawa pekerjaan, perbedaan, dan hari-hari sulit. Namun, kami berjanji untuk membicarakannya dan mencari jalan bersama.
Malam itu, aku membuka buku catatan lama. Di halaman pertama, ada tulisan tentang hari ketika aku merasa semua orang ingin mengatur hidupku sebagai janda. Aku membaca kalimat-kalimat itu dengan senyum tipis. Aku tidak menikah karena takut menjadi janda tua, karena kasihan kepada Aldo, atau karena Rafi membutuhkan seseorang. Aku menikah karena setelah mengenal Aldo, mempertimbangkan hidup kami, dan menjaga hak untuk berkata tidak, aku memilih berkata iya.
Kini aku memiliki keluarga baru tanpa harus kehilangan diriku sendiri. Masa lalu tetap menjadi bagian hidupku. Pekerjaanku tetap milikku. Rafi tetap memiliki kenangan tentang ibunya, sementara Aldo menjalankan tanggung jawabnya sebagai ayah dan aku menjadi orang dewasa lain yang menyayanginya. Aldo bukan penyelamatku, dan aku bukan solusi baginya. Kami adalah dua orang yang memutuskan berjalan bersama.
Di luar, suara keluarga masih terdengar bercampur tawa. Aku menutup buku catatan dan menggenggam tangan Aldo. Besok barang-barangku akan mulai menempati rumah yang selama ini kukunjungi sebagai tamu. Aku ingin tahu bagaimana janji kami akan dijalankan ketika tidak lagi ada acara, tamu, atau waktu pertemuan yang dibatasi satu jam.