Dua bulan berlalu setelah aku mengunjungi makam suamiku. Kehidupan tidak berubah menjadi kisah tanpa masalah. Tagihan dan pesanan rombongan di ruang administrasi restoran tetap menuntut perhatian, Rafi masih memiliki jadwal sekolah yang berubah, dan Aldo kadang harus menyesuaikan rencana. Namun, kami mulai menghadapi perubahan itu dengan lebih terbuka.
Pada masa itu, aku melihat beberapa hal yang sebelumnya hanya kami bicarakan. Aldo memberi kabar saat jadwalnya berubah, tidak menganggap aku harus selalu hadir bersama Rafi, dan mengurus pembicaraan dengan keluarganya sendiri. Aku juga belajar mengatakan ketika aku membutuhkan waktu, bukan menghilang karena takut mengecewakan.
Suatu Jumat, manajer menawarkan agar aku memimpin proyek baru untuk tiga bulan berikutnya. Tanggung jawab itu lebih besar, tetapi tim akan memiliki dua koordinator pendamping. Aku meminta waktu untuk memeriksa jadwal serta berbicara dengan keluarga. Setelah mempertimbangkan semuanya, aku menerima.
'Kamu yakin punya waktu?' tanya Ibu.
'Aku yakin bisa mencoba, dengan pembagian tugas yang jelas. Kalau bebannya terlalu berat, aku akan bicara lagi dengan manajer.'
'Kamu terdengar lebih percaya diri.'
'Aku belajar bahwa menerima kesempatan tidak berarti harus menerima semua bebannya sendirian.'
Beberapa hari setelah keputusan itu, Aldo mengajakku bertemu di taman. Ia mengatakan ingin berbicara tentang sesuatu yang penting, tetapi menegaskan bahwa aku boleh meminta waktu atau menolak pembicaraan itu jika belum siap.
'Aku bersedia mendengarkan,' kataku ketika kami duduk di bangku.
Aldo menarik napas perlahan. 'Saya ingin mengatakan bahwa perasaan saya kepadamu semakin jelas. Saya ingin suatu hari membangun rumah tangga bersama kamu. Tapi saya tidak ingin mengulang cara saya melamar dulu, ketika saya menyampaikan keputusan seolah kamu harus menjawab.'
Aku menatapnya, tidak menyela.
'Saya tidak akan melamarmu hari ini,' lanjutnya. 'Saya ingin bertanya lebih dulu: apakah kamu melihat kemungkinan untuk menikah denganku, jika kita terus cocok dan membicarakan semua hal penting?'
Pertanyaan itu berbeda dari lamaran pertama. Ia tidak meminta jawaban saat itu juga dan tidak menyebut Rafi sebagai alasan aku harus menerima. Ia bertanya tentang kemungkinan, bukan hak atas masa depanku.
Aku memikirkan perjalanan kami selama berbulan-bulan. Aku mengingat bagaimana ia menyesuaikan jadwal, menerima batas, dan berani meminta maaf. Aku juga mengingat saat ia membicarakan kecemasan tanpa mengubahnya menjadi tekanan. Semua itu tidak membuatnya sempurna. Namun, aku mulai mempercayai bahwa ia mau belajar ketika menyadari telah salah.
'Aku melihat kemungkinan itu,' kataku akhirnya. 'Aku juga mulai menyayangimu. Tapi aku ingin kita membicarakan beberapa hal sebelum kamu melamarku lagi.'
'Aku juga perlu mengatakan sesuatu tentang lamaran pertamamu,' lanjutku. 'Waktu itu Mas bilang almarhumah adalah satu-satunya perempuan yang Mas cintai. Mas juga meminta aku dekat dengan Rafi, sementara Mas belum bisa menjanjikan hubungan sebagai suami istri. Aku menerima bahwa Mas berduka, tetapi aku tidak bisa menjadi pengganti atau menikah hanya demi mengisi peran.'
Aldo menunduk sejenak. 'Kamu benar. Saat itu saya masih berduka dan terlalu fokus mencari jalan agar hidup Rafi terasa lebih utuh. Saya memperlakukan pernikahan seperti solusi, dan itu tidak adil untukmu. Saya tidak berhenti mengenang almarhumah, tetapi perasaan saya kepadamu tumbuh dari siapa dirimu, dari percakapan kita, dan dari keputusan yang kita ambil bersama. Mencintaimu tidak menghapus atau menggantikan masa lalu.'
'Aku tidak meminta Mas melupakannya,' kataku. 'Aku hanya perlu tahu bahwa Mas memilihku sebagai diriku sendiri, bukan karena membutuhkan pengasuh bagi Rafi.'
'Saya memilihmu karena ingin menjadi pasanganmu. Rafi tetap punya kenangan dan tempat untuk ibunya. Saya akan tetap menjalankan tanggung jawab sebagai ayahnya, dan saya berharap kamu mengenalnya dengan cara yang nyaman bagimu.'
Aku mengangguk. Jawabannya tidak menghapus kesalahan awal, tetapi ia mengakuinya tanpa mencari alasan. 'Kalau begitu, kita lanjutkan pembicaraan ini pelan-pelan. Aku ingin keputusan kita dibangun dari kejujuran yang sama.'
Mata Aldo tampak berubah, tetapi ia menunggu aku melanjutkan.
'Aku ingin tahu bagaimana kita mengatur tempat tinggal, keuangan, hubungan dengan keluarga, dan tanggung jawab terhadap Rafi. Aku juga ingin tetap bekerja dan punya ruang untuk diriku.'
'Saya bersedia membicarakan semuanya. Tidak harus dalam satu hari.'
'Dan aku ingin memastikan Rafi mengerti bahwa aku tidak akan menggantikan ibunya.'
'Saya setuju. Saya sudah membicarakan itu dengannya secara sederhana. Dia tahu kita saling mengenal, dan tidak ada keputusan yang dibuat.'
'Bagaimana tanggapannya?'
'Dia bertanya apakah kamu masih suka melihat gambarnya. Saya bilang kamu senang, tapi jadwalmu kadang sibuk. Dia bisa menerima itu.'
Aku tersenyum. Aku senang Rafi tidak dibebani dengan harapan besar. Aku ingin mengenalnya, tetapi tetap membiarkan hubungan itu tumbuh dengan cara yang aman.
'Kalau kita berbeda pendapat, aku ingin kita tidak membuat keputusan saat sedang marah,' kataku.
'Saya setuju. Kita bisa berhenti sejenak dan menentukan waktu untuk melanjutkan pembicaraan.'
'Aku juga ingin kita menyepakati bahwa keputusan besar tidak diambil hanya karena keluarga mendesak.'
'Itu harus menjadi keputusan kita berdua.'
Kami membahas hal-hal praktis selama hampir satu jam. Aldo menjelaskan bahwa ia ingin tetap tinggal di rumahnya karena dekat dengan sekolah Rafi, tetapi terbuka membicarakan penyesuaian jika aku memiliki alasan penting. Aku mengatakan bahwa aku tidak ingin pindah sebelum kami memahami biaya dan kebutuhan masing-masing.
'Kita bisa membuat daftar pengeluaran dan membahasnya dengan terbuka,' katanya. 'Saya tidak ingin kamu masuk ke pernikahan tanpa tahu tanggungan saya.'
'Aku juga akan terbuka tentang tabungan dan kewajibanku.'
'Saya ingin kita punya rekening untuk kebutuhan bersama, tapi tetap memiliki rekening pribadi.'
'Itu cocok untukku. Kita perlu membuat aturan yang adil.'
Tidak semua hal selesai. Kami belum menentukan kapan akan menikah atau bagaimana acara akan berlangsung. Namun, kami sepakat untuk membicarakan keuangan bersama keluarga setelah keduanya merasa cukup yakin, dan sebelum ada lamaran resmi.
'Aku tidak ingin membuat Mas menunggu tanpa arah,' kataku. 'Aku hanya ingin memastikan jawabanku benar-benar milikku.'
'Saya mengerti. Saya juga tidak ingin menerima jawaban yang diberikan karena kasihan atau takut.'
Aku merasa dadaku hangat. 'Kalau pembicaraan kita nanti berjalan baik, aku bersedia menerima lamaran Mas.'
Aldo tersenyum, tetapi tidak mengeluarkan cincin atau mengubah percakapan menjadi upacara. Ia hanya menggenggam tangannya sendiri di atas lutut.
'Terima kasih sudah mengatakan itu. Saya akan menunggu sampai kita menyelesaikan hal-hal yang ingin kamu bicarakan.'
'Aku tidak ingin menunggu terlalu lama hanya karena takut. Tapi aku juga tidak ingin terburu-buru.'
'Kita cari langkah yang tepat untuk kita.'
Setelah itu, kami berjalan mengelilingi taman. Kami membicarakan pekerjaan, kelas Aldo yang hampir selesai, dan rencana Rafi untuk liburan sekolah. Aku merasa lebih ringan karena tidak lagi berpura-pura bahwa masa depan bersama Aldo mustahil. Aku hanya belum mengubah kemungkinan itu menjadi keputusan final.
Ketika pulang, aku menceritakan percakapan tersebut kepada Ibu. Ia menanyakan apakah aku benar-benar merasa mulai menyayangi Aldo.
'Iya. Aku tidak hanya merasa berterima kasih atau kasihan. Aku merindukan obrolan kami dan ingin tahu bagaimana harinya.'
'Itu perasaanmu sendiri?'
'Iya. Aku tetap ingin menjaga batas dan bekerja, tapi aku ingin melihat hubungan ini tumbuh.'
Ibu memelukku sebentar. 'Kalau begitu, teruskan dengan jujur. Jangan biarkan orang lain menjawab untukmu.'
Malam itu, aku menulis bahwa untuk pertama kalinya aku dapat membayangkan menikah lagi tanpa merasa mengkhianati masa lalu. Bayangan itu belum menjadi keputusan, tetapi bukan lagi sesuatu yang kutolak hanya karena takut.
Aku akan membicarakan hal-hal praktis dengan Aldo dan melihat apakah nilai-nilai kami sejalan. Jika semuanya tetap terasa baik, aku akan menerima lamaran yang datang dengan kesadaran dan kebebasan. Kali ini, jawabanku tidak akan lahir dari tekanan. Aku ingin menjawab karena aku memilihnya.