Pada minggu-minggu berikutnya, pemeriksaan tagihan dan pesanan rombongan restoran berjalan lebih stabil. Aku mulai terbiasa memimpin rapat, sementara tim belajar memberi kabar sebelum masalah membesar. Manajer menyampaikan bahwa masa percobaanku hampir selesai dan meminta pendapatku tentang tanggung jawab yang ingin kuambil setelahnya.
'Aku ingin tetap menjadi koordinator,' kataku. 'Tapi aku ingin jumlah proyek yang kutangani tetap realistis.'
'Kamu sudah menunjukkan kemampuan yang baik. Kita bisa mempertahankan pembagian tugas dan mengevaluasinya tiap bulan.'
Aku menerima tawaran itu dengan perasaan mantap. Aku tidak lagi merasa harus memilih antara berkembang dan menjaga kesehatan. Setelah rapat, aku berbagi kabar itu dengan Rina.
'Kamu berhasil mendapat posisi itu dengan caramu sendiri,' katanya.
'Aku juga dibantu tim. Aku tidak akan bisa melakukannya kalau mencoba memegang semua tugas.'
'Itulah gunanya tim.'
Malamnya, Ibu mengingatkanku bahwa hari berikutnya adalah tanggal ketika aku biasanya mengunjungi makam suamiku. Aku tidak lupa, tetapi tahun ini aku belum menentukan apakah ingin pergi sendiri atau bersama keluarga.
'Aku ingin pergi sendiri dulu,' kataku. 'Aku ingin punya waktu untuk berpikir.'
Ibu mengangguk. 'Kalau kamu ingin ditemani nanti, kabari kami.'
Keesokan paginya, aku membeli bunga sederhana lalu pergi ke pemakaman. Aku membersihkan daun yang jatuh di sekitar nisan dan duduk cukup lama. Aku bercerita dalam hati tentang pekerjaan, Ibu, Alisha, dan tentang Aldo. Tidak ada yang bisa menjawab, tetapi mengucapkan semuanya membuat pikiranku lebih teratur.
'Aku belum tahu apakah aku akan menikah lagi,' gumamku pelan. 'Aku juga tidak ingin melupakanmu. Aku hanya ingin berhenti merasa bahwa hidupku harus membeku di hari kamu pergi.'
Angin bergerak pelan melewati pepohonan. Aku tidak menunggu tanda atau jawaban. Aku hanya membiarkan diriku menangis sebentar, lalu menarik napas panjang.
Ketika pulang, aku merasa lebih tenang. Aku menyimpan bunga kering yang jatuh dari rangkaian di buku kecilku. Kenangan itu tidak lenyap, dan aku tidak ingin membuatnya lenyap. Namun, aku mulai memahami bahwa melanjutkan hidup tidak sama dengan menghapus cinta yang pernah ada.
Minggu sore, aku bertemu Aldo di kedai. Aku memutuskan menceritakan kunjunganku, bukan karena ia harus mengetahui semuanya, tetapi karena topik itu sudah menjadi bagian dari pembicaraan kami.
'Kemarin aku pergi ke makam suamiku,' kataku.
Aldo meletakkan cangkirnya dan mendengarkan. 'Bagaimana perasaanmu setelahnya?'
'Sedih, tapi juga lega. Aku mengatakan bahwa aku tidak ingin hidupku berhenti di masa lalu.'
'Apakah kunjungan itu membuatmu merasa bersalah karena sedang mengenal saya?'
'Tidak. Aku justru merasa bisa membedakan dua hal itu. Aku tetap menyimpan kenangan, dan aku juga boleh melihat kemungkinan baru.'
'Saya senang kamu bisa mengatakan itu. Tapi kamu tidak perlu memberi saya kesimpulan tentang hubungan kita hanya karena kamu sedang memikirkan masa lalu.'
'Aku tahu. Aku tidak sedang mengatakan bahwa aku siap menikah.'
'Saya mengerti.'
Ia tidak bertanya apakah aku menangis atau apa yang kukatakan di sana. Ia tidak mencoba datang tanpa diundang atau menawarkan diri untuk menggantikan siapa pun. Aku merasa dihormati karena ia membiarkan pengalaman itu tetap menjadi milikku.
'Ada satu hal yang ingin kutanyakan,' kataku. 'Kalau suatu hari kita menikah, apa Mas bisa menerima bahwa ada hari tertentu yang mungkin tetap terasa berat bagiku?'
'Saya bisa menerima kamu membutuhkan waktu atau ruang pada hari itu. Saya tidak akan menganggapnya sebagai tanda bahwa kamu tidak menyayangi saya.'
'Aku ingin kita bisa membicarakannya tanpa merasa dibandingkan.'
'Saya juga. Saya mungkin perlu belajar, tapi saya tidak ingin melarangmu mengenang seseorang yang pernah penting dalam hidupmu.'
Jawabannya membuatku tersentuh, meski aku tetap mengingat bahwa semua itu masih kemungkinan. Aku tidak ingin mengubah empati Aldo menjadi janji bahwa ia pasti selalu memahami. Hubungan membutuhkan percakapan dan tindakan yang berulang.
'Terima kasih sudah mendengarkan,' kataku.
'Terima kasih sudah percaya untuk bercerita.'
Kami melanjutkan pembicaraan dengan hal-hal ringan. Aldo bercerita bahwa Rafi mulai belajar membuat jadwal membaca sendiri. Aku bertanya apakah ia menempelkan daftar di dekat meja belajar.
'Iya. Dia membuatnya sendiri dan menggambar bintang di samping kegiatan yang selesai.'
'Itu cara yang bagus untuk membuatnya merasa bertanggung jawab.'
'Saya belajar tidak mengambil alih setiap hal kecil.'
Aku tersenyum. Perubahan yang terlihat pada Aldo tidak datang dari satu percakapan saja. Ia berusaha membiarkan Rafi berkembang dan mengurus perasaannya sendiri sebagai orang tua.
Hari-hari berikutnya berjalan dengan rutinitas. Aku menyelesaikan laporan, membantu Ibu, dan bertemu Aldo sesuai jadwal yang kami sepakati. Kami tidak membicarakan pernikahan setiap kali bertemu. Kadang kami hanya makan, berbicara tentang pekerjaan, lalu pulang.
Suatu malam, Alisha bertanya apakah aku bahagia.
'Aku sedang lebih tenang,' jawabku. 'Bahagia mungkin bukan sesuatu yang selalu terasa besar. Kadang aku merasa cukup dengan menjalani hariku tanpa takut dinilai.'
'Kakak masih suka Aldo?'
Aku berpikir sejenak. 'Aku menyayanginya sebagai seseorang yang sedang kukenal. Aku belum tahu apakah itu cinta seperti yang kubutuhkan untuk menikah.'
'Kakak tidak perlu menjawab sekarang.'
'Iya. Aku hanya ingin jujur.'
Pada akhir bulan, Aldo mengajakku berjalan di taman. Ia mengatakan bahwa ia bersedia melanjutkan hubungan ini selama aku juga masih merasa nyaman. Aku menjawab bahwa aku ingin terus berjalan, tetapi tidak ingin menentukan tanggal keputusan.
'Saya bisa menerima itu,' katanya. 'Saya akan tetap jujur tentang perasaan saya, dan saya berharap kamu melakukan hal yang sama.'
'Aku akan.'
Kami berjalan tanpa menggenggam tangan atau membuat pernyataan besar. Namun, aku merasa ada sesuatu yang tumbuh dalam diriku: bukan kewajiban, melainkan keinginan untuk melihat hari-hari berikutnya bersama orang ini.
Malam itu, aku menulis bahwa aku mulai mengizinkan diri bahagia tanpa merasa mengkhianati masa lalu. Kebahagiaan baru tidak menghapus kenangan lama. Aku bisa membawa keduanya, selama aku tidak dipaksa memilih dengan cara yang menyakitkan.
Aku belum tahu apakah Aldo akan menjadi suamiku. Aku belum mengatakan iya pada lamaran. Tetapi kini aku tidak lagi menolak kemungkinan itu hanya karena takut. Aku ingin terus mengenalnya sampai jawabanku benar-benar tumbuh dari diriku sendiri.