Pertemuan singkat dengan Aldo membuatku memikirkan kembali masa lalu yang selama ini kusimpan sendiri. Sejak menjadi janda, aku sering merasa orang lain ingin melihatku segera pulih. Ada yang menyuruhku melupakan, ada yang menganggap menikah lagi akan menyelesaikan semua kesedihan. Padahal, kehilangan bukan sesuatu yang selesai hanya karena hidup terus berjalan.
Jumat sore, aku membereskan lemari lama di kamar. Di bagian paling bawah, kutemukan sebuah kotak kecil berisi foto dan beberapa surat dari almarhum suamiku. Aku duduk di lantai, membuka satu per satu, dan membiarkan kenangan datang tanpa buru-buru menutupnya.
Ibu mengetuk pintu sebelum masuk. 'Kamu baik-baik saja, Al?'
'Aku menemukan kotak ini. Sudah lama tidak kubuka.'
Ibu duduk di sampingku. Ia tidak bertanya apakah aku ingin membuangnya atau menyimpan semuanya. Ia hanya menunggu sampai aku siap bercerita.
'Kadang aku takut kalau aku membuka hati lagi, orang akan mengira aku sudah melupakan dia,' kataku.
'Mengingat seseorang tidak menghalangimu untuk menjalani hidup. Kenanganmu tetap milikmu.'
Aku memandang foto yang sedang kupegang. Aku tidak lagi menangis seperti tahun pertama setelah kepergiannya, tetapi rasa kehilangan itu masih ada dalam bentuk yang lebih tenang.
'Aku tidak ingin menikah lagi karena semua orang menyuruhku,' kataku. 'Kalau suatu hari aku memilih, aku ingin itu karena aku benar-benar ingin berbagi hidup dengan seseorang.'
'Itu alasan yang baik.'
Aku menyimpan foto-foto itu kembali ke dalam kotak. Aku tidak membuangnya, juga tidak merasa harus memamerkannya kepada Aldo. Kenangan itu bagian dari hidupku, tetapi bukan alat untuk menguji apakah calon pasangan bisa menerimaku.
Malamnya, Aldo mengirim pesan menanyakan apakah aku ingin makan siang Minggu. Aku menjawab bahwa aku bisa bertemu, lalu bertanya apakah ia bersedia membicarakan masa lalu dengan jujur. Ia menjawab bahwa ia bersedia mendengarkan, tetapi aku tidak perlu menceritakan sesuatu yang belum siap kubagi.
Kami bertemu di taman kota. Setelah berjalan sebentar, kami duduk di bangku yang agak jauh dari keramaian.
'Aku ingin bercerita tentang sesuatu yang kutemukan,' kataku. 'Kotak berisi foto dan surat dari suamiku.'
Aldo menunduk sedikit, mendengarkan.
'Aku tidak selalu membuka kotak itu. Tapi aku tidak ingin merasa harus membuangnya agar bisa mulai mengenal orang baru.'
'Saya tidak akan meminta kamu membuangnya,' katanya. 'Dia bagian dari hidupmu. Saya tidak ingin bersaing dengan kenangan yang membentuk dirimu.'
'Aku juga tidak ingin hubungan baru menjadi pengganti.'
'Saya mengerti. Saya tidak bisa menggantikan orang yang sudah meninggal, dan saya tidak seharusnya mencoba.'
Aku merasa lega mendengar jawabannya. Namun, ada pertanyaan yang belum pernah kuucapkan.
'Mas pernah merasa harus bersaing dengan masa lalu seseorang?'
Aldo memikirkan pertanyaan itu. 'Saya pernah merasa takut dibandingkan, tapi itu bukan alasan untuk meminta orang lain menghapus masa lalunya. Kalau kita bersama, kita harus menerima bahwa masing-masing datang dengan pengalaman sendiri.'
'Apa Mas merasa aku masih terlalu terikat pada masa lalu?'
'Saya tidak bisa menentukan perasaanmu untukmu. Yang saya lihat, kamu sedang mengenal saya dengan jujur. Itu cukup untuk saya sekarang.'
Aku memandangnya. 'Aku ingin memastikan Mas tidak berharap aku melupakan suamiku agar bisa mencintai Mas.'
'Saya tidak berharap begitu. Kalau suatu hari kamu mencintai saya, saya ingin itu menjadi perasaan yang baru, bukan pengganti.'
Percakapan itu terasa berat, tetapi juga melegakan. Aku tidak pernah ingin menjadikan masa lalu sebagai rahasia yang harus disembunyikan. Pada saat yang sama, aku tidak ingin setiap bagian dari hidupku dibandingkan dengan hubungan baru.
'Aku belum tahu apakah aku bisa mencintai Mas,' kataku. 'Tapi aku tidak ingin rasa takut membuatku berhenti mengenal Mas.'
'Saya juga tidak tahu bagaimana akhirnya. Saya memilih mengenalmu karena saya menghargai siapa dirimu sekarang, termasuk bagian-bagian yang sudah membentukmu.'
Kami duduk diam beberapa saat. Tidak ada yang mencoba menghibur dengan janji bahwa semua kesedihan akan hilang. Keheningan itu cukup baik. Aku merasa tidak perlu mempercepat jawaban hanya untuk menutup pembicaraan yang sulit.
Setelah beberapa menit, Aldo bertanya apakah aku ingin kembali berjalan. Aku mengangguk. Kami melanjutkan langkah mengitari taman dan berbicara tentang hal-hal ringan. Ia bercerita bahwa Rafi sedang belajar membuat layang-layang di sekolah. Aku bertanya warna apa yang dipilihnya.
'Katanya biru dan kuning. Dia ingin menerbangkannya di lapangan.'
'Semoga anginnya cukup.'
'Iya. Saya bilang kita akan mencoba akhir pekan depan.'
Ia tidak mengundangku ikut, dan aku tidak merasa perlu bertanya. Aku senang ia menjaga waktu bersama anaknya tanpa menganggap aku harus hadir setiap kali.
Dalam perjalanan pulang, aku merasakan dadaku lebih ringan. Aku tidak mendapat jawaban tentang masa depan, tetapi aku berhasil mengatakan sesuatu yang selama ini membuatku cemas. Aldo mendengarkan tanpa mencoba memperbaiki atau mengambil alih kenanganku.
Di rumah, Ibu bertanya apakah pembicaraan itu berjalan baik.
'Iya. Aku bilang aku tidak ingin menghapus masa lalu. Aldo mengerti.'
'Kamu merasa lebih siap?'
'Aku merasa lebih jujur. Soal siap atau tidak, aku masih perlu waktu.'
Ibu mengangguk. Ia tahu bahwa aku tidak membutuhkan dorongan agar segera menyimpulkan sesuatu.
Malam itu aku membuka buku catatan dan menulis bahwa masa lalu tidak harus menjadi penghalang, tetapi juga tidak perlu dipadamkan. Aku boleh menyimpan kenangan dan tetap memberi ruang bagi kemungkinan baru. Aku tidak berutang kepada siapa pun untuk segera bahagia dengan cara yang mereka tentukan.
Aku juga menulis bahwa Aldo tidak mencoba menempatkan dirinya di atas kenangan itu. Sikapnya membuatku lebih percaya, tetapi aku tetap ingin melihat konsistensinya dalam banyak keadaan. Kepercayaan tidak terbentuk hanya dari satu percakapan yang indah.
Aku menyimpan catatan dan mematikan lampu. Besok, aku akan kembali bekerja dan mengurus hal-hal yang biasa. Kesedihan tidak menghilang, tetapi ia tidak lagi memenuhi seluruh ruangan. Di sampingnya, ada ruang kecil yang mulai kuizinkan untuk diisi oleh harapan.
Aku ingin membiarkannya tumbuh dengan tenang.
Aku mengembalikan kotak kenangan ke lemari setelah merapikan surat yang terlipat. Foto Afnan tetap di atas, tidak menjadi barang yang harus kusembunyikan.