Dua minggu setelah aku mengatakan ingin terus mengenal Aldo, pekerjaan di kantor memasuki tahap yang lebih rumit. Rincian jumlah hidangan pada pesanan rombongan mendapat perubahan besar dari pelanggan, dan beberapa keputusan harus dibuat sebelum rapat koordinasi bulanan. Aku masih menyesuaikan diri dengan peran baruku. Ada hari ketika semuanya terasa lancar, ada pula hari ketika aku pulang dengan kepala penuh angka dan pertanyaan.
Pada Selasa sore, manajer mengabarkan bahwa rapat koordinasi yang kupimpin akan dimajukan. Aku sudah memiliki rencana makan malam bersama Aldo pada hari yang sama. Jadwal rapat baru berakhir lebih dari satu jam setelah waktu pertemuan kami.
Aku tidak ingin menunggu sampai malam untuk mengabari Aldo. Begitu rapat selesai, aku mengirim pesan.
'Rapat dimajukan ke sore ini dan kemungkinan selesai terlambat. Aku tidak bisa datang makan malam sesuai rencana.'
Balasannya tidak segera muncul. Aku menyimpan ponsel dan mulai menyiapkan bahan rapat. Beberapa menit kemudian, ia menjawab.
'Terima kasih sudah memberi kabar. Kita batalkan malam ini. Semoga rapatnya berjalan baik.'
Aku membaca kalimat itu dan kembali bekerja. Tidak ada pertanyaan apakah aku bisa meninggalkan rapat lebih cepat. Tidak ada tuduhan bahwa aku memilih pekerjaan daripada dirinya. Aku tetap merasa kecewa karena rencana kami batal, tetapi rasa kecewa itu tidak berubah menjadi pertengkaran.
Rapat berlangsung lebih lama dari perkiraan. Dua anggota tim memiliki pendapat berbeda tentang urutan prioritas. Aku memberi mereka waktu menjelaskan alasan masing-masing, lalu meminta manajer menetapkan bagian yang harus didahulukan. Kami menyepakati jadwal baru, tetapi tugas tambahan membuatku harus memeriksa sejumlah dokumen malam itu.
Saat keluar dari kantor, hari sudah gelap. Aku mengirim pesan kepada Aldo bahwa rapat selesai dan aku akan pulang langsung.
'Kamu pasti lelah. Tidak perlu membalas lagi malam ini,' tulisnya.
Aku tersenyum kecil. Aku menyukai sikapnya, tetapi tidak ingin menganggap satu kejadian sebagai bukti bahwa semua perbedaan akan selalu ditangani dengan baik. Aku perlu melihat pola, bukan mencari kepastian dari satu pesan.
Di rumah, Ibu sudah menyiapkan makan malam. Ia bertanya mengapa aku pulang terlambat. Aku menceritakan perubahan jadwal dan pembatalan rencana dengan Aldo.
'Dia marah?' tanyanya.
'Tidak. Dia menerima kabarku.'
'Bagaimana perasaanmu?'
'Kecewa karena rencana batal, tapi lega karena aku bisa mengatakannya tanpa takut.'
Ibu mengangguk. 'Kamu tidak harus memilih antara menjaga pekerjaan dan membuat orang lain senang setiap saat.'
Aku menyelesaikan makan, lalu memeriksa dokumen selama setengah jam. Setelah itu, aku menutup laptop sesuai batas yang kubuat. Ada beberapa hal yang bisa menunggu sampai pagi. Aku mulai menyadari bahwa tanggung jawab tidak selalu berarti menghabiskan semua waktu yang tersedia.
Rabu siang, Aldo bertanya apakah aku ingin menjadwalkan ulang makan malam. Aku memeriksa kalender. Jumat malam aku sudah berjanji menemani Alisha mencari bahan tugas, sementara akhir pekan ada acara keluarga. Minggu sore masih kosong.
'Minggu sore bisa, tapi aku ingin bertemu sebentar saja. Minggu ini cukup padat.'
'Baik. Kita bisa minum teh dan pulang sebelum malam.'
'Terima kasih sudah menyesuaikan.'
'Saya juga ingin bertemu denganmu. Kita cari waktu yang tidak membuatmu kelelahan.'
Kalimatnya sederhana. Aku tidak tahu apakah ia selalu akan mampu mempertahankan kesabaran itu, tetapi untuk kali ini ia benar-benar mendengarkan batas yang kusampaikan.
Minggu sore, kami bertemu di kedai dekat rumah. Aldo datang membawa buku yang sedang ia baca. Ia bercerita bahwa ia mulai membiasakan diri membaca bersama Rafi sebelum tidur, meski beberapa malam mereka terlalu lelah untuk menyelesaikan satu bab.
'Apa Rafi suka?' tanyaku.
'Dia suka memilih bukunya sendiri. Kadang saya ingin memberi saran, tapi sekarang saya membiarkan dia memilih dulu.'
'Kedengarannya kalian menemukan rutinitas baru.'
'Iya. Saya juga belajar bahwa kebiasaan kecil lebih mudah dijaga daripada membuat rencana yang terlalu besar.'
Aku mengangguk. Aku memahami hal itu. Dalam hubungan kami, langkah kecil terasa lebih jujur daripada janji besar yang belum teruji.
'Aku ingin meminta maaf,' kata Aldo setelah jeda. 'Waktu awal melamarmu, saya terlalu cepat menyampaikan keinginan saya seolah kamu tinggal menerima. Saya memikirkan kebutuhan saya dan Rafi, tapi kurang memikirkan apakah kamu siap.'
Aku menatapnya. Kami pernah membahas lamaran itu sebelumnya, tetapi kali ini ia mengucapkan permintaan maaf tanpa membela dirinya.
'Aku menghargai Mas mengatakannya. Waktu itu aku merasa diperlakukan seperti solusi untuk hidup Mas.'
'Saya mengerti sekarang. Saya tidak bisa menghapus kesan itu dengan satu permintaan maaf. Saya hanya bisa menunjukkan bahwa saya belajar.'
'Benar. Aku juga perlu melihatnya dari waktu ke waktu.'
'Saya tidak berharap kamu langsung percaya sepenuhnya.'
Kejujurannya membuatku lebih tenang. Aku tidak ingin membuka kembali setiap luka lama hanya untuk menguji Aldo, tetapi aku juga tidak ingin berpura-pura bahwa masa lalu tidak berpengaruh. Kami perlu mengakui hal-hal yang terjadi tanpa membiarkannya menguasai semua percakapan.
'Aku juga ingin mengatakan sesuatu,' kataku. 'Aku tidak bisa membalas permintaan maaf itu dengan janji bahwa semuanya sudah selesai. Tapi aku bersedia terus mengenal Mas.'
'Itu sudah cukup untuk hari ini.'
Kami berbicara tentang hal lain setelahnya. Aldo bertanya tentang proyek baru, dan aku menceritakan keputusan rapat yang sulit. Ia mendengarkan tanpa mengambil alih atau menawarkan diri untuk menelepon manajerku. Aku merasa bisa menceritakan masalah tanpa menyerahkan tanggung jawab menyelesaikannya.
Ketika waktunya hampir habis, aku mengatakan bahwa aku harus pulang. Aldo mengangguk. Kami sepakat melihat kalender untuk pertemuan berikutnya setelah jadwal kerja lebih jelas.
Di rumah, aku menuliskan dua hal di buku catatan: aku kecewa saat rencana batal, dan aku lega karena bisa mengatakannya dengan jujur. Kedua perasaan itu bisa ada bersamaan. Aku tidak harus menutupi kekecewaan agar dianggap mandiri, dan Aldo tidak harus menjadi orang yang selalu bisa mengatur semua keadaan.
Aku juga mencatat permintaan maafnya. Itu tidak menghapus cara ia melamarku dulu, tetapi menunjukkan bahwa ia bersedia memahami akibat tindakannya. Aku akan melihat apakah perubahan itu tetap ada ketika harapannya tidak segera dipenuhi.
Malam semakin larut. Aku menutup buku dan bersiap tidur. Hubungan kami belum memiliki jawaban akhir. Namun, untuk pertama kalinya aku merasa kami bisa membicarakan masa lalu tanpa kembali ke tekanan yang sama. Aku ingin terus berjalan dengan mata terbuka, tetap menjaga pekerjaanku, keluargaku, dan diriku sendiri.