Minggu berikutnya, aku memulai pekerjaan dengan jadwal yang lebih teratur. Koordinasi administrasi pesanan restoran berjalan sesuai rencana, sementara tim mulai memeriksa kecocokan tagihan katering dengan pembayaran. Aku menyisihkan waktu untuk meninjau hasil kerja, tetapi tetap menutup laptop pada jam yang telah kutentukan.
Selasa sore, manajer memintaku bertemu untuk membahas masa percobaan sebagai koordinator. Ia menanyakan apakah beban tugas masih bisa dijalankan bersama pekerjaanku yang lain.
'Bisa, selama jadwal rapat tetap diumumkan lebih awal dan ada anggota tim yang membantu mencatat tindak lanjut,' kataku.
'Apakah kamu ingin melanjutkan tugas ini setelah masa percobaan?'
'Aku tertarik, tapi ingin melihat hasil evaluasi dua bulan. Kalau bebannya bertambah tanpa dukungan, aku perlu membicarakan ulang tanggung jawabnya.'
Manajer menyetujui usul itu dan mencatat bahwa tugas koordinator akan dievaluasi bersama. Aku meninggalkan ruangannya dengan perasaan lega. Aku tidak harus memilih antara menerima kesempatan dan menjaga batas. Keduanya bisa dibicarakan.
Dalam perjalanan pulang, Aldo mengirim pesan bahwa ia ingin mengajakku makan malam pada akhir pekan. Aku memeriksa kalender dan melihat ada acara keluarga pada Sabtu. Minggu siang masih memungkinkan.
'Minggu siang bisa, tapi aku hanya punya waktu sampai pukul empat,' tulisku.
'Baik. Kita makan siang dan pulang sesuai waktumu.'
'Aku ingin membicarakan sesuatu saat bertemu, tapi bukan hal buruk.'
'Terima kasih sudah memberi tahu. Kita bisa bicara dengan tenang.'
Aku belum tahu bagaimana tepatnya akan menjelaskan pikiranku. Sejak beberapa minggu terakhir, aku merasa hubungan kami lebih terbuka. Aku tetap belum siap menikah, tetapi aku juga tidak ingin Aldo menafsirkan kehati-hatianku sebagai keinginan untuk menjauh. Aku ingin melanjutkan proses ini dengan tujuan mengenal lebih baik, bukan sekadar menunggu tanpa arah.
Pada Minggu siang, kami bertemu di kedai yang tenang. Aldo datang tepat waktu dan bertanya apakah acara keluargaku kemarin berjalan baik. Aku menceritakan bahwa Nisa datang lagi dan kami berbincang tentang rencana bulan depan. Kali ini ia tidak menanyakan hubungan kami.
'Kamu ingin membicarakan sesuatu?' katanya setelah kami memesan.
'Iya. Aku ingin mengatakan bahwa aku masih ingin melanjutkan hubungan ini.'
Wajah Aldo tampak sedikit terkejut, tetapi ia tidak langsung menyela.
'Aku belum siap membicarakan pernikahan sebagai keputusan. Tapi aku ingin kita mengenal satu sama lain dengan lebih sengaja, termasuk membicarakan hal-hal penting sedikit demi sedikit.'
'Apa maksudmu dengan lebih sengaja?'
'Tetap bertemu sesuai jadwal yang nyaman, saling jujur tentang harapan, dan sesekali membahas apakah kita masih merasa cocok. Aku tidak ingin setiap pertemuan menjadi evaluasi, tapi aku juga tidak ingin kita menghindari pembicaraan penting.'
'Saya mengerti. Saya juga ingin melanjutkan. Saya berharap hubungan ini bisa menuju pernikahan, tetapi saya tidak akan meminta kamu menyatakan itu sekarang.'
'Aku perlu tahu apakah Mas nyaman dengan ketidakpastian ini. Aku tidak ingin Mas setuju hanya karena takut kehilangan aku.'
Aldo berpikir sejenak. 'Saya memang takut kecewa kalau hasilnya tidak seperti harapan saya. Tapi saya memilih untuk terus mengenalmu karena saya merasa hubungan ini layak dijalani selama kita saling menghormati. Saya tidak ingin memaksamu menjanjikan sesuatu.'
Aku menyimak jawabannya. Ada ketakutan di dalamnya, tetapi ia tidak menyembunyikan atau mengubahnya menjadi tuntutan.
'Aku juga memilih melanjutkan karena aku merasa nyaman dengan cara kita berbicara. Aku belum tahu apakah perasaanku akan berkembang menjadi cinta, tapi aku bersedia melihatnya.'
'Terima kasih sudah jujur.'
'Aku ingin kita menyepakati beberapa hal. Kalau salah satu merasa hubungan ini tidak sehat, kita harus mengatakannya. Kalau keluarga bertanya, kita tidak memberi kesan bahwa keputusan menikah sudah dibuat.'
'Saya setuju. Untuk Rafi, saya akan mengatakan bahwa kita masih berteman dan saling mengenal.'
'Aku juga tidak ingin dia merasa aku akan pergi atau datang lagi sesuai janji yang belum pasti.'
'Saya akan menjaga cara menjelaskan itu.'
Kami membahas bagaimana pertemuan berikutnya dapat dijalani tanpa tekanan. Aldo mengusulkan agar kami mencoba kegiatan sederhana yang kami berdua sukai. Aku setuju, tetapi mengatakan bahwa jadwal harus tetap fleksibel karena pekerjaanku.
'Kita bisa merencanakan satu kegiatan untuk bulan depan, lalu memastikan lagi seminggu sebelumnya,' katanya.
'Itu cocok. Aku juga akan memberi tahu lebih awal kalau ada perubahan.'
'Saya akan melakukan hal yang sama.'
Setelah pembicaraan itu, kami makan dan bercerita tentang hal-hal biasa. Aku bertanya tentang kelas Aldo yang hampir selesai. Ia bercerita bahwa tugas akhirnya lebih rumit dari perkiraan, tetapi ia sudah meminta bantuan pengajar untuk memastikan topiknya tidak terlalu luas.
'Kamu merasa lebih baik setelah bertanya?' tanyaku.
'Iya. Saya biasanya mencoba mengerjakan sendiri terlalu lama.'
'Aku juga sering begitu di kantor.'
'Mungkin kita sama-sama perlu belajar meminta bantuan sebelum kewalahan.'
'Setuju.'
Percakapan itu terasa ringan. Aku tidak merasa harus mengubah suasana menjadi romantis agar keputusan melanjutkan hubungan terlihat penting. Bagiku, memilih untuk tetap mengenal satu sama lain sudah cukup berarti.
Menjelang pukul empat, aku mengingatkan bahwa aku harus pulang. Aldo mengangguk dan berjalan bersamaku ke depan kedai. Ia bertanya apakah aku merasa lega setelah mengutarakan pikiranku.
'Iya. Aku tidak ingin diam sampai Mas salah memahami sikapku.'
'Saya senang kamu mengatakannya. Saya juga akan berusaha bertanya daripada membuat dugaan sendiri.'
'Itu akan membantu.'
Kami berpisah tanpa menentukan tanggal pertemuan berikutnya. Kami akan melihat jadwal masing-masing dan memberi kabar. Aku pulang dengan perasaan lebih mantap, bukan karena semua pertanyaan sudah terjawab, melainkan karena aku telah mengatakan apa yang memang kupilih saat ini.
Di rumah, Ibu bertanya bagaimana pertemuan itu berlangsung.
'Aku mengatakan bahwa aku ingin melanjutkan hubungan ini, tapi belum siap menjanjikan pernikahan.'
'Bagaimana tanggapan Aldo?'
'Dia ingin melanjutkan juga. Dia masih berharap menikah, tapi setuju untuk tidak menekan.'
'Kamu merasa keputusan itu benar untukmu?'
'Untuk sekarang, iya. Aku memilih mengenalnya lebih jauh. Kalau suatu saat aku merasa berbeda, aku harus jujur.'
Ibu mengangguk. Ia tidak mengatakan bahwa aku telah membuat pilihan terbaik atau bahwa Aldo pasti cocok. Ia membiarkanku memiliki keputusan itu sendiri.
Malamnya, aku menulis di buku catatan bahwa melanjutkan hubungan bukan berarti menyerahkan kendali atas masa depanku. Aku bisa memilih satu langkah tanpa mengunci semua langkah berikutnya. Aldo juga memilih untuk menunggu dan mengenalku, dengan harapan yang ia sampaikan secara terbuka.
Aku belum tahu kapan kami akan berbicara lagi tentang pernikahan. Aku tidak menetapkan tanggal atau target. Aku hanya ingin memastikan bahwa jika pembicaraan itu datang, kami berdua siap mempertimbangkan kenyataan, bukan sekadar memenuhi harapan orang lain.
Aku menutup buku catatan dan menyiapkan pakaian untuk bekerja. Besok akan ada rapat dan tugas baru. Hubunganku dengan Aldo akan berjalan berdampingan dengan hidupku, bukan menggantikannya. Untuk sekarang, pilihan untuk melangkah pelan-pelan terasa jujur dan cukup.