Senin pagi, aku menerima pesan dari Aldo bahwa ibunya kembali bertanya tentang hubungan kami. Kali ini, ia tidak meminta aku menjawab atau berbicara dengan Bu Ratna. Ia hanya memberi tahu bahwa ia sudah menjelaskan kami masih saling mengenal dan belum membuat keputusan tentang pernikahan.
'Saya ingin kamu tahu supaya tidak ada cerita yang berbeda kalau beliau menghubungimu,' tulisnya.
Aku berterima kasih karena ia memberi kabar lebih dulu. Aku tidak ingin kembali berada dalam situasi ketika orang lain mengira aku telah menyetujui sesuatu yang belum pernah kubicarakan.
'Apa Ibu masih berharap kita segera menikah?' tanyaku.
'Beliau berharap begitu, tapi saya mengatakan bahwa harapan itu tidak boleh menjadi tekanan untukmu.'
'Bagaimana perasaan Mas setelah membicarakannya?'
'Sedikit berat. Ibu cemas, tapi saya harus mengurus kecemasan itu tanpa mengubahnya menjadi tanggung jawabmu.'
Aku membaca pesannya dengan hati-hati. Aku tahu percakapan dengan keluarga bisa sulit, terutama ketika seseorang menginginkan hal yang berbeda. Aku tidak ingin menganggap Aldo harus selalu merasa nyaman. Yang penting, ia tidak menggunakan ketidaknyamanan itu untuk mendesakku.
Malamnya, kami berbicara lewat telepon. Aldo terdengar lelah setelah hari kerja yang panjang. Aku bertanya apakah ia ingin bercerita atau lebih memilih beristirahat.
'Aku bisa mendengarkan sebentar,' kataku. 'Tapi kalau Mas ingin istirahat, kita bisa bicara besok.'
'Saya ingin bercerita sedikit. Saya juga tidak ingin pembicaraan ini menjadi bebanmu.'
'Ceritakan yang Mas nyaman ceritakan.'
Ia mengatakan bahwa ibunya khawatir ia akan menunggu terlalu lama, lalu kecewa jika aku tidak memilih menikah dengannya. Aldo mengerti kekhawatiran itu, tetapi ia tidak ingin membuatku merasa harus memberi jawaban hanya untuk menenangkan keluarga.
'Apa Mas sendiri takut menunggu?' tanyaku.
'Kadang. Saya berharap hubungan ini berhasil. Tapi saya juga tahu kamu tidak bisa menjamin perasaanmu akan berkembang seperti yang saya inginkan.'
'Aku tidak ingin memberi harapan palsu. Aku memang masih ingin mengenal Mas, tapi aku belum tahu apakah aku akan siap menikah.'
'Saya paham. Saya ingin terus mencoba selama kita sama-sama merasa proses ini baik.'
'Kalau suatu saat salah satu merasa tidak sanggup melanjutkan, kita harus mengatakan itu dengan jujur.'
'Saya setuju.'
Percakapan itu terasa lebih rentan daripada biasanya. Aldo tidak berpura-pura bahwa ia sama sekali tidak khawatir. Aku menghargai kejujurannya, tetapi aku tetap perlu menjaga diriku agar tidak menganggap rasa khawatirnya sebagai tanggung jawab yang harus kuselesaikan.
'Aku ingin mendukung Mas, tapi aku tidak bisa menghilangkan semua kecemasan itu dengan janji,' kataku.
'Saya tidak meminta kamu melakukan itu. Saya hanya ingin bisa membicarakannya tanpa membuatmu merasa harus mengubah jawaban.'
'Aku bisa mendengarkan. Kalau pembicaraan mulai terasa menekan, aku akan bilang.'
'Baik. Saya juga akan bertanya sebelum membahas hal yang berat.'
Kami berbicara tentang topik lain setelah itu. Aldo menceritakan bahwa Rafi mendapat tugas membaca dan ingin memilih buku petualangan. Aku menceritakan rapat kerja yang akan berlangsung keesokan hari. Suasana kembali lebih ringan.
Sebelum menutup telepon, Aldo bertanya apakah aku masih merasa nyaman melanjutkan hubungan ini setelah mendengar kekhawatirannya.
'Iya. Aku nyaman selama Mas tidak mengubah kekhawatiran itu menjadi desakan.'
'Saya akan berusaha menjaganya.'
'Aku juga akan berusaha jujur kalau perasaanku berubah.'
Kami sepakat tidak perlu menjadwalkan pertemuan malam itu. Aku ingin tidur lebih awal, dan Aldo harus mengantar Rafi ke sekolah pagi-pagi. Kami saling mengucapkan selamat malam.
Selasa, aku berbicara dengan Ibu tentang panggilan itu. Aku ingin memastikan bahwa aku tidak bersikap dingin hanya karena Aldo berbagi kekhawatirannya.
'Kamu boleh mendengarkan perasaannya tanpa bertanggung jawab menghilangkan semuanya,' kata Ibu.
'Aku takut kalau aku terlalu tegas, dia merasa aku tidak peduli.'
'Peduli bukan berarti kamu harus memberikan jawaban yang belum kamu miliki.'
Aku memikirkan kalimat itu sepanjang hari. Aku dapat berempati kepada Aldo tanpa mengubah keputusan pribadiku. Aku juga dapat berharap hubungan ini berkembang, sambil menerima kemungkinan bahwa hasilnya berbeda dari yang kami inginkan.
Pada Rabu sore, Aldo mengirim pesan bahwa ia sudah berbicara lagi dengan ibunya. Ia mengatakan bahwa mereka sepakat untuk tidak membahas lamaran dalam waktu dekat. Ia juga menambahkan bahwa ia sendiri ingin memberi ruang bagi hubungan kami.
'Terima kasih sudah mengurus pembicaraan itu,' balasku. 'Aku menghargai bahwa Mas tidak meminta aku menghubungi Ibu.'
'Itu tanggung jawab saya. Kalau suatu saat kamu ingin berbicara dengannya, kamu boleh, tapi tidak wajib.'
'Aku mengerti.'
Hari Kamis, aku menerima surel tentang pemeriksaan tagihan pesanan katering berikutnya. Jadwalnya belum final, tetapi aku diminta memimpin rapat koordinasi lagi. Aku merasa bangga sekaligus sadar bahwa peranku akan terus berkembang. Aku menuliskan pertanyaan tentang kapasitas tim sebelum menyetujui jadwal.
Saat istirahat, Rina bertanya apakah aku masih memikirkan hubungan dengan Aldo.
'Aku memikirkannya, tapi aku tidak merasa harus membuat keputusan sekarang.'
'Kamu merasa dia menghormati batasmu?'
'Sejauh ini, iya. Aku tetap memperhatikan tindakannya.'
'Itu terdengar sehat.'
Aku kembali bekerja dan menyelesaikan catatan proyek. Aku tidak ingin hubungan mengambil alih seluruh pikiranku. Aku juga tidak ingin mengabaikannya. Aku mencoba memberi setiap bagian hidupku ruang yang cukup.
Jumat malam, Aldo mengirim pesan bahwa Rafi akan menginap di rumah neneknya akhir pekan ini. Ia bertanya apakah aku ingin bertemu untuk makan siang. Aku memeriksa jadwalku dan menjawab bahwa Sabtu siang bisa, selama kami pulang sebelum sore.
'Baik. Kita bertemu di tempat yang kamu pilih.'
'Kedai dekat taman saja.'
'Sampai besok.'
Sabtu, kami bertemu sesuai rencana. Aldo tampak lebih tenang daripada saat menelepon sebelumnya. Kami berbicara tentang kegiatan masing-masing. Ia tidak mengulang kekhawatirannya atau meminta kepastian. Aku juga tidak berpura-pura bahwa percakapan itu tidak pernah terjadi.
'Bagaimana perasaan Mas setelah bicara dengan Ibu?' tanyaku.
'Lebih baik. Saya masih berharap, tapi saya tidak perlu membahasnya setiap hari.'
'Aku senang Mas punya ruang untuk mengelola perasaan itu.'
'Saya juga ingin tahu bagaimana perasaanmu.'
'Aku masih ingin mengenal Mas. Aku belum siap menjanjikan pernikahan, dan aku ingin kesepakatan itu tetap berlaku.'
'Saya mengerti. Saya tidak akan meminta lebih hari ini.'
Kami melanjutkan makan siang. Tidak ada kata-kata besar atau janji baru. Setelah selesai, kami berjalan sebentar lalu pulang sesuai waktu yang telah disepakati.
Dalam perjalanan pulang, aku merasa lega karena kami dapat membicarakan kecemasan tanpa menjadikannya alat untuk mengubah jawaban satu sama lain. Aku tahu rasa khawatir mungkin kembali. Aku juga tahu bahwa hubungan yang sehat bukan berarti tidak pernah ada perasaan sulit, melainkan bagaimana perasaan itu dibicarakan dan ditangani.
Malam itu, aku menulis bahwa aku bisa peduli kepada Aldo tanpa menyelamatkannya dari setiap ketidakpastian. Ia pun dapat berharap tanpa menuntutku menjamin hasil. Kami masih berada dalam proses mengenal, dan proses itu membutuhkan kejujuran dari kedua pihak.
Aku belum tahu akhir hubungan ini. Namun, aku tahu aku tidak ingin melanjutkannya karena kasihan atau tekanan keluarga. Jika suatu hari aku memilih menikah, aku ingin pilihan itu lahir dari keyakinan, bukan dari rasa takut membuat orang lain kecewa.
Aku menutup buku catatan dan bersiap tidur. Besok aku akan kembali menjalani rutinitas, bekerja, dan memperhatikan diriku sendiri. Hubungan dengan Aldo tetap menjadi bagian dari hidupku, tetapi keputusan tentang masa depanku tetap milikku.