Selasa pagi, Aldo mengirim pesan bahwa jadwal kerja dan kelasnya berubah. Ia harus menghadiri rapat tambahan pada Kamis, sementara Rafi dijadwalkan pulang dari rumah neneknya lebih awal. Ia ingin menanyakan apakah aku bersedia bertemu mereka di rumahnya pada Jumat sore.
Aku membaca pesannya sambil menunggu kopi dibuat. Undangan itu berbeda dari pertemuan kami di tempat umum. Rumah adalah ruang yang lebih pribadi. Aku pernah berkunjung, tetapi belum ingin menganggap kenyamanan pada kunjungan terdahulu sebagai kesediaan untuk selalu datang. Aku tidak ingin langsung mengiyakan tanpa memahami siapa saja yang akan ada dan apa yang diharapkan dariku.
'Apakah hanya kita bertiga?' tanyaku.
'Iya. Rafi pulang lebih awal dan ingin menunjukkan buku gambarnya. Kalau kamu belum nyaman datang ke rumah, kita bisa bertemu di tempat lain.'
'Aku belum yakin. Aku ingin tahu kira-kira berapa lama rencananya.'
'Sekitar satu jam. Kamu bisa pulang kapan saja.'
Aku berterima kasih dan mengatakan akan memikirkannya. Sepanjang hari, pikiranku kembali ke undangan tersebut. Aku tidak takut kepada Aldo, tetapi aku ingin menjaga agar langkah yang kuambil sesuai dengan kenyamananku. Mengunjungi rumahnya tidak harus berarti komitmen lebih besar, tetapi aku tidak ingin orang lain menafsirkan kedatanganku sebagai janji.
Malamnya, aku berbicara dengan Ibu.
'Aldo mengundangku ke rumahnya untuk melihat gambar Rafi. Aku pernah ke sana, tetapi kali ini aku lebih ingin bertemu di tempat umum.'
'Apa kamu ingin pergi?'
'Aku tertarik, tapi mungkin lebih nyaman kalau pertemuannya tetap di tempat umum.'
'Kamu bisa mengatakan itu. Tidak perlu menerima undangan hanya agar orang lain tidak kecewa.'
Aku mengangguk. Aku menyadari bahwa aku bisa mengusulkan pilihan lain, bukan hanya menerima atau menolak sepenuhnya.
Keesokan harinya, aku mengirim pesan kepada Aldo.
'Aku ingin bertemu Rafi, tapi untuk sekarang aku lebih nyaman di tempat umum. Bagaimana kalau kita bertemu di kedai dekat taman seperti sebelumnya?'
'Tentu. Kita bisa lakukan itu. Maaf kalau undanganku membuatmu merasa harus datang ke rumah.'
'Tidak apa-apa. Aku hanya sedang memastikan langkah yang membuatku nyaman.'
'Saya mengerti. Kita bertemu di kedai.'
Percakapan itu membuatku lega. Aldo tidak mempertanyakan alasanku atau menganggapnya sebagai tuduhan. Ia menyesuaikan rencana tanpa membuatku menjelaskan berulang kali.
Jumat sore, aku tiba di kedai pukul empat. Aldo dan Rafi sudah duduk di meja dekat jendela. Rafi membawa buku gambar yang sampulnya mulai penuh dengan stiker.
'Kak Alia, aku sudah menyelesaikan cerita kapal terbang!' katanya.
'Aku ingin melihatnya.'
Ia membuka buku dan menunjukkan halaman demi halaman. Ceritanya tentang seorang anak yang menemukan peta menuju pulau awan. Di sana tinggal burung-burung yang bisa berbicara. Aku bertanya tentang akhir ceritanya dan Rafi menjelaskan bahwa tokoh utama pulang membawa bibit tanaman untuk ditanam di rumah.
'Kamu punya banyak ide,' kataku.
'Aku mau membuat bagian kedua.'
'Kalau sudah selesai, kamu bisa menunjukkan lagi kalau kamu mau.'
Aldo tersenyum melihat kami berbicara, tetapi ia tidak menambahkan bahwa aku akan selalu tersedia untuk mendengar cerita berikutnya. Ia membiarkan Rafi mengatur sendiri apa yang ingin ia ceritakan.
Kami memesan makanan ringan. Rafi memilih jus, sementara Aldo dan aku memesan teh. Percakapan tetap santai. Aku bertanya tentang kelasnya, lalu menceritakan bahwa aku sedang memimpin rapat koordinasi di kantor.
'Kak Alia yang memimpin rapat?' tanya Rafi.
'Iya. Aku membantu orang-orang membagi tugas dan membicarakan pekerjaan.'
'Ayah juga suka membagi tugas di rumah?'
Aldo tertawa. 'Ayah mencoba. Kadang Rafi masih harus diingatkan untuk merapikan alat gambarnya.'
'Aku sedang belajar,' kata Rafi.
'Kita semua sedang belajar,' ujarku. 'Yang penting mau mencoba lagi.'
Rafi kembali menunjukkan gambar. Aku menikmati percakapan itu, tetapi tetap menyadari waktu. Kami sudah berada di sana hampir satu jam ketika aku mengatakan akan pulang.
'Sudah mau pulang?' tanyanya.
'Iya. Aku senang melihat bukumu, tapi aku punya urusan di rumah.'
'Kapan Kak Alia datang lagi?'
Aku menjawab dengan jujur. 'Aku belum tahu. Nanti kalau jadwalku cocok dan kalian juga ada waktu, kita bisa bertemu lagi.'
Rafi mengangguk tanpa tampak kecewa. Aldo membantunya menyimpan buku dan tidak meminta aku memperpanjang pertemuan.
'Terima kasih sudah datang,' katanya ketika kami keluar.
'Terima kasih sudah mengubah rencananya. Aku lebih nyaman di sini.'
'Saya senang kamu mengatakannya langsung.'
Aku pulang sendiri sesuai rencana. Di perjalanan, aku merasa senang telah mengusulkan tempat yang lebih nyaman bagiku. Aku bisa tetap membangun hubungan dengan Rafi tanpa memaksakan langkah yang belum siap kuambil.
Di rumah, aku menceritakan pertemuan itu kepada Ibu. Ia bertanya apakah aku merasa tertekan ketika Rafi bertanya kapan kami akan bertemu lagi.
'Sedikit, tapi aku bisa menjawab tanpa menjanjikan tanggal.'
'Bagus. Jawaban yang jujur lebih baik daripada janji yang kamu sendiri belum tahu bisa penuhi.'
Sabtu pagi, Aldo mengirim pesan bahwa Rafi senang aku melihat ceritanya. Ia juga mengatakan bahwa ia menghargai usulanku untuk bertemu di tempat umum.
'Aku senang bisa melihat bukunya. Aku tidak ingin buru-buru mengulang kunjungan ke rumah. Kita bisa datang lagi kalau aku merasa nyaman dengan rencananya.'
'Tidak perlu terburu-buru. Saya akan mengikuti ritmemu.'
Aku membaca pesan itu dengan tenang. Aku tidak tahu kapan, atau apakah, aku akan merasa siap berkunjung ke rumahnya. Aku tidak perlu menjawab pertanyaan itu sekarang.
Malamnya, aku menulis bahwa perubahan rencana tidak selalu menjadi masalah selama semua orang bisa membicarakannya. Aku mengatakan apa yang membuatku nyaman, Aldo mendengarkan, dan kami tetap bisa bertemu dengan cara yang menyenangkan. Aku juga bisa menikmati kedekatan dengan Rafi tanpa menjanjikan lebih dari yang sanggup kuberikan.
Aku menyimpan buku catatan dan kembali memikirkan minggu kerja yang akan datang. Hubungan ini terus bergerak, tetapi tidak harus selalu maju dengan langkah besar. Kadang, kemajuan berarti mengenali batas baru, menyampaikannya, lalu melihat apakah orang lain menghormatinya. Untuk saat ini, aku merasa cukup dengan itu.
Aku juga ingin mengingat bahwa rasa nyaman bisa berubah seiring waktu. Jika suatu hari aku siap mengambil langkah berbeda, aku akan mengatakannya karena memang menginginkannya, bukan karena merasa sudah seharusnya. Aldo pun berhak menjelaskan harapannya. Selama kami saling jujur, kami bisa menilai perjalanan ini tanpa menebak-nebak isi pikiran satu sama lain.