Minggu pagi, aku berjalan sebentar di sekitar rumah bersama Ibu. Udara masih sejuk dan jalan belum ramai. Ibu bertanya apakah aku ingin membicarakan Aldo.
'Aku masih belum tahu apa yang kurasakan,' jawabku.
'Kamu tidak harus memberi nama pada perasaan itu sekarang.'
'Aku senang saat berbicara dengannya belakangan ini. Tapi aku belum yakin apakah rasa nyaman itu bisa tumbuh menjadi cinta.'
'Rasa nyaman bisa menjadi awal, bisa juga hanya berarti kalian mulai saling menghormati. Waktu yang akan menunjukkan.'
Aku menceritakan makan malam di rumah Tante dan telepon dengan Rafi. Ibu mendengarkan tanpa menyimpulkan bahwa semua berjalan baik.
'Apa kamu merasa tertekan?' tanyanya.
'Tidak. Tapi aku masih takut suatu saat orang-orang berharap lebih dari yang bisa kuberikan.'
'Kalau itu terjadi, kamu bisa mengatakannya. Kamu tidak bertanggung jawab memenuhi harapan semua orang.'
Kami berjalan melewati warung yang baru buka. Ibu membeli dua bungkus kue untuk dibawa pulang. Dalam perjalanan, ia bercerita bahwa ia dan Bapak pun dulu perlu waktu untuk saling mengenal.
'Apa Ibu langsung yakin?' tanyaku.
'Tidak. Ibu melihat bagaimana Bapak bersikap saat rencana berubah, saat berbeda pendapat, dan saat Ibu berkata tidak.'
'Jadi bukan hanya saat semuanya menyenangkan.'
'Betul.'
Nasihat itu terasa sederhana tetapi tepat. Aku perlu melihat Aldo di berbagai keadaan, bukan hanya saat ia sedang berusaha membuat kesan baik.
Siangnya, Aldo mengirim pesan. Ia bertanya apakah aku ingin bertemu minggu depan untuk makan siang, tetapi menambahkan bahwa aku boleh menjawab nanti.
'Aku belum tahu jadwalku. Aku akan memeriksa besok,' balasku.
'Baik. Saya tidak akan menganggap belum ada jawaban sebagai persetujuan.'
Aku tertawa kecil membaca kalimatnya. 'Bagus. Aku juga tidak akan menganggap ajakan itu sebagai tuntutan.'
'Sepakat.'
Aku memikirkan apa yang ingin kutanyakan saat bertemu lagi. Bukan hanya tentang pernikahan atau Rafi, tetapi juga bagaimana Aldo membayangkan pembagian tanggung jawab, pekerjaan, dan waktu pribadi jika suatu hari hubungan kami menjadi serius.
Aku menulis pertanyaan itu di buku catatan. Aku tidak perlu mengajukannya sekaligus. Satu percakapan bisa membahas satu hal, lalu kami punya waktu memikirkan jawabannya.
Sore hari, Alisha melihat catatanku.
'Kakak membuat daftar pertanyaan untuk Mas Aldo?'
'Bukan daftar ujian. Aku hanya takut lupa hal yang penting.'
'Kalau begitu, jangan lupa tanya apa yang membuat dia bahagia selain jadi ayah dan bekerja.'
Aku tersenyum. 'Itu pertanyaan yang bagus.'
'Aku juga ingin tahu jawabannya.'
'Kamu tidak boleh ikut wawancara.'
'Sayang sekali.'
Kami tertawa. Tawa itu mengingatkanku bahwa hidupku tetap penuh hal lain. Hubunganku dengan Aldo hanyalah salah satu bagian, bukan pusat dari semua yang kulakukan.
Malamnya, aku membalas pesan Aldo. 'Aku bisa makan siang Kamis depan. Tempatnya pilih yang dekat kantorku, ya. Aku hanya punya waktu satu jam.'
'Baik. Terima kasih sudah memberi tahu. Saya akan mencari tempat yang sederhana.'
Aku meletakkan ponsel dan merasa tenang. Aku belum tahu apakah kisah ini akan menuju pernikahan. Untuk sekarang, aku hanya tahu bahwa aku bersedia melanjutkan satu percakapan lagi, dengan batas yang jelas dan tanpa jawaban yang dipaksakan.
Setelah menutup buku catatan, aku memikirkan pertanyaan Alisha tentang apa yang membuat Aldo bahagia selain pekerjaan dan menjadi ayah. Aku ingin mendengar jawabannya karena seseorang tidak seharusnya hanya dikenal dari tanggung jawabnya. Aku juga ingin tahu hal-hal yang membuatnya tertawa, kebiasaan yang ia sukai, dan mimpi yang mungkin belum sempat ia ceritakan.
Namun aku sadar bahwa rasa ingin tahu tidak sama dengan kewajiban untuk terus melangkah. Aku boleh mengenal Aldo lebih jauh, lalu menemukan bahwa kami cocok atau tidak. Begitu pula ia berhak menilai apakah cara hidupku sesuai dengan yang ia inginkan. Kejujuran itu mungkin membuat salah satu kecewa, tetapi akan lebih baik daripada menyembunyikan keraguan sampai terlambat.
Ibu mengetuk pintu kamar dan mengingatkanku agar tidak tidur terlalu malam. Aku menyimpan catatan dan menjawab bahwa aku akan segera beristirahat.
'Kamu tampak lebih tenang,' katanya.
'Aku masih ragu, Bu. Tapi sekarang aku tahu aku tidak harus menghilangkan keraguan hanya supaya semua orang nyaman.'
'Betul. Kamu boleh membawa pertanyaan itu sambil tetap menjalani hari.'
Aku mematikan lampu meja. Besok aku akan bekerja seperti biasa, berbicara dengan keluarga, dan menunggu sampai waktu makan siang yang sudah kami sepakati. Satu langkah kecil saja. Tidak perlu memaksa diriku melihat lebih jauh dari yang sanggup kulihat sekarang.
Aku juga berjanji kepada diri sendiri untuk tidak mengukur nilai hubungan ini dari seberapa cepat Aldo berubah atau seberapa sering ia menghubungiku. Yang perlu kulihat adalah apakah ia tetap menghormati pilihan saat keinginannya berbeda dengan keinginanku. Aku pun perlu memeriksa diriku: apakah aku hadir karena ingin, apakah aku merasa aman menyampaikan penolakan, dan apakah aku tetap punya ruang bagi keluarga serta pekerjaanku.
Pertanyaan itu tidak menakutkan seperti sebelumnya. Aku tidak harus menyelesaikannya malam ini. Aku bisa membiarkan waktu dan tindakan memberi jawaban, sambil tetap menjaga hidupku berjalan. Jika hubungan ini bertumbuh, semoga tumbuh karena kami berdua memilihnya dengan sadar. Jika tidak, aku ingin bisa mengakhirinya tanpa merasa telah mengkhianati siapa pun.
Aku tahu keputusan yang baik tidak selalu membuat semua orang senang. Pada pertemuan berikutnya, aku akan hadir dengan pikiran terbuka tanpa meninggalkan suaraku sendiri demi menjaga suasana. Aku akan bertanya dan mendengar, lalu memberi diriku waktu untuk memikirkan jawabannya. Aldo pun berhak melakukan hal yang sama. Keputusan tentang masa depan kami harus lahir dari dua orang yang memahami pilihan masing-masing, bukan dari rasa kasihan atau desakan keluarga. Untuk sekarang, aku cukup menantikan percakapan itu tanpa menetapkan hasilnya lebih dulu. Aku ingin datang dengan tenang dan tetap mendengarkan diriku sendiri.
Aku ingin mengingat bahwa satu jam makan siang tidak cukup untuk mengetahui seluruh sifat seseorang. Namun, cara Aldo menerima batas waktuku memberi satu hal nyata untuk kuamati. Aku akan menilai lebih banyak dari tindakan berikutnya, sambil tetap menjalani pekerjaan dan urusan rumah seperti biasa.