Hari Kamis tiba dengan langit mendung dan pekerjaan yang berjalan lebih lambat dari perkiraanku. Aku memeriksa daftar tugas berkali-kali, memastikan tidak ada yang tertinggal sebelum waktu makan siang. Janji dengan Aldo hanya satu jam, tetapi aku tidak ingin datang dengan pikiran masih tertahan pada pekerjaan.
Menjelang tengah hari, rekan kerjaku bertanya apakah aku akan keluar.
'Aku ada janji makan siang,' jawabku.
'Dengan teman?'
Aku tersenyum. 'Dengan seseorang yang sedang kukenal.'
'Kedengarannya serius.'
'Belum tentu. Kami sedang berbicara dan melihat apakah cocok.'
Rekanku mengangkat bahu. 'Itu juga cara yang sehat.'
Aku menyelesaikan pekerjaanku, lalu mengirim pesan kepada Aldo bahwa aku akan tiba lima menit terlambat. Ia membalas bahwa ia sudah memesan meja dan tidak masalah menunggu.
Kedai yang dipilihnya sederhana, tidak terlalu ramai, dan dekat kantorku. Saat aku masuk, Aldo berdiri sebentar untuk menyapa, lalu bertanya apakah kursi di seberangnya nyaman.
'Iya. Terima kasih sudah memilih tempat yang dekat.'
'Saya ingin waktumu tidak habis di perjalanan.'
Kami memesan makanan. Aldo bertanya apakah aku ingin memulai dengan membicarakan hal yang kutulis di buku catatan atau mengobrol ringan dulu.
'Kita bisa makan dulu. Aku tidak mau setiap pertemuan terasa seperti rapat.'
Ia tersenyum. 'Saya setuju.'
Kami berbicara tentang pekerjaan, cuaca, dan makanan yang kami pesan. Setelah beberapa menit, Aldo bertanya tentang sesuatu yang kuinginkan untuk diriku sendiri dalam beberapa tahun ke depan.
'Aku ingin pekerjaanku berkembang, tapi aku juga ingin punya waktu untuk keluarga dan diriku sendiri. Aku tidak mau hidupku hanya berputar pada satu tanggung jawab.'
'Apa kamu ingin pindah kota?'
'Belum terpikir. Tapi kalau ada kesempatan kerja, aku ingin bisa mempertimbangkannya tanpa langsung merasa harus mengorbankan semuanya.'
'Itu wajar.'
Aku menatapnya. 'Mas sendiri? Apa yang Mas inginkan selain menjadi ayah dan bekerja?'
Aldo tidak segera menjawab. Ia mengusap sisi gelas, berpikir.
'Saya ingin belajar mengambil cuti tanpa merasa semua hal akan berantakan. Saya ingin kembali berolahraga, mungkin bersepeda. Dulu saya suka, sebelum pekerjaan dan urusan rumah membuat saya berhenti.'
'Apa yang menghalangi Mas sekarang?'
'Saya sering merasa kalau saya pergi sebentar, saya meninggalkan terlalu banyak tanggung jawab pada orang lain.'
'Tapi Mas punya keluarga yang bisa membantu.'
'Iya. Saya masih belajar percaya bahwa mereka bisa menangani hal-hal tertentu.'
Aku berkata bahwa aku juga ingin punya pasangan yang tidak mengharapkanku mengisi semua ruang kosong dalam hidupnya. Aldo mengangguk.
'Saya tidak ingin menjadikan pasangan sebagai pengganti teman, keluarga, atau waktu pribadi. Saya ingin berbagi hidup, bukan menyerahkan semua kebutuhan saya kepadanya.'
'Kalau suatu hari kita menikah, bagaimana pembagian tanggung jawab rumah?'
'Saya belum punya jawaban rinci. Tapi saya tidak menganggap pekerjaan rumah otomatis menjadi tugas perempuan. Kita harus membicarakan keadaan nyata dan membaginya dengan adil.'
'Dan soal Rafi?'
'Saya tetap ayahnya. Saya tidak akan menyerahkan pengasuhan kepadamu hanya karena kamu menjadi istri saya.'
Aku menyimak jawabannya. Ia tidak menyajikan rencana sempurna, tetapi mengakui bahwa masih ada hal yang perlu dibicarakan. Itu lebih jujur daripada membuat janji yang belum diuji.
Waktu kami hampir habis. Aldo bertanya apakah aku ingin menjadwalkan pertemuan lagi.
'Belum sekarang. Aku perlu memikirkan obrolan ini dan melihat jadwalku.'
'Baik. Kamu boleh mengabari kalau sudah tahu.'
Aku membayar bagianku. Aldo tidak menolak atau mengatakan ia harus membayar karena mengundangku. Kami keluar bersama, lalu berpisah di trotoar.
'Terima kasih sudah bicara jujur,' kataku.
'Terima kasih juga sudah bertanya.'
Aku kembali ke kantor dengan pikiran yang lebih penuh, tetapi tidak merasa terbebani. Pertemuan itu tidak menghasilkan keputusan. Ia hanya membuatku lebih mengenal Aldo, dan itu memang tujuan kami.
Saat kembali ke kantor, aku tidak langsung menceritakan seluruh percakapan itu kepada rekan kerjaku. Aku ingin memikirkannya sendiri dulu. Jawaban Aldo tentang waktu pribadi dan tanggung jawab terasa penting, tetapi belum bisa kujadikan kesimpulan. Orang bisa memahami prinsip yang baik dan tetap kesulitan menjalankannya.
Di kantor, pikiranku sempat kembali pada pertanyaan Aldo tentang rencana hidupku. Aku ingin maju dalam pekerjaan, tetapi tidak ingin setiap kesempatan baru terasa seperti ancaman bagi hubungan. Jika suatu hari aku harus mengambil keputusan penting, aku berharap pasanganku mau mendengar alasanku sebelum meminta pengorbanan.
Pada jeda pekerjaan berikutnya, aku berbicara dengan seorang rekan yang baru saja pindah divisi. Ia bercerita bahwa perubahan itu menakutkan, tetapi ia senang mencoba sesuatu yang memang ia inginkan.
'Apa keluargamu mendukung?' tanyaku.
'Mereka khawatir, tapi akhirnya mengerti bahwa aku perlu mencoba sendiri.'
Aku mengangguk. Aku mengerti perasaan itu. Dukungan seharusnya tidak berarti menentukan jalan hidup orang lain.
Sore itu aku menyelesaikan tugas terakhir, lalu menelepon Ibu dalam perjalanan pulang. Ia bertanya apakah makan siang tadi nyaman.
'Nyaman. Kami membicarakan pekerjaan, keluarga, dan hal yang mungkin kami harapkan kalau hubungan ini berlanjut.'
'Apa ada jawaban yang mengejutkanmu?'
'Dia tidak berpura-pura punya rencana rinci. Dia bilang masih perlu membicarakan banyak hal.'
'Itu bisa berarti ia jujur bahwa ia belum tahu.'
'Aku lebih suka itu daripada janji besar.'
Ibu mengingatkan bahwa rencana tentang rumah tangga kelak perlu dibicarakan dengan konkret jika hubungan kami menjadi serius. Aku setuju. Aku tidak ingin berasumsi bahwa semua akan terbagi adil hanya karena Aldo berkata pekerjaan rumah bukan tugas perempuan.
'Kalau nanti kamu ingin tahu lebih jelas, tanyakan saat waktunya tepat,' katanya.
'Aku akan melakukannya. Tapi belum sekarang.'
'Tidak perlu terburu-buru.'
Aku menghabiskan malam dengan keluarga. Kami makan bersama, lalu Alisha menunjukkan tugas sekolahnya. Saat membaca jawabannya, aku membantunya memperbaiki beberapa kalimat. Kegiatan biasa itu membuatku sadar bahwa aku masih memiliki banyak hubungan penting di luar Aldo.
Sore hari, Aldo mengirim pesan bahwa ia akan mengajak Rafi mengunjungi kakek-neneknya. Ia bertanya apakah aku ingin berbicara malam nanti. Aku menjawab bahwa aku ada waktu setelah makan malam, tetapi hanya sebentar.
'Baik. Kita bicara saat kamu siap.'
Malam itu kami berbicara tentang hal biasa. Aldo bercerita Rafi menanam biji mangga, sedangkan aku menceritakan tugas Alisha. Kami tertawa ketika ia mengaku tidak tahu cara membedakan bibit yang sehat dari yang layu.
'Tante pasti tahu,' kataku.
'Saya akan bertanya. Saya tidak harus mencari tahu semuanya sendiri.'
'Nah, itu sudah kemajuan.'
Ia tertawa. Aku senang mendengar perubahan itu, tetapi tidak menjadikan satu kalimat sebagai bukti bahwa semua kebiasaannya sudah berubah.