Setelah makan siang, aku kembali bekerja sambil memikirkan jawaban Aldo. Ia ingin mencoba bersepeda lagi, tetapi merasa sulit meninggalkan tanggung jawab. Aku memahami perasaan itu, namun aku juga tahu bahwa aku tidak bisa menyelesaikan kebiasaannya untuknya.
Sore harinya, aku bercerita kepada Ibu tentang obrolan kami.
'Dia mengatakan pekerjaan rumah tidak otomatis menjadi tugas perempuan?' tanya Ibu.
'Iya. Tapi ia juga mengaku belum tahu pembagian rinci.'
'Itu masuk akal. Yang penting ia bersedia membicarakannya, bukan hanya menjawab supaya kamu senang.'
'Aku akan melihat apakah tindakannya sejalan.'
Ibu mengangguk. 'Jangan mencoba menguji dia dengan membuat masalah. Cukup perhatikan bagaimana ia menyikapi hal yang memang terjadi.'
Malam itu Aldo mengirim pesan, mengucapkan terima kasih atas makan siang tadi. Ia menulis bahwa ia ingin mencari waktu untuk bersepeda bersama Rafi akhir pekan ini.
'Kedengarannya menyenangkan. Aku tidak ikut dulu, ya,' balasku.
'Tentu. Saya hanya berbagi rencana.'
Aku merasa lega karena ia tidak mengundangku secara otomatis. Namun kemudian, ia mengirim pesan lain bahwa Rafi bertanya apakah aku akan ikut.
Aku berhenti mengetik. Ini kesempatan bagiku untuk menguji kesepakatan kami, bukan dengan permainan, melainkan dengan jawaban jujur.
'Aku belum ingin ikut akhir pekan ini. Aku perlu waktu untuk diriku dan keluargaku. Tolong jelaskan pada Rafi bahwa aku belum bisa datang, tanpa membuatnya merasa aku menolak dia.'
Aldo menjawab, 'Saya akan bilang kamu punya kegiatan sendiri dan kita belum menjadwalkan pertemuan lagi. Saya tidak akan menyalahkanmu.'
'Terima kasih.'
Keesokan harinya, Aldo mengabari bahwa ia telah menjelaskan kepada Rafi. Anak itu bertanya apakah aku sibuk. Aldo menjawab bahwa semua orang kadang punya kegiatan masing-masing.
'Rafi menerima?' tanyaku.
'Iya. Dia bilang mungkin lain kali.'
Aku merasa lega, tetapi juga sedikit bersalah karena menolak. Aku berbicara dengan Ibu tentang perasaan itu.
'Kamu boleh menyukai Rafi dan tetap tidak ikut setiap kegiatan,' katanya.
'Aku tahu. Tapi rasanya tetap tidak enak.'
'Rasa tidak enak tidak selalu berarti kamu melakukan sesuatu yang salah.'
Kalimatnya membuatku berpikir. Aku sering terbiasa mengalah agar orang lain tidak kecewa. Jika aku dan Aldo serius, aku harus bisa mengatakan tidak tanpa takut hubungan langsung runtuh.
Sabtu sore, Aldo mengirim foto Rafi sedang bersepeda di halaman rumah kakek-neneknya. Ia menulis bahwa anak itu senang karena berhasil mengayuh tanpa bantuan.
'Bagus sekali. Sampaikan selamat dariku,' balasku.
'Saya akan sampaikan. Dia juga bilang ingin mencoba lagi besok.'
'Semoga menyenangkan.'
Aldo tidak berkata bahwa Rafi merindukanku atau bahwa ia berharap aku ada di sana. Ia hanya berbagi kabar. Aku mulai memahami bahwa komunikasi bisa tetap hangat tanpa harus dijadikan ajakan.
Minggu pagi, aku menghabiskan waktu bersama keluarga. Kami pergi membeli kebutuhan rumah, lalu makan siang bersama. Aku tidak memikirkan Aldo sepanjang waktu. Menjelang sore, ia mengirim pesan singkat menanyakan bagaimana akhir pekanku.
'Menyenangkan. Aku bisa membantu Ibu dan beristirahat.'
'Saya senang kamu punya waktu untuk keluargamu.'
Aku membalas bahwa ia juga perlu menjaga waktu untuk dirinya. Ia mengatakan akan mencoba bersepeda lagi minggu depan.
Percakapan kami berlangsung ringan. Tidak ada permintaan menentukan hubungan. Hari itu aku merasa lebih tenang karena batas yang kusampaikan tidak merusak kedekatan kami.
Keesokan harinya aku dan Aldo bertukar pesan singkat tentang pekerjaan. Ia bercerita bahwa ia mencoba mendelegasikan tugas kecil kepada rekan kerja. Aku membalas bahwa aku senang ia mencoba, tetapi tidak bertanya apakah semuanya berhasil. Aku ingin ia melakukan perubahan itu untuk dirinya dan Rafi, bukan demi mendapat persetujuanku.
Malamnya, ia mengirim pesan, 'Saya berhasil pulang lebih awal hari ini dan makan malam dengan Rafi.'
'Bagus. Semoga kalian menikmati waktunya.'
'Kami membicarakan gambar sekolahnya. Saya mencoba mendengarkan tanpa menyela.'
'Bagaimana rasanya?'
'Sulit saat saya ingin langsung memberi saran. Tapi ternyata ia cuma ingin menunjukkan gambarnya.'
Aku tersenyum membaca pesan itu. 'Kadang orang hanya ingin didengarkan.'
'Saya mulai memahami itu.'
Aku tidak membalas dengan pujian berlebihan. Aku hanya mengatakan bahwa ia bisa terus berlatih. Lalu aku menutup ponsel dan membantu Ibu menyiapkan makan malam. Perubahan Aldo bukan tugas yang harus kuawasi setiap hari.
Aku juga mengingatkan Aldo bahwa keputusan tentang pekerjaan atau tempat tinggal kelak tidak bisa dibuat hanya berdasarkan kebutuhan Rafi. Ia perlu mempertimbangkan sekolah anaknya, tentu saja, tetapi pendapat pasangan juga penting jika kami sampai pada tahap itu.
'Saya setuju,' katanya. 'Kalau hubungan kita menjadi serius, keputusan besar harus dibicarakan bersama.'
'Bukan setelah Mas memutuskan?'
'Bukan. Saya akan berusaha membicarakannya sebelum mengambil keputusan.'
'Mas pernah membayangkan pindah kota?'
'Belum. Pekerjaan saya dan sekolah Rafi ada di sini. Tapi saya tidak ingin berkata bahwa itu tidak mungkin tanpa tahu situasinya.'
'Aku juga belum punya rencana pindah. Aku hanya ingin tahu bahwa kemungkinan itu bisa dibicarakan.'
'Saya paham.'
Obrolan itu tidak menghasilkan kesepakatan untuk masa depan yang belum tentu terjadi. Namun, kami mulai menyebut keputusan konkret yang akan berdampak pada kehidupan bersama. Aku merasa penting untuk tidak membangun harapan dari asumsi.
Sebelum tidur, aku menulis bahwa aku ingin pasangan yang mau merencanakan sesuatu bersamaku, bukan meminta aku menyesuaikan diri setelah semuanya diputuskan. Aku tidak tahu apakah Aldo bisa memenuhi harapan itu, tetapi aku bisa menilainya seiring waktu.
Malam itu aku menuliskan satu hal yang ingin kubicarakan lagi: apakah Aldo bisa mendukung pekerjaanku sekalipun jadwalku sesekali berubah. Aku tidak ingin menanyakan itu sebagai ujian. Aku hanya ingin menyampaikan bahwa karierku penting dan bukan sesuatu yang akan kutinggalkan begitu saja setelah menikah.
Aku belum mengirim pertanyaan tersebut kepadanya. Tidak semua hal harus dibicarakan lewat pesan, dan aku ingin memilih waktu ketika kami sama-sama bisa mendengar dengan baik.
Aku juga menanyakan apakah ia pernah merasa harus memilih antara pekerjaan dan keluarga.
'Sering,' jawabnya. 'Tapi mungkin saya perlu belajar mengatur keduanya, bukan langsung menganggap salah satu harus selalu dikorbankan.'
'Kalau suatu saat keadaan memerlukan pilihan sulit, kita harus membicarakannya bersama.'
'Saya setuju.'