Sebelum bertemu Aldo, aku memastikan bahwa aku tidak sedang datang karena rasa kasihan. Aku ingin mendengar jawabannya tentang masa lalu dan berbagi pikiranku sendiri. Jika percakapan terasa berat, kami sudah sepakat boleh berhenti.
Rabu sore, aku dan Aldo bertemu di taman kecil dekat kantor. Kami tidak merencanakan pertemuan lama. Setelah berjalan sebentar, kami duduk di bangku yang teduh.
'Saya ingin bertanya sesuatu, tapi kamu boleh tidak menjawab,' katanya.
'Apa?'
'Apa yang membuatmu paling takut kalau hubungan kita berlanjut?'
Aku berpikir sebelum menjawab. 'Aku takut suatu hari Mas menyadari bahwa Mas belum siap, tetapi aku sudah terlanjur membangun hidup di sekitar keluarga Mas. Aku juga takut dianggap harus selalu memahami masa lalu Mas tanpa ruang untuk perasaanku sendiri.'
'Saya tidak ingin kamu mengubah hidupmu hanya untuk menyesuaikan diri dengan saya.'
'Mas mungkin tidak berniat begitu. Tapi kita perlu melihat kebiasaan kita, bukan hanya niat.'
'Benar.'
Aku bertanya apa yang ia takutkan.
'Saya takut Rafi bingung kalau saya mengenalkan seseorang, lalu hubungan itu berhenti. Saya juga takut membandingkan kamu dengan almarhumah tanpa sadar.'
'Apa yang Mas lakukan untuk mencegahnya?'
'Saya mencoba tidak membicarakan kamu kepada Rafi sebagai calon ibu. Saya juga berusaha tidak meminta kamu melakukan hal yang dulu dilakukan istri saya.'
'Kalau Mas menyadari sedang membandingkan, katakan. Jangan menyembunyikannya dan membuatku menebak.'
'Saya akan mencoba.'
'Aku juga tidak ingin dipaksa menggantikan siapa pun. Tapi aku bisa menghormati kenangan Mas, selama aku tidak harus hidup di bawah bayang-bayangnya.'
Aldo memandang pepohonan. 'Istri saya meninggalkan banyak kenangan baik. Kadang saya merasa kalau saya bahagia lagi, seolah-olah saya menghapus bagian hidup itu.'
'Aku tidak bisa menjawab perasaan Mas untukmu. Tapi menurutku, bahagia lagi tidak berarti melupakan seseorang.'
'Saya tahu secara logika. Perasaannya masih perlu waktu.'
'Itu tidak apa-apa. Yang penting Mas tidak menjadikan aku alat untuk membuktikan bahwa Mas sudah pulih.'
'Saya tidak ingin melakukan itu.'
Kami duduk dalam hening beberapa saat. Aku tidak merasa harus menghiburnya atau menyentuh tangannya. Aku hanya menunggu sampai ia siap melanjutkan.
'Terima kasih sudah mendengarkan,' katanya.
'Terima kasih sudah menjawab dengan jujur.'
Ia bertanya apakah aku ingin mengakhiri pertemuan atau berjalan sebentar lagi. Aku memilih berjalan sepuluh menit. Kami membicarakan hal lain setelah itu, termasuk film yang terakhir kami tonton.
Aku bertanya apakah ia merasa bersalah ketika bercerita kepadaku tentang almarhumah.
'Kadang. Saya takut kamu mengira saya belum siap mengenal orang baru.'
'Aku memang perlu tahu apakah Mas siap. Tapi menyebut kenangan tidak otomatis berarti Mas belum siap. Yang penting bagaimana Mas memperlakukanku.'
'Saya tidak ingin kamu merasa harus bersaing dengan masa lalu.'
'Kalau begitu, jangan membandingkan kami, bahkan untuk memuji.'
'Saya akan berusaha menghindarinya.'
'Dan kalau ada hal yang membuat Mas belum siap, katakan. Aku lebih baik mendengar kenyataan daripada mendapat janji.'
Ia mengangguk. 'Saya akan mencoba jujur, meskipun jawabannya tidak selalu mudah.'
'Aku juga.'
Kami berjalan pelan melewati jalur taman. Aku tidak merasa wajib menghiburnya atau membuat kesedihannya hilang. Ia pun tidak meminta aku memahaminya secara sempurna. Percakapan itu memberi ruang bagi kami berdua untuk menjadi manusia yang masih belajar.
Sebelum berpisah, Aldo bertanya apakah aku merasa cukup aman untuk berbagi hal-hal pribadi dengannya.
'Sebagian,' jawabku. 'Tapi kepercayaan tumbuh pelan. Aku belum siap menceritakan semuanya.'
'Saya tidak akan meminta kamu melakukannya.'
'Mas juga tidak harus menceritakan masa lalu lebih banyak daripada yang Mas siap.'
Ia mengangguk. 'Saya ingin kita saling jujur, tapi tidak memaksa.'
'Itu yang kuinginkan.'
Sebelum kami pulang dari taman, Aldo bertanya apakah aku ingin berhenti membeli minuman. Aku menolak karena masih ada urusan di rumah. Ia tidak berusaha memperpanjang pertemuan.
'Baik. Kita pulang sekarang,' katanya.
'Terima kasih sudah mengerti.'
'Saya juga senang kamu mengatakan dengan jelas apa yang kamu mau.'
'Aku sedang belajar melakukannya.'
Ia mengatakan bahwa ia pun sedang belajar menerima jawaban tanpa mencari maksud tersembunyi. Kami sepakat bahwa kalau ada yang mengganggu, lebih baik ditanyakan daripada ditebak.
Saat berpisah, Aldo tidak berusaha menjadikan percakapan emosional itu sebagai alasan untuk mendekat secara fisik atau meminta kepastian. Ia hanya mengucapkan terima kasih dan bertanya apakah aku sudah punya kendaraan pulang.
'Sudah. Aku akan pesan sekarang.'
'Baik. Kabari kalau sudah sampai kalau kamu mau.'
Aku mengangguk. Percakapan tadi membuatku memahami bahwa masa lalu Aldo masih bagian penting hidupnya, tetapi belum tentu menjadi penghalang. Yang akan menentukan adalah bagaimana ia mengelolanya dan apakah ia memberi ruang bagi hubungan baru untuk memiliki bentuknya sendiri.
Dalam perjalanan pulang aku memikirkan percakapan kami tentang almarhumah. Aldo tidak meminta aku memberi penghiburan atau memastikan masa depannya. Ia berbagi karena ingin jujur, dan aku mendengarkan sejauh yang sanggup kulakukan. Kami bisa berhenti ketika pembicaraan terasa cukup.
Kesepakatan untuk meminta jeda jika pembicaraan terlalu berat membuatku lebih tenang. Kami tidak perlu memaksakan kelanjutan setiap kali satu pertanyaan terasa sulit. Ada banyak hal yang masih belum diketahui, tetapi kami tidak perlu mengisi kekosongan itu dengan tebakan.
Aku pun menghubungi teman lamaku dan merencanakan makan siang sederhana dengannya. Aku ingin menjaga persahabatan yang sudah lama ada, bukan hanya membuka ruang bagi hubungan baru.
Setelah percakapan itu, aku pulang dan menceritakannya kepada Ibu. Ia senang aku bisa mendengar cerita Aldo tanpa merasa harus memperbaiki perasaannya.
'Kamu boleh mendukungnya, tapi jangan mengambil alih prosesnya,' katanya.
'Aku tahu. Aku ingin ia mencari dukungan dari orang-orang yang memang dekat dengannya.'
'Itu juga baik untuk Rafi. Ayahnya tidak harus memendam semua hal.'
Aku setuju. Jika Aldo belajar meminta bantuan dari keluarga dan temannya, tekanan untuk mencari pasangan sebagai satu-satunya tempat bergantung akan berkurang.
Aku berharap ia terus berusaha membangun dukungan yang sehat.
Semua itu membuatku yakin bahwa ia tidak perlu menjadikan hubungan baru sebagai satu-satunya penopang.