Keesokan harinya, Aldo mengirim pesan bahwa Rafi ingin menunjukkan pot tanaman mangganya. Ia bertanya apakah aku bersedia mampir pada Minggu sore, tetapi menegaskan bahwa aku boleh menolak dan mereka tidak akan memberi tahu Rafi sebelum aku setuju.
Aku memeriksa jadwal. Minggu sore aku tidak punya rencana, tetapi aku ingin membatasi kunjungan agar tidak berubah menjadi acara keluarga besar.
'Aku bisa mampir satu jam. Aku ingin bertemu Rafi dan melihat tanamannya, tapi aku tidak ingin ada acara khusus.'
'Baik. Hanya kita bertiga di halaman. Kalau kamu lebih nyaman di tempat umum, kita bisa bertemu di taman.'
Aku menyukai bahwa ia memberiku pilihan. 'Halaman rumah tidak apa-apa, selama waktunya singkat dan Tante tidak mengundang banyak orang.'
'Saya akan memastikan.'
Minggu sore aku datang tepat waktu. Tante menyapaku dari teras dan berkata bahwa ia akan berada di dalam rumah, memberi kami ruang tetapi tetap dekat. Rafi berlari kecil membawa pot mungil.
'Kak Alia, lihat! Ada daun kecil!'
Aku berjongkok untuk melihatnya. 'Wah, benar. Kamu merawatnya dengan baik.'
'Ayah bantu cari tempat yang kena matahari.'
'Kalian kerja sama.'
Rafi mengangguk bangga. Aldo berdiri di dekatnya, tetapi membiarkan anak itu menjelaskan sendiri. Ia hanya menambahkan bahwa daun pertama muncul dua hari lalu.
'Kamu menyiramnya setiap hari?' tanyaku.
'Ayah bilang lihat tanahnya dulu. Kalau masih basah, tunggu.'
'Itu cara yang baik. Tanaman juga perlu waktu.'
Rafi menatapku. 'Kak Alia juga perlu waktu?'
Pertanyaan itu membuatku terdiam sesaat. Aldo tidak segera menjawab untukku. Aku berusaha memilih kata-kata yang jujur dan bisa dimengerti anak itu.
'Iya. Orang dewasa juga perlu waktu untuk saling mengenal. Ayahmu dan aku masih belajar menjadi teman yang lebih dekat.'
'Berarti Kakak belum jadi keluarga?'
'Belum. Kita lihat nanti, ya. Yang pasti, aku senang bertemu kamu hari ini.'
Rafi mengangguk. 'Aku juga senang.'
Aldo berkata dengan tenang, 'Kamu boleh senang berteman dengan Alia tanpa harus memikirkan hal lain.'
Rafi tersenyum lalu mengajakku melihat gambar lain yang dibuatnya. Ia menggambar tanaman itu dalam pot besar, seolah-olah sudah tumbuh tinggi. Aku memuji gambar dan bertanya apakah ia ingin memberi nama pada tanamannya.
'Namanya Mangga,' katanya.
'Nama yang mudah diingat.'
Kami mengobrol tentang sekolah dan permainan yang disukai Rafi. Ia bercerita bahwa ia ingin belajar membuat layang-layang. Aldo mengatakan mereka bisa mencoba akhir pekan depan, tetapi segera menambahkan bahwa itu rencana untuk mereka berdua, tidak bergantung pada kehadiranku.
Aku menghargai penjelasan itu. Setelah hampir satu jam, aku melihat jam dan mengatakan waktuku habis. Rafi tampak kecewa sedikit, tetapi tidak menangis atau meminta aku tetap tinggal.
'Kak Alia pulang sekarang?'
'Iya. Terima kasih sudah menunjukkan tanamanmu.'
'Nanti aku kirim foto kalau ada daun lagi.'
'Kalau ayahmu mengizinkan dan kamu ingin, boleh.'
Aldo mengangguk. 'Kita akan tanya dulu sebelum mengirim.'
Aku berpamitan kepada Tante dan Aldo. Di depan gerbang, Aldo bertanya bagaimana perasaanku.
'Aku senang melihat Rafi. Tapi aku tetap ingin hubungan kita tumbuh perlahan.'
'Saya mengerti. Saya juga tidak akan membuat kesimpulan dari hari ini.'
'Bagus.'
Dalam perjalanan pulang, aku memikirkan pertanyaan Rafi. Aku menjawab jujur tanpa memberi janji. Untuk pertama kalinya aku merasa bisa berada di dekat mereka tanpa kehilangan batas diriku. Itu langkah kecil, bukan keputusan akhir. Aku belum tahu ke mana hubungan ini akan menuju, tetapi aku bersedia melihatnya satu hari demi satu hari.
Di rumah, Ibu bertanya bagaimana pertemuan itu berlangsung. Aku menceritakan tanaman kecil Rafi dan pertanyaannya tentang keluarga.
'Apa kamu merasa terpojok?' tanyanya.
'Tidak. Aku sempat terkejut, tapi Aldo membiarkanku menjawab sendiri.'
'Kamu merasa jawabanmu jujur?'
'Iya. Aku bilang kami masih saling mengenal dan aku senang bertemu dengannya.'
Ibu mengangguk. 'Kamu tidak perlu menambahkan janji supaya dia tidak kecewa.'
'Aku tahu.'
Alisha yang ikut mendengarkan bertanya apakah Rafi terlihat sedih setelah aku pulang.
'Tidak. Dia masih ingin menunjukkan gambarnya.'
'Kakak akan datang lagi?'
'Belum tahu. Aku akan melihat jadwalku dan bagaimana perasaanku nanti.'
Alisha menerima jawabanku tanpa mendesak. Kami lalu membicarakan rencana keluarga untuk pekan depan. Aku menyadari bahwa aku bisa mempertimbangkan pertemuan dengan Aldo tanpa menghentikan kehidupan rumah tanggaku sendiri.
Beberapa saat kemudian, Aldo mengirim pesan menanyakan apakah aku sudah sampai. Aku menjawab iya dan berterima kasih karena ia menjaga suasana tetap sederhana. Ia membalas bahwa ia juga senang melihat Rafi merasa nyaman.
'Aku senang ia bisa menunjukkan tanamannya,' tulisku. 'Tapi tolong jangan menafsirkan itu sebagai kesediaanku untuk menjadi ibu baginya.'
'Saya tidak akan. Saya tahu kamu datang sebagai Alia, dan Rafi perlu memahami bahwa kita masih saling mengenal.'
Aku membaca jawabannya sekali lagi sebelum menutup ponsel. Aku tidak tahu apakah ia akan selalu mampu menjaga pemahaman itu, tetapi malam ini ia mendengar batas yang kusampaikan.
Aku menulis catatan singkat di buku: aku merasa nyaman bertemu Rafi, aku tetap belum memberi jawaban kepada Aldo, dan aku tidak perlu mengubah salah satu dari dua hal itu. Catatan tersebut membuat pikiranku lebih tertata.
Sebelum tidur, aku memikirkan daun kecil yang tumbuh di pot. Tanaman itu tidak menjadi besar dalam sehari. Ia membutuhkan air secukupnya, cahaya, dan waktu. Aku tidak tahu apakah hubungan manusia berjalan dengan cara yang sama, tetapi aku tahu bahwa sesuatu yang dipaksa tumbuh terlalu cepat bisa mudah patah.
Aku akan membiarkan hubungan ini berkembang perlahan, selama aku tetap bebas mengatakan apa yang kurasakan. Aku juga ingin Aldo punya kebebasan yang sama. Kami tidak perlu menyembunyikan keraguan demi mempertahankan kedekatan. Besok aku kembali pada pekerjaanku dan rutinitas rumah. Aldo akan menjalani perannya sebagai ayah. Jika kami bertemu lagi, itu akan menjadi pilihan sadar, bukan karena satu percakapan membuat semua hal ditentukan. Aku belum akan menarik kesimpulan lebih jauh sebelum kami sempat bicara lagi.