Senin pagi, aku memeriksa kalender sebelum memulai pekerjaan. Minggu depan ada beberapa tenggat dan acara keluarga. Aku ingin bertemu Aldo lagi, tetapi tidak mau mengisi semua waktu kosongku hanya karena hubungan kami sedang berkembang.
Saat istirahat, aku mengirim pesan bahwa aku bisa makan siang dengannya pada hari Kamis, dengan batas satu jam seperti sebelumnya. Aldo menjawab bahwa ia akan mencari tempat yang dekat.
'Kalau jadwalmu berubah, kita bisa menjadwalkan ulang,' tulisnya.
'Aku akan memberi kabar secepatnya.'
Sore itu aku membantu Ibu berbelanja. Alisha ikut dan sepanjang jalan bercerita tentang tugas sekolahnya. Aku mendengarkan sambil membawa beberapa kantong. Di rumah, Ibu bertanya apakah aku sudah menentukan pertemuan dengan Aldo.
'Kamis siang. Aku ingin bertemu, tapi tidak mau menjadikan setiap minggu harus ada janji.'
'Kamu boleh menetapkan ritmemu sendiri,' katanya.
Aku mengangguk. Belakangan aku belajar bahwa mengatakan iya pada satu pertemuan tidak berarti mengatakan iya pada semua pertemuan berikutnya.
Malamnya, Aldo mengirim pesan menanyakan bagaimana hariku. Aku bercerita bahwa aku lelah setelah berbelanja dan membantu Alisha. Ia membalas bahwa ia berharap aku sempat beristirahat.
'Aku akan istirahat. Mas sendiri bagaimana?'
Ia bercerita bahwa ia bersepeda sebentar sebelum bekerja dan merasa lebih segar. Aku senang ia mulai melakukan hal yang ia sukai tanpa menjadikanku bagian dari rencananya.
'Bagaimana rasanya kembali bersepeda?' tanyaku.
'Awalnya canggung. Tapi ternyata saya masih menikmati.'
'Bagus. Pertahankan karena Mas memang suka.'
'Saya akan mencoba menjadikannya rutinitas.'
Kami tidak berbicara lama. Aku kembali membaca buku setelah menutup telepon. Aku merasa hubungan kami bisa hadir dalam hidupku tanpa mengambil alih seluruh perhatian.
Sebelum tidur, aku menyusun jadwal minggu depanku. Aku memberi tanda pada waktu rapat, tenggat, dan urusan keluarga, lalu menyisakan satu sore tanpa janji. Aku tidak tahu apakah aku akan memakai waktu itu untuk beristirahat atau menemui teman. Yang penting, aku tidak langsung menganggap waktu kosong sebagai milik Aldo.
Keesokan harinya, aku berbicara dengan rekan kerja tentang pembagian tugas pada proyek baru. Ia bertanya apakah aku siap menerima tanggung jawab tambahan.
'Aku tertarik, tapi aku ingin memastikan aku tidak mengambil terlalu banyak,' jawabku.
'Bagus. Kalau sejak awal kamu menyampaikan batas, tim bisa menyesuaikan.'
Aku mengingat perkataan itu. Batas bukan hanya soal hubungan pribadi. Aku juga harus jujur di tempat kerja tentang kemampuan dan waktu yang kumiliki.
Sore hari, Aldo bertanya apakah aku sudah menentukan jadwal pertemuan berikutnya. Aku menjawab bahwa aku ingin menunggu sampai jadwal proyek diumumkan.
'Tidak masalah. Saya tidak ingin kamu membuat janji lalu merasa terpaksa menepatinya.'
'Aku juga tidak ingin terus menunda. Aku hanya belum tahu waktunya.'
'Saya mengerti. Kita bisa membicarakannya lagi setelah kamu tahu.'
Jawabannya membuatku merasa didengar. Aku tidak perlu menjelaskan berkali-kali bahwa kesibukan bukan bentuk penolakan. Ia bisa menerima ketidakpastian sementara tanpa mengubahnya menjadi pertengkaran.
Pada malam yang sama, aku membantu Alisha belajar. Ia mengeluh karena tugasnya lebih banyak dari biasanya.
'Kamu perlu membagi waktu,' kataku. 'Jangan menunggu semuanya menumpuk.'
'Kakak terdengar seperti guru.'
'Aku hanya berbagi pengalaman.'
'Kakak juga sibuk, tapi masih sempat bantu aku.'
'Karena aku memilih menyisihkan waktu sekarang. Kalau suatu hari aku tidak sempat, aku akan bilang.'
Alisha tersenyum. 'Berarti aku juga harus belajar menerima kalau Kakak bilang tidak.'
'Betul.'
Percakapan itu membuatku menyadari bahwa aku sedang berlatih mengatakan hal yang sama kepada semua orang di sekitarku. Aku bisa menyayangi keluarga, mendukung Aldo, dan tetap menjaga waktu untuk diriku sendiri. Tidak satu pun dari pilihan itu harus menghapus pilihan lainnya.
Keesokan paginya, aku membagikan tugasku menjadi beberapa bagian. Aku menyiapkan daftar yang harus selesai hari itu dan mengabaikan pekerjaan yang masih bisa menunggu. Cara itu membuatku tidak panik melihat semua tanggung jawab sekaligus.
Saat seorang rekan meminta bantuan, aku melihat jadwalku sebelum menyanggupi.
'Aku bisa bantu setelah makan siang, tapi hanya setengah jam,' kataku.
'Cukup. Terima kasih sudah memberi tahu batas waktunya.'
Aku merasa lega karena mengatakan batas tidak membuat orang lain tersinggung. Kadang aku menganggap setiap penolakan akan melukai hubungan, padahal orang bisa menerima jawaban yang jelas.
Malamnya, Aldo bertanya apakah aku ingin berbicara sebentar. Aku menjawab bahwa aku sedang lelah, tetapi bisa berkirim pesan.
'Tidak apa-apa. Kita bisa bicara lain hari,' katanya.
Aku tetap membalas pesannya beberapa menit kemudian. Kami bertukar cerita pendek tentang hari masing-masing. Ia tidak mengirim pertanyaan berulang ketika aku lama menjawab. Aku bisa menyelesaikan persiapan untuk pekerjaan esok, lalu kembali kepadanya saat ada waktu.
Pengalaman itu membuatku semakin memahami bahwa kedekatan bukan diukur dari seberapa cepat seseorang membalas pesan. Yang penting, kami tidak menggunakan keterlambatan sebagai alasan untuk saling menghukum.
Malam itu aku berkata kepada diri sendiri bahwa menerima perhatian tidak sama dengan menyerahkan jadwal. Jika aku ingin bertemu Aldo, aku akan menyisihkan waktu yang benar-benar kumiliki. Jika sedang sibuk, aku akan menyampaikannya tanpa merasa harus mencari alasan panjang.
Ibu mengingatkan bahwa komunikasi yang jelas akan membantu semua orang memahami rencana. Aku setuju. Aku tidak ingin menghilang ketika sibuk, tetapi juga tidak ingin terus meminta maaf karena menjalani pekerjaanku.
Aku menyiapkan makan malam bersama Ibu dan Alisha sebelum membereskan agenda. Aku ingin mengakhiri hari tanpa pekerjaan yang masih berserakan di meja.
'Aku akan menjalani hari ini dulu,' kataku kepada diri sendiri. Lalu aku menutup agenda.
'Aku bisa mengatur waktuku sendiri,' kataku kepada Alisha. 'Kalau perlu bantuan, aku akan meminta.' Ia menjawab, 'Baik. Aku juga akan belajar melakukan hal yang sama.'
'Kamu tidak harus memenuhi semua harapan orang,' kata Ibu. 'Aku sedang belajar, Bu,' jawabku.
'Aku akan membicarakannya dengan jelas,' kataku. 'Aku juga akan mendengarkan,' jawab Ibu.
Aku mengingatkan diri bahwa menjaga batas tidak sama dengan menjauh. Aku masih ingin mengenal Aldo, tetapi juga ingin menjalani hari-hariku tanpa merasa setiap jadwal harus disesuaikan dengannya.
Aku menutup hari dengan memilih waktu tidur yang cukup. Besok masih ada pekerjaan, keluarga, dan hal-hal yang harus kuurus sendiri. Hubunganku dengan Aldo boleh berjalan di samping semuanya, tidak menggantikan rutinitas yang membuat hidupku tetap seimbang.