Selasa siang, Bu Rani menawarkan tanggung jawab baru untuk pemeriksaan catatan pesanan rombongan dan tagihan katering restoran selama beberapa bulan. Kesempatan itu menarik, tetapi jadwalnya lebih padat. Aku meminta waktu untuk mempertimbangkan sebelum menjawab.
Di rumah, aku menceritakan tawaran itu kepada Ibu.
'Kamu tertarik?' tanyanya.
'Iya, tapi aku takut waktuku makin sedikit.'
'Waktu untuk apa?'
Aku terdiam. 'Untuk keluarga, teman, dan mungkin mengenal Aldo.'
'Kamu tidak perlu menolak peluang kerja hanya karena hubungan yang belum pasti.'
Nasihat itu masuk akal. Aku tidak ingin membuat keputusan karier berdasarkan kemungkinan menikah yang bahkan belum kami sepakati.
Malamnya, aku berbicara dengan Aldo. Aku menjelaskan tawaran tersebut dan kekhawatiranku tentang kesibukan.
'Apa kamu ingin mengambilnya?' tanyanya.
'Aku tertarik. Tapi jadwalku akan berubah.'
'Kalau itu penting untuk kariermu, kamu sebaiknya mempertimbangkannya. Kita bisa mengatur pertemuan sesuai waktu yang tersedia.'
'Mas tidak merasa aku akan kurang punya waktu untuk kita?'
'Saya mungkin ingin lebih sering bertemu, tapi itu bukan alasan untuk meminta kamu menolak kesempatan.'
Aku lega mendengar jawabannya. 'Aku belum memutuskan. Aku ingin melihat rincian pekerjaannya.'
'Ambil waktu. Saya tidak perlu menjadi orang yang menentukan.'
Keesokan harinya aku meminta penjelasan tentang beban kerja dan dukungan tim. Atasanku mengatakan bahwa aku bisa membagi beberapa tugas dengan rekan lain. Aku merasa lebih siap mempertimbangkan tawaran itu.
Aku memberi tahu Aldo bahwa aku akan menerima proyek tersebut setelah memastikan jadwalnya. Ia mengucapkan selamat dan bertanya bagaimana ia bisa mendukung.
'Untuk sekarang, cukup pahami kalau aku mungkin perlu menjadwalkan ulang pertemuan.'
'Saya mengerti.'
Aku menghargai bahwa ia tidak meminta prioritas khusus. Keputusan ini milikku dan ia memberi ruang untukku mengambilnya.
Sepanjang siang aku mencatat pertanyaan tentang proyek itu: siapa yang akan menjadi rekan tim, apakah tenggatnya bisa dinegosiasikan, dan bagaimana ukuran keberhasilannya. Aku tidak ingin menerima tanggung jawab baru hanya karena takut kehilangan kesempatan. Aku ingin tahu dengan jelas apa yang akan dikerjakan.
Saat berbicara lagi dengan atasanku, aku menanyakan apakah ada dukungan jika pekerjaan utama bertabrakan dengan tugas baru.
'Kita bisa membagi sebagian pekerjaan rutin,' jawabnya. 'Kamu tidak harus menangani semuanya sendiri.'
Aku merasa lebih tenang. Aku belajar bahwa meminta kejelasan bukan berarti tidak mampu. Justru dengan mengetahui batas dan bantuan yang tersedia, aku bisa bekerja lebih baik.
Sore itu aku memberi tahu Aldo bahwa proyek tersebut terdengar menarik, tetapi aku belum menerima sebelum memahami seluruh tanggung jawabnya.
'Itu keputusan yang masuk akal,' katanya.
'Aku sempat takut Mas menganggap aku terlalu banyak berpikir.'
'Saya sendiri juga perlu berhenti mengambil keputusan tanpa memahami semuanya. Saya tidak berhak mengkritikmu karena berhati-hati.'
'Kita sama-sama belajar.'
'Iya.'
Kami lalu berbicara tentang bagaimana pekerjaan memengaruhi waktu keluarga. Aldo berkata bahwa ia kadang merasa bersalah saat Rafi harus dijemput Tante karena ia terjebak rapat.
'Apa Rafi kecewa?' tanyaku.
'Kadang ia berharap saya yang menjemput. Saya berusaha menjelaskan kalau saya terlambat dan menebusnya dengan waktu berkualitas.'
'Jangan berjanji mengganti waktu kalau Mas belum yakin bisa.'
'Benar. Saya bisa bilang kapan saya punya waktu, bukan menjanjikan sesuatu secara umum.'
'Itu lebih jelas.'
Aku juga menjelaskan bahwa ketika aku bekerja lembur, aku tidak ingin dianggap mengabaikan orang lain. Aldo mengatakan ia bisa memahami, dan jika jadwal kami bertabrakan, kami bisa mencari waktu lain tanpa saling menyalahkan.
'Kalau kita tidak bisa bertemu selama seminggu, itu bukan berarti hubungan ini gagal,' katanya.
'Betul. Tapi tetap penting memberi kabar.'
'Saya akan melakukannya.'
Aku mulai merasa bahwa hubungan ini bisa diuji oleh hal biasa seperti jadwal dan pekerjaan. Kami tidak harus menghadapi kejadian besar untuk mengetahui apakah kami bisa saling menghormati.
Ketika pulang, aku menyusun daftar kemungkinan tantangan dalam proyek itu. Aku menuliskan hal yang bisa kukendalikan dan hal yang bergantung pada tim. Aku tidak ingin menganggap semua hambatan sebagai kegagalanku sendiri.
Ibu melihatku menulis di meja makan.
'Kamu sedang merencanakan semuanya?' tanyanya.
'Aku sedang mencoba memahami apa yang bisa kulakukan.'
'Bagus. Sisakan juga ruang untuk hal yang tidak sesuai rencana.'
Aku tersenyum. 'Sepertinya semua orang sedang mengajariku itu.'
Malam itu aku menerima pesan dari Aldo yang mengucapkan semoga proyek baruku berjalan baik. Aku berterima kasih, lalu bertanya apakah ia sudah mencari kelas pelatihan yang tadi dibicarakan.
'Saya melihat beberapa pilihan. Belum menentukan, tapi setidaknya saya tahu jadwalnya.'
'Apa yang paling cocok?'
'Ada kelas akhir pekan. Saya perlu membicarakan pengaturan waktu dengan keluarga.'
'Semoga ketemu pilihan yang sesuai.'
'Saya akan mencoba.'
Kami sama-sama mengambil langkah untuk diri sendiri. Itu membuat obrolan kami terasa lebih setara. Kami tidak hanya membahas bagaimana akan menggabungkan hidup, tetapi juga bagaimana menjaga perkembangan masing-masing.
Aku juga berbicara dengan teman tentang tawaran itu. Ia menyarankan agar aku meminta rincian tertulis sebelum menerima. Aku mengikuti sarannya dan merasa lebih yakin karena keputusanku didasarkan pada informasi, bukan kekhawatiran.
Aku menyimpan catatan itu di tas agar bisa kubaca lagi saat menyusun rencana kerja.
Aku memberi tahu Ibu, 'Aku akan menerima proyek ini setelah memahami jadwal dan dukungan tim.' Ia tersenyum. 'Itu keputusanmu, dan kamu sudah memikirkannya baik-baik.'
Aku menerima tawaran proyek itu secara resmi pada Jumat pagi. Atasanku menyambut keputusanku dan menjelaskan langkah pertama yang harus kulakukan. Aku merasa gugup, tetapi lebih banyak bersemangat.
Saat istirahat, aku mengirim kabar kepada Ibu.
'Selamat, Nak. Kamu sudah mempertimbangkannya dengan baik.'
Aku kemudian mengirim pesan kepada Aldo. Ia membalas ucapan selamat dan bertanya apa hal pertama yang akan kukerjakan.
'Aku akan menyusun rencana kerja dan bertemu tim.'
'Semoga lancar. Saya ingin mendengar ceritamu nanti, kalau kamu punya waktu.'
'Aku akan cerita setelah hari pertama.'
Aku menyukai bahwa ia meminta, bukan menganggap dirinya otomatis berhak mengetahui setiap detail.
Aku menuliskan jadwal baruku di kalender keluarga agar Ibu dan Alisha tahu kapan aku mungkin pulang terlambat. Kami sepakat saling memberi kabar jika ada perubahan, bukan menunggu sampai seseorang khawatir.