Senin siang berikutnya, aku bertemu Aldo di kedai yang sama. Ia bertanya tentang proyek baru dan mendengarkan penjelasanku sampai selesai.
'Jadi kamu sudah menerima tanggung jawab itu?'
'Iya. Aku merasa ini kesempatan baik.'
'Selamat. Kamu pasti sudah mempertimbangkannya matang-matang.'
'Aku masih sedikit cemas soal waktunya.'
'Itu wajar. Kamu bisa melihat bagaimana jadwalnya berjalan dulu.'
Aku bertanya apakah ia pernah harus mengubah rencana besar karena pekerjaan.
'Pernah. Saya dulu ingin mengambil pelatihan tambahan, tapi menundanya setelah Rafi lahir. Saya tidak menyesal, tapi sekarang saya ingin mencari kesempatan lagi.'
'Apa yang menghentikan Mas?'
'Saya takut tidak bisa membagi waktu.'
'Mungkin Mas bisa mencari bentuk pelatihan yang cocok dengan jadwal.'
'Saya akan mencari tahu. Saya tidak harus memutuskan hari ini.'
Aku tersenyum. 'Sepertinya Mas belajar dari kalimat itu.'
'Saya sedang mencoba.'
Kami berbicara tentang keluarga masing-masing, lalu tentang bagaimana kami menangani perubahan. Aku mengatakan bahwa ketika rencana berubah mendadak, aku perlu diberi informasi secepatnya. Aldo berkata ia juga ingin hal yang sama.
'Kalau salah satu terlambat atau harus membatalkan, kita beri tahu,' katanya.
'Iya. Jangan menganggap pihak lain pasti mengerti tanpa penjelasan.'
'Setuju.'
Pertemuan itu juga membuatku bertanya apakah Aldo benar-benar menginginkan pelatihan yang pernah ia tunda. Ia berkata belum mencari informasi lagi, jadi aku bertanya apakah ia ingin membicarakannya sekarang.
'Saya ingin mencoba mencari kelas yang jadwalnya fleksibel,' jawabnya. 'Tapi saya khawatir akan terlalu banyak hal baru sekaligus.'
'Kekhawatiran itu wajar. Mas bisa mencari tahu dulu tanpa harus langsung mendaftar.'
'Saya akan melihat pilihan yang ada.'
'Dan kalau ternyata belum cocok, Mas boleh menunggu.'
'Saya tidak harus memutuskan sekarang,' katanya sambil tersenyum.
'Sepertinya kalimat itu mulai sering Mas pakai.'
'Karena saya baru sadar saya sering merasa harus segera menentukan sesuatu.'
Aku bertanya apa yang biasanya membuatnya terburu-buru.
'Saya tidak suka ketidakpastian. Saya pikir kalau saya cepat mengambil keputusan, rasa cemas akan hilang.'
'Apakah berhasil?'
'Tidak selalu. Kadang malah membuat masalah baru.'
'Kalau begitu, belajar menunggu juga bagian dari menyelesaikan masalah.'
Ia mengangguk. 'Saya sedang belajar.'
Kami membicarakan kebiasaan masing-masing saat rencana berubah. Aku mengatakan bahwa aku biasanya butuh waktu sebentar untuk menyesuaikan diri, lalu akan mencari pilihan lain. Aldo mengaku sering kesal dulu, baru berpikir setelahnya.
'Kalau kamu melihat saya mulai kesal, kamu boleh mengingatkan,' katanya.
'Aku bisa mengingatkan sekali. Tapi setelah itu Mas yang memilih bagaimana bersikap.'
'Saya mengerti.'
'Dan aku juga akan mencoba tidak langsung menganggap rasa kesal Mas sebagai kemarahan kepadaku.'
'Terima kasih.'
Aku juga bertanya kepada Aldo apa yang ia harapkan dari dirinya sebagai pasangan, bukan hanya apa yang ia inginkan dariku.
'Saya ingin menjadi orang yang bisa diajak bicara tanpa membuatmu takut menyampaikan pendapat,' katanya.
'Itu harapan yang baik. Sekarang Mas harus menjalaninya.'
'Saya tahu. Saya tidak akan meminta kamu menilai hanya dari ucapan ini.'
Aku mengangguk. 'Aku juga akan berusaha melakukan hal yang sama.'
Kami berbicara tentang kemungkinan bahwa jadwal kami akan semakin sulit disamakan. Aldo berkata ia tidak ingin meminta aku mengurangi pekerjaan. Aku menjelaskan bahwa aku pun tidak ingin pekerjaanku menjadi alasan untuk mengabaikan komunikasi.
'Kalau jadwal berubah, kita beri kabar,' kataku.
'Dan kalau tidak bisa bertemu, kita tidak saling menyalahkan,' tambahnya.
'Betul.'
'Aku ingin kita tetap punya waktu masing-masing,' kataku. Aldo mengangguk. 'Saya setuju. Kedekatan tidak harus berarti selalu bersama.'
Aku mengatakan kepadanya, 'Kalau jadwalku berubah, aku akan memberi kabar secepat mungkin.' Ia menjawab, 'Saya akan melakukan hal yang sama.'
Waktu makan siang berakhir. Kami membayar pesanan masing-masing. Aldo tidak terburu-buru mengajak bertemu lagi. Ia bertanya apakah aku ingin berjalan sebentar atau kembali bekerja.
'Aku kembali ke kantor. Ada berkas yang harus kukirim.'
'Baik. Semoga lancar.'
Aku berjalan ke arah kantor dengan perasaan lebih ringan. Kami belum membicarakan masa depan secara rinci, tetapi mulai memahami bagaimana cara masing-masing merespons hal yang tidak sesuai rencana. Itu mungkin tidak romantis, tetapi terasa penting.
Pembicaraan makan siang itu terasa ringan, tetapi juga berguna. Ketika kembali bekerja, aku masih mengingat cara kami menyampaikan perubahan rencana tanpa langsung menganggapnya sebagai tanda bahwa orang lain tidak ingin bertemu.
Di meja kerja, aku mencatat nomor kuitansi yang perlu diperiksa besok. Salinannya kutinggalkan untuk rekan agar pertanyaan pelanggan tidak menunggu kepulanganku.
Menjelang Jumat, aku sempat khawatir Rafi akan menelepon tepat ketika aku sedang sibuk. Aku bertanya kepada Aldo apakah panggilan itu bisa dilakukan setelah jam kerja.
'Bisa. Saya akan mengatur waktunya dan memastikan kamu masih bersedia sebelum menyambungkan.'
'Terima kasih.'
Sepanjang hari aku memikirkan cara bicara kepada anak kecil tentang hubungan orang dewasa. Aku ingin menggunakan kata-kata sederhana dan tidak memberi harapan yang belum pasti. Aku juga tidak mau bersikap seolah-olah Rafi tidak penting. Ia tetap seorang anak yang berhak mendapat jawaban jujur dan sesuai usianya.
Ketika jam kerja berakhir, Aldo mengirim pesan memastikan aku siap menerima panggilan.
'Aku punya waktu sepuluh menit,' jawabku.
'Baik. Saya akan memberi tahu Rafi bahwa kamu bisa bicara sebentar.'
Sikap itu membuatku merasa waktu yang kusediakan dihormati. Aku bersiap menerima telepon nanti dengan tenang, bukan menyambung percakapan sebelum waktu yang disepakati.
Aku menceritakan rencana itu kepada Alisha. Ia bertanya apakah aku akan terlalu sibuk untuk mengantarnya ke toko buku akhir pekan depan.
'Aku akan mencoba menyisihkan waktu, tapi kalau jadwalku berubah, aku akan memberi tahu.'
'Aku mengerti. Kita bisa pergi lain hari.'
Aku tersenyum. 'Kamu cepat belajar soal jadwal.'
'Aku belajar dari Kakak.'
Jawabannya membuatku sadar bahwa caraku mengatur batas juga menjadi contoh bagi keluargaku. Aku ingin menunjukkan bahwa seseorang boleh mencintai orang lain tanpa selalu mengorbankan semua kebutuhannya.
Aku menyadari bahwa rencana kerja baru akan menguji kemampuanku mengatur waktu. Aku akan mencoba menyesuaikan diri tanpa mengabaikan kebutuhan istirahat.
Aku berkata kepada Ibu, 'Aku ingin menjalankan proyek itu, tapi tetap menjaga waktu istirahat.' Ibu menjawab, 'Keduanya penting.'