Jumat malam, Aldo bertanya apakah aku bersedia berbicara dengan Rafi melalui telepon. Ia mengatakan Rafi ingin menceritakan tugas sekolahnya, tetapi aku boleh menolak jika sedang sibuk.
Aku sedang tidak ada kegiatan. 'Boleh, tapi sebentar saja. Aku ingin memastikan dia tidak mengira aku selalu siap menelepon.'
Sebelum memutuskan untuk menelepon, aku memastikan pekerjaan rumahku sudah selesai dan tidak ada urusan keluarga yang membutuhkan bantuanku. Aku ingin berbicara dengan Rafi dalam keadaan tenang, bukan sambil terburu-buru.
Sebelum menelepon, aku menyiapkan diri agar tidak menjawab pertanyaan Rafi dengan janji. Aku ingin mengatakan yang sebenarnya dengan kata-kata sederhana. Anak kecil tetap berhak mendapat jawaban jujur, meskipun jawabannya belum pasti.
Aku memeriksa baterai ponsel dan memastikan tidak ada urusan mendesak sebelum menelepon. Aku ingin benar-benar hadir dalam percakapan itu.
'Saya akan menjelaskannya.'
Rafi menyapaku dengan semangat. Ia bercerita bahwa kelasnya membuat gambar tentang pekerjaan yang ingin mereka lakukan saat dewasa.
'Kamu menggambar apa?' tanyaku.
'Aku menggambar dokter hewan. Aku suka kucing.'
'Kamu ingin merawat hewan?'
'Iya. Tapi Ayah bilang aku harus belajar banyak.'
'Ayahmu benar. Kamu bisa mulai dengan belajar merawat tanaman dulu.'
Rafi tertawa dan menceritakan tanaman mangganya. Ia juga bertanya pekerjaan apa yang kusukai.
'Aku bekerja dengan banyak hal yang perlu diperiksa dan dirapikan.'
'Kak Alia suka?'
'Sebagian. Ada hari yang menyenangkan dan ada hari yang melelahkan.'
'Kalau lelah, Kakak istirahat.'
'Benar. Kamu juga perlu istirahat setelah belajar.'
Kami berbicara sekitar sepuluh menit. Aldo tidak ikut campur kecuali saat Rafi meminta bantuan menjelaskan tugasnya. Ketika waktunya selesai, aku mengatakan bahwa aku harus menutup telepon.
'Boleh aku cerita lagi lain kali?' tanya Rafi.
'Kalau waktunya cocok, boleh. Ayahmu akan bertanya dulu kepadaku.'
'Baik.'
Aldo mengucapkan terima kasih setelah Rafi pergi. Ia bertanya apakah aku nyaman.
'Iya. Aku senang dia bercerita, tapi tetap perlu batas waktu.'
'Saya akan menghormatinya.'
Sebelum menutup telepon, Aldo bertanya, 'Kamu masih nyaman dengan batas waktu sepuluh menit?' Aku menjawab, 'Iya. Aku senang Mas bertanya lebih dulu.'
Aku berkata kepada Aldo, 'Aku belum tahu jadwal minggu depan.' Ia menjawab, 'Kita bisa membicarakannya nanti.' Aku merasa lebih tenang mendengarnya.
Setelah telepon berakhir, aku bercerita kepada Ibu bahwa Rafi ingin menjadi dokter hewan. Ibu tersenyum dan mengatakan bahwa anak-anak sering memiliki cita-cita yang berubah, tetapi semangat mereka patut didengar.
'Apa kamu senang bicara dengannya?' tanya Ibu.
'Iya. Dia bercerita dengan antusias. Tapi aku tetap ingin panggilannya singkat dan direncanakan.'
'Kamu boleh membuat batas tanpa bersikap dingin.'
'Aku tahu. Aku hanya ingin dia tidak menganggap aku selalu tersedia.'
Ibu mengangguk. 'Aldo yang harus membantunya memahami jadwal. Kamu bukan satu-satunya orang dewasa yang bertanggung jawab atas perasaannya.'
Aku merasa lega mendengar itu. Aku ingin bersikap baik kepada Rafi, tetapi tidak mengambil peran sebagai pengasuh sebelum hubungan kami memiliki dasar yang jelas.
Keesokan harinya, Aldo mengirim pesan bahwa Rafi bertanya kapan bisa menelepon lagi. Aldo sudah menjelaskan bahwa kami akan mengatur jika waktunya cocok.
'Aku senang dia mau bercerita,' jawabku. 'Tapi mungkin tidak perlu menelepon setiap minggu. Kita lihat nanti.'
'Saya setuju. Saya tidak akan membuat jadwal tetap tanpa persetujuanmu.'
'Terima kasih.'
Aku menutup percakapan dan kembali bekerja. Aku merasa komunikasi kami semakin jelas. Aku bisa menyampaikan kebutuhan tanpa memutus kedekatan, dan Aldo tidak langsung menganggap batas sebagai penolakan.
Sabtu siang, aku menerima dokumen resmi tentang proyek baru. Aku membaca seluruh persyaratan dan membuat catatan mengenai jadwal rapat. Ada satu tenggat yang bertabrakan dengan makan siang bersama Aldo minggu depan.
Aku tidak langsung membatalkan pertemuan. Aku mengirim pesan bahwa aku perlu memastikan apakah pekerjaanku bisa selesai lebih awal.
'Kalau ternyata tidak bisa, kita pindahkan saja,' jawabnya.
'Aku tidak ingin selalu memindahkan rencana.'
'Saya juga tidak ingin kamu merasa harus memilih antara pekerjaan dan bertemu saya. Kita bisa mencari waktu lain.'
'Baik. Aku akan memberi kabar setelah tahu.'
Aku berbicara dengan rekan tim tentang tenggat itu. Kami membagi pekerjaan sehingga aku bisa menyelesaikan bagianku sehari lebih awal. Aku berterima kasih atas bantuan mereka dan menyimpan jadwal baru.
Setelah itu aku mengirim kabar kepada Aldo bahwa aku masih bisa makan siang Kamis, tetapi mungkin hanya empat puluh lima menit.
'Itu cukup. Kita tidak perlu memaksakan waktu lebih lama.'
Aku senang ia tidak kecewa. Aku mulai memahami bahwa pertemuan singkat tetap berarti jika kami hadir dengan perhatian penuh.
Setelah panggilan, aku memeriksa perasaanku sendiri. Aku senang Rafi bercerita, tetapi tidak merasa harus mengubahnya menjadi hubungan yang lebih dekat dengan segera. Aku juga tidak merasa bersalah karena membatasi waktu.
Alisha bertanya apakah percakapan itu menyenangkan.
'Iya. Rafi bercerita tentang cita-citanya.'
'Apa Kakak akan jadi dokter hewan juga?'
'Tidak. Itu cita-cita Rafi.'
'Bagus. Berarti dia punya rencana sendiri.'
Aku tertawa. 'Betul.'
Kami lalu membicarakan tugas Alisha. Aku membantunya mencari informasi, tetapi membiarkan ia menyusun jawabannya sendiri. Aku tidak ingin mengambil alih tugasnya, sama seperti aku tidak ingin mengambil alih proses Aldo sebagai ayah.
Sesudah berbicara dengan Rafi, aku tidak buru-buru mengirim pesan kepada Aldo untuk memberi penilaian. Aku membiarkan percakapan itu menjadi pengalaman tersendiri. Aku ingin memastikan hubungan kami dengan Rafi tumbuh berdasarkan kenyamanan, bukan karena aku perlu membuktikan bahwa aku cocok menjadi pasangan Aldo.
Keesokan paginya aku bertanya kepada Aldo apakah Rafi merasa senang setelah telepon.
'Dia senang bisa bercerita. Saya bilang dia boleh berbagi kapan pun, tapi kita tetap akan menanyakan waktumu dulu.'
'Bagus. Aku tidak selalu bisa menerima panggilan.'
'Saya tahu. Saya akan menjaga itu.'
Aku menghargai jawabannya. Rafi tidak harus menjadi korban dari keputusan orang dewasa, dan aku tidak harus berpura-pura selalu siap demi menghindari kekecewaannya.
Alisha berjanji tidak akan menggangguku saat aku bekerja, tetapi aku memintanya tetap bertanya jika membutuhkan bantuan. Kami bisa menyesuaikan seperti biasa.
Aku masih belum tahu apakah hubungan kami akan berakhir di pernikahan. Aku hanya tahu bahwa hari ini aku memilih melanjutkan langkah berikutnya, dengan sadar dan tanpa paksaan.