Sabtu pagi, aku menerima konfirmasi bahwa proyek baru dimulai minggu depan. Aku membaca jadwalnya dengan gugup sekaligus bersemangat. Keputusan menerima tanggung jawab itu terasa nyata sekarang, bukan lagi sekadar kemungkinan yang kubicarakan dengan manajer.
Ibu menuangkan teh ke cangkirku, lalu menoleh kepada Alisha. 'Kakakmu akan mulai proyek baru. Apa yang perlu kita atur di rumah?'
'Aku mungkin pulang lebih lambat beberapa hari. Aku tetap mau membantu, tapi kita perlu membagi tugas dengan jelas.'
Alisha mengangguk. 'Aku bisa membantu menyiapkan makan malam hari Selasa dan Kamis. Tapi kalau ada tugas sekolah, aku akan bilang.'
'Terima kasih. Aku juga akan memberi tahu kalau jadwalku berubah.'
Ibu menyarankan agar kami meninjau pembagian tugas setelah dua minggu. Aku setuju. Aku tidak ingin keluarga menganggap aku tidak peduli hanya karena pekerjaanku bertambah, tetapi aku juga tidak ingin kembali mengambil semuanya sendiri.
Setelah sarapan, aku mengirim pesan kepada Aldo bahwa jadwalku mungkin lebih padat. Ia membalas bahwa kami tidak perlu bertemu minggu depan kalau waktuku penuh.
'Aku tetap ingin bertemu, tapi belum tahu kapan. Aku kabari setelah jadwal pasti,' tulisku.
'Baik. Terima kasih sudah memberi tahu. Kita cari waktu yang cocok tanpa memaksakan.'
Aku membaca balasannya lalu menyimpan ponsel. Aku senang ia tidak menganggap kesibukan sebagai penolakan. Namun, aku juga tidak ingin mengandalkan satu balasan untuk menyimpulkan bahwa semua akan selalu mudah.
Siang itu, aku bertemu Rina, rekan di administrasi restoran yang akan menangani rekap pesanan bersamaku, untuk membicarakan pembagian tugas pemeriksaan tagihan. Ia akan menangani sebagian laporan, sementara aku memimpin rapat awal dan memeriksa hasil akhir. Kami menyepakati bahwa masing-masing akan memberi kabar jika beban kerja berubah.
'Jangan merasa harus menjawab pesan tim malam-malam,' kata Rina. 'Kita bisa menunggu sampai jam kerja.'
'Aku akan mencoba menjaga batas itu.'
'Kalau kamu koordinator, bukan berarti kamu harus selalu tersedia.'
Ucapannya mengingatkanku pada hal yang sama dalam hubungan pribadi. Aku bisa peduli pada orang lain tanpa menjadikan diriku selalu siap memenuhi kebutuhan mereka.
Sebelum berpisah dengan Rina, aku mengeluarkan satu salinan pesanan rombongan yang sudah diizinkan Bu Rani untuk dipakai menyiapkan pemeriksaan. Kami menutup bagian identitas pelanggan yang tidak diperlukan, lalu mencocokkan nomor pesanan dengan kuitansi. Rina menemukan bahwa bukti pembayaran dan perubahan jumlah hidangan tersimpan di tempat berbeda. Kalau keduanya tidak dilihat bersama, jumlah tagihan tampak keliru.
Aku menandai dua bagian itu di daftar kerja. 'Hari Senin kita minta salinan perubahan pesanan juga. Jangan langsung menganggap pembayaran kurang.'
Rina mencatatnya dan membagi tugas pengumpulan berkas. Aku akan meminta catatan dari kasir, sedangkan ia menyiapkan daftar pesanan yang perlu diperiksa. Kami tidak membawa dokumen pelanggan pulang. Salinan itu kembali kusimpan di map administrasi sebelum meninggalkan tempat kerja.
Persiapan tersebut membuat tanggung jawab baru terasa lebih nyata daripada sekadar judul proyek. Aku tahu dari mana harus mulai, siapa yang bisa ditanya, dan bagian mana yang belum boleh dianggap benar. Setelah berpisah, aku membeli makanan untuk dibawa pulang; pembicaraan tentang pekerjaan berhenti ketika bagiannya untuk hari itu selesai.
Minggu pagi, aku meninjau jadwal minggu pertama proyek. Ada rapat awal, sesi pengarahan, dan beberapa waktu untuk menyelesaikan tugasku sendiri. Aku menambahkan waktu istirahat serta membantu Ibu menyiapkan makan malam. Aku ingin memulai dengan rencana yang realistis, bukan mengisi setiap jam karena takut tertinggal.
Aldo mengirim pesan menanyakan apakah aku sudah tahu jadwal bertemu. Aku belum memilikinya.
'Belum. Aku akan melihat bagaimana hari-hari awal proyek berjalan. Aku tidak mau membuat janji lalu membatalkannya.'
'Saya mengerti. Kita bisa menghubungi satu sama lain saat ada waktu.'
Aku bertanya apakah ia kecewa.
'Sedikit ingin bertemu, tapi saya tidak kecewa kepadamu. Saya tahu kamu sedang memulai sesuatu yang penting.'
'Terima kasih sudah membedakan keinginan dan tuntutan.'
'Saya juga sedang belajar.'
Aku merasa lega, tetapi tidak menjadikan pengertiannya sebagai kewajiban. Aku tetap akan mengabarinya dan mencari waktu jika jadwalku memungkinkan.
Sore itu, Alisha meminta kami menonton acara kesukaannya. Aku mengatakan mungkin bisa setelah makan malam, tergantung berapa lama aku menyiapkan bahan kerja. Ia menjawab bahwa kalau aku tidak sempat, kami bisa menontonnya minggu berikutnya.
'Kamu tidak marah kalau Kakak sibuk?' tanyaku.
'Tidak. Kakak sudah bilang dari awal. Aku bisa menunggu.'
Aku tersenyum. Orang-orang terdekatku juga sedang belajar menyesuaikan diri, bukan karena aku meninggalkan mereka, tetapi karena hidup kami masing-masing terus bergerak.
Malamnya, aku menulis daftar hal yang ingin kubicarakan dengan Aldo jika hubungan kami semakin serius: tempat tinggal, pekerjaan, pengasuhan Rafi, hubungan dengan keluarga besar, dan ruang pribadi. Daftar itu bukan tuntutan untuk diselesaikan minggu ini. Ia hanya pengingat bahwa cinta saja tidak menggantikan percakapan nyata.
Sebelum menutup agenda, aku menuliskan siapa yang bisa kuhubungi jika beban kerja terlalu besar: Rina untuk urusan tim, manajer untuk prioritas, dan keluarga untuk pembagian tugas di rumah. Ibu membaca daftar itu dari sampingku. 'Kalau pekerjaan mulai terlalu berat, apa yang akan kamu lakukan?'
'Aku akan membicarakan prioritas dengan manajer dan meminta bantuan tim sebelum semuanya menumpuk.'
Alisha menunjuk waktu kosong di kalender. 'Yang ini untuk istirahat?'
'Iya. Kalau aku ingin bertemu Aldo, kami akan mencari waktu bersama. Aku tidak mau membuat janji sebelum tahu jadwalku.'
'Bagus,' kata Ibu. 'Kamu boleh punya tujuan dan tetap menjaga dirimu.'
Aku mengangguk. Dukungan keluarga membuat rencanaku terasa lebih mungkin dijalankan.
Sebelum tidur, Aldo mengirim pesan, 'Semoga proyek barumu berjalan baik. Saya bangga kamu mengambil kesempatan itu.'
Aku menjawab, 'Terima kasih. Aku senang Mas mendukung tanpa meminta aku mengubah keputusan.'
'Itu keputusanmu. Saya hanya ingin mendukung.'
Aku meletakkan ponsel dan menyiapkan pakaian untuk hari pertama. Aku merasa gugup, tetapi tidak sendirian. Ada tim yang akan bekerja bersamaku, keluarga yang bersedia berbagi tugas, dan Aldo yang mulai memahami bahwa dukungan bukan berarti mengambil alih.
Aku belum tahu apakah suatu hari akan menerima lamarannya. Untuk sekarang, aku memilih menjalani proyek ini dan terus mengenalnya perlahan. Dua hal itu bisa berjalan berdampingan selama aku jujur tentang waktu dan kebutuhanku.
Aku mengatur alarm lebih awal agar pagi tidak dimulai dengan tergesa-gesa.
Aku menaruh buku proyek di tas yang mudah kuraih agar tidak lupa membawanya besok.
Aku siap menghadapi hari baru.