Selasa dan Rabu berlalu dengan jadwal rapat yang padat. Aku mulai memahami alur proyek, tetapi masih perlu memeriksa banyak dokumen. Pada Rabu sore, aku menyadari makan siang yang kami rencanakan dengan Aldo mungkin tidak bisa dilakukan tepat waktu.
Aku mengirim pesan bahwa aku mungkin terlambat menyelesaikan pekerjaan.
'Kamu ingin tetap bertemu atau lebih baik kita pindahkan?' tanyanya.
'Aku ingin bertemu, tapi hanya kalau pekerjaan selesai sebelum jam dua.'
'Baik. Kita tunggu kabar. Saya belum memesan apa pun.'
Aku menyelesaikan bagian yang mendesak. Pukul satu lewat tiga puluh, atasanku mengatakan aku boleh melanjutkan sisanya besok. Aku memberi tahu Aldo bahwa aku bisa datang, tetapi hanya punya waktu sekitar tiga puluh menit.
'Itu cukup. Kita bisa minum saja.'
Kami bertemu di kedai kecil dekat kantorku. Aldo sudah tiba, tetapi tidak memesan untukku. Ia menanyakan apa yang kuinginkan dan menunggu sampai aku memilih.
'Hari-harimu kelihatan sibuk,' katanya.
'Iya. Aku masih menyesuaikan diri. Aku khawatir membuat kesalahan karena semuanya baru.'
'Apa yang paling sulit?'
'Mendelegasikan. Aku takut kalau orang lain melewatkan sesuatu, akhirnya aku yang harus memperbaiki.'
'Kamu tidak bisa mengerjakan semua bagian sendiri.'
'Aku tahu. Aku perlu belajar mempercayai tim.'
Aldo bercerita bahwa ia juga kadang terlalu cepat mengambil alih tugas Rafi. Ia sedang mencoba membiarkan anak itu mengerjakan hal sederhana sendiri, meski prosesnya lebih lama.
'Apa yang membantu Mas menahan diri?' tanyaku.
'Saya mengingat bahwa tujuan saya bukan membuat semua selesai secepat mungkin. Rafi juga perlu belajar.'
'Mungkin aku bisa menerapkan itu pada timku.'
Ia tersenyum. 'Kamu bisa memberi orang lain kesempatan, sambil tetap memeriksa hasilnya.'
Aku mengatakan bahwa aku tidak ingin Aldo memberi nasihat setiap kali aku bercerita. Ia langsung bertanya apakah aku ingin pendapat atau hanya ingin didengarkan.
'Tadi aku hanya ingin bercerita. Tapi sekarang aku memang ingin mendengar pendapat Mas.'
'Baik. Menurut saya, kamu bisa menentukan bagian yang risikonya tinggi dan memeriksanya lebih sering. Bagian lain bisa kamu tinjau sesuai jadwal.'
'Itu masuk akal.'
Aku sempat bertanya apakah Aldo menganggap aku terlalu banyak bercerita tentang pekerjaan.
'Tidak. Saya senang tahu apa yang penting bagimu,' jawabnya.
'Aku tidak selalu ingin membicarakan pekerjaan. Tapi minggu ini memang hal itu memenuhi pikiranku.'
'Kita bisa membicarakan hal lain kalau kamu mau.'
'Apa yang Mas lakukan untuk dirimu sendiri belakangan ini?'
Ia bercerita bahwa ia bersepeda lagi pada akhir pekan dan merasa senang karena bisa melakukannya tanpa terburu-buru. Ia tidak mengajak Rafi kali itu karena ingin melatih diri terlebih dahulu.
'Apa Tante menjaga Rafi?' tanyaku.
'Iya, dan saya sudah bertanya dulu. Mereka senang menghabiskan waktu bersama.'
'Bagus kalau Mas bisa menerima bantuan tanpa merasa bersalah.'
'Saya masih merasa sedikit bersalah, tapi tidak sebesar sebelumnya.'
Sebelum kembali bekerja, aku bertanya apakah ia ingin melanjutkan obrolan ini lain kali.
'Iya, kalau kamu juga mau,' jawabnya.
'Aku mau, tapi belum tahu kapan.'
'Kita cari waktu setelah jadwalmu lebih jelas.'
'Baik.'
Waktu kami habis. Aldo bertanya apakah aku ingin bertemu lagi minggu depan.
'Kita lihat jadwalku dulu. Proyeknya baru berjalan.'
'Tentu. Saya tidak akan menganggap kamu harus menyisihkan waktu tertentu.'
Aku membayar pesananku. Sebelum pergi, aku mengucapkan terima kasih karena ia menanyakan apakah aku ingin didengarkan atau diberi pendapat. Ia menjawab bahwa ia juga ingin belajar memahami kebutuhan orang sebelum menanggapi.
Aku pergi lebih dulu dan kembali bekerja. Pertemuan singkat itu terasa cukup. Tidak ada janji besar, hanya dua orang yang saling mendengar dan memberi ruang untuk kesibukan masing-masing.
Kembali ke kantor, aku mencoba menerapkan saran tentang pembagian pemeriksaan. Aku menyusun daftar bagian berisiko tinggi dan membagikan sisanya kepada tim. Pekerjaan belum selesai, tetapi aku merasa lebih mampu mengelolanya.
Sesudah pembagian baru dicatat, aku menyelesaikan bagian dokumen yang tertunda dan membagikan hasilnya kepada tim. Saran Aldo tentang memeriksa bagian berisiko tinggi ternyata berguna, tetapi keputusan dan tanggung jawab tetap ada padaku.
Aku melanjutkan pemeriksaan tugas berikutnya sesuai urutan. Aku tidak memikirkan percakapan kami terus-menerus. Saat bekerja, aku ingin fokus pada tim. Saat bersama Aldo, aku bisa hadir untuk mengobrol. Pemisahan itu membuatku merasa hidupku tidak lagi bercampur menjadi satu beban besar.
Di kantor, aku membagi pekerjaan dengan tim dan menuliskan siapa yang akan memeriksa setiap bagian.
Di kantor, aku menyelesaikan revisi bersama tim sebelum beralih ke tugas berikutnya.
Aku merasa lebih percaya diri mengelola tanggung jawab baru.
Hari itu mengajarkanku untuk meminta bantuan tanpa merasa gagal.
Aku menutup hari kerja dengan menyimpan dokumen di folder yang benar.
Aku pulang dan beristirahat setelah menyelesaikan semuanya.
Esoknya aku ingin kembali bekerja dengan daftar tugas yang sudah jelas, bukan mengulang semua pemeriksaan dari awal.
Sore harinya, aku menerima pesan dari Aldo bahwa Rafi mendapat nilai baik pada tugas sekolah. Aku mengucapkan selamat dan bertanya apakah anak itu senang.
'Senang. Dia ingin menunjukkan kertas tugasnya, tapi saya bilang kita bisa menunggu sampai lain kali kalau kamu punya waktu.'
'Terima kasih sudah tidak mengatur pertemuan tanpa bertanya.'
'Saya tahu itu penting bagimu.'
Aku menghargai bahwa Aldo bisa mengingat hal kecil yang pernah kubicarakan. Aku membalas bahwa aku senang mendengar kabar Rafi, tetapi belum tahu kapan bisa bertemu. Ia menjawab bahwa ia mengerti.
Malam itu aku menghabiskan waktu bersama keluarga. Kami makan dan menonton acara ringan. Aku tidak membalas pesan Aldo sampai acara selesai. Ketika akhirnya menjawab, ia tidak bertanya kenapa aku lama.
Ketika tiba di rumah, aku menunjukkan kepada Ibu pesan Aldo yang menyebut dukungannya. Ibu mengingatkanku agar tetap menjalankan proyek itu karena memang kuinginkan, bukan untuk membuktikan sesuatu kepadanya.
'Aku menerimanya untuk diriku sendiri,' kataku.
'Bagus. Kamu tidak perlu menjadikan pilihanmu sebagai pembuktian kepada siapa pun.'
Aku mengangguk dan kembali memeriksa rincian kerja.