Kamis malam, Aldo mengirim pesan bahwa ia sudah memilih kelas pelatihan daring dan akan mendaftar setelah memastikan jadwal. Ia bertanya apakah aku punya waktu untuk menelepon sebentar.
'Aku bisa sepuluh menit,' balasku.
'Baik. Saya tidak ingin mengganggu waktu istirahatmu.'
Saat menelepon, ia menjelaskan bahwa kelasnya berlangsung dua malam seminggu. Tante bersedia membantu jika jadwal itu bertabrakan dengan kegiatan Rafi, tetapi Aldo ingin lebih dulu membicarakannya dengan anaknya.
'Apa Rafi sudah tahu?' tanyaku.
'Saya bilang mungkin akan ada dua malam ketika saya belajar setelah ia tidur. Saya ingin memastikan ia tidak mengira saya menjauh.'
'Mas bisa menjelaskan bahwa belajar juga bagian dari pekerjaan dan kehidupan Mas.'
'Saya akan bicara lagi dengannya.'
Aku bertanya apakah ia merasa bersalah mengambil waktu untuk dirinya sendiri.
'Sedikit. Saya terbiasa berpikir semua waktu luang harus untuk Rafi.'
'Rafi tetap butuh waktu bersama ayahnya, tapi ia juga perlu melihat Mas punya minat dan tujuan sendiri.'
'Saya setuju. Saya tidak ingin ia merasa bertanggung jawab membuat saya bahagia.'
Aku menceritakan proyekku dan bagaimana aku belajar membagi tugas. Aldo mendengarkan, lalu bertanya apakah aku ingin saran. Aku menjawab belum perlu.
'Kalau begitu saya dengarkan saja.'
'Terima kasih.'
Aku bercerita bahwa aku takut mengecewakan tim jika hasilku tidak sempurna. Aldo mengatakan ia juga sering menetapkan standar terlalu tinggi untuk dirinya sendiri.
'Apa yang Mas lakukan saat menyadari itu?'
'Saya mencoba membedakan antara tanggung jawab dan keinginan mengendalikan hasil.'
'Itu sulit.'
'Iya. Saya belum selalu berhasil.'
Jawaban itu terdengar jujur. Aku tidak ingin ia tampil seolah sudah menyelesaikan semua masalah hanya karena sedang mengenalku.
'Aku juga belum selalu berhasil,' kataku. 'Aku kadang diam terlalu lama, lalu berbicara saat sudah kesal.'
'Kalau kamu mau, kita bisa mencoba mengatakan sejak awal saat sesuatu mulai mengganggu.'
'Bisa. Tapi jangan menganggap aku harus langsung siap bicara.'
'Saya akan memberi waktu.'
Kami berbicara tentang jadwal belajar Aldo dan proyekku. Kami tidak membuat janji rutin. Jika ada waktu, kami akan menghubungi dan mencari jadwal yang sama-sama nyaman.
Aku sempat bertanya apakah ia mengharapkan aku ikut membantu Rafi dengan tugas sekolah jika suatu hari kami semakin dekat.
'Saya tidak akan menganggap itu kewajibanmu,' katanya. 'Kalau kamu ingin membantu, kita bicarakan. Tapi saya tetap ayahnya dan harus mendampingi dia.'
'Aku menghargai jawaban itu. Aku ingin mengenal Rafi, tapi tidak ingin langsung ditempatkan sebagai pengasuh.'
'Saya paham.'
'Dan kalau suatu hari kita tidak cocok, Rafi tidak boleh merasa itu kesalahannya.'
'Betul. Saya akan menjelaskan bahwa keputusan orang dewasa bukan tanggung jawabnya.'
Aku merasa penting membicarakan hal ini sebelum kedekatan dengan Rafi tumbuh lebih jauh. Aldo tidak menghindari topik tersebut. Ia menyadari bahwa hubungan orang dewasa bisa berdampak pada anak, dan ia bersedia memikirkan cara melindungi perasaan Rafi.
Sebelum menutup telepon, aku bertanya apakah Aldo ingin aku mengingatkan jadwal kelasnya.
'Tidak perlu. Saya memasukkannya ke kalender sendiri.'
'Bagus. Aku juga akan mengatur jadwalku sendiri.'
'Kalau begitu, kita sama-sama belajar bertanggung jawab.'
'Iya.'
Sebelum menutup telepon, Aldo bertanya apakah aku ingin mengetahui kabar pendaftaran kelasnya nanti.
'Boleh. Aku tertarik mendengar bagaimana Mas mengatur waktunya.'
'Saya akan cerita, tanpa berharap kamu mengingatkan.'
'Bagus.'
Aku mengakhiri panggilan dengan perasaan ringan. Kami saling mendukung, tetapi tidak menukar dukungan itu dengan kewajiban untuk mengurus kehidupan satu sama lain.
Panggilan kami berakhir setelah sepakat kembali ke urusan masing-masing. Aku merasa percakapan itu cukup untuk hari ini.
Jumat pagi, Aldo mengirim foto jadwal pelatihannya. Ia memastikan aku tahu bahwa kelas itu tidak akan mengubah rencana kami karena kami memang belum membuat jadwal tetap.
'Aku senang Mas sudah menemukan pilihan yang cocok,' balasku.
'Saya juga. Saya merasa bisa punya tujuan sendiri tanpa meninggalkan peran sebagai ayah.'
'Itu penting.'
Ia bertanya apakah aku ingin mendengar lebih banyak tentang materi kelasnya. Aku menjawab boleh, tetapi tidak perlu menjelaskan semua detail lewat pesan. Ia tertawa dan berkata akan bercerita saat kami bertemu lain kali.
Aku kemudian fokus pada pekerjaanku. Ada dokumen yang perlu diperiksa ulang dan aku mengatur waktu agar selesai sebelum sore. Ketika seorang rekan menawarkan bantuan, kali ini aku menerimanya.
'Terima kasih. Aku akan memeriksa bagian akhir setelah kamu selesai,' kataku.
'Siap.'
Pekerjaan selesai tepat waktu. Aku menyadari bahwa menerima bantuan tidak membuatku kehilangan kendali. Aku tetap bisa bertanggung jawab tanpa mengerjakan setiap hal dengan tanganku sendiri.
Aku kembali bekerja setelah membalas pesan singkat itu. Aku menyusun jadwal tim dan menandai bagian yang harus kutinjau. Aku merasa cukup puas karena tidak membiarkan obrolan pribadi mengganggu fokus kerja.
Aku bertanya, 'Materi pengantarnya membantu?' Ia menjawab, 'Ya, saya mendapatkan beberapa ide baru.'
Aku menutup dokumen dan kembali pada pekerjaan utama.
Aku menyelesaikan tugas terakhir tepat waktu dan merasa lega.
Sebelum pulang, aku menyimpan catatan rapat dan merapikan mejaku.
Aku bercerita tentang perubahan ini kepada Ibu. Ia mengatakan bahwa konsistensi akan terlihat melalui banyak kejadian biasa seperti itu.
'Jangan menilai terlalu cepat hanya karena satu hal berjalan baik,' katanya.
'Aku tahu. Aku hanya merasa lega.'
'Kamu boleh merasa lega. Itu tidak berarti kamu harus segera memutuskan.'
Aku mengangguk. Aku ingin membiarkan diriku menikmati kenyamanan tanpa mengubahnya menjadi janji. Hubungan kami boleh berkembang, tetapi tetap harus melalui waktu dan percakapan yang nyata.
Alisha pulang dari sekolah membawa lembar tugas kelompok. Ia mengatakan akan mengerjakannya bersama temannya, tetapi belum tahu siapa yang membawa kertas dan pensil warna.
'Kamu sudah bertanya?' kataku.
'Belum. Katanya nanti.'
Aku membantunya menulis daftar perlengkapan, lalu memintanya menanyakan pembagian itu sebelum hari mengerjakan tugas. Ia memasukkan kertas ke dalam buku agar tidak hilang.
'Kalau temanku lupa?'
'Kamu boleh mengingatkan. Jangan langsung membawa semua barang sendiri.'
Ia mengangguk, walaupun masih tampak ragu. Aku belum tahu bagaimana kerja kelompoknya akan berjalan. Untuk sore itu, setidaknya ia sudah mempunyai pertanyaan yang bisa disampaikan, bukan harus menebak apa yang perlu dibawa.
Kami duduk di meja makan dan membicarakan rencana akhir pekan. Aku tidak punya janji dengan Aldo, jadi kami merencanakan belanja bersama. Jika jadwalku berubah, aku akan memberi tahu mereka lebih awal.