Jumat malam, Alisha pulang dengan wajah murung. Aku bertanya apakah ada masalah di sekolah. Ia mengatakan bahwa ia berselisih dengan temannya karena salah paham tentang pembagian tugas kelompok.
'Kamu sudah bicara dengannya?' tanyaku.
'Belum. Aku takut kalau aku mulai, dia malah marah.'
'Kamu ingin aku memberi saran atau mendengarkan dulu?'
Alisha memandangku. 'Dengar dulu.'
Aku duduk di sampingnya dan membiarkannya bercerita. Ia merasa temannya menyalahkannya karena terlambat mengirim bagian tugas, padahal ia sudah mengirim pesan bahwa internetnya bermasalah.
'Aku jadi merasa dia tidak percaya padaku,' katanya.
'Kamu ingin hubungan kalian tetap baik?'
'Iya, tapi aku juga ingin dia tahu aku tidak sengaja.'
'Kamu bisa menjelaskan tanpa menuduh. Ceritakan apa yang terjadi dan tanyakan apa yang ia pahami.'
Alisha berpikir sebentar. 'Aku bisa coba besok.'
'Kalau kamu belum siap, boleh menunggu. Tapi jangan membiarkan dugaan menggantikan percakapan.'
Ia mengangguk. Setelah beberapa saat, ia bertanya apakah aku dan Aldo pernah salah paham.
'Pernah. Kami mencoba bertanya langsung, meski kadang tetap perlu waktu untuk tenang.'
'Kakak marah kalau dia salah?'
'Aku bisa marah. Tapi aku ingin membicarakan masalahnya, bukan menyerang orangnya.'
'Sulit juga.'
'Iya. Hubungan perlu latihan.'
Aku tidak menceritakan terlalu banyak tentang Aldo. Aku hanya menjawab pertanyaan Alisha sesuai yang perlu ia tahu. Ia lalu mengatakan bahwa ia senang aku masih punya waktu mendengarkan ceritanya meski sedang sibuk.
'Aku akan berusaha menyisihkan waktu. Tapi kalau sedang tidak bisa, aku akan bilang.'
'Aku mengerti.'
Keesokan harinya, Alisha mengirim pesan kepada temannya dan meminta mereka berbicara setelah kelas. Ia terlihat lebih lega walau belum tahu hasilnya.
'Aku sudah bilang apa yang terjadi,' katanya. 'Dia juga minta maaf karena langsung menyalahkan.'
'Bagaimana perasaanmu?'
'Lebih baik. Setidaknya aku tidak terus menebak.'
Aku ikut senang. Percakapan itu mengingatkanku pada hal yang sedang kupelajari dengan Aldo: bertanya dan menjelaskan lebih baik daripada menyusun kesimpulan sendiri.
Malamnya, Aldo bertanya bagaimana akhir pekanku. Aku menceritakan sedikit tentang masalah Alisha dan bagaimana kami membicarakannya.
'Kamu menanyakan apakah ia ingin saran atau didengarkan?' tanyanya.
'Iya. Aku sadar itu membuat orang merasa lebih dihargai.'
'Saya ingin mencoba melakukan itu juga.'
'Tidak perlu menjadikan setiap percakapan latihan. Yang penting Mas mengingatnya saat situasinya muncul.'
'Benar.'
Kami kemudian berbicara tentang rencana minggu depan. Aku belum tahu jadwal proyek, jadi kami sepakat menunggu sampai jadwalku keluar. Tidak ada yang kecewa atau mendesak.
Ibu bertanya apakah aku masih merasa gugup dengan proyek baru.
'Sedikit. Tapi sekarang aku tahu siapa yang bisa kumintai bantuan.'
'Bagus. Kamu tidak harus membuktikan bahwa kamu mampu dengan melakukan semuanya sendiri.'
Aku teringat Aldo yang juga mulai mencoba hal serupa. Kami masing-masing sedang belajar mempercayai orang lain, meski belum tentu dengan cara yang sama.
Alisha kemudian menceritakan bahwa ia dan temannya sudah menyelesaikan tugas kelompok tanpa masalah lagi. Aku bertanya bagaimana mereka memperbaiki kesalahpahaman.
'Kami membagi tugas lagi dan menentukan kapan saling memberi kabar,' katanya.
'Kalian membuat aturan yang jelas.'
'Iya. Jadi tidak perlu menebak.'
Aku tersenyum. Hal sederhana seperti komunikasi dan pembagian tugas ternyata penting di kantor, rumah, dan hubungan apa pun.
Aku lalu bertanya kepada Aldo apakah ia sudah bicara dengan Rafi tentang jadwal kelas.
'Sudah. Kami memilih malam Selasa dan Kamis sebagai waktu belajar. Pada malam lain, saya tetap berusaha membaca cerita dengannya.'
'Apa Rafi merasa keberatan?'
'Tidak. Dia malah bertanya apakah boleh ikut belajar di meja yang sama.'
'Itu terdengar menyenangkan.'
'Iya. Saya akan menyiapkan buku gambarnya sendiri supaya dia punya kegiatan.'
Aku senang mereka menemukan cara untuk tetap dekat tanpa membuat Aldo mengorbankan tujuannya. Ia bertanya apakah aku ingin ikut makan malam suatu hari setelah kelasnya dimulai. Aku menjawab bahwa aku belum bisa menjanjikan, tetapi ia boleh bertanya lagi nanti.
'Baik. Saya tidak akan memberi tahu Rafi sebelum kamu setuju.'
'Terima kasih.'
Kami membicarakan bagaimana rencana berubah jika Rafi sakit atau Aldo punya pekerjaan mendadak. Ia mengatakan bahwa dalam situasi seperti itu, ia akan mengurus anaknya dan memberi tahu aku jika kami sudah membuat janji.
'Aku tidak akan marah kalau Mas harus mengurus Rafi,' kataku. 'Aku hanya ingin diberi kabar.'
'Saya akan melakukannya.'
'Dan kalau aku harus membatalkan karena kerja, aku juga akan memberi kabar.'
'Itu yang saya harapkan.'
Aku merasa lega mendengar bahwa mereka telah membicarakan rencana itu bersama. Aldo tidak hanya memutuskan sendiri, tetapi juga tidak meminta aku mengatur hubungan ayah dan anak tersebut.
'Rafi tampaknya senang punya kegiatan belajar bersama,' kataku.
'Iya. Saya juga senang ia tertarik. Saya hanya perlu memastikan dia tidak merasa harus menemani saya setiap malam.'
'Mas bisa memberinya pilihan. Kalau dia ingin menggambar sendiri, itu juga baik.'
'Benar. Saya akan ingat.'
Aku bertanya bagaimana ia merasa setelah mendaftar kelas.
'Gugup. Tapi saya senang akhirnya mengambil langkah yang lama saya tunda.'
'Semoga kelasnya sesuai harapan.'
'Terima kasih.'
Kami bicara tentang minat lain yang pernah ia tinggalkan. Ia menyebut membaca buku sejarah dan bersepeda. Aku menceritakan bahwa aku suka berjalan pagi, tetapi beberapa minggu ini sulit melakukannya karena pekerjaan.
'Mungkin kamu bisa mulai lagi saat jadwal lebih teratur,' katanya.
'Mungkin. Aku tidak ingin menjadikannya target yang menambah beban.'
'Saya mengerti. Kegiatan untuk diri sendiri seharusnya menyenangkan.'
Aku menyadari bahwa kami mulai mengenal sisi satu sama lain di luar peran keluarga dan pekerjaan. Namun, aku tetap belum tahu apakah kedekatan itu akan berubah menjadi cinta. Aku hanya tahu bahwa percakapan kami terasa semakin terbuka.
Minggu sore, aku mengajak Ibu dan Alisha berjalan ke toko buku. Kami melihat beberapa buku baru dan Alisha memilih satu untuk tugas sekolahnya. Aku membeli buku tipis yang sudah lama ingin kubaca.
'Kakak masih sempat membaca?' tanya Alisha.
'Aku akan mencoba membaca sedikit sebelum tidur. Tidak harus menyelesaikan cepat.'
'Bagus. Jangan sampai proyek baru membuat Kakak lupa istirahat.'
Aku tertawa. 'Aku akan mengingatnya.'
Di rumah, aku mengatur ulang jadwal pekan berikutnya. Ada beberapa rapat penting, tetapi aku menyisakan waktu untuk keluarga dan diriku sendiri. Aku mengirim jadwal yang mungkin kepada Aldo, bukan untuk meminta persetujuan, melainkan agar kami bisa melihat kapan ada waktu bersama.
'Terima kasih sudah berbagi jadwal,' balasnya. 'Saya akan melihat kelas dan urusan Rafi, lalu kita cari waktu yang cocok.'
'Tidak harus minggu ini kalau tidak ada waktu.'
'Saya mengerti. Kita tidak perlu memaksakan.'
Aku merasa lega. Hubungan ini mulai memiliki bentuk yang lebih realistis. Kami tidak lagi berharap bahwa semua waktu luang akan otomatis menjadi waktu bersama. Kami membicarakan rencana seperti dua orang yang punya kehidupan masing-masing.
Aku juga mempertimbangkan pertanyaan yang ingin kuajukan bila kami bertemu nanti. Aku ingin tahu apa yang Aldo pelajari dari kelasnya dan bagaimana ia melihat masa depannya. Aku ingin tahu apakah ia bisa membayangkan hubungan yang setara, bukan hanya rumah yang terasa lengkap.
Namun, aku tidak akan mengajukan semua pertanyaan sekaligus. Aku ingin percakapan kami tetap alami, dengan ruang untuk berpikir dan menjawab. Jika ada jawaban yang belum ia ketahui, ia boleh mengatakan belum tahu. Aku juga boleh melakukan hal yang sama.
Senin pagi, aku akan memulai minggu kerja kedua. Aku merasa gugup, tetapi tidak sendirian: ada tim yang bisa diajak bekerja sama, keluarga yang mendukungku, dan Aldo yang mulai belajar menghormati batas. Aku belum tahu bagaimana hubungan ini berkembang. Untuk sekarang, aku memilih melanjutkan satu langkah yang memang kuinginkan.
Malamnya aku menyusun rencana makan untuk beberapa hari. Aku ingin menjaga rutinitas sederhana agar tidak terlalu bergantung pada makanan cepat saji saat pekerjaan menumpuk.
Aku menyiapkan bekal dan perlengkapan kerja sebelum tidur.
Aku tidur lebih awal agar cukup istirahat sebelum memulai hari berikutnya.