Senin pagi, aku tiba di kantor sebelum rapat dimulai. Aku memeriksa catatan minggu lalu dan memastikan semua tugas sudah dibagi dengan jelas. Proyek baru itu masih menantang, tetapi aku tidak lagi merasa harus mengerjakan semuanya sendiri.
Rekan satu timku, Rina, datang membawa daftar hasil pemeriksaan.
'Aku sudah menyelesaikan bagian ini. Ada dua hal yang perlu kamu lihat,' katanya.
'Terima kasih. Kita periksa bersama setelah rapat.'
Rapat berjalan lancar. Aku menyampaikan perkembangan dan meminta masukan tentang jadwal berikutnya. Atasanku menyetujui pembagian yang kuusulkan, lalu mengingatkan kami agar memberi kabar jika tenggat berisiko terlambat.
Saat istirahat, aku menerima pesan Aldo. Ia bertanya apakah jadwalku pekan ini sudah jelas.
'Sebagian. Kamis sore aku mungkin bisa selesai lebih cepat, tapi belum pasti.'
'Kalau belum pasti, tidak perlu menjanjikan. Beri kabar saat kamu tahu.'
Aku tersenyum membaca pesannya. Aku menjawab bahwa aku akan melakukannya, lalu kembali makan siang bersama tim. Mereka membicarakan rencana libur dan aku ikut mendengarkan. Aku senang bisa bercakap-cakap tanpa harus terus memikirkan hubungan dengan Aldo.
Sore hari, Rina menemukan satu data yang tidak cocok dengan dokumen asal. Kali ini aku tidak panik. Aku meminta ia menunjukkan sumbernya, lalu kami menelusuri catatan bersama.
'Sepertinya angka di berkas awal memang salah,' katanya.
'Kita tandai dan konfirmasi kepada bagian terkait sebelum mengubahnya.'
Kami mengirim pertanyaan dan menunggu jawaban. Aku merasa proses itu berjalan lebih baik daripada langsung mengoreksi berdasarkan dugaan.
Rina menyarankan agar kami membuat daftar risiko sebelum melanjutkan pemeriksaan. Aku setuju dan meminta tim menyebutkan hal yang mungkin membuat jadwal mundur.
'Kalau ada data yang belum dikonfirmasi, tandai dulu,' kataku. 'Jangan menebak supaya laporan terlihat selesai.'
Seorang anggota tim bertanya apakah itu tidak membuat laporan tampak belum rapi. Aku menjelaskan bahwa lebih baik mencantumkan bagian yang menunggu konfirmasi daripada menyembunyikan ketidakpastian.
'Jadi kita tulis sumber dan tanggal permintaan konfirmasinya?'
'Iya. Dengan begitu, siapa pun bisa melihat apa yang sudah dipastikan.'
Mereka mulai memperbarui daftar. Aku merasa senang karena tim tidak hanya mengikuti instruksi, tetapi ikut memahami alasannya. Aku juga belajar bahwa memimpin bukan berarti memiliki semua jawaban.
Rina menguji daftar itu dengan satu pembayaran lama. Nomor transaksinya langsung ditemukan; kami menambahkan kolom bukti agar kuitansi tidak kembali terselip.
Menjelang akhir hari, aku membuat ringkasan tentang apa yang sudah selesai dan apa yang masih menunggu jawaban. Aku mengirimkannya kepada tim dan meminta mereka memberi tahu jika ada bagian yang tidak sesuai.
'Kita gunakan daftar ini sebagai pegangan besok,' kataku.
Rina memeriksa ringkasan itu dan menambahkan satu catatan. Aku menyetujuinya. Aku senang ia berani menyampaikan koreksi, karena tujuanku bukan terlihat selalu benar, melainkan memastikan pekerjaan kami akurat.
Pada rapat berikutnya, aku membuka dengan meminta setiap orang menyebutkan kendala yang mereka lihat. Awalnya ruangan hening. Aku tidak langsung mengisi jeda.
'Kita tidak sedang mencari siapa yang salah,' kataku. 'Kita ingin menemukan risiko sebelum terlambat.'
Rina akhirnya menyebut bahwa satu bagian data bergantung pada jawaban dari divisi lain. Anggota tim lain menambahkan bahwa tenggat mereka mungkin berubah.
'Baik,' kataku. 'Kita catat dua hal itu dan tentukan siapa yang menghubungi pihak terkait.'
Kami membagi tugas dan memasukkan waktu tindak lanjut. Aku merasa rapat itu lebih bermanfaat karena semua orang ikut berbicara. Ketika rapat selesai, atasanku mengirim pesan singkat bahwa pendekatan itu membantu.
Aku tidak langsung berpikir bahwa aku harus selalu memimpin dengan sempurna. Aku hanya merasa bangga karena mencoba cara baru dan melihat hasilnya.
Aku menutup laptop setelah menyelesaikan ringkasan rapat. Pekerjaan hari itu cukup dan aku ingin beristirahat.
Aku menyiapkan bekal dan menutup hari kerja dengan menyimpan semua catatan di folder yang sesuai.
Aku juga mengucapkan terima kasih kepada Rina atas bantuannya. Kami sepakat melanjutkan cara kerja itu besok.
Aku memastikan pekerjaanku sudah tersimpan sebelum meninggalkan kantor.
Aku pulang dengan lega setelah tim menyelesaikan bagian penting.
Aku menyimpan berkas itu dan mematikan komputer.
Dalam perjalanan pulang, aku memikirkan bagaimana rasa percaya tumbuh melalui hal kecil seperti ini. Aku memberi ruang kepada tim untuk menyampaikan pendapat, dan mereka ikut menjaga hasil kerja.
Di rumah, aku menceritakan hari itu kepada Ibu. Ia bertanya apakah tanggung jawab baru terasa terlalu berat.
'Belum. Ada masalah, tapi aku bisa menyelesaikannya bersama tim.'
'Kamu mulai lebih percaya pada kemampuanmu.'
'Aku juga mulai percaya bahwa tidak semua hal harus kuurus sendiri.'
Alisha ikut duduk dan bertanya apakah aku akan bertemu Aldo minggu ini.
'Belum tahu. Kalau jadwalku memungkinkan, mungkin.'
'Kakak boleh juga istirahat saja,' katanya.
'Betul. Aku tidak harus membuat rencana setiap minggu.'
Sepulang kerja, aku menceritakan proses itu kepada Alisha. Ia bertanya apakah aku merasa lebih percaya diri.
'Sedikit. Aku masih gugup, tapi sekarang aku tahu kapan harus bertanya.'
'Itu lebih baik daripada pura-pura tahu.'
'Benar.'
Malam itu Aldo mengirim kabar bahwa kelasnya dimulai Selasa. Ia mengaku sedikit gugup karena sudah lama tidak mengikuti pelatihan.
'Apa yang membuat Mas gugup?' tanyaku.
'Takut tertinggal dan tidak bisa membagi waktu.'
'Mas sudah mengatur jadwal dengan Rafi dan Tante. Coba jalani dulu sebelum menyimpulkan tidak bisa.'
'Kamu benar. Saya perlu memberi diri saya kesempatan.'
Aku bertanya apakah ia ingin aku menelepon setelah kelasnya selesai. Ia menjawab bahwa ia akan mengabariku jika masih punya waktu dan tenaga, tetapi tidak ingin aku merasa harus menunggu.
'Baik. Aku juga mungkin sibuk.'
'Kalau begitu, kita saling memberi kabar.'
Malamnya aku mengecek pesan Aldo dan mengirim semangat untuk kelasnya. Aku mengatakan tidak perlu menghubungiku setelah kelas jika ia ingin langsung beristirahat.
'Terima kasih sudah memberi ruang,' balasnya. 'Saya akan kabari kalau masih punya tenaga.'
Aku merapikan bantal agar bisa langsung beristirahat setelah percakapan selesai.
Aku siap menghadapi hari baru.
Kami menutup percakapan. Aku menyelesaikan beberapa catatan kerja dan tidur lebih awal. Minggu kedua dimulai dengan lebih banyak keyakinan, baik dalam pekerjaanku maupun dalam caraku menjaga batas.