Selasa malam, Aldo menghadiri kelas daring pertamanya. Ia mengirim pesan sebelum kelas dimulai, bertanya apakah aku sudah selesai bekerja.
'Sudah. Aku sedang di rumah.'
'Kelas mulai beberapa menit lagi. Saya mungkin baru selesai pukul sembilan.'
'Semoga lancar. Kamu tidak perlu menelepon setelahnya kalau sudah lelah.'
'Terima kasih sudah mengerti.'
Sebelum kelas dimulai, Aldo sempat menelepon Tante untuk memastikan Rafi sudah makan dan pekerjaan rumahnya selesai. Setelah itu ia menyiapkan buku catatan dan membuka materi lebih awal.
'Mas terlihat seperti akan ujian,' kataku saat ia mengirim foto mejanya.
'Saya ingin siap. Sudah lama saya tidak belajar secara teratur.'
'Kamu boleh gugup. Itu tidak berarti kamu tidak mampu.'
'Saya tahu. Saya hanya perlu mengingatkan diri sendiri.'
Aku tidak menunggu pesannya. Aku makan malam bersama keluarga dan membantu Ibu membereskan dapur. Alisha bercerita tentang tugasnya dan kami membahas rencana belanja akhir pekan.
Pukul sembilan lewat, Aldo mengirim pesan bahwa kelasnya selesai. Ia bertanya apakah aku masih punya waktu berbicara lima menit. Aku melihat jam dan merasa cukup segar.
'Boleh, tapi aku hanya bisa sebentar.'
Ia menelepon. Suaranya terdengar antusias.
'Bagaimana kelasnya?' tanyaku.
'Menarik. Saya belajar beberapa cara mengatur proyek yang belum pernah saya coba.'
'Apa bagian yang paling kamu suka?'
'Diskusi kelompok. Saya bertemu orang dari bidang yang berbeda.'
'Mas menikmati belajar lagi?'
'Iya. Saya sempat khawatir akan merasa terlalu tua untuk mulai lagi, tapi ternyata tidak.'
'Usia tidak menghalangi orang belajar.'
'Saya tahu sekarang.'
Ia bercerita bahwa Rafi menunggu sebentar di ruang keluarga sebelum tidur. Aldo sudah menjelaskan bahwa kelas akan berlangsung pada malam tertentu dan mereka bisa membaca cerita pada malam lainnya.
'Rafi menerima?' tanyaku.
'Dia bertanya apakah saya bisa menunjukkan materi kelas. Saya bilang ada beberapa bagian yang bisa saya ceritakan, tapi tidak semuanya cocok untuk anak.'
'Mas sudah menemukan cara agar ia tetap merasa dilibatkan.'
'Saya mencoba. Saya tidak ingin dia berpikir kelas itu lebih penting daripada dirinya.'
'Keduanya bisa penting dengan cara berbeda.'
Aldo mengangguk. Ia bertanya bagaimana pekerjaanku. Aku bercerita bahwa data yang berbeda ternyata berasal dari kesalahan dokumen awal. Kami sudah meminta konfirmasi sebelum mengubahnya.
'Kamu menangani dengan hati-hati,' katanya.
'Aku tidak ingin menyalahkan orang sebelum tahu sumbernya.'
'Itu bagus.'
Aku tertawa kecil. 'Mas tidak perlu selalu mengatakan aku bagus. Aku hanya melakukan pekerjaanku.'
'Saya memuji karena memang begitu yang saya pikirkan, bukan supaya kamu merasa harus membalas.'
'Aku tahu. Tapi aku ingin kita tetap bisa memberi tanggapan yang jujur, termasuk kalau ada yang kurang baik.'
'Saya setuju.'
Setelah kelas, ia menceritakan satu kegiatan kelompok yang membuatnya berpikir. Peserta diminta memetakan masalah sebelum memilih solusi.
'Saya sering langsung mencari solusi,' katanya. 'Kadang saya belum benar-benar memahami masalahnya.'
'Mas pernah melakukan itu denganku juga.'
Ia tertawa kecil. 'Saya tahu. Saya harap sekarang saya lebih sering bertanya dulu.'
'Kita lihat dari waktu ke waktu.'
Ia menerima jawabanku tanpa tersinggung. Aku merasa penting baginya untuk mengerti bahwa perubahan tidak langsung menghapus pengalaman lama.
Aku menceritakan bahwa aku juga belajar mendengar tim sebelum memberi arahan. Kami berdua sedang mencoba mengubah kebiasaan, tetapi dengan tanggung jawab masing-masing.
Waktu telepon hampir habis. Aldo bertanya apakah aku ingin bertemu akhir pekan ini.
'Aku akan melihat jadwal. Jangan mengajak Rafi dulu sampai aku memastikan.'
'Saya tidak akan. Kita bisa bertemu berdua jika kamu mau.'
'Aku kabari nanti.'
Kami menutup telepon. Aku merasa senang Aldo menemukan kegiatan yang ia sukai. Namun, aku tidak memuji seolah-olah ia melakukan perubahan itu untukku. Ia berhak memiliki hidup dan tujuan pribadi, sama seperti aku.
Rabu pagi, Aldo bercerita bahwa ia tidur lebih larut karena mencatat materi kelas. Ia mengaku khawatir akan kelelahan jika jadwalnya terlalu padat.
'Mas bisa mencoba satu bulan dulu,' kataku. 'Kalau jadwalnya tidak cocok, Mas bisa mencari pilihan lain.'
'Saya ingin menyelesaikan kelas, tapi tidak mau mengorbankan waktu bersama Rafi.'
'Mas bisa mengatur waktu, lalu mengevaluasi setelah beberapa minggu. Tidak harus memutuskan semuanya sekarang.'
'Benar. Saya akan melihat bagaimana keadaan kami.'
Aku juga bercerita tentang proyekku. Kami sepakat tidak perlu memberi saran jika yang lain hanya ingin didengarkan. Aldo bertanya, 'Kamu ingin pendapatku atau cukup mendengar?'
'Kali ini cukup dengar. Aku hanya ingin menceritakan hasil rapat.'
'Baik. Ceritakan.'
Aku bercerita, dan ia tidak menyela. Sikap itu membuatku merasa dihormati.
Masih dalam percakapan pagi itu, aku bertanya kepada Aldo apakah kelasnya mulai membebani.
'Belum. Saya masih menyesuaikan. Saya sudah mengurangi waktu menonton televisi supaya punya waktu belajar.'
'Apa Rafi tahu perubahan itu?'
'Saya menjelaskan bahwa saya ingin belajar setelah ia tidur. Kami tetap membaca bersama pada malam lain.'
'Bagus. Ia tahu jadwalnya, jadi tidak merasa ditinggalkan.'
'Saya harap begitu. Saya akan bertanya kepadanya juga.'
Aku senang Aldo tidak menganggap rasa takutnya sebagai alasan untuk membatalkan kelas. Ia mencoba menyesuaikan hal yang bisa diubah, sambil menjaga rutinitas anaknya.
Aku bercerita bahwa aku juga membatasi pemeriksaan email di rumah. Aldo bertanya apakah aku merasa lebih santai.
'Iya. Awalnya aku takut melewatkan sesuatu, tapi ternyata tidak ada yang mendesak.'
'Mungkin kita sama-sama perlu belajar bahwa tidak semua hal harus langsung ditangani.'
'Betul.'
Aku menyimpan agenda rapat dan mematikan laptop sebelum pulang.
Aku juga mencatat langkah berikutnya di agendaku.
Di rumah, aku bercerita kepada Ibu bahwa minggu ini padat. Ia menyarankan aku beristirahat saat sempat, bukan menunggu sampai semua tugas selesai.
Aku menyiapkan makan malam bersama Ibu dan Alisha, lalu menyimpan catatan pekerjaan untuk esok hari.
Aku menyiapkan perlengkapan kerjaku sendiri untuk esok.
Aku menyimpan catatan pekerjaanku di meja; jadwal kelas berikutnya tetap menjadi urusan Aldo untuk disiapkan.
Aku memeriksa agenda sekali lagi sebelum tidur.
Aku tidur lebih awal agar siap menghadapi rapat pagi berikutnya.
Aku mengisi baterai ponsel, lalu meletakkannya jauh dari bantal. Pesan Aldo tidak perlu terus terbuka ketika pekerjaanku esok masih menunggu.