Jumat sore, Aldo bertanya apakah aku bersedia menerima panggilan singkat dari Rafi akhir pekan ini. Ia mengatakan bahwa anak itu ingin bercerita tentang kelas menggambarnya. Aku memeriksa jadwal dan menjawab bahwa Sabtu sore aku punya waktu sekitar sepuluh menit.
'Saya akan menyampaikan batas waktunya,' katanya.
Sabtu sore, Aldo mengirim pesan terlebih dahulu untuk memastikan aku masih bisa. Aku membalas iya, lalu telepon tersambung. Rafi menyapa dengan riang.
'Kak Alia, aku menggambar dokter hewan lagi.'
'Apa yang kamu gambar kali ini?'
'Kucing yang sakit dan dokter yang mengobatinya.'
'Bagaimana dokternya tahu kucing itu sakit?'
'Dia bertanya dan memeriksa.'
'Itu cara yang baik. Dokter harus mencari tahu dulu sebelum memberi obat.'
Rafi menunjukkan gambarnya ke kamera. Aku memuji warnanya dan bertanya apakah ia menikmati kelas menggambar.
'Iya. Ayah membantu menyiapkan pensil.'
'Kamu menggambar sendiri?'
'Ayah tidak menggambar. Dia duduk saja.'
Aldo tertawa pelan dari dekatnya. 'Saya memang tidak pandai menggambar.'
'Tidak apa-apa,' kataku. 'Yang penting Ayah menemani.'
Rafi kemudian bertanya apakah aku punya hewan peliharaan. Aku menjawab tidak, tetapi dulu pernah memelihara ikan. Ia menanyakan warna ikan itu dan aku menceritakan bahwa ikan tersebut berwarna oranye.
'Namanya siapa?'
'Aku tidak ingat. Waktu itu aku masih kecil.'
'Nanti kalau aku jadi dokter hewan, aku bisa mengobati ikan juga.'
'Kamu boleh belajar banyak hal sebelum menentukan.'
Ia tertawa. Kami berbicara beberapa menit lagi tentang sekolah. Ketika aku mengatakan waktuku hampir habis, Rafi menjawab bahwa ia mengerti.
'Terima kasih sudah cerita, Rafi. Semoga gambarnya dipajang di kelas.'
'Aku juga senang cerita.'
Setelah panggilan berakhir, Aldo bertanya apakah aku nyaman.
'Iya. Aku senang melihat gambarnya.'
'Saya tidak akan menjadikan panggilan ini rutinitas tetap. Kita bisa mengatur kalau kamu dan Rafi sama-sama ingin dan waktunya cocok.'
'Bagus. Aku ingin tetap ada batas supaya dia tidak mengira aku selalu tersedia.'
'Saya mengerti.'
Aku bertanya bagaimana Rafi menanggapi panggilan yang singkat.
'Dia baik-baik saja. Saya bilang kita perlu mengakhiri karena kamu ada urusan lain, bukan karena dia melakukan sesuatu yang salah.'
'Terima kasih sudah menjelaskannya.'
'Saya ingin dia tahu bahwa orang punya jadwal masing-masing.'
Aku merasa Aldo mulai menjalankan perannya dengan lebih bertanggung jawab. Aku bisa berkomunikasi dengan Rafi tanpa menjadi pengatur semua perasaannya. Hal itu membuatku lebih nyaman untuk melanjutkan proses mengenal mereka.
Setelah telepon dengan Rafi, aku memikirkan apakah aku terlalu sering berhati-hati sampai sulit menikmati percakapan. Aku tidak ingin memperlakukan anak itu seperti persoalan yang harus diatur. Ia hanya ingin bercerita tentang gambar dan cita-citanya.
Aku bertanya kepada Ibu bagaimana menjaga keseimbangan antara keramahan dan batas.
'Kamu boleh menikmati obrolan itu,' katanya. 'Batas bukan tembok yang melarangmu merasa senang. Batas hanya menjelaskan apa yang bisa kamu berikan.'
'Aku takut kalau ia semakin dekat, lalu aku dan Aldo ternyata tidak cocok.'
'Itu sebabnya Aldo harus mengelola harapan anaknya. Kamu bisa tetap jujur dan tidak menjanjikan masa depan.'
Aku merasa lebih tenang. Rafi bisa menikmati pertemanan tanpa harus tahu semua keraguan orang dewasa, selama Aldo menjelaskan dengan sesuai usianya.
Keesokan harinya, Aldo mengatakan Rafi senang setelah menunjukkan gambar. Ia bertanya apakah aku bersedia mengirimkan satu gambar hewan yang kusukai untuk tugasnya. Aku menjawab boleh, selama gambar itu bukan janji untuk bertemu lagi.
'Saya akan menjelaskannya sebagai bahan tugas saja,' katanya.
'Terima kasih.'
Aku memilih gambar kucing dari buku lama dan mengirimkannya. Rafi membalas dengan ucapan terima kasih. Aku tersenyum membaca pesannya, lalu kembali bekerja.
Malamnya, aku menuliskan beberapa hal yang ingin kusampaikan kepada Aldo saat bertemu: aku senang ia mulai bertanya sebelum memberi saran; aku ingin ia menjaga keseimbangan antara kelas dan Rafi; dan aku ingin hubungan kami tetap tumbuh tanpa menjadikan aku pengganti siapa pun.
Aku tidak mengirim daftar itu. Aku akan berbicara langsung agar percakapan tidak terasa seperti surat tuntutan. Aku juga akan mendengar apa yang ingin ia tanyakan kepadaku.
Keesokan pagi, aku merasa tidak terlalu cemas tentang pertemuan kami. Pertanyaan yang sulit memang tetap penting, tetapi aku tidak harus menyiapkan jawaban sempurna. Aku cukup jujur tentang apa yang kuketahui dan apa yang belum kupahami.
Aku juga menyadari bahwa Rafi tidak perlu mendengar semua perkembangan hubungan kami. Ia tahu aku dan Aldo sedang saling mengenal, tetapi bukan berarti ia harus menunggu kabar tentang apakah aku akan menikah dengan ayahnya.
Aku bertanya kepada Aldo bagaimana ia menjelaskan hal itu.
'Saya bilang bahwa orang dewasa sedang mengenal satu sama lain dan belum memutuskan apa pun. Saya tidak membahas detail yang bukan urusannya.'
'Bagus. Aku ingin dia tetap menjalani sekolah dan kegiatan seperti biasa.'
'Saya juga.'
'Kalau nanti ada keputusan, kita bisa menjelaskan bersama dengan cara yang sesuai usianya.'
'Setuju.'
Pembicaraan itu membuatku merasa bahwa kami mulai sepakat mengenai tanggung jawab kepada Rafi, meskipun aku belum menjadi bagian dari keluarganya. Aku tidak perlu mengambil peran lebih dulu untuk menunjukkan kepedulian.
Aku kembali pada kegiatan keluarga dengan perasaan lega karena tidak perlu membatalkan rencana bersama mereka.
Aku mengirim pesan kepada Aldo bahwa aku senang kami bisa berbicara terbuka. Ia membalas, 'Saya juga senang kamu bertanya langsung.'
Aku bertanya apakah Aldo merasa kecewa karena aku belum memberi jawaban. Ia menjawab, 'Saya berharap hubungan ini berlanjut, tetapi saya menerima bahwa kamu perlu waktu.' Aku membalas, 'Terima kasih sudah jujur. Aku juga masih ingin mengenal Mas.'
Aku mengatakan, 'Aku belum tahu hasil akhirnya, tapi aku ingin melanjutkan proses ini.' Aldo menjawab, 'Saya menghargai kejujuranmu.'
Aku mengingat bahwa kejujuran itu harus tetap dua arah. Aku juga perlu mendengar apa yang Aldo rasakan, bukan hanya memintanya memahami keraguanku.
Aku menuliskan jawabannya di buku catatan, lalu menutupnya. Aku ingin memikirkan percakapan kami tanpa buru-buru mengubahnya menjadi keputusan.
Aku membuka buku gambar bersama Alisha dan membiarkannya memilih halaman sendiri. Ia meminta pensil hijau, bukan jawaban tentang hubungan orang dewasa.