Minggu malam, setelah keluarga selesai makan, aku duduk di teras bersama Ibu. Aku bercerita tentang panggilan Rafi dan bagaimana Aldo menjaga batas waktunya.
'Kamu merasa hubungan kalian semakin dekat?' tanya Ibu.
'Sedikit. Tapi aku belum bisa menyebutnya cinta.'
'Kamu tidak perlu memberi nama sekarang.'
'Aku hanya ingin tahu apakah Aldo benar-benar ingin mengenalku atau merasa cocok karena aku bisa berbicara dengan Rafi.'
'Kamu bisa menanyakannya langsung.'
Aku mengangguk. Aku tidak ingin membuat dugaan sendiri. Aku ingin bertanya pada Aldo saat kami memiliki waktu untuk berbicara dengan tenang.
Senin siang, jadwalku lebih longgar. Aku mengirim pesan kepada Aldo dan menanyakan apakah ia bisa bertemu Kamis sore. Ia menjawab bisa dan bertanya apakah ada hal khusus yang ingin kubicarakan.
'Ada beberapa hal yang ingin kutanyakan. Tidak ada keadaan darurat.'
'Baik. Kita bisa bicara di tempat yang tenang.'
Kamis sore, kami bertemu di kedai kecil. Aku menunggu sampai kami memesan minuman, lalu mengatakan bahwa aku ingin memastikan sesuatu.
'Mas ingin mengenalku karena Mas tertarik kepadaku sebagai pribadi, atau karena aku terlihat cocok dengan Rafi?'
Aldo terdiam beberapa saat. Ia tidak langsung menjawab.
'Awalnya saya memang terlalu fokus pada kebutuhan Rafi dan membayangkan pernikahan sebagai solusi. Tapi sekarang saya ingin mengenalmu karena saya tertarik pada cara berpikirmu, pekerjaanmu, dan keberanianmu menjaga batas.'
'Kalau aku tidak bisa dekat dengan Rafi seperti yang Mas harapkan, apakah Mas tetap ingin mengenalku?'
'Saya ingin mengenalmu sebagai Alia. Hubunganmu dengan Rafi harus tumbuh sendiri, dan tidak bisa menjadi syarat agar kamu diterima.'
'Aku ingin memastikan karena aku tidak mau menjadi alat untuk melengkapi keluargamu.'
'Saya mengerti. Saya tidak ingin mengulang kesalahan itu.'
Aku bertanya apakah ia masih ingin menikah denganku secepatnya.
'Saya ingin tahu apakah kita bisa membangun hubungan yang baik. Saya tidak ingin meminta keputusan cepat. Kalau suatu hari kita sampai pada pembicaraan pernikahan, saya ingin itu menjadi keputusan bersama setelah kita membicarakan hal-hal penting.'
'Mas masih punya perasaan untuk almarhumah?'
'Iya. Kenangan itu tetap ada. Tapi saya tidak ingin menjadikanmu pembanding atau meminta kamu menggantikan siapa pun.'
'Aku bisa menghormati masa lalu Mas. Aku hanya ingin tahu apakah ada ruang untuk hubungan baru.'
'Saya sedang mencoba membuat ruang itu dengan jujur.'
Jawabannya tidak menghapus keraguanku, tetapi membuatku merasa pertanyaanku didengar. Aku juga mengatakan bahwa aku tidak bisa menjanjikan bahwa perasaanku akan tumbuh sesuai harapannya.
'Saya paham,' katanya. 'Saya juga tidak bisa menjanjikan bahwa semua akan mudah. Kita hanya bisa jujur dan melihat bagaimana prosesnya.'
'Kalau salah satu dari kita merasa tidak cocok, kita harus bisa berhenti tanpa menyalahkan Rafi atau keluarga.'
'Saya setuju.'
Kami menghabiskan sisa waktu dengan membicarakan hal yang lebih ringan. Aldo bercerita tentang kelasnya dan aku bercerita tentang proyek. Ia tidak buru-buru mengajak bertemu lagi.
Saat berpamitan, ia bertanya apakah aku merasa lebih tenang.
'Lebih tenang karena aku sudah bertanya. Aku masih perlu waktu.'
'Ambillah waktu yang kamu perlukan.'
Aku pulang dengan pikiran yang masih terbuka. Aku belum memberi jawaban untuk lamaran itu. Namun, aku merasa hubungan kami mulai berdiri di atas percakapan yang lebih jujur, bukan hanya asumsi tentang peran yang harus kuisi. Aku akan terus melihat apakah tindakan Aldo sesuai dengan jawabannya.
Di rumah, Ibu masih duduk di ruang keluarga. Ia bertanya bagaimana obrolanku dengan Aldo.
'Aku bertanya apakah dia tertarik kepadaku sebagai pribadi atau hanya karena aku bisa dekat dengan Rafi.'
'Apa jawabannya?'
'Katanya sekarang dia ingin mengenalku sebagai Alia. Dia juga tahu aku belum bisa menjanjikan perasaanku akan berkembang.'
Ibu mengangguk. 'Kamu merasa jawaban itu jujur?'
'Kurasa iya. Tapi aku tetap ingin melihat tindakannya.'
'Itu wajar.'
Aku menceritakan bahwa Aldo tidak lagi terburu-buru meminta jawaban dan mulai bertanya sebelum memberi saran. Ibu mendengarkan tanpa menyimpulkan bahwa ia sudah berubah sepenuhnya.
'Perubahan memang perlu terlihat berulang kali,' katanya. 'Tapi kamu juga boleh menghargai usaha yang sudah ia lakukan.'
'Aku menghargainya. Aku hanya tidak ingin mengubah rasa terima kasih menjadi janji.'
'Kamu tidak berutang pernikahan kepada siapa pun karena mereka bersikap baik.'
Kalimat itu membuatku lega. Aku bisa menghargai Aldo tanpa merasa harus membalas dengan keputusan yang belum siap kubuat.
Alisha datang membawa segelas air dan bertanya apakah pertemuanku berjalan baik.
'Kami bicara jujur. Aku masih perlu waktu.'
'Kakak senang?'
'Iya. Tapi aku belum memutuskan menikah.'
Ia duduk di tepi kursi. 'Kalau nanti Kakak menikah, masih boleh pergi ke toko buku sama aku?'
'Boleh. Kita atur waktunya seperti biasa. Kamu tidak harus menunggu aku menikah untuk bertanya.'
Alisha tertawa dan menggeser gelas ke dekat tanganku. Ia lalu mengambil bukunya sendiri, lebih tertarik menunjukkan halaman yang ingin dibacanya daripada menjawab pertanyaan tentang hubungan orang dewasa.
Malam itu aku menulis di buku catatan bahwa pertanyaanku tentang Rafi sudah dijawab, tetapi masih ada hal lain yang ingin kubicarakan kelak. Aku ingin tahu bagaimana Aldo menghadapi konflik, bagaimana kami membagi tanggung jawab, dan apa yang ia harapkan dari pasangan dalam kehidupan nyata.
Aku tidak perlu mengajukan semuanya sekaligus. Jika hubungan ini berjalan, akan ada waktu untuk membicarakannya. Jika tidak, aku tetap berhak berhenti kapan pun aku merasa tidak cocok.
Sebelum tidur, aku membaca ulang catatan itu dan menambahkan satu kalimat: hari ini aku memilih untuk terus mengenal, bukan untuk menerima lamaran. Perbedaan itu penting bagiku.
Aku juga ingin memastikan bahwa aku menghormati waktu Aldo sebagaimana ia menghormati waktuku. Ia boleh berharap, tetapi aku tidak bisa menjanjikan hasil. Aku pun bisa berharap tanpa menuntutnya berubah dalam sehari. Jika kami terus melangkah, kami harus memberi ruang bagi jawaban yang belum diketahui.
Aku menyimpan buku itu di laci dan bersiap tidur. Besok aku akan kembali bekerja, mengurus proyek, dan menjalani hariku. Hubungan ini tetap menjadi bagian dari hidupku, tetapi bukan satu-satunya hal yang menentukan siapa diriku.
Aku ingin menjaga keseimbangan itu setiap hari, perlahan dan sadar.
Aku memindahkan daftar pertanyaan ke halaman berikutnya, lalu menutup buku. Besok aku akan memeriksa tagihan, bukan meminta Aldo mengulang jawabannya setiap hari.