Senin pagi, aku datang ke kantor dengan pikiran yang masih tertinggal pada percakapanku dengan Aldo. Kami sepakat untuk terus mengenal satu sama lain, tetapi tanpa mengubah kesepakatan itu menjadi janji. Keputusan tersebut terasa sederhana ketika diucapkan. Menjalankannya ternyata membutuhkan perhatian, terutama saat orang-orang di sekitar mulai bertanya tentang hubungan kami.
Rina menyapaku di dekat ruang rapat sambil membawa dua cangkir kopi.
'Kamu kelihatan sedang memikirkan sesuatu.'
'Aku sedang berusaha fokus pada daftar kerja.'
'Itu jawaban yang sangat diplomatis.'
Aku tertawa kecil dan menerima kopi darinya. 'Aku dan Aldo sepakat untuk berjalan pelan-pelan.'
'Kamu merasa nyaman dengan keputusan itu?'
'Lebih nyaman daripada diminta menentukan semuanya sekarang.'
Rina mengangguk. Ia tidak mendesakku bercerita lebih banyak. Sikapnya membuatku berterima kasih, sebab aku sendiri masih mengatur pikiranku.
Rapat pagi membahas pembagian tugas untuk tahap berikutnya. Salah satu tenggat dimajukan, dan beberapa bagian perlu dikerjakan ulang. Biasanya aku akan langsung mengambil pekerjaan tambahan agar tim tidak kerepotan. Kali ini aku melihat daftar tugasku sendiri sebelum menjawab.
'Aku bisa menyelesaikan analisis data, tetapi tidak bisa mengambil bagian presentasi juga,' kataku. 'Kalau keduanya dikerjakan bersamaan, hasilnya mungkin tidak teliti.'
Rina segera menawarkan diri membantu presentasi. Ketua tim mengubah pembagian tugas, lalu rapat berlanjut tanpa masalah. Tidak ada yang menganggap batas itu sebagai penolakan untuk bekerja. Aku menyadari bahwa selama ini aku sering membayangkan hal buruk sebelum mencoba mengatakan apa yang kubutuhkan.
Saat makan siang, ponselku bergetar. Pesan dari Aldo masuk.
'Bagaimana harimu?'
Aku mengetik bahwa jadwal proyek berubah, lalu menceritakan bagaimana aku membagi tugas dengan tim. Ia membalas bahwa itu keputusan yang baik dan bertanya apakah aku ingin menelepon malam nanti.
'Boleh, tapi aku mungkin baru selesai setelah pukul delapan.'
'Tidak apa-apa. Kalau kamu lelah, kita bisa bicara besok.'
Aku membaca pesannya dua kali. Ia tidak memaksa agar percakapan terjadi sesuai waktu yang ia inginkan. Aku membalas bahwa aku akan mengabari setelah sampai rumah.
Sore itu, pekerjaan berjalan lebih lama dari perkiraan. Ada data yang harus diperiksa kembali karena satu angka tidak cocok dengan laporan sebelumnya. Ketika aku meninggalkan kantor, langit sudah gelap. Aku mengirim pesan kepada Aldo bahwa aku baru pulang dan ingin mandi serta makan dulu.
'Istirahatlah. Kita tidak harus menelepon malam ini,' jawabnya.
Aku tersenyum membaca pesan itu. Tidak ada pertanyaan bernada kecewa atau sindiran yang membuatku merasa bersalah. Aku menyelesaikan makan, membantu Ibu merapikan meja, lalu berbincang dengan Alisha tentang pekerjaannya. Setelah itu barulah aku merasa cukup segar untuk menelepon.
'Kamu masih ingin bicara?' tanyaku ketika Aldo menjawab.
'Kalau kamu masih punya tenaga. Kalau tidak, kita bisa berhenti kapan saja.'
'Aku punya waktu sebentar. Hari ini cukup melelahkan.'
'Kalau begitu, ceritakan bagian yang paling ingin kamu ceritakan.'
Aku menceritakan rapat tadi dan bagaimana Rina membantu mengambil sebagian pekerjaan. Aldo mendengarkan tanpa langsung mengubah ceritaku menjadi nasihat.
'Aku hampir saja menerima semuanya sendiri,' kataku. 'Dulu aku mengira menolak tugas berarti mengecewakan orang.'
'Apa yang membuatmu berubah pikiran?'
'Aku sadar tim bisa membagi tanggung jawab. Aku tidak harus membuktikan bahwa aku sanggup melakukan semuanya.'
'Kedengarannya kamu menemukan cara yang lebih sehat untuk bekerja.'
'Iya. Aku ingin menerapkannya di bagian lain hidupku juga.'
Ada jeda sejenak. Aku tahu ia mungkin bertanya tentang hubungan kami, tetapi ia tidak buru-buru melakukannya. Aku sendiri ingin membicarakan satu hal.
'Mas, kalau nanti ada sesuatu yang membuat Mas tidak nyaman, aku ingin Mas mengatakannya langsung. Jangan diam lalu mengambil keputusan sendiri.'
'Saya akan berusaha begitu. Kamu juga boleh mengatakan kalau ada sikap saya yang membuatmu tertekan.'
'Aku akan mengatakannya. Tapi aku berharap kita tidak menganggap setiap keberatan sebagai pertengkaran.'
'Saya setuju. Perbedaan pendapat tidak harus menjadi pertengkaran.'
Jawaban itu tidak membuat semua keraguanku hilang. Namun, percakapan tersebut terasa seperti awal dari kebiasaan baru: membicarakan sesuatu sebelum berubah menjadi prasangka.
'Aku juga ingin bertanya,' kata Aldo. 'Apakah kamu ingin kita punya jadwal bertemu yang tetap?'
'Belum tentu setiap minggu bisa sama. Pekerjaanku berubah-ubah.'
'Kalau begitu, bagaimana kalau kita merencanakan satu pertemuan, lalu memastikan lagi beberapa hari sebelumnya?'
'Itu lebih cocok untukku. Aku tidak ingin membatalkan janji hanya karena jadwalku berubah.'
'Baik. Kita coba seperti itu.'
Kami sepakat bertemu pada akhir pekan, tetapi belum menentukan tempat. Aku mengatakan bahwa aku ingin memilih kegiatan sederhana, mungkin makan siang dan berjalan sebentar. Aldo menyambut usul itu tanpa menganggapnya sebagai kencan yang harus berakhir dengan keputusan penting.
'Kita bisa membicarakan hal-hal biasa juga,' katanya. 'Tidak setiap pertemuan harus membahas masa depan.'
'Aku akan senang kalau begitu.'
Panggilan itu tidak berlangsung lama. Sebelum menutup telepon, Aldo bertanya apakah aku ingin ia menghubungi Rafi untuk menanyakan kabarnya.
'Biar aku yang menghubunginya kalau memang ada kesempatan,' jawabku. 'Aku ingin hubungan kami tumbuh dengan alami.'
'Baik. Saya tidak akan ikut campur.'
Setelah panggilan berakhir, aku duduk sebentar di ruang keluarga. Ibu bertanya apakah aku sudah lebih tenang.
'Iya. Kami hanya membicarakan jadwal dan cara menyampaikan keberatan.'
'Hal sederhana seperti itu sering kali penting.'
'Aku tahu. Aku ingin melihat apakah kami bisa terus berbicara dengan jujur, bukan hanya saat semuanya mudah.'
Ibu mengangguk dan mengingatkanku agar tetap menjaga waktuku sendiri. Aku mengucapkan terima kasih, lalu masuk ke kamar. Di buku catatan, kutulis bahwa hari ini aku berhasil mengatakan batas di tempat kerja dan dalam hubunganku dengan Aldo. Dua hal itu berbeda, tetapi keduanya mengajarkanku bahwa kebutuhan sendiri layak disampaikan.
Aku belum tahu ke mana hubungan kami akan berjalan. Untuk saat ini, aku hanya ingin melihat apakah kata-kata Aldo sejalan dengan tindakannya dari waktu ke waktu. Besok aku akan kembali mengurus proyek dan menjalani rutinitas seperti biasa. Tidak ada keputusan besar yang harus dibuat malam ini. Aku mematikan lampu dengan pikiran yang lebih tenang, membiarkan hari berikutnya datang tanpa menuntut jawaban sebelum waktunya.