Sabtu pagi, aku bangun dengan daftar pekerjaan rumah yang belum selesai. Ibu meminta bantuanku berbelanja, sementara Alisha sudah lebih dulu pergi menemui temannya. Aku mencuci beberapa pakaian, merapikan meja, lalu memeriksa pesan dari Aldo. Kami berencana makan siang bersama, tetapi belum memilih tempat.
'Kamu ingin makan di mana?' tulisnya.
Aku melihat jam. 'Ada warung baru dekat taman kota. Tempatnya sederhana dan tidak terlalu ramai.'
'Baik. Kita bertemu di sana pukul dua belas?'
'Boleh. Aku akan berangkat dari rumah setelah selesai membantu Ibu.'
Ia membalas singkat bahwa ia akan menunggu di depan warung. Tidak ada pertanyaan tentang pakaian yang akan kukenakan atau tuntutan agar aku datang lebih awal. Hal kecil itu terasa menyenangkan.
Ibu memperhatikanku memasukkan dompet ke tas.
'Kamu akan pergi dengan Aldo?'
'Iya. Kami hanya makan siang.'
'Kamu sudah memberi tahu apa yang kamu harapkan dari pertemuan itu?'
'Aku ingin berbicara santai. Aku tidak ingin setiap pertemuan terasa seperti wawancara tentang pernikahan.'
'Kalau begitu, katakan saja bila pembicaraan mulai terasa berat.'
Aku mengangguk. Aku tidak perlu menyiapkan daftar pertanyaan atau mencari tanda-tanda tersembunyi dalam setiap kalimat. Aku hanya perlu hadir dan memperhatikan apakah aku merasa aman menjadi diriku sendiri.
Warung itu berada di jalan kecil yang teduh. Aldo sudah duduk di meja dekat jendela ketika aku tiba. Ia berdiri sebentar untuk menyapaku, lalu menanyakan apakah perjalanan dari rumah lancar.
'Lumayan. Aku sempat membantu Ibu berbelanja.'
'Kamu pasti sudah sibuk sejak pagi.'
'Sedikit. Tapi aku masih punya tenaga untuk makan.'
Kami memesan makanan dan membicarakan hal-hal ringan. Ia bercerita tentang kelas yang diikutinya dan kesulitannya membagi waktu antara pekerjaan, belajar, serta mengurus Rafi. Ia tidak membingkai kesibukan itu sebagai sesuatu yang harus kukagumi.
'Kadang aku membuat jadwal terlalu padat,' katanya. 'Lalu kesal sendiri ketika ada yang berubah.'
'Apa yang biasanya kamu lakukan kalau rencanamu berubah?'
'Dulu saya memaksa semua orang mengikuti jadwal saya. Sekarang saya mencoba bertanya dulu, meski belum selalu berhasil.'
'Apa yang membuatmu sadar itu perlu diubah?'
'Rafi pernah menunggu saya terlalu lama karena saya mengira dia akan siap tepat waktu. Saya tidak memberi tahu bahwa jadwal saya berubah. Dia kecewa, dan saya baru sadar bahwa saya menganggap waktunya tidak sepenting waktu saya.'
Aku menghargai kejujurannya, tetapi tidak ingin memberi pujian besar hanya karena ia mengakui kesalahan.
'Bagaimana kamu memperbaikinya?'
'Saya meminta maaf dan mulai memberi tahu dia kalau ada perubahan. Saya juga belajar memberi waktu lebih longgar, bukan menyalahkan dia.'
'Apakah itu masih sulit?'
'Kadang. Tapi saya mencoba mengingat bahwa dia anak, bukan rekan kerja yang harus mengikuti jadwal saya.'
Jawabannya membuatku berpikir tentang caraku sendiri menghadapi orang lain. Aku juga sering berharap semua berjalan sesuai rencana, lalu kecewa ketika orang lain tidak melakukan hal yang kubayangkan. Kami ternyata sama-sama memiliki kebiasaan yang perlu diperbaiki, meski bentuknya berbeda.
'Kamu sendiri bagaimana?' tanyanya. 'Apa hal yang sedang kamu pelajari?'
'Mengatakan tidak sebelum aku kelelahan. Selama ini aku sering mengambil banyak tugas karena takut dianggap tidak bisa diandalkan.'
'Apakah orang-orang di kantor bereaksi buruk ketika kamu membagi tugas?'
'Tidak. Ternyata aku yang lebih dulu berasumsi mereka akan marah.'
'Itu bukan hal yang mudah untuk disadari.'
'Aku masih harus membiasakannya.'
Ia tidak mengatakan bahwa aku harus berubah lebih cepat atau bahwa ia bisa menyelesaikan masalahku. Percakapan itu tetap terasa setara. Kami berbagi pengalaman tanpa berlomba menunjukkan siapa yang paling benar.
Setelah makan, Aldo mengusulkan berjalan di taman yang terletak beberapa blok dari sana. Aku melihat awan mulai berkumpul, jadi aku bertanya apakah ia keberatan jika kami hanya berjalan sebentar.
'Tidak. Kita bisa kembali kapan saja kalau hujan.'
Di taman, ia bercerita bahwa Rafi sedang membuat gambar untuk tugas sekolah. Ia tidak meminta aku menelepon anak itu atau mengatur sesuatu. Ia hanya menceritakan kabar yang menurutnya menyenangkan.
'Dia menggambar rumah dengan halaman luas,' katanya. 'Katanya ingin ada pohon mangga di sampingnya.'
'Dia suka menggambar?'
'Iya. Saya sedang belajar bertanya tentang gambarnya tanpa langsung menilai atau memperbaiki.'
'Apa biasanya kamu langsung memberi saran?'
'Sering. Saya pikir saya membantu, padahal kadang dia cuma ingin menunjukkan hasilnya.'
'Mungkin dia akan memberi tahu kalau ingin pendapatmu.'
'Saya juga sedang belajar menunggu sampai dia meminta.'
Aku senang mendengar kabar tentang Rafi, tetapi tetap menjaga batas yang sudah kubicarakan. Hubunganku dengannya harus dibangun melalui pertemuan yang wajar dan atas kenyamanan kami berdua. Aldo tampaknya memahami itu. Ia tidak menjadikan cerita tentang anaknya sebagai cara untuk membuatku segera mengambil peran tertentu.
Gerimis turun sebelum kami mencapai ujung taman. Kami berteduh di bawah kanopi kios yang tutup. Aldo bertanya apakah aku ingin memesan kendaraan atau menunggu hujan mereda.
'Kita tunggu sebentar. Aku tidak terburu-buru pulang, tapi aku juga tidak ingin kehujanan.'
'Baik. Kamu yang tentukan.'
Kami berdiri berdampingan sambil melihat orang-orang berlari kecil mencari tempat berteduh. Suasana hening beberapa saat, namun tidak terasa canggung. Aku menyadari bahwa aku tidak sedang mencari kalimat yang tepat untuk menyenangkan Aldo. Aku hanya menikmati jeda itu.
'Pertemuan seperti ini lebih mudah buatku,' kataku.
'Karena kita tidak membahas keputusan besar?'
'Iya. Aku ingin mengenal kebiasaanmu, bukan hanya mendengar rencana tentang masa depan.'
'Saya mengerti. Saya pun perlu menunjukkan kebiasaan saya lewat tindakan.'
'Dan aku juga perlu memberi kesempatan untuk melihatnya, selama aku tetap merasa nyaman.'
'Itu adil.'
Hujan mereda. Aldo memanggil kendaraan untukku, lalu menunggu sampai kendaraan itu datang. Ia tidak memaksakan diri mengantarku pulang. Ketika aku sampai rumah, aku mengirim pesan bahwa aku sudah tiba.
'Terima kasih untuk makan siangnya,' balasnya. 'Saya senang kita bisa bicara tanpa terburu-buru.'
Aku membalas bahwa aku juga senang. Setelah itu aku meletakkan ponsel dan membantu Ibu menyiapkan teh. Ia bertanya bagaimana pertemuannya.
'Menyenangkan. Kami bicara tentang kebiasaan sehari-hari dan cara menghadapi perubahan.'
'Kamu merasa harus menjawab sesuatu hari ini?'
'Tidak. Aku merasa bisa pulang sebagai diriku sendiri.'
Ibu tersenyum kecil. Aku tahu satu pertemuan yang nyaman belum menjamin apa pun. Namun, hari itu memberiku gambaran yang lebih nyata daripada janji besar. Aldo mengakui hal yang masih ia pelajari, mendengarkan ceritaku, dan menghormati batas waktu serta ruangku.
Malamnya, aku menulis bahwa aku ingin melihat apakah sikap itu tetap ada saat kami berbeda pendapat atau rencana berubah. Aku tidak akan menyimpulkan terlalu cepat. Untuk sekarang, aku hanya menyimpan kesan baik itu tanpa mengubahnya menjadi kepastian. Pertemuan berikutnya akan datang pada waktunya, dan aku tetap berhak menentukan langkahku sendiri.