Senin malam, Aldo menghubungiku melalui panggilan video ketika aku sedang di ruang keluarga rumahku. Ia memutarkan pesan suara Rafi dengan pengeras suara agar aku bisa mendengarnya melalui sambungan telepon. Suara anak itu terdengar bersemangat, bercerita tentang tugas sekolah yang meminta setiap murid menyiapkan sesuatu bersama keluarga.
'Ayah, minggu depan ada pameran karya. Aku mau membawa gambar rumah yang pernah kuceritakan. Bu Guru bilang keluarga boleh datang melihat.'
Aldo tersenyum mendengarkan pesan itu. Setelah membalas Rafi, ia menatapku sejenak, seolah ingin bertanya sesuatu tetapi masih mempertimbangkan caranya.
'Kamu ingin mengatakan sesuatu?' tanyaku.
'Saya ingin bertanya apakah kamu bersedia ikut melihat pameran Rafi. Tapi saya tidak ingin kamu merasa harus datang.'
Aku diam sebentar. Hubunganku dengan Rafi masih sederhana. Kami pernah berbicara dan bertukar kabar, tetapi belum sering menghabiskan waktu bersama. Undangan itu terasa lebih penting daripada sekadar melihat gambar. Aku tidak ingin menerima karena takut Aldo kecewa, namun aku juga tidak ingin menolak hanya karena membayangkan tanggung jawab yang belum pernah diminta dariku.
'Kapan pamerannya?'
'Sabtu depan, pagi. Saya bisa datang sendiri dengannya kalau kamu belum nyaman.'
'Aku ingin tahu dulu seperti apa acaranya. Orang tua murid akan berkumpul?'
'Iya, kemungkinan cukup ramai. Kita bisa datang sebentar saja. Kalau kamu ingin pulang, kita pulang.'
'Aku perlu memikirkannya. Boleh aku memberi jawaban besok?'
'Tentu. Tidak perlu menjawab sekarang.'
Percakapan berhenti di situ. Aldo tidak mencoba membujukku atau menjelaskan bahwa kehadiranku akan membuat Rafi bahagia. Ia mengakhiri telepon untuk menyiapkan keperluan sekolah anaknya esok hari. Aku menghargai bahwa ia menyampaikan undangan sebagai pilihan, bukan sebagai ujian untuk membuktikan keseriusanku.
Seusai panggilan, aku memikirkan kemungkinan itu. Aku teringat pesan Rafi tentang gambar rumah dan pohon mangga. Aku penasaran ingin melihat hasilnya, tetapi khawatir kehadiranku ditafsirkan sebagai tanda bahwa aku sudah siap masuk ke kehidupan keluarga mereka.
Malamnya, aku membicarakannya dengan Ibu.
'Menurut Ibu, aku sebaiknya datang?'
'Apa yang membuatmu ingin datang?'
'Aku ingin mendukung Rafi. Aku juga ingin mengenalnya sedikit demi sedikit.'
'Lalu apa yang membuatmu ragu?'
'Aku takut mereka menganggap aku sudah siap mengambil peran besar.'
Ibu menaruh cangkirnya di meja. 'Kamu bisa datang sebagai Alia yang ingin melihat karya seorang anak. Kamu tidak harus menjadi apa pun selain dirimu sendiri.'
'Kalau Rafi bertanya apakah aku akan sering datang?'
'Jawablah dengan jujur dan sesuai yang kamu rasakan. Anak-anak juga perlu mendengar jawaban yang jelas, bukan janji yang belum tentu bisa ditepati.'
Aku mengangguk. Ibu tidak memutuskan untukku. Ia hanya membantuku melihat bahwa menerima satu undangan tidak otomatis berarti menerima semua hal yang mungkin datang setelahnya.
Keesokan paginya, aku mengirim pesan kepada Aldo.
'Aku bersedia datang ke pameran, tapi mungkin hanya sebentar. Aku ingin bertemu Rafi dalam suasana yang santai.'
'Baik. Terima kasih sudah mempertimbangkannya. Saya akan memberi tahu Rafi bahwa kamu mungkin datang, tanpa membuatnya berharap terlalu banyak.'
'Tolong jangan katakan bahwa aku akan menjadi bagian dari keluarganya. Aku belum sampai pada keputusan seperti itu.'
'Saya mengerti. Saya akan menjelaskannya dengan sederhana.'
Jawaban itu melegakanku. Aku tidak membutuhkan kepastian bahwa Aldo akan selalu memahami setiap batas dengan sempurna. Aku perlu melihat apakah ia bersedia mendengarkan dan menyesuaikan diri ketika aku menjelaskan sesuatu.
Hari-hari berikutnya berjalan seperti biasa. Aku menyelesaikan laporan proyek dan mengurus beberapa pekerjaan rumah. Aldo tidak mengirim banyak pesan tentang pameran. Ia hanya bertanya pada Kamis apakah aku masih nyaman dengan rencana tersebut.
'Iya. Aku tetap akan datang, tapi aku ingin kita bertemu langsung di lokasi.'
'Baik. Saya akan membawa Rafi lebih dulu. Kalau kamu berubah pikiran, kabari saja.'
'Aku akan memberi tahu. Sampai Sabtu.'
Sabtu pagi, aku memilih pakaian yang nyaman dan berangkat sendiri. Aku ingin punya kebebasan pulang ketika merasa cukup, tanpa membuat siapa pun bergantung pada kendaraanku. Di sekolah Rafi, beberapa orang tua sudah berkumpul. Aku melihat Aldo berdiri dekat papan pengumuman bersama Rafi.
Rafi melihatku lebih dahulu dan melambaikan tangan.
'Kak Alia datang!'
Aku menghampirinya sambil tersenyum. 'Hai, Rafi. Katanya kamu membuat gambar rumah?'
'Iya. Ada pohon mangga besar. Nanti aku tunjukkan.'
'Aku ingin melihatnya.'
Aldo hanya menyapaku dan memberi ruang agar aku berbicara dengan Rafi. Ia tidak berdiri terlalu dekat atau mengarahkan percakapan. Aku merasa lebih tenang karena tidak ada yang memintaku berperan sebagai seseorang yang belum kupilih.
Kami berjalan ke ruang pameran. Rafi menunjukkan beberapa karya teman sekelasnya sebelum menemukan gambarnya sendiri. Rumah itu memiliki jendela besar, pagar rendah, dan pohon yang memenuhi satu sisi kertas. Di bawah gambar, ia menulis nama orang-orang yang tinggal di sana: dirinya dan ayahnya.
'Gambarnya bagus,' kataku. 'Aku suka pohon mangganya. Apa kamu sering membantu Ayah menyiram tanaman?'
'Kadang. Tapi aku lupa kalau sedang main.'
Aldo tertawa kecil. 'Itu benar.'
Rafi bercerita tentang warna yang dipakainya dan bagaimana ia menggambar halaman. Aku bertanya seperlunya dan mendengarkan jawabannya. Aku tidak menjanjikan akan datang ke semua acara sekolahnya. Aku tidak ingin membuat janji hanya karena suasananya menyenangkan.
Setelah melihat beberapa karya lain, aku memberi tahu mereka bahwa aku akan pulang.
'Kak Alia sudah mau pulang?' tanya Rafi.
'Iya, aku ada urusan di rumah. Terima kasih sudah menunjukkan gambarmu.'
'Nanti datang lagi?'
Aku berjongkok agar bisa menjawabnya dengan tenang. 'Kalau ada kesempatan dan kita sama-sama nyaman, mungkin kita bisa bertemu lagi. Tapi aku belum tahu kapan.'
Rafi mengangguk. Aldo tidak memotong jawabanku atau mengubahnya menjadi janji. Ia hanya mengucapkan terima kasih karena aku datang.
Di perjalanan pulang, aku memikirkan pertemuan singkat itu. Aku senang melihat karya Rafi dan berbicara dengannya. Namun, rasa senang itu tidak menghapus batas yang kubutuhkan. Aku bisa membuka ruang untuk mengenal mereka tanpa menganggap diriku sudah harus menjadi bagian dari keluarga.
Sesampainya di rumah, aku menceritakan acara itu kepada Ibu. Aku juga mengatakan bahwa Rafi bertanya apakah aku akan datang lagi.
'Kamu menjawab dengan jujur?' tanyanya.
'Iya. Aku bilang mungkin, kalau kami nyaman, tapi aku belum tahu kapan.'
'Itu jawaban yang baik. Kamu tidak memberi harapan palsu, tapi juga tidak menutup pintu.'
Malam itu Aldo mengirim pesan bahwa Rafi senang aku datang. Ia menambahkan bahwa ia menghargai caraku menjawab pertanyaan anaknya.
'Aku senang bisa melihat gambarnya,' balasku. 'Tapi aku tetap ingin proses ini berjalan perlahan.'
'Saya mengerti. Terima kasih sudah mengingatkan saya.'
Aku menaruh ponsel dan membuka buku catatan. Hari itu menjadi langkah kecil dalam hubunganku dengan Rafi, bukan keputusan tentang masa depan. Aku bisa menerima undangan, menunjukkan perhatian, lalu pulang sesuai batas yang telah kutentukan. Jika hubungan ini berkembang, aku ingin setiap langkah dipilih dengan sadar oleh semua orang yang terlibat.