Sejak pameran sekolah, aku beberapa kali teringat gambar rumah buatan Rafi. Bukan karena aku menganggap gambar itu sebagai petunjuk tentang masa depanku, melainkan karena ia bercerita dengan begitu bersemangat. Aku senang bisa mendengarkan tanpa harus mengubah satu pertemuan menjadi janji untuk hadir di setiap kegiatan berikutnya.
Hari Rabu, Aldo mengirim pesan bahwa Rafi ingin menunjukkan gambar lain yang sedang ia buat. Ia bertanya apakah aku bersedia berbicara lewat panggilan video singkat setelah makan malam. Aku membaca pesannya dan memikirkan apakah aku sedang punya waktu serta energi.
'Kalau kamu sibuk, tidak apa-apa,' tulis Aldo. 'Saya hanya menyampaikan keinginannya.'
Aku membalas bahwa aku bisa berbicara sebentar, sekitar lima belas menit. Aldo menyetujuinya dan mengatakan akan menghubungi setelah Rafi selesai belajar.
Malam itu, aku menyiapkan teh lalu duduk di ruang keluarga. Panggilan masuk tepat setelah pukul tujuh. Wajah Rafi muncul di layar, sementara Aldo duduk agak jauh di belakangnya.
'Kak Alia, lihat gambar baruku!'
'Tentu. Kamu menggambar apa?'
Rafi mengangkat kertas ke depan kamera. Ia menggambar kapal kecil dengan tiga orang di atasnya. Salah satu tokoh memakai topi besar, yang lain memegang pancing.
'Ini Ayah, ini aku, yang ini siapa?' tanyaku.
'Itu teman sekolahku. Kami mau pergi memancing, tapi kapalnya bisa terbang.'
'Wah, berarti kalian tidak perlu takut ombak.'
'Iya. Kapalnya punya mesin rahasia.'
Aku bertanya tentang warna dan cerita di balik gambarnya. Rafi menjawab dengan antusias. Aldo tidak mengambil alih percakapan. Ia membiarkan anaknya bercerita dan sesekali tersenyum ketika Rafi mengarang detail baru tentang kapal terbang itu.
Setelah beberapa menit, Rafi bertanya apakah aku akan ikut kalau mereka benar-benar pergi memancing.
'Kak Alia belum pernah memancing,' kataku. 'Aku perlu tahu dulu kapan dan di mana.'
'Kalau hari Minggu?'
Aku melihat Aldo. Ia tidak memberi isyarat agar aku menerima. Aku menjawab dengan jujur bahwa akhir pekan ini aku sudah punya rencana bersama keluarga.
'Mungkin lain kali, kalau waktunya cocok dan Ayahmu juga setuju.'
Rafi mengangguk. 'Nanti aku tanya lagi.'
'Boleh. Tapi kalau aku tidak bisa, bukan berarti aku tidak senang melihat gambarmu.'
'Aku tahu. Kak Alia suka gambarku.'
'Benar. Aku senang kamu mau menunjukkannya.'
Aldo kemudian bertanya apakah aku ingin berbicara sebentar dengannya setelah Rafi selesai. Aku menyetujui, tetapi mengingatkan bahwa aku hanya punya waktu sampai pukul setengah delapan. Ia menerima batas itu tanpa komentar.
Rafi mengucapkan selamat malam lalu pergi untuk menyimpan gambarnya. Aldo mendekat ke kamera.
'Terima kasih sudah menerima panggilannya,' katanya.
'Aku senang melihat gambarnya. Tapi aku ingin memastikan kita tidak menjadikan panggilan ini rutinitas tetap dulu.'
'Saya mengerti. Kita bisa menunggu sampai ada kesempatan dan kamu merasa nyaman.'
'Aku juga ingin Rafi tahu bahwa aku senang berbicara dengannya, tapi aku belum bisa menjanjikan akan ikut kegiatan mereka.'
'Saya akan menjelaskannya kalau dia bertanya. Saya tidak akan memberi kesan bahwa kamu sudah berkomitmen.'
Aku menghargai jawabannya. Namun, ada satu hal yang ingin kutanyakan.
'Mas, apa Rafi tahu bahwa kita sedang saling mengenal?'
Aldo menarik napas sebentar sebelum menjawab. 'Saya mengatakan bahwa kita berteman dan sedang belajar mengenal satu sama lain. Saya belum mengatakan bahwa kita pasti akan menikah.'
'Bagus. Aku tidak ingin dia membangun harapan tentang sesuatu yang belum kita putuskan.'
'Saya juga tidak ingin membebani dia dengan keputusan orang dewasa.'
'Kalau suatu hari kita memutuskan hubungan ini tidak cocok, bagaimana Mas akan menjelaskannya kepada Rafi?'
Aldo terdiam sejenak. Ia tidak menghindari pertanyaanku, tetapi tampak berusaha memilih kata-kata yang tepat.
'Saya akan mengatakan bahwa kita sudah mencoba mengenal satu sama lain dan memutuskan untuk tidak melanjutkan. Saya tidak akan menyalahkan kamu di depannya, dan saya tidak akan meminta dia membujukmu.'
'Aku lega mendengarnya. Anak-anak tidak seharusnya dijadikan perantara.'
'Betul. Saya harus mengurus perasaan dan penjelasan itu sebagai ayahnya.'
Jawabannya penting bagiku. Sejak awal, kekhawatiranku bukan hanya tentang diriku dan Aldo. Rafi juga bisa terluka jika orang dewasa membuat janji yang terlalu cepat, lalu menariknya kembali tanpa penjelasan. Aku tidak ingin dekat dengannya dengan cara yang membuatnya merasa kehilangan seseorang sebelum hubungan kami benar-benar terbentuk.
'Aku juga ingin bertanya,' kata Aldo. 'Apakah kamu merasa nyaman ketika berbicara dengannya?'
'Iya. Dia menyenangkan dan imajinatif. Aku hanya ingin semuanya berlangsung perlahan.'
'Saya paham.'
'Kalau nanti aku perlu menolak sebuah ajakan, aku ingin Mas tetap mendukung jawabanku di depan Rafi.'
'Saya akan berusaha melakukan itu. Dia boleh kecewa, tapi saya tidak akan mengatakan bahwa kamu bersalah.'
'Terima kasih. Aku pun akan menjawabnya dengan baik, bukan menghilang tanpa penjelasan.'
Panggilan berakhir tepat sebelum batas waktu yang kami sepakati. Aku merasa lega karena dapat menikmati percakapan dengan Rafi sekaligus membicarakan hal yang sensitif dengan Aldo. Tidak semua kekhawatiranku hilang, tetapi aku tidak perlu memendamnya sendirian.
Keesokan harinya, aku menceritakan panggilan itu kepada Ibu. Ia mendengarkan ketika aku menjelaskan pertanyaan Rafi tentang memancing dan pembicaraanku dengan Aldo tentang kemungkinan hubungan kami berhenti.
'Kamu tidak terlalu jauh berpikir?' tanyaku. 'Kami bahkan belum memutuskan akan menikah.'
'Memikirkan dampak keputusan bukan berarti kamu sedang membuat keputusan itu,' jawab Ibu. 'Kamu sedang memastikan semua orang diperlakukan dengan jujur.'
Aku mengangguk. Aku memang tidak sedang mempersiapkan perpisahan. Aku hanya ingin memastikan bahwa hubungan ini dibangun dengan cara yang tidak mengorbankan perasaan Rafi atau kebebasanku sendiri.
Pada akhir pekan, Aldo mengirim foto gambar kapal terbang itu setelah meminta izin Rafi. Aku membalas bahwa aku menyukai detail awannya. Rafi lalu mengirim pesan singkat melalui ponsel ayahnya, berterima kasih karena aku sudah melihat gambarnya.
Aku tersenyum, kemudian meletakkan ponsel. Perhatian kecil seperti itu boleh kusambut tanpa menjadikannya janji besar. Aku ingin terus mengenal Aldo dan Rafi selama prosesnya terasa sehat bagi kami semua. Langkah berikutnya tidak harus ditentukan malam ini. Untuk sekarang, kejujuran dan batas yang jelas sudah cukup menjadi arah.