Beberapa hari setelah panggilan dengan Rafi, Aldo mengirim pesan bahwa ibunya ingin bertemu denganku. Ia menulis bahwa ibunya ingin mengobrol lagi denganku, kali ini di luar rumah. Kami sudah beberapa kali bertemu, tetapi belakangan percakapan kami lebih sering singkat. Ia juga menegaskan bahwa aku tidak perlu menerima kalau belum siap.
Aku membaca pesan itu beberapa kali. Bertemu keluarga Aldo terasa berbeda dari melihat pameran sekolah Rafi. Aku bisa memahami rasa ingin tahu ibunya, tetapi aku tidak ingin pertemuan itu berubah menjadi pembicaraan tentang kapan kami menikah.
'Apa Ibu tahu kita masih dalam tahap saling mengenal?' tanyaku.
'Saya sudah menjelaskan. Beliau tahu belum ada keputusan.'
'Kalau aku bertemu dengannya, aku ingin pembicaraannya tetap santai.'
'Saya akan menyampaikan itu. Kita bisa bertemu sebentar di tempat umum.'
Aku belum menjawab. Malamnya, aku membicarakannya dengan Ibu dan Alisha. Alisha menyarankan agar aku bertanya langsung kepada Aldo tentang alasan ibunya ingin bertemu.
'Mungkin mamanya cuma mau ngobrol, Kak,' katanya.
'Aku tahu. Tapi aku tidak ingin datang lalu diperlakukan seperti calon istri yang tinggal menunggu tanggal.'
Ibu mengangguk. 'Kamu boleh menyampaikan batas itu sebelum bertemu. Kalau mereka tidak bisa menghormatinya, kamu juga boleh menolak.'
Keesokan harinya, aku menelepon Aldo.
'Aku bersedia bertemu ibumu, tapi aku ingin memastikan tidak ada pembicaraan yang menuntut keputusan.'
'Saya akan mengatakannya lagi. Kalau beliau mulai membahas sesuatu yang membuatmu tidak nyaman, kita bisa mengalihkan pembicaraan atau mengakhiri pertemuan.'
'Aku tidak ingin Mas membelaku dengan marah. Aku hanya ingin Mas membantu menjaga suasana.'
'Saya paham. Saya akan bicara dengan tenang.'
Kami sepakat bertemu Minggu siang di sebuah kafe. Aku memberi tahu Ibu tempatnya dan memperkirakan akan pulang sebelum sore. Keputusan sederhana itu membuatku merasa lebih siap.
Pada hari Minggu, Aldo sudah menunggu bersama ibunya, Bu Ratna. Kami saling menyapa seperti pada pertemuan-pertemuan sebelumnya, lalu memesan minuman. Ratna adalah nama Tante, ibu Aldo yang sejak awal mengundangku ke rumahnya. Bu Ratna menyambutku dengan ramah dan bertanya tentang pekerjaanku.
'Alia sekarang membantu administrasi dan pemeriksaan laporan restoran, Bu,' kata Aldo.
'Oh, pasti sibuk sekali,' ujar Bu Ratna. 'Aldo bilang kamu mandiri dan pandai mengatur pekerjaan.'
'Saya masih belajar mengaturnya, Bu.'
'Bagus. Perempuan memang sebaiknya punya kegiatan sendiri.'
Awalnya percakapan berjalan ringan. Bu Ratna menanyakan kabar keluargaku dan mengingat kunjungan-kunjungan Aldo ke rumah Bapak. Aku menjawab secukupnya. Ia bercerita tentang Rafi yang makin senang menggambar. Aku merasa senang mendengar kabar itu, tetapi tetap tidak menganggapnya sebagai tanda bahwa aku sudah mengambil peran tertentu.
Setelah beberapa saat, Bu Ratna tersenyum dan berkata, 'Kalau kalian serius, mungkin lebih baik jangan terlalu lama menunggu. Aldo juga perlu pendamping untuk membesarkan Rafi.'
Aku merasakan tubuhku menegang. Inilah yang kutakutkan. Aku belum sempat menjawab ketika Aldo meletakkan cangkirnya.
'Bu, kita sudah membicarakan ini. Alia dan saya sedang saling mengenal. Saya tidak ingin Ibu memberi tekanan atau menjadikan Rafi alasan untuk mempercepat keputusan.'
Bu Ratna tampak terkejut. 'Ibu hanya ingin yang terbaik untuk kalian.'
'Saya tahu, Bu. Tapi keputusan ini milik kami berdua. Rafi juga tidak membutuhkan seseorang yang datang karena merasa harus menggantikan siapa pun.'
Suasana hening sebentar. Aku menghargai Aldo menanggapi ibunya tanpa meninggikan suara. Namun, aku juga ingin menyampaikan batas dari diriku sendiri.
'Bu Ratna, saya senang bisa mengobrol lagi dengan Ibu,' kataku. 'Tapi saya belum siap membicarakan pernikahan. Saya juga tidak ingin hubungan saya dengan Rafi dianggap sebagai alasan agar saya harus menerima lamaran.'
Bu Ratna menatapku, lalu menghela napas. 'Ibu mengerti. Maaf kalau perkataan Ibu membuatmu tertekan. Ibu hanya khawatir Aldo menjalani semuanya sendirian.'
'Saya mengerti kekhawatiran Ibu,' jawabku. 'Tapi saya perlu mengenal Aldo sebagai pasangan, bukan sebagai solusi untuk kebutuhan keluarga.'
'Itu masuk akal,' katanya setelah jeda singkat. 'Mungkin Ibu terlalu cepat berpikir jauh.'
Percakapan beralih ke topik lain, meski suasana tidak sepenuhnya kembali santai. Bu Ratna bertanya tentang proyekku dan tempat tinggal keluargaku. Aku menjawab dengan tenang. Aldo tidak mengambil alih pembicaraan dan tidak mencoba membuatku berutang budi karena telah mengoreksi ibunya.
Setelah hampir satu jam, aku mengatakan bahwa aku harus pulang. Aldo mengangguk dan bertanya apakah aku ingin ia mengantarku. Aku memilih pulang sendiri karena sudah mengatur kendaraan sebelumnya.
'Terima kasih sudah datang,' kata Bu Ratna. 'Ibu harap kita bisa bertemu lagi saat kamu lebih nyaman.'
'Terima kasih sudah menerima saya, Bu. Saya juga berharap kita bisa berbincang lagi dengan santai.'
Dalam perjalanan, aku memikirkan pertemuan tadi. Aku tidak marah kepada Bu Ratna. Aku mengerti ia khawatir kepada anak dan cucunya. Namun, kekhawatiran itu tidak boleh berubah menjadi tanggung jawab yang dibebankan kepadaku. Aku lega Aldo memahami hal tersebut dan berani menyatakannya di depan ibunya.
Malamnya, Aldo mengirim pesan.
'Maaf Ibu membicarakan pernikahan. Saya sudah mengingatkan beliau, tapi seharusnya saya memastikan lagi sebelum kita bertemu.'
'Aku menghargai Mas sudah menegur dengan tenang. Aku juga senang bisa menyampaikan batas sendiri.'
'Apakah kamu masih merasa nyaman melanjutkan hubungan ini?'
Aku tidak menjawab terburu-buru. Aku memikirkan bagaimana Aldo menangani keadaan itu, bukan hanya apa yang ia katakan setelahnya.
'Aku masih ingin mengenal Mas. Tapi aku perlu melihat bahwa batas ini tetap dihormati, termasuk oleh keluarga Mas.'
'Saya mengerti. Saya akan mengurus komunikasi dengan keluarga saya. Kamu tidak perlu menanggungnya sendirian.'
Aku membalas bahwa aku menghargai jawabannya. Setelah itu, aku berbicara dengan Ibu dan menceritakan semuanya. Ia mendengarkan tanpa menyuruhku segera memutuskan hubungan atau melanjutkannya.
'Yang penting, kamu tidak mengabaikan perasaanmu sendiri,' katanya.
'Aku tidak mengabaikannya. Aku kecewa pembicaraan itu muncul, tapi aku juga melihat Aldo berusaha menjaga batas.'
'Kamu boleh merasakan keduanya sekaligus.'
Aku mengangguk. Malam itu, aku menulis bahwa bertemu keluarga Aldo memberiku informasi baru. Aku melihat bahwa tekanan bisa datang dari orang lain, bukan hanya dari Aldo sendiri. Aku juga melihat bagaimana ia merespons ketika batas kami diuji.
Belum ada keputusan besar yang berubah. Aku tetap ingin berjalan perlahan dan menilai tindakannya dari waktu ke waktu. Jika hubungan ini berkembang, kami harus mampu menjaga ruang untuk memilih tanpa dorongan dari keluarga. Aku menutup buku catatan dengan pikiran lebih jernih, meskipun belum sepenuhnya tenang.