Senin pagi, aku memulai hari dengan menyiapkan laporan proyek. Namun, pikiranku beberapa kali kembali pada pertemuan dengan Bu Ratna. Aku tidak menyesal telah datang, tetapi aku masih memikirkan apakah perkataanku terdengar terlalu tegas. Aku ingin menjaga batas tanpa membuat hubungan Aldo dengan ibunya menjadi renggang.
Saat istirahat, aku menceritakan kegelisahan itu kepada Rina.
'Menurutmu aku seharusnya lebih diam saja?' tanyaku.
'Kamu sudah menyampaikan batas dengan sopan. Kenapa kamu harus menanggung semua kenyamanan orang lain?'
'Aku tidak ingin Aldo merasa harus memilih antara aku dan ibunya.'
'Kamu tidak memintanya memilih. Kamu hanya menjelaskan bahwa keputusan kalian tidak boleh didorong oleh orang lain.'
Aku terdiam. Rina benar. Aku tidak pernah meminta Aldo menjauh dari keluarganya. Aku hanya ingin ia mengambil tanggung jawab atas komunikasi dengan keluarganya sendiri, sebagaimana aku akan melakukan hal yang sama untuk keluargaku.
Siang itu, Aldo mengirim pesan bahwa ia sudah berbicara dengan ibunya. Ia mengatakan pembicaraan mereka berlangsung tenang dan Bu Ratna mengerti bahwa ia tidak seharusnya menggunakan kebutuhan Rafi untuk mendesak kami.
'Beliau juga bilang ingin meminta maaf langsung kalau kamu bersedia,' tulisnya.
Aku menghargai niat itu, tetapi belum merasa perlu bertemu lagi dalam waktu dekat.
'Aku menerima permintaan maafnya. Untuk sekarang, aku ingin memberi waktu agar semuanya tenang.'
'Baik. Saya tidak akan mengatur pertemuan lagi tanpa bertanya kepadamu.'
Aku membalas bahwa aku menghargainya. Percakapan itu membuatku lega, tetapi aku tahu yang perlu kuperhatikan bukan hanya kata-kata. Aku perlu melihat apakah Aldo benar-benar memberi ruang dan tidak membawa tekanan keluarganya ke dalam hubungan kami.
Hari-hari berikutnya berjalan biasa. Aku menyelesaikan dua bagian laporan dan membantu Rina memeriksa data. Pada Kamis, Aldo bertanya apakah aku ingin bertemu akhir pekan. Aku menjawab bahwa aku belum tahu karena ada urusan keluarga. Ia menerima jawabanku dan mengatakan aku bisa memberi kabar nanti.
Pada Jumat malam, Ibu menyampaikan bahwa sepupuku, Nisa, akan datang ke rumah bersama suaminya. Mereka ingin membicarakan acara keluarga bulan depan. Aku tahu akhir pekanku akan cukup sibuk, jadi aku mengirim pesan kepada Aldo bahwa aku tidak bisa bertemu.
'Tidak apa-apa. Semoga acara keluargamu berjalan lancar,' balasnya.
Tidak ada sindiran atau pertanyaan mengapa aku tidak bisa meluangkan waktu. Aku mengucapkan terima kasih dan meletakkan ponsel.
Sabtu pagi, Nisa datang lebih awal. Kami membantu Ibu menyiapkan makanan sebelum duduk bersama di ruang tengah. Setelah berbincang tentang acara keluarga, Nisa bertanya apakah benar aku sedang dekat dengan seorang duda yang memiliki anak.
'Kami sedang saling mengenal,' jawabku. 'Belum ada keputusan tentang pernikahan.'
'Tapi dia serius, kan?'
'Dia ingin mengenalku. Aku juga masih melihat apakah kami cocok.'
Suaminya ikut bertanya apakah aku tidak khawatir menerima tanggung jawab sebagai ibu sambung. Aku merasa pertanyaan itu terlalu cepat, tetapi mencoba menjawab tanpa tersinggung.
'Aku belum mengambil peran seperti itu. Rafi anak yang baik, tapi aku tidak ingin menerima tanggung jawab keluarga sebelum hubunganku dengan Aldo jelas.'
Nisa menatapku seolah ingin memberi nasihat. 'Kalau kamu menunggu terlalu lama, mungkin Aldo mengira kamu tidak sungguh-sungguh.'
'Aku sudah menjelaskan bahwa aku ingin berjalan pelan-pelan. Kalau dia tidak nyaman dengan itu, kami perlu membicarakannya.'
Ibu mengalihkan pembicaraan ke rencana acara keluarga. Aku bersyukur karena tidak perlu menjelaskan lebih jauh. Setelah Nisa pulang, aku membantu Ibu merapikan piring.
'Kamu tadi terdengar yakin,' katanya.
'Aku gugup, tapi aku tidak ingin menjawab sesuatu yang belum kupikirkan.'
'Itu cukup.'
Minggu siang, Aldo mengirim pesan menanyakan bagaimana akhir pekanku. Aku menceritakan kedatangan Nisa dan pertanyaan tentang peranku terhadap Rafi. Ia membaca pesanku, lalu menelepon setelah bertanya apakah aku punya waktu bicara.
'Apakah pertanyaan itu membuatmu tidak nyaman?' tanyanya.
'Sedikit. Tapi aku bisa menjawabnya. Aku hanya tidak ingin semua orang menganggap aku akan otomatis menjadi ibu Rafi kalau menikah denganmu.'
'Saya paham. Ibunya tetap bagian dari hidup dan kenangan Rafi. Kalau suatu hari kita menikah, kamu akan menjadi orang dewasa yang menyayanginya, tetapi bukan pengganti ibunya.'
Aku terdiam, mencerna jawabannya. 'Aku senang Mas memandangnya seperti itu. Aku juga ingin tahu, apa yang Mas harapkan dariku sebagai pasangan?'
'Saya berharap kita saling menghormati, berbagi tanggung jawab, dan membicarakan masalah. Untuk Rafi, saya berharap kamu bisa membangun hubungan dengannya kalau kamu siap. Saya tidak akan meminta kamu mengambil alih tugas sebagai orang tuanya.'
'Siapa yang akan tetap bertanggung jawab atas keputusan sekolah, kesehatan, dan aturan untuk Rafi?'
'Saya tetap bertanggung jawab sebagai ayahnya. Kalau kita menikah, saya tentu akan berdiskusi denganmu soal hal-hal yang berdampak pada rumah tangga. Untuk dukungan lain, saya bisa meminta bantuan keluarga yang dekat dengannya, tetapi keputusan utama tetap tanggung jawab saya.'
Jawaban itu terasa lebih jelas daripada ungkapan umum tentang menjadi keluarga. Aku masih perlu memahami banyak hal, tetapi setidaknya Aldo tidak menganggap pernikahan otomatis memindahkan semua tanggung jawab kepadaku.
'Aku juga ingin kita membahas hal praktis kalau hubungan ini makin serius,' kataku. 'Tempat tinggal, keuangan, pembagian pekerjaan rumah, dan bagaimana kita menjaga waktu masing-masing.'
'Saya setuju. Kita tidak harus membahas semuanya hari ini, tapi kita perlu membicarakannya sebelum mengambil keputusan besar.'
'Aku ingin pembicaraan itu dilakukan tanpa terburu-buru.'
'Baik. Kita bisa mulai satu per satu ketika kamu siap.'
Panggilan berlangsung lebih lama daripada yang kurencanakan, tetapi aku tidak merasa dipaksa. Aku yang mengakhiri percakapan setelah mengatakan bahwa aku perlu menyiapkan makan malam. Aldo mengucapkan selamat malam dan tidak meminta tambahan waktu.
Setelah panggilan, aku berbicara dengan Ibu. Aku menceritakan bagaimana Aldo menjawab pertanyaanku tentang tanggung jawab terhadap Rafi.
'Itu pembicaraan penting,' kata Ibu. 'Kamu tidak perlu menyimpulkan semuanya dari satu jawaban, tapi kamu sudah mulai bertanya pada hal yang tepat.'
'Aku juga ingin melihat apakah tindakannya sesuai dengan jawaban itu.'
'Terus perhatikan. Kamu tidak harus memutuskan sekarang.'
Malam itu, aku menulis bahwa tekanan bisa datang dari keluarga besar, bukan hanya dari orang yang sedang menjalin hubungan denganku. Aku belajar menjawab dengan tenang dan tidak menyerap semua harapan orang lain sebagai kewajibanku.
Aku juga mendapat kejelasan awal tentang pandangan Aldo terhadap peran Rafi dan tanggung jawab orang tua. Itu belum cukup untuk menentukan masa depan, tetapi menjadi bahan penting untuk dipertimbangkan. Aku tidak ingin hubungan ini hanya bertahan karena kami saling menyukai. Kami juga perlu cocok dalam cara menjalani hidup dan menghormati batas.
Aku menutup buku catatan. Untuk sementara, aku akan terus bekerja, mengurus keluargaku, dan mengenal Aldo sesuai waktu yang kami sepakati. Tidak ada yang harus diputuskan hanya karena orang lain bertanya. Aku ingin memastikan setiap langkah berasal dari keyakinanku sendiri.