Setelah pembicaraan kami tentang Rafi, aku menyadari ada banyak hal praktis yang belum pernah kutanyakan kepada Aldo. Selama ini kami lebih sering membicarakan bagaimana mengenal satu sama lain dan menjaga batas. Itu penting, tetapi jika suatu hari hubungan ini menjadi lebih serius, kami juga perlu tahu cara masing-masing menghadapi pekerjaan, rumah tangga, dan uang.
Aku tidak ingin mengubah setiap pertemuan menjadi pemeriksaan. Namun, aku juga tidak ingin menghindari pertanyaan penting hanya karena takut merusak suasana. Pada Senin malam, aku mengirim pesan kepada Aldo.
'Kalau minggu ini ada waktu, aku ingin membicarakan beberapa hal praktis. Tidak harus sekaligus.'
'Tentu. Kamu ingin bertemu atau menelepon?'
'Bertemu mungkin lebih baik. Tapi aku tidak mau percakapan itu terasa seperti wawancara.'
'Kita bisa memilih satu atau dua topik saja. Kalau sudah cukup, kita berhenti.'
Kami sepakat bertemu pada Kamis sore di kedai yang sama tempat kami pernah berbicara. Aku membuat catatan kecil berisi beberapa hal yang ingin kutanyakan, lalu menyimpannya di tas. Aku tidak ingin membacakan daftar itu satu demi satu. Catatan itu hanya pengingat agar aku tidak menghindari hal yang penting.
Kamis, pekerjaanku berakhir lebih awal. Aku tiba di kedai beberapa menit sebelum Aldo. Ketika ia datang, ia bertanya bagaimana hariku, lalu kami memesan minuman dan makanan ringan.
'Kamu ingin mulai dari mana?' tanyanya.
'Mungkin dari pekerjaan. Kalau hubungan kita semakin serius, apakah Mas berharap aku berhenti bekerja atau mengurangi jam kerja?'
Aldo tidak langsung menjawab. Ia tampak memikirkan pertanyaan itu dengan sungguh-sungguh.
'Saya tidak berharap kamu berhenti. Pekerjaanmu penting untukmu, dan saya menghormatinya. Kalau suatu saat ada perubahan yang perlu dibicarakan, kita bicarakan bersama, bukan saya memutuskan sendiri.'
'Bagaimana kalau pekerjaan kita menuntut waktu pada saat yang sama?'
'Kita perlu mengatur jadwal dan tanggung jawab. Saya tidak bisa menjanjikan tidak akan ada benturan, tapi saya tidak ingin menganggap pekerjaan saya selalu lebih penting.'
Jawabannya terdengar masuk akal. Aku tahu kalimat yang baik belum membuktikan bagaimana ia akan bertindak nanti, tetapi setidaknya ia tidak menganggap karierku sebagai sesuatu yang bisa dikesampingkan.
'Aku juga ingin tahu pandangan Mas tentang pekerjaan rumah,' kataku. 'Aku tidak ingin setelah menikah semua urusan rumah dianggap tanggung jawab perempuan.'
'Saya setuju pekerjaan rumah perlu dibagi. Saya sudah mengurus beberapa hal sendiri, meski mungkin kebiasaan saya berbeda dengan kebiasaanmu. Kita harus membicarakan pembagiannya dengan jelas.'
'Termasuk kalau salah satu dari kita lebih sibuk?'
'Iya. Yang punya waktu lebih banyak bisa membantu lebih banyak untuk sementara. Tapi kita perlu mengevaluasi lagi supaya tidak menjadi beban tetap bagi satu orang.'
Aku mengangguk. Aku belum tahu apakah kami akan selalu sepakat tentang pembagian tugas, tetapi aku senang pembicaraan itu tidak dianggap remeh.
'Kalau soal keuangan?' tanyaku setelah jeda. 'Aku ingin tetap punya penghasilan dan kendali atas rekeningku sendiri.'
'Saya tidak keberatan. Menurut saya, kita perlu terbuka soal pengeluaran bersama, tabungan, dan kewajiban masing-masing. Tapi kamu tetap berhak mengatur uangmu sendiri.'
'Aku juga ingin tahu apakah Mas punya utang atau tanggungan yang perlu diketahui pasangan.'
'Saya punya cicilan rumah dan biaya untuk Rafi. Kalau kita sampai membicarakan pernikahan, saya akan menjelaskan semua angkanya dengan rinci. Saya tidak ingin ada hal seperti itu yang disembunyikan.'
'Aku juga akan terbuka tentang kondisi keuanganku. Aku hanya ingin pembicaraan seperti ini dilakukan sebelum ada keputusan besar.'
'Saya setuju. Kita tidak perlu menyelesaikannya hari ini, tapi tidak boleh menghindarinya.'
Percakapan berjalan cukup tenang. Kami tidak membahas angka secara rinci karena hubungan kami belum sampai pada tahap itu. Kami hanya memastikan prinsip dasar masing-masing. Aku merasa lega karena bisa bertanya tanpa dianggap tidak romantis atau terlalu curiga.
Setelah beberapa saat, Aldo balik bertanya.
'Apa ada hal yang paling kamu khawatirkan tentang hidup bersama seseorang?'
Aku memikirkan jawabanku. 'Aku takut kehilangan ruang untuk menjadi diriku sendiri. Aku pernah melihat orang mengorbankan semua hal yang disukai demi menjaga hubungan.'
'Apa yang kamu butuhkan agar tidak merasa begitu?'
'Waktu untuk pekerjaan, teman, dan keluarga. Aku ingin pasangan tidak menganggap semua waktu luang harus dihabiskan bersama.'
'Saya bisa memahami itu. Saya juga perlu waktu untuk mengurus Rafi dan belajar. Kita harus punya waktu bersama, tapi tetap punya ruang masing-masing.'
'Bagaimana kalau salah satu merasa kurang diperhatikan?'
'Kita harus mengatakannya sebelum berubah menjadi tuduhan. Saya mungkin belum selalu bisa menyampaikan sesuatu dengan baik, tapi saya ingin belajar.'
'Aku juga.'
Kami membicarakan topik itu lebih lama dari yang kurencanakan. Tidak semua jawaban terasa lengkap. Ada beberapa hal yang memang belum bisa dipastikan sebelum kami benar-benar menghadapi situasinya. Namun, kami tidak berpura-pura memiliki jawaban untuk segala hal.
Ketika kedai mulai ramai, aku melihat jam dan mengatakan bahwa aku perlu pulang. Aldo tidak meminta kami menyelesaikan semua pembicaraan malam itu.
'Kita bisa melanjutkan lain kali,' katanya.
'Iya. Aku tidak ingin kita mencoba menyelesaikan seluruh masa depan dalam satu sore.'
'Saya juga tidak.'
Dalam perjalanan pulang, aku merasa pikiranku penuh tetapi tidak terbebani. Pertanyaan-pertanyaan itu memberiku gambaran tentang prinsip Aldo, meski aku tetap perlu melihat tindakannya. Aku belum mengatakan bahwa aku siap menikah. Aku hanya bersedia membicarakan apa yang mungkin perlu diketahui jika hubungan ini berlanjut.
Di rumah, Ibu bertanya apakah pertemuanku berjalan baik.
'Kami bicara tentang kerja, pekerjaan rumah, dan keuangan.'
'Kedengarannya serius.'
'Serius, tapi tidak menakutkan. Kami hanya membicarakan prinsip, belum membuat keputusan.'
Ibu tersenyum. 'Kamu berhak mengetahui hal-hal itu sebelum memutuskan.'
Aku mengangguk. Malam itu aku membuka catatan kecilku dan mencoret beberapa topik yang sudah dibicarakan. Masih ada hal lain yang ingin kuketahui, seperti cara kami menyelesaikan konflik dan bagaimana keputusan tentang Rafi dibuat. Aku tidak perlu menanyakannya sekaligus.
Aku ingin setiap pembicaraan muncul pada waktunya, ketika kami berdua siap mendengarkan. Hubungan ini belum memiliki jawaban akhir, tetapi mulai memiliki percakapan yang lebih nyata. Bagiku, itu lebih berarti daripada janji besar yang belum diuji kehidupan sehari-hari.