Senin pagi, Bu Rani mengumumkan secara resmi bahwa aku akan menjadi koordinator administrasi pesanan rombongan restoran. Ia menjelaskan pembagian tanggung jawab di depan tim dan memastikan ada dua orang yang akan mencocokkan kuitansi, jumlah pesanan, dan catatan stok bersamaku. Aku merasa lega karena syarat yang kubicarakan sebelumnya tidak diabaikan.
'Selamat, Alia,' kata Rina setelah rapat. 'Kamu kelihatan lebih tenang daripada yang kukira.'
'Aku masih gugup. Tapi setidaknya sekarang aku tahu siapa yang bisa membantu.'
'Kalau bebannya mulai berlebihan, bilang sebelum semuanya menumpuk.'
'Aku akan mencoba.'
Hari pertama dipenuhi rapat pengenalan dan penyusunan jadwal. Aku membuat daftar pekerjaan berdasarkan prioritas, lalu membagikan tugas sesuai kemampuan tiap anggota. Ketika satu orang menawarkan diri mengambil terlalu banyak pekerjaan, aku mengingatkan bahwa kita perlu membagi beban secara seimbang.
'Aku bisa mengurus bagian ini juga,' kata Dimas.
'Terima kasih, tapi kamu sudah punya dua tugas lain. Kita berikan bagian ini kepada Rina dan aku akan memeriksa hasilnya.'
'Baik. Aku akan fokus memeriksa tagihan dan perubahan jumlah pesanan.'
Perubahan kecil itu membuat rapat lebih singkat. Aku senang melihat pembagian kerja yang jelas membantu semua orang memahami tanggung jawab masing-masing. Meski begitu, aku tahu peranku akan menuntut keputusan yang tidak selalu disukai semua anggota tim.
Selasa, salah satu tenggat awal tampak sulit dicapai. Aku berbicara dengan tim dan meminta mereka memperkirakan waktu kerja secara jujur. Kami menyesuaikan jadwal, lalu aku menyampaikan perubahan itu kepada manajer.
'Apakah kamu yakin tim bisa selesai minggu depan?' tanyanya.
'Dengan pembagian saat ini, bisa. Kalau ada tambahan tugas, kita perlu mengubah tenggat atau mengurangi ruang lingkup.'
Manajer menyetujui rencana tersebut. Aku merasa sedikit bangga karena tidak menjanjikan hal yang mustahil hanya agar terlihat sanggup.
Pada hari Rabu, aku menyadari jadwalku lebih padat daripada biasanya. Aku membatalkan waktu makan siang yang sudah kurencanakan dengan Rina karena rapat mendadak. Kali ini aku memastikan kami menjadwalkan ulang, bukan membiarkannya hilang begitu saja.
'Maaf, rapatnya tidak bisa dipindah,' kataku.
'Tidak masalah. Kita bisa makan besok.'
'Aku akan mengirim undangan kalender supaya kita tidak lupa.'
Rina tertawa kecil. 'Sekarang kamu benar-benar seperti koordinator.'
Malamnya, aku memberi tahu Aldo bahwa minggu pertamaku cukup padat. Ia bertanya apakah aku masih ingin berbicara lewat telepon seperti rencana awal kami.
'Aku ingin, tapi mungkin hanya sebentar. Kalau Mas ada waktu, kita bisa bicara setelah aku selesai makan.'
'Tentu. Kalau kamu terlalu lelah, kita bisa menunda.'
Aku menyelesaikan makan malam dan meneleponnya sekitar pukul delapan. Aku menceritakan rapat, pembagian kerja, serta percakapan dengan manajer. Aldo mendengarkan dan bertanya bagaimana perasaanku sebagai koordinator baru.
'Aku senang, tapi juga takut membuat keputusan yang keliru.'
'Apa yang akan kamu lakukan kalau ternyata keputusanmu kurang tepat?'
'Aku akan mengevaluasinya dan memperbaiki rencana. Aku tidak harus berpura-pura selalu benar.'
'Kedengarannya kamu sudah memikirkan cara menghadapinya.'
'Aku berusaha. Tapi aku masih perlu belajar meminta masukan tanpa merasa terlihat tidak mampu.'
'Meminta masukan bisa menjadi bagian dari tanggung jawab, bukan tanda kelemahan.'
Aku terdiam sejenak, memikirkan kalimatnya. Aku tidak membutuhkan Aldo menyelesaikan masalah kerjaku, tetapi aku menghargai pertanyaannya yang membantuku memikirkan langkah berikutnya.
Kamis, jadwal kami berubah. Tim harus memeriksa ulang data yang baru diterima, sehingga aku perlu tinggal lebih lama di kantor. Aku sudah berjanji kepada Aldo untuk makan malam bersama setelah ia selesai mengikuti kelas. Aku mengirim kabar segera setelah mengetahui perubahan itu.
'Rapat pemeriksaan diperpanjang. Aku tidak akan sempat sampai ke tempat makan yang kita pilih. Maaf, aku perlu membatalkan malam ini.'
Ia tidak langsung membalas. Beberapa menit kemudian, ia menulis bahwa ia mengerti dan bertanya apakah aku ingin menjadwalkan ulang atau menunggu sampai jadwalku lebih jelas.
'Kita jadwalkan ulang saja. Aku tidak tahu apakah Jumat akan sama sibuknya.'
'Baik. Semoga pemeriksaannya lancar.'
Aku kembali bekerja. Rapat berlangsung lama, tetapi kami menemukan satu angka yang perlu dikoreksi sebelum laporan dikirim. Aku pulang dengan rasa lelah dan lega. Tidak ada pesan bernada kecewa dari Aldo. Aku juga tidak perlu menghabiskan tenaga untuk menebak perasaannya.
Jumat sore, aku menghubunginya setelah tim menyelesaikan pekerjaan. Aku mengatakan bahwa aku menyesal rencana kami batal, tetapi ingin mengatur waktu baru setelah melihat kalender minggu depan.
'Saya juga ingin bertemu,' katanya. 'Kita tidak perlu mencari tanggal malam ini.'
'Terima kasih sudah fleksibel. Aku masih belajar menyesuaikan jadwal baru.'
'Saya mengerti. Kalau ada sesuatu yang berubah, beri tahu saja.'
Kami berbicara sebentar tentang kelasnya dan rencana Rafi untuk akhir pekan. Aldo tidak meminta aku mengubah jadwalku agar bisa bertemu. Aku merasa lebih mudah jujur ketika tahu perubahan rencana tidak akan langsung dianggap sebagai penolakan terhadap dirinya.
Sabtu pagi, aku meninjau daftar tugas minggu pertama. Ada beberapa hal yang berjalan baik dan beberapa hal yang harus kuperbaiki. Aku menandai rapat yang bisa dibuat lebih singkat serta tugas yang perlu didelegasikan lebih awal. Aku juga menyisihkan waktu istirahat di kalender, bukan menganggapnya sebagai sisa waktu kalau pekerjaan selesai.
Ibu melihatku menulis jadwal di meja makan.
'Kamu sudah mulai terbiasa?' tanyanya.
'Belum sepenuhnya. Tapi aku mulai tahu bagian mana yang bisa dibagi.'
'Bagaimana dengan waktumu sendiri?'
'Aku memasukkannya ke jadwal. Kalau tidak, mungkin aku akan terus mengisinya dengan pekerjaan.'
'Bagus. Jangan menunggu sampai tubuhmu memaksa berhenti.'
Aku tersenyum dan berjanji akan mencoba memperhatikan diri sendiri. Siang itu, aku membantu Alisha menata lembar tugas sekolah dan buku gambarnya. Kami kemudian makan bersama dan berbincang tentang hal-hal ringan.
Minggu malam, aku mengirim pesan kepada Aldo bahwa kalender kerjaku minggu depan sudah lebih jelas. Aku mengusulkan bertemu pada Sabtu sore, jika ia dan Rafi tidak memiliki rencana lain.
'Sabtu sore bisa. Saya akan memastikan jadwal Rafi dulu dan memberi kabar besok.'
'Baik. Kalau tidak cocok, kita cari waktu lain.'
'Setuju.'
Aku merasa hubungan kami sedang menyesuaikan diri dengan perubahan nyata dalam hidupku. Aku tidak ingin pekerjaan menjadi alasan untuk menghindari kedekatan, tetapi aku juga tidak akan mengurangi tanggung jawab atau cita-citaku hanya untuk membuktikan keseriusan. Aku ingin melihat apakah kami bisa menemukan ritme yang menghormati kebutuhan masing-masing.
Di buku catatan, kutulis bahwa minggu pertama sebagai koordinator tidak berjalan sempurna, tetapi aku berhasil meminta bantuan dan mengubah jadwal tanpa menyalahkan diri sendiri. Aldo pun menerima pembatalan rencana tanpa menekanku. Itu bukan jaminan bahwa semua perubahan akan mudah, tetapi sebuah pengalaman kecil yang bisa kami jadikan dasar.
Aku menutup buku dan bersiap tidur. Besok akan ada rapat baru, keputusan baru, dan mungkin perubahan lain. Aku ingin terus belajar menjalani semuanya dengan batas yang sehat. Hubunganku dengan Aldo akan tumbuh sejauh kami berdua mampu saling menghormati, bukan sejauh salah satu dari kami mengorbankan seluruh hidupnya.