Senin siang, Aldo memberi kabar bahwa jadwal Rafi untuk Sabtu sudah jelas. Mereka tidak memiliki kegiatan lain, jadi rencana bertemu sore itu tetap memungkinkan. Aku membalas bahwa aku akan menyelesaikan beberapa pekerjaan rumah pada pagi hari dan bisa bertemu setelah pukul tiga.
'Kita bisa makan lebih awal lalu berjalan sebentar,' tulisnya.
'Boleh. Aku ingin pulang sebelum malam.'
'Baik. Kita atur waktunya supaya kamu tidak terburu-buru.'
Aku memasukkan rencana itu ke kalender, lalu kembali mengerjakan tugas kantor. Tanggung jawab baru membuatku harus lebih teliti memilih waktu. Aku tidak ingin menjanjikan sesuatu sebelum memeriksa jadwalku, tetapi aku juga tidak ingin selalu menunda hubungan sampai semua pekerjaan selesai. Keduanya perlu mendapat ruang yang wajar.
Hari-hari minggu itu berjalan cukup padat. Pada Selasa, aku meminta anggota tim mengirim pembaruan sebelum rapat agar kami tidak menghabiskan waktu membacakan semua catatan. Pada Rabu, aku menyadari satu anggota tim terlambat menyelesaikan tugas karena arahan awalku kurang jelas. Aku memanggilnya untuk membicarakan apa yang perlu diperbaiki.
'Aku seharusnya menjelaskan format yang kubutuhkan sejak awal,' kataku. 'Kita bisa atur ulang bagian ini.'
'Maaf karena terlambat.'
'Kita berdua perlu memperbaiki komunikasi. Aku akan menulis petunjuk lebih lengkap, dan kamu bisa bertanya kalau ada yang tidak jelas.'
Percakapan itu berjalan baik. Aku menyadari menjadi koordinator bukan berarti semua kesalahan harus ditimpakan kepada orang lain. Aku perlu menerima bagian tanggung jawabku dan memperbaiki proses kerja.
Jumat malam, setelah menyelesaikan beberapa catatan, aku mengirim pesan kepada Aldo untuk memastikan rencana Sabtu. Ia membalas bahwa mereka akan datang berdua dan bertanya apakah aku nyaman jika Rafi ikut makan bersama kami.
Aku berhenti sejenak sebelum menjawab. Aku senang bertemu Rafi, tetapi ingin tahu berapa lama rencana itu akan berlangsung dan apakah aku tetap bisa pulang sesuai waktu yang kuinginkan.
'Aku nyaman kalau Rafi ikut. Aku hanya ingin tetap pulang sekitar pukul enam.'
'Bisa. Kita makan siang terlambat dan berjalan sebentar. Kalau Rafi ingin melakukan hal lain, kita bisa putuskan saat itu.'
'Baik. Terima kasih sudah bertanya.'
Sabtu pagi, aku membantu Ibu berbelanja dan merapikan beberapa barang di rumah. Aku menyelesaikan semuanya tanpa terburu-buru. Setelah berganti pakaian, aku berangkat ke tempat makan yang kami sepakati. Aku datang sendiri seperti biasanya agar bisa mengatur waktu pulang.
Aldo dan Rafi sudah menunggu di depan kedai. Rafi melambai begitu melihatku.
'Kak Alia datang!'
'Hai, Rafi. Apa kabar?'
'Baik. Aku membawa buku gambar. Boleh kutunjukkan nanti?'
'Tentu, setelah kita makan.'
Aldo menyapaku dan bertanya apakah perjalanan lancar. Kami masuk bersama. Rafi memilih tempat duduk dekat jendela. Ia bercerita tentang pelajaran sekolah dan gambar yang sedang dibuat. Aku mendengarkan, lalu bertanya tentang tokoh-tokoh di dalam ceritanya.
'Ini anak yang menemukan peta rahasia,' jelas Rafi sambil menunjukkan halaman. 'Tapi dia belum tahu peta itu menuju ke mana.'
'Kamu sudah punya ide?'
'Belum. Mungkin ke hutan.'
'Kalau kamu mau, kamu bisa pikirkan dulu. Tidak harus langsung tahu akhir ceritanya.'
'Iya. Aku mau menggambarnya lagi nanti.'
Aldo tersenyum melihat anaknya bersemangat. Ia tidak meminta aku memberi saran atau ikut menentukan cerita. Aku merasa nyaman karena interaksi kami berlangsung dengan alami.
Setelah makan, Rafi ingin mampir ke toko alat tulis di seberang jalan. Aldo bertanya apakah aku keberatan. Aku melihat waktu dan mengingat batas yang sudah kubicarakan.
'Kita boleh mampir sebentar. Aku tetap perlu pulang pukul enam.'
'Tentu,' jawab Aldo. 'Kita tidak perlu lama-lama.'
Di toko, Rafi memilih pensil warna. Ia meminta pendapatku tentang dua kotak dengan jumlah warna berbeda.
'Yang mana yang lebih kamu suka?' tanyaku.
'Yang ini warnanya lebih banyak, tapi harganya lebih mahal.'
'Kamu bisa bertanya kepada Ayah tentang anggarannya.'
Rafi menoleh kepada Aldo. Mereka membicarakan harga dan akhirnya memilih kotak yang lebih kecil. Aku tidak ikut menentukan keputusan itu. Aku melihat Aldo menjelaskan alasan dengan tenang, lalu membiarkan Rafi menerima pilihannya.
Kami berjalan sebentar di taman kecil dekat toko. Rafi bercerita tentang teman sekelasnya yang suka menggambar monster lucu. Aku bertanya apakah ia ingin menunjukkan gambar baru itu pada pertemuan berikutnya. Ia mengangguk, tetapi tidak bertanya kapan aku akan datang lagi.
'Kak Alia, hari ini menyenangkan,' katanya.
'Aku juga senang bisa melihat bukumu.'
'Nanti kalau aku sudah menyelesaikan ceritanya, boleh kutunjukkan?'
'Boleh. Kamu bisa meminta Ayah mengirim foto kalau sudah selesai.'
Jawaban itu memberi ruang untuk tetap terhubung tanpa menjanjikan pertemuan dengan jadwal tertentu. Aldo tidak menambahkan janji atas namaku. Aku merasa batas seperti itu mulai dipahami oleh kami semua.
Sekitar pukul setengah enam, aku mengatakan bahwa aku akan pulang. Aldo mengangguk dan bertanya apakah aku ingin menunggu kendaraan di dekat taman atau di depan kedai. Aku memilih menunggu di depan kedai karena lebih mudah dijangkau.
'Terima kasih sudah meluangkan waktu,' katanya.
'Aku senang bertemu kalian. Aku juga senang kita pulang sesuai rencana.'
'Saya ingin kamu merasa nyaman setiap kali kita bertemu.'
'Aku akan memberi tahu kalau ada sesuatu yang membuatku tidak nyaman.'
Rafi melambaikan tangan ketika kendaraanku datang. Aku membalas lambaian itu dan pulang. Tidak ada rasa bersalah karena meninggalkan mereka lebih awal. Aku sudah menyampaikan batas sejak awal dan menepatinya dengan baik.
Di rumah, Ibu bertanya bagaimana pertemuan itu.
'Menyenangkan. Rafi menunjukkan buku gambarnya, lalu kami mampir ke toko alat tulis.'
'Kamu merasa terbebani?'
'Tidak. Aku bisa berinteraksi dengannya tanpa harus mengambil alih keputusan atau membuat janji besar.'
'Bagus. Kedekatan bisa tumbuh sedikit demi sedikit.'
Malamnya, Aldo mengirim pesan bahwa Rafi senang aku datang. Ia juga mengatakan bahwa mereka tiba di rumah sebelum pukul tujuh. Aku membalas bahwa aku pun menikmati pertemuan tersebut.
'Aku senang bisa bertemu kalian, tapi aku tetap ingin mengatur jadwal berdasarkan pekerjaanku dan kebutuhan sendiri,' tulisku.
'Saya mengerti. Kita bisa terus merencanakan bersama dan menyesuaikan jika ada perubahan.'
Aku membaca jawabannya lalu meletakkan ponsel. Pertemuan hari itu memberiku pengalaman baru: aku dapat meluangkan waktu untuk Aldo dan Rafi tanpa kehilangan kendali atas jadwalku. Aku tidak perlu memilih antara bersikap hangat dan menjaga batas.
Di buku catatan, kutulis bahwa rencana yang jelas membuatku lebih mudah menikmati waktu bersama. Kami menentukan durasi, berbicara ketika ada perubahan, dan membiarkan Rafi menjadi anak yang bercerita tentang hal-hal yang ia sukai. Tidak ada janji tentang masa depan. Hanya satu Sabtu yang berjalan dengan baik.
Aku menutup buku dan bersiap tidur. Minggu depan pekerjaanku mungkin kembali padat, tetapi aku akan tetap memeriksa kalender sebelum membuat janji. Aku ingin hubungan ini berkembang melalui kebiasaan saling menghormati, bukan melalui tekanan agar setiap pertemuan menjadi bukti keseriusan.