"Hah?" tanya Bayu tidak percaya. "Lo serius? Nggak salah lo?"Dinar mengangguk. "Bay, gue mau tanya sama lo." Gadis itu kemudian menghadap Bayu. "Apa lo pernah ngerasa sayang sama seseorang, tapi di sisi lain lo ngerasa semua itu salah dan nggak seharusnya terjadi?"
Bayu menggelengkan kepalanya. "Maksudnya salah?"
"Gue juga nggak ngerti, tapi gue rasa semua ini salah, Bay. Perasaan gue tuh salah tempat. Gue harus putus sama Rio, Bay."
"Tunggu, tunggu." ucap Bayu. "Lo mau putusin Rio karena sebenernya lo itu mulai sayang sama dia? Gitu? Nar, gue nggak ada maksud ikut campur ya, tapi gue rasa kalian itu sebenernya saling melengkapi. Lo tau? Semenjak Rio pacaran sama lo dia itu berubah, Nar. Dia nggak pernah nindas murid ataupun guru lagi. Dia nggak pernah lagi tuh cari gara-gara. Jangankan anak-anak lain. Guru-guru juga bilang hal yang sama, Nar. Dan gue rasa lo juga sebenernya cocok kok sama Rio. Lo nyaman sama dia."
"Itu masalahnya, Bay. Gue-" Dinar mengusap wajahnya dengan frustrasi. "Itu yang belakangan ini ngeganggu gue. Rasa bersalah itu seolah menghantui gue. Gue harus putus sama Rio, Bay. Entah kenapa gue ngerasa kalo gue putus sama dia, gue bakal ngerasa jauh lebih baik." Dinar mengusap air mata di salah satu pipinya yang lolos dari pelupuk mata.
Bayu pun mengusap-usap punggung gadis itu, bermaksud membuat sepupunya lebih tenang. "Yaaa gue sih ngedukung keputusan lo selama lo yakin itu yang terbaik."
"Thanks, Bay."
Jadi Dinar pun memantapkan keinginannya. Keesokan harinya, Dinar datang ke Delapan Lima yang kebetulan bertepatan dengan adu breakdance antara sekolah Wijay dengan sekolah tetangga. Menyadari kedatangan pacarnya, Rio pun langsung menyambut Dinar dengan sebuah rangkulan.
Gadis tomboi itu memusatkan perhatiannya pada dance floor di lantai dasar yang mulai dipenuhi breakdancers dari sekolah tetangga.
"Lo belum jadi bboy leader kecuali lo udah menangin tim lo sendiri, Yo," ucap Dinar.
"Tim gue udah siap, kok." jawab Rio. "Siap ngalahin tim lawan, maksud gue. Hahaha," guraunya.
Dinar merasa tidak ada yang lucu. "Yakin banget lo tim kita bakal menang?" tanyanya sinis.
"Siapa dulu dong leader-nya. Lo harusnya bangga punya pacar kayak gue, Nar."
"Oh." Dinar mendengus. "Gimana kalau konsekuensi misalkan tim kita menang?"
"Maksudnya?" tanya Rio.
"Iya, konsekuensi. Tim Wijay menang, kita, putus."
Rio melepas rangkulannya. "Lo nggak serius kan, Nar?"
"Gue serius, Novario Alandra." Dinar masih menatap ke arah pemandangan yang ada di bawahnya. "Dan asal lo inget. Bukan cuma lo yang bisa nentuin HARGA MATI."
Rio menggelengkan kepalanya tidak percaya. "Kita bisa ngomongin ini baik-baik, Nar. Nggak sekarang dan nggak di sini, pleas,." pinta Rio.
"Emangnya gue kasar?" kali ini Dinar menatap Rio di manik mata.
Suara Rio terdengar parau. "Apa salah gue, Nar? Gue tuh sayang dan cinta sama lo. Please kasih tau gue, Nar."
Kedua mata Dinar sudah mulai berkaca-kaca namun ia menahan diri untuk tidak menangis di hadapan Rio. "Ini bukan masalah cinta ataupun sayang, Rio. Ini. soal. ketulusan." Kemudian ia beranjak pergi meninggalkan tempat itu secepat mungkin.
Dinar berlari secepat mungkin meski pandangannya semakin kabur. Kedua kakinya tidak bergerak secepat yang ia harapkan, tapi sebisa mungkin ia memaksa tubuhnya untuk tidak berhenti bergerak. Ia lalu menghampiri sepedanya dan mulai mengayuh agar roda benda itu berputar, dapat segera membawanya ke apartemen.
Gue sayang sama dia, tapi kenapa di saat yang sama rasanya sakit?
Sulit bagi Dinar untuk mengutarakan apa yang kini dirasakannya.
Gue sayang sama Rio, tapi kenapa gue ngerasa gue itu nggak cocok untuk dia?
Dinar menekan tombol elevator dengan tidak sabar.
Mana yang lebih berat? Tertawa untuk menahan rasa sakit, atau merasakan sakit untuk bisa tertawa?
Dinar menutup pintu flatnya dari dalam dan jatuh terduduk di sana. Bahunya naik turun tak terkendali. Dipeluknya kedua lutut yang sekarang terasa begitu lemas.
Kenapa? Kenapa rasanya sesakit ini? Kenapa kenyataannya lebih sakit dari yang gue kira?
Malam itu, Dinar menangis dalam gelap.
>>DVSK<<
"Ayah!" Ratih memulai pembicaraan ketika ia dan suami sedang menikmati makan malam. "Ibu punya ide, Yah. Gimana kalau kita lusa ajak Dinar makan malem di restoran Ibu?"
Yudha mengangguk setuju. "Boleh. Boleh. Dalam rangka apa, Bu?"
"Nggak dalam rangka apa-apa. Ibu cuma merasa kita harus berterima kasih pada Dinar, Yah. Ayah kan tahu, Rio bulan ini masuk ranking delapan di kelasnya."
"Oya?"
"Iya! Nanti Ayah liat sendiri deh rapor bulanan Rio. Lagipula dia kan memang sudah banyak berubah semenjak dia pacaran sama Dinar. Selain beberapa bulan belakangan dia masuk sepuluh besar, Ibu sudah jarang tuh dipanggil guru BK di sekolahnya. Ibu yakin, Rio juga mulai jarang bikin masalah di sekolahnya. Ibu rasa sepertinya itu semua karena Dinar, Yah. Menurut Ayah gimana?"
Keduanya berhenti bicara ketika suara bel berbunyi.
"Tuh, jam segini Rio sudah pulang, Yah." Ratih kemudian membukakan pintu untuk menyambut anak semata wayangnya itu.
"Rio, kamu sudah pul-"
Perkataan Ratih tergantung di udara. Penampilan Rio sangat jauh dari kata rapi-rambut kusut, kedua mata terlihat bengkak, kedua sudut bibir melengkung ke bawah.
Penampilan Rio begitu ... hancur.
Ratih hanya bisa bergeming ketika Rio berjalan melewatinya dan langsung menaiki anak tangga menuju kamar Rio. Terdengar suara pintu dibanting dan seketika perasaan cemas, takut, serta khawatir menguasai wanita itu.