Gadis itu masih berusaha terlihat santai. "Masa sih? Padahal tadi gue ngerasa baik-baik aja." Ia mengangkat bahu."Bayu tau lo di sini?" tanya Gilang karena sedari tadi ia tidak melihat batang hidung sahabatnya itu. "Oya, gue lupa. Bokap sepupu lo itu kan dokter. Gue bakal telepon Bayu sekarang deh biar bisa bawa lo pulang secepetnya. Tunggu, tunggu." katanya lalu merogoh sesuatu dari dalam saku celananya.
Dinar baru saja hendak bicara ketika kepalanya mulai berdenyut-denyut. Penglihatan gadis itu mulai kabur dan tak lama kemudian tubuh Dinar kehilangan keseimbangan, menarik Dinar menjauh dari kesadaran.
Tepat ketika kedua lengan seseorang menopang bobot tubuh Dinar.
>>DVSKLho? Siapa yang gantiin baju gue? Dinar heran dengan pakaian yang kini ia kenakan. Sebuah piama yang sudah jarang ia pakai.
"Sudah baikan, Dinar?" tanya seseorang padanya dari ambang pintu.
Dinar tersenyum. "Udah, Wa. Ini-" ia menunjuk ke arah pakaiannya.
Pria berkumis tipis itu tertawa. Ia pun menyempatkan diri untuk duduk di samping Dinar.
"Kemarin Uwak memanggil suster dari rumah sakit untuk merawat sekaligus memandikan kamu, Dinar," jawabnya. "Kamu itu kecapekan jadi untuk sementara kamu harus banyak istirahat. Soal surat sakit, sudah Uwak titip ke Bayu."
Dinar mengangguk. "Bayu mana, Wa?"
"Mungkin sebentar lagi pulang," jawab Jonathan. Lelaki itu kemudian setengah berbisik pada Dinar. "He is grounded."
Dinar menatap Jonathan tidak percaya. Susah payah Dinar mencoba meyakinkan Jonathan bahwa Bayu tidak bersalah namun tetap saja sia-sia. Menurutnya, bagaimanapun juga Bayu patut mendapatkan hukuman itu.
Bayu pasti makin marah deh sama gue, pikir Dinar, kembali merasa khawatir.
Gue harus ngomong apa nanti?
Gimana gue harus ngejelasin semuanya?
Yang pasti gue harus minta maaf. Harus.
Ia sedang berjalan ke dapur untuk mengambil air mineral ketika seseorang dengan tiba-tiba menarik tubuh Dinar ke dalam pelukannya.
Dinar menelan ludah. Ia mencoba beringsut menjauh namun justru pelukan itu semakin erat.
"Maafin gue." Dua kata itu terlontar dari mulut Bayu.
"Bay."
"Sssssst," desis Bayu. "Ini emang salah gue, Nar. Gue harusnya ngejaga lo. Gue yang salah, Dinar." ucapnya penuh sesal. "Lo udah baikan, kan?" tanyanya.
Akhirnya Dinar berhasil terbebas dari pelukan Bayu. Dinar merasa canggung dan mengangguk. "Gue pingsan lama banget ya?"
"Setengah hari." jawabnya. "Lo mau makan? Biar gue sediain." Bayu kemudian menghambur menuju dapur. Tak lama kemudian suara bel rumah itu menyita perhatian mereka.
Tanpa tedeng aling-aling Dinar pun membuka pintu. Ia pikir Jonathan kembali ke rumah untuk mengambil sesuatu yang tertinggal atau semacamnya namun justru sosok yang ia lihat justru bukanlah Jonathan.
Sosok cowok yang sedang memegang parsel buah itu adalah Rio.
Rio pun berdeham. "Gue harap lo udah baikan, Nar." ucapnya sementara Dinar masih mematung di tempatnya. "Oya, gue cuma mau ngasih ini ... buat lo." Rio menyerahkan parsel buah itu pada Dinar sebelum akhirnya pamit dan berlalu dengan mobilnya.
Dinar masih bergeming, bingung harus melakukan apa.
"Kok diem?" pertanyaan Bayu kembali menyadarkan Dinar. Pemuda itu melihat tulisan yang tercantum pada kartu dalam parsel itu dari balik bahu Dinar.
"Ehem. Ada yang perhatian, nih."
Dinar tidak mengerti apa yang dimaksud oleh Bayu sampai akhirnya Dinar membaca tulisan itu.
"Take good care and get well soon, my dear. HAH?" Dinar benar-benar tidak mengerti. Butuh beberapa detik baginya untuk mencerna hal itu.
"Bay! Ini-"
"Tenang, Nar, tenang. Gue bakal jelasin semuanya, tapi sekarang kita masuk dulu. Oke?"
Setelah mereka duduk di ruang tengah, Bayu pun mulai menceritakan semuanya pada Dinar. Memang benar adu breakdance tempo hari dimenangkan oleh Rio; juri hanya memperhitungkan penilaian babak pertama dan babak kedua, hasilnya tetap Rio-lah pemenangnya. Rio meminta maaf pada Bayu dan akhirnya menjelaskan tentang kesepakatan antara dia dan Dinar. Merasa terlambat untuk mencampuri urusan antara sepupunya dan Rio, Bayu pun meminta Rio berjanji untuk menjaga Dinar selama mereka berpacaran.
Kata 'menjaga' diterjemahkan Dinar sebagai 'membantu Dinar mengendalikan kekuatannya'. Berhubung Rio mengetahui kekuatan Dinar, sudah pasti Rio akan turut melarang ataupun menganjurkan hal-hal seperti yang Bayu lakukan. Melarang Dinar mengikuti lomba karate. Melarang Dinar melakukan adu panco. Menganjurkan Dinar untuk menghindari semua pertandingan satu lawan satu. Menganjurkan Dinar untuk lebih banyak menghabiskan waktu di sekolah dan sebagainya dan sebagainya.
Tapi, Dinar masih tidak mengerti alasan Rio bersedia melakukan semua ini.
"Dia itu sebenernya manfaatin kondisi lo yang lagi nggak fit." kata Bayu. "Konsekuensi itu sebenernya cara dia untuk dapetin lo, Nar. Gue ingetin lo lagi, lo nggak perlu cemas soal itu karena Rio emang serius mau pacaran sama lo. Sebagai hukuman karena udah ngebuat lo tepar gini, gue mau dia tanggung jawab dengan ngejaga lo selama kalian pacaran. Sekarang semua di tangan lo, Nar. Gue nggak mau ikut campur soal hubungan kalian. Yang jelas, kalaupun Rio itu nggak serius sama lo, cepet atau lambat gue pasti tau, kok."
Dinar mengambil napas panjang. Ia menggelengkan kepalanya. "Gue nggak tau dia ternyata seserius itu."
"Rio awalnya emang benci banget sama lo, Nar, tapi itu sebelum dia tau soal kekuatan lo. Oya, sorry to say, adu panco lo sama Rio itu adalah yang terakhir. Titik. Gimanapun juga adu panco rutin itu sebenernya buang-buang waktu dan tenaga lo doang. Ya gini nih hasilnya." Bayu menunjuk Dinar.
"Iya, iya. Kalo adu panco di sekolah masih boleh kan?"
Bayu menjitak kepala Dinar hingga gadis itu mengaduh. Dinar masih memandangi parsel buah dari Rio dengan heran ketika Bayu tiba-tiba menaruh parsel buah yang lain.
"Dari Sarah. Kemarin dia kesini, tapi lo belum siuman. Gue saranin sih lo buka parsel yang ini dulu." katanya. "Atau lo mau gue buatin jus? Jus apel, mungkin?"
Yang ditanya malah menjawab, "Gue bangga punya sepupu kaya lo, Bay." ucap gadis itu.
Bayu menerjemahkan perkataan Dinar dengan, 'harusnya gue nurut sama lo dari dulu'.
Dinar mengaduh lagi ketika Bayu menoyor kepalanya. "Dan lo harusnya buat gue bangga, Nar."
"BAYUUUUU!!!!"
>>DVSKbreakdance. Jangankan murid-murid, guru-guru pun pasti setidaknya akan menghargai murid seperti Dinar. Terlebih, gadis itu bukanlah tipe murid yang suka-cari-masalah.
Setidaknya, Dinar yang sekarang bukan lagi Dinar yang dulu. Kini ia tidak pernah lagi menantang orang-orang asing untuk berpanco dengannya hanya untuk memamerkan kelebihannya.
Tidak heran bila Rio selalu membanggakan pacarnya tersebut setiap kali memperkenalkan Dinar entah dengan teman-teman di sekolah maupun teman-teman di luar sekolah Wijay. Dari awal Dinar sudah muak dengan hal itu dan setiap kali Dinar melarang Rio, cowok itu pasti akan berdalih dengan mengatakan, "Ngebanggain pacar sendiri masa nggak boleh, sih."
Tentu saja hal itu membuat Dinar semakin sulit untuk menganggap Rio sebagai pacarnya. Siapa yang ingin tetap memanggil satu sama lain dengan gue-lo di antara mereka? Dinar. Siapa yang tidak ingin merayakan Mensiversary tiap bulannya? Dinar. Siapa yang menolak perayaan pajak jadian? Dinar. Siapa yang hanya pernah satu kali menyatakan 'I love you' kepada sang pacar selama berpacaran empat bulan? Yang pasti bukan Rio. Perlu dicatat, itu pun karena permainan Truth or Dare.
Di luar perkiraan Rio, di luar harapan Dinar. Ajaibnya, hubungan mereka bertahan hingga enam bulan. Berbekal rasa nekat, Rio akhirnya memperkenalkan Dinar pada orangtuanya dan Dinar tampak tidak keberatan.
"Tante senang Rio berpacaran sama kamu, Dinar," ucap Ratih, ibunda Rio. "Tante kira pacar Rio itu sifatnya tidak jauh berbeda dengan sifat Rio. Yaa kamu tahu sendiri kan seperti apa hahaha. Ternyata Tante salah. Tante legaaa sekali begitu tahu Rio punya pacar seperti kamu."
"Jangan sungkan sama Om dan Tante. Lagipula Jonathan itu kan sahabat saya, jadi kamu bisa sekalian kesini kalau Jonathan kemari." Itu kata Yudha, ayah Rio.
Hal ini tentu membuat Dinar bertanya-tanya, "Seandainya kedua orang tua Dinar belum meninggal, apakah Dinar akan memperkenalkan Rio pada orangtuanya?" atau "Seandainya Jonathan dan Ayah Rio tidak saling kenal, apa Dinar akan memperkenalkan Rio pada uwaknya?" dan yang terakhir, "Kalaupun orangtua Dinar mengenal Rio, apa mereka akan membiarkan anaknya tetap berpacaran dengan Rio?"
Hal itu sempat membuat Dinar tidak bisa tidur selama berhari-hari.
>>DVSKberubah itu ternyata nggak segampang gue kira kecuali gue punya kesibukan. Maksud gue kesibukan breakdance, Yo. Kalau gue tinggal di sini, gue bisa kapan aja keluar masuk Delapan Lima. Gue bisa ekskul sampe sore, nggak perlu segan ditungguin Bayu. Gue juga bisa mandiri, kan?"
Rio hanya menggumam sambil memainkan rambut Dinar.
"Kenapa, Yo?" Dinar bertanya karena Rio tampak masih tidak percaya.
"Gue cemas aja. Gue kira lo itu pindah gara-gara gue, Nar. Yaa gue kira lo itu pindah karena lo mau ngejauh dari ... gue," katanya.
Gadis itu tertawa. "Ge er banget lo! Bukanlah!" Ia meninju pelan lengan Rio.
Tapi, sebenernya lo ada benernya juga, batin Dinar.
"Hehehe." Rio nyengir. "Oya, Nar. Pas HUT Wijay nanti, gimana kalo kita couple breakdance gitu? Sama anak-anak lain mungkin?" tanya Rio antusias.
"Hmmm boleh." jawab Dinar sambil mengangguk.
"Terus nanti koreografinya biar gue, Yovi, sama Rey yang atur. Gimana?"
"Boleh," Dinar menjawab seraya kembali mengerjakan PR.
"Kalo gitu gue bakal langsung kasi tau Yovi."
Dinar mengangguk. Ia menatap Rio dengan heran ketika cowok itu bergerak semakin mendekat.
"Trims ya, Dinar. Gue kira lo bakal keberatan." Rio membelai rambut pacarnya yang tergerai. "Gue makin sayang nih sama lo."
Gue makin sayang nih sama lo. Kata-kata itu bersarang dalam benak gadis itu. Dinar hanya bisa mematung ketika Rio mendaratkan sebuah kecupan di keningnya.