"Gue nggak bisa baca masa lalu Rio, Bay! Gue nggak bisa. Gue nggak ngerti kenapa. Punya kekuatan apa sih dia?" tanya Dinar pada Bayu sesampainya mereka di mobil Bayu.Jawaban Bayu kelewat santai. "Nggak, tuh. Kalaupun gue tau, gue pasti langsung kasih tau lo." Ia pun menyalakan mesin mobil dan mulai melajukan mobilnya.
Dinar masih tidak percaya. "Nggak mungkin, Bay. Ini pertama kalinya kayak gini. Semua kenangan Rio yang gue liat samar-samar. Semuanya! Gue cuma bisa masuk ke pikirannya, tapi gue nggak bisa liat masa lalunya." Gadis itu mengambil napas panjang. "Telinga gue sampe berdenging tadi, Bay."
"Oh." tanggapnya. "Kalau itu, telinga Rio juga tadi berdenging makanya dia langsung panik terus jatoh."
Dinar menggelengkan kepalanya. "Itu masalahnya! Aneh kan? Gue bener-bener nggak ngerti. Atau justru gue nggak bisa baca masa lalu lagi? Nggak bisa ngegunain kekuatan gue lagi?"
"DINAR!" Suara Bayu naik beberapa oktaf. "Ini sama halnya kayak gue dan bokap. Lo tau kan gue nggak bisa baca pikiran bokap gue sendiri?"
Dinar langsung berujar. "Itu beda, Bay! Itu beda." Gadis itu tetap ngotot.
"Terserah!" tukas Bayu. "Terserah lo, Nar." Kedua manik mata milik Bayu berkilat tajam, membuat tatapan mata elang milik Bayu lebih tepat dikatakan sebagai tatapan maut sehingga siapapun yang memandang mata itu saat ini pasti akan ciut.
Begitu pula dengan Dinar. Di sisi lain, ia tidak dapat menyembunyikan rasa penasarannya.
"Gue nggak ngerti, Bay." Gadis itu berterus terang. "Lo bicara seolah gue yang salah."
Bayu mendengus. "Lo pikir sendiri aja di mana letak kesalahan lo." tegasnya sambil tetap mengarahkan pandangannya ke arah jalanan.
Dinar menelan ludah, semakin tidak mengerti. Lima menit, delapan menit, sepuluh menit berlalu namun Dinar masih berpikir keras apa yang dimaksud Bayu. Akhirnya Dinar pun menggelengkan kepalanya.
"Kan? Jangankan untuk ngerti. Masalahnya, lo itu emang NGGAK PERNAH nerima kenyataan yang terjadi di luar kehendak lo, Nar." Bayu kemudian melirik Dinar sekilas. "Terutama kalau itu berhubungan sama kekuatan lo." Ia memberi jeda. "Pikir, Nar. Pikir!" Bayu menunjuk pelipisnya sebagai penegasan. "Harusnya KITA yang punya kendali atas kekuatan kita, Dinar, bukan sebaliknya!" imbuh Bayu.
Perkataan Bayu bagaikan cambuk bagi Dinar meski ini bukanlah pertama kalinya sepupunya itu mengatakan hal serupa. Sebagian dari diri gadis itu mengakui kebenarannya namun kemudian rasa penyesalanlah yang menguasainya. Awalnya rasa sesal itu memenuhi rongga d**a namun kemudian semakin Dinar menahannya, semakin rasa itu menyebar dan membumbung tinggi hingga akhirnya Dinar dapat merasakan rasa itu sampai di sudut matanya.
Detik itu juga, Dinar tak dapat lagi menahan diri untuk tidak meneteskan air mata. Kini ia mengerti di mana letak kesalahannya.
Bayu sebenarnya hendak mengatakan sesuatu namun dengan segera ia mengurungkan niatnya; sebenarnya Bayu tidak bermaksud untuk menyalahkan Dinar, melainkan hanya ingin sepupunya itu mengerti. Mengerti batasan antara kekuatan dan kendali, antara ambisi dan obsesi, tidak lebih.
Ya, obsesi. Obsesi untuk mengalahkan lawan.
Diam-diam Bayu bahkan bersyukur Dinar menemukan seseorang yang 'kebal' dengan kekuatan Dinar. Di sisi lain, ia juga punya keinginan kuat untuk menyingkirkan obsesi Dinar itu. Jadi ia pun berharap cara ini dapat membuat Dinar tersadar. Entah itu cepat ataupun lambat.
Karena Bayu tahu persis, Dinar bukanlah tipe orang yang mudah untuk dipengaruhi kecuali dengan cara seperti ini.
>>DVSKbreakdance juga?" tanya Rio pada Dinar seusai ekskul breakdance berakhir di hari itu.
Dinar tidak kaget dengan pertanyaan itu karena sebelumnya Rio sudah memperkenalkan diri pada semua anggota baru ekskul tersebut. Dinar pun mengangguk.
Rio kemudian mengangguk dan menyilangkan kedua tangannya. "Gue kira lo satu ekskul sama kakak lo."
"Kakak?" tanya Dinar.
"Iya. Bayu kakak lo kan?" tanya Rio dengan yakin.
Dinar menggeleng. "Dia sepupu gue, bukan kakak." Ia kemudian kembali melangkahkan kakinya namun pemuda itu tetap mengikutinya.
"Oooh."
Dinar pun menghentikan langkahnya dan menatap kedua mata Rio. "Yo, soal kejadian waktu itu-"
Rio tahu yang Dinar maksud adalah kejadian tiga hari sebelumnya.
"Gue...gue-" Dinar berusaha untuk menemukan kata-kata.
"Gue tau, kok."kata Rio mantap. "Nggak heran sih lo punya kekuatan kayak sepupu lo itu."
Dinar kembali bernafas dengan lega. Seingatnya, Bayu memang pernah bilang padanya bahwa Rio mengetahui bakat Bayu, itu pun karena terpaksa.
"Tapi." Pemuda itu kemudian sengaja memberi jeda. Seringaian kembali terlihat di wajahnya.
Dinar merasa ada yang tidak beres.
"Urusan kita belum selesai, Dinar Teresia." Rio tersenyum penuh arti.
"Yo, please!" Gadis itu memohon. "Jangan panco lagi, oke?"
Rio mendengus. "Nggak, kok. Siapa juga yang mau nantang lo panco?" Ia tertawa.
"Oke, fine! Apa lagi sekarang?" tanyanya.
Rio merasa senang-atau mungkin puas?-karena Dinar tampak bersedia menerima tantangannya.
"Denger baik-baik ya, Dinar Teresia." Rio tersenyum lagi.
Dinar mulai menyimak. Pemuda itu bergerak mendekat, menumpukan satu tangan di samping kepala Dinar sehingga gadis itu dapat mencium aroma mint dari mulut pemuda di hadapannya. Gadis itu berpikir, mungkin itu cara Rio memanipulasi orang lain. Ia berusaha untuk tetap terkendali-mempertahankan tatapan tajamnya.
Suasana lorong itu sudah sangat sepi, jadi mereka bisa mengobrol dengan leluasa.
Suara bas itu terdengar lebih lantang. "Lo. Sama. Gue. Adu. Breakdance." Rio mengangkat kedua alisnya. "Karena ada dua konsekuensi. Pertama, kalau lo nggak dateng, lo nggak akan dapet kesempatan buat jadi anggota ekskul breakdance."
Dinar menelan ludah. Ia pun mengangguk samar.
"Dan yang kedua, kalau lo kalah, lo resmi jadi cewek gue."
Kedua mata Dinar membulat karena heran, setengah berharap ia salah dengar.
"Pacar ... lo?" tanyanya.
Rio mengangguk. "Gimana?"
Gadis itu berpikir sejenak. Rio adalah bboy leader di ekskul tersebut, jadi ia tidak mungkin main-main dengan perkataan itu. Akhirnya, gadis itu berkata, "Oke." Ia mengangguk yakin. Wajahnya sedikit lebih serius. "Siapa takut?" Dinar tidak kalah meyakinkan. "Dan kalau gue menang?"
Rio mendengus seakan hal itu mustahil. "Lo jadi anggota ekskul tanpa harus jadi cewek gue. Gampang, kan?"
"Deal."
Keduanya berjabat tangan dengan mantap.
"Jadi bener dong kata orang-orang? Lo itu sebenernya udah jago breakdance?"
Dinar mengangkat bahu.
Rio menggelengkan kepalanya. Dinar ... Dinar. Ckck. Muka lo pucet gitu lo masih nekat nerima tantangan gue. Rio membatin. Yaa seenggaknya kalau lo nanti jadi cewek gue, gue bakal buktiin kalau gue itu bisa naklukin cewek kayak lo, pikir Rio.
"Inget ya, Nar. Besok malem. Delapan lima. Jam delapan malem." ucap Rio sebelum meninggalkan Dinar.
Seenggaknya urusan gue sama Rio bisa cepet beres, pikir Dinar. Mengetahui bahwa ternyata Rio kali ini menantangnya untuk adu breakdance membuat Dinar merasa sedikit lebih lega. Ia memang lebih siap untuk melakukan hal yang digemarinya itu meskipun ia tidak yakin ia dapat mengalahkan Rio.
Apalagi sekarang Dinar merasa tidak enak badan karena demam. Dinar sempat menyesali keputusannya menerima tantangan Rio namun keesokan harinya ia merasa suhu tubuhnya sudah kembali normal.
Merasa sedikit lebih baik, malam itu Dinar berangkat ke tempat yang telah dijanjikannya pada Rio. Delapan lima itu sebenarnya bukan nama tempat ataupun nama restoran sekalipun, melainkan nomor sebuah rumah.
Rumah yang tidak pernah absen menjadi saksi keramaian hiruk pikuk anak muda. Rumah bagi anak-anak breakdancers di sekitar sebuah kawasan di Sudirman. Lokasi tempat itu cukup dekat dari sekolah dan cukup jauh dari rumah, jadi Dinar mencapai tempat itu menggunakan taksi.
Jadi, Dinar pun mulai memasuki tempat yang mempunyai alamat bernomor Delapan Lima tersebut, setengah berharap tak ada orang yang menyadari kedatangannya; snapback yang Dinar kenakan sengaja untuk menutupi sebagian wajahnya yang masih sedikit pucat.
Dinar benar-benar bertekad untuk menyelesaikan urusannya hari ini dengan Rio. Sendirian. Tanpa Bayu.
Kata-kata Rio masih menggema dalam pikiran Dinar.
"Ada dua konsekuensi. Pertama, kalau lo nggak dateng, lo nggak akan dapet kesempatan buat jadi anggota ekskul breakdance. Dan yang kedua, kalau lo kalah, lo resmi jadi cewek gue."
Untuk konsekuensi yang pertama, Dinar yakin Rio bersungguh-sungguh. Tentang konsekuensi kedua, Dinar tidak habis pikir. Di satu sisi, gadis itu merasa konskuensi itu hanyalah berupa gertakan. Di sisi lain, ia yakin Rio tidak akan membiarkan gadis itu mengalahkannya.
Apa yang Rio mau dari gue? Pertanyaan itu terus mengganggunya.
Dinar mendengar namanya disebut oleh seorang cowok berkacamata yang tengah berbicara melalui mikrofon di tengah ruangan dan tanpa ragu ia segera menghampiri cowok itu. Setelah memperkenalkan diri dengan menyebut nama dan asal sekolah, ia ditanya mengenai kesiapan fisik dan mental.
Dinar setengah berdusta. Secara mental ia memang telah siap menang ataupun kalah-meski sebenarnya Dinar merasa lebih baik jika ia tidak memedulikan hal itu karena yang ia inginkan hanyalah segera membereskan semua urusannya dengan Rio-dan mengatakan dirinya sudah siap secara fisik padahal tubuhnya bahkan baru pulih.
Si cowok berkacamata kemudian memanggil nama Rio. Setelah Rio memperkenalkan diri-tidak hanya menyebut nama dan asal sekolah, Rio juga mengatakan bahwa sebenarnya adu breakdance malam ini adalah semacam ajang persahabatan antara senior dan junior-ia dan Dinar melakukan highfive.
Kompetisi pun dimulai.
Alih-alih mengamati gerakan-gerakan Rio, Dinar malah sibuk dengan pikirannya.
Ia teringat lagi perkataan Bayu tempo hari dan kemudian membayangkan kemungkinan-kemungkinan yang terjadi seandainya Dinar Teresia bukanlah seorang 'penantang' yang mendatangi beberapa tempat umum hanya untuk unjuk gigi. Unjuk gigi demi sebuah obsesinya untuk mengalahkan lawan. Unjuk gigi demi 'mengasah' kekuatannya.
Tentu saja semua ini tidak akan terjadi kalau saja Dinar menuruti perkataan Bayu sejak dulu, kan? Bahkan Dinar tidak perlu berurusan dengan Rio seandainya situasinya berbeda, kan?
Terlambat. Sudah terlambat bagi Dinar untuk mencegah semua ini; ia tidak memiliki pilihan lagi.
Keriuhan di sekitar Dinar menyeretnya kembali pada kenyataan.
"Ya ampuuun. Tau gini gue sekolah di Wijay deh dari dulu biar bisa deketin Rio." ujar seorang cewek ber-make up tebal pada rekannya. Pengucapan kata 'wijay' bahkan bukan menurut ejaan Bahasa Indonesia, melainkan Inggris. 'Wijay' memang seringnya disebut 'wijey' agar terdengar lebih keren dalam kalangan anak muda.
Dinar otomatis mengerutkan keningnya.
"Huuu mana mau dia pacaran sama lo, palingan dia lebih milih cewek cheers kayak gue. Hahaha," gurau cewek bermata sipit seraya memain-mainkan rambutnya yang tergerai.
Gadis dengan dandanan tebal itu pun tertawa. "Ck. Emang lo tau tipe cewek Rio kaya gimana?"
"Yaaa lo liat aja. Cowok populer berbadan atletis kaya Novario Alandra itu pasti seleranya kaya kita-kita gini deh. Hahahaha."
Kedua cewek itu tertawa sementara Dinar mulai sibuk berpikir lagi. Apa bagusnya sih si Rio? Cowok songong kaya gitu pantesnya dikeluarin dari sekolah malah, pikirnya.
Kalau Novario Alandra itu songong alias belagu, lalu bagaimana dengan Dinar?
Dinar menarik ujung topinya begitu ia sampai di dance floor. Lagu acak pun diputar dan dengan mudah ia dapat 'menerjemahkan' lagu tersebut ke dalam tariannya. Gadis itu memang tidak mengharapkan sorakan dari orang-orang di sekitarnya; ia hanya fokus melakukan gerakan-gerakannya. Tentu saja Dinar telah mempertimbangkan kemungkinan terburuk yang akan terjadi, maka tidak heran bila ia kini hanya melakukan gerakan-gerakan yang menurutnya paling tidak lebih banyak berkutat pada bahu, tangan, dan kaki; bukan gerakan-gerakan seperti biasa yang melibatkan leher, bahu, sampai semua sendi-sendi tubuh seperti yang biasa dilakukannya.
Seorang pemuda menghampiri gadis itu seusai dua babak. "Keren, Nar! Lo tadi bener-bener all out banget deh. Kalo aja gue tau lo bakal battle, gue udah dateng dari tadi, Nar!" puji seorang cowok yang Dinar kenal dengan nama Gilang.
Dinar tertawa. "Trims. Battle-nya emang agak mendadak sih." Ia pun menyempatkan diri untuk meminum air mineral.
Sekarang Dinar merasa sedikit lebih lega karena setidaknya dua dari tiga babak sudah ia lalui. Gadis itu hendak memasukkan botol air mineral miliknya ke dalam tas ketika ia merasakan sakit di bagian kepala.
Satu ronde lagi. Satu ronde lagi. Gue harus kuat! Dinar berusaha menghalau rasa sakit di sekitar kepalanya.
"Nar, lo nggak apa-apa?" Gilang bertanya pada Dinar yang tiba-tiba memegangi kepalanya.
"Nggak apa-apa, Lang." Kemudian gadis itu merasa seseorang menyentuhkan punggung tangannya di pelipis Dinar.
"NAR! BADAN LO PANAS GINI!" Gilang mulai panik. Ia pun melepas topi yang Dinar kenakan. "Ya ampun! Muka lo juga pucet gitu. Lo harus ke dokter, Nar!"