Rio melangkahkan kedua kakinya dengan tidak sabar, menembus keramaian sebuah kafe bar. Beberapa orang bahkan sengaja 'ditabrak' oleh Rio, termasuk pelayan restoran tersebut demi segera menemui orang yang ia cari. Kalau saja tidak terpaksa, mungkin ia ada di tempat biasa menghabiskan malam minggu.
Satu orang. Alasan Rio dan dua kawannya datang ke restoran itu hanyalah untuk mencari keberadaan satu orang.
"Tuh orangnya, Yo." ucap Yovi sambil mengedikkan dagunya ke arah seberang begitu mereka sampai di lantai dua. Rio pun melihat arah yang ditunjukkan Yovi dan mendapati seorang cewek dengan kedua lengan jaket tergulung hingga ke siku tampak sedang mengobrol dengan salah satu temannya.
"Mau gue panggilin?" tanya Reza.
Sebelah tangan Rio menahan Reza yang hendak mendekati gadis itu. "Nggak usah." Ia kemudian berdeham sebelum berbicara dengan lantang.
"Jadi ini yang namanya DINAR TERESIA?"
Bahkan hanya dengan mengucapkan kata-kata itu saja dapat meredam keramaian restoran dengan seketika sehingga yang terdengar berikutnya hanyalah suara musik melalui speaker. Beberapa bahkan hampir seluruh pasang mata langsung menatap heran ke arah Rio namun ia terlihat tidak peduli.
Kecuali kedua mata milik Dinar; ia masih belum membalikkan badannya meski Rio yakin gadis itu mendengar perkataannya.
Alih-alih menjawab, Dinar malah membalikkan badan dengan perlahan dan dengan sengaja 'memecahkan' balon yang terbentuk dari permen karetnya di hadapan Rio sehingga Rio tidak hanya melihat wajah gadis itu dengan jelas.
Rio merasakan aura permusuhan yang kuat dari Dinar.
Hal itu benar-benar mengusik Rio. Ia bahkan menatap Dinar penuh cela ketika gadis itu menyeringai padanya. Memang benar apa yang dikatakan teman-teman Rio, pikirnya. Dinar Teresia adalah salah satu dari murid-murid junior lain yang harus diberi 'pelajaran' olehnya.
Lo belum tau siapa gue, Dinar! Rio membatin.
Mulut gadis tomboi itu masih sibuk mengunyah permen karetnya sementara kedua tangannya ia lipat di depan d**a sampai akhirnya Rio kembali angkat bicara.
"Hah! Ternyata yang namanya Dinar Teresia itu nggak setangguh yang gue kira," ucapnya penuh cemooh. "Gayanya aja selangit. Paling kalau jadi lawan gue, dia pasti K.O."
Kini semua orang memandang ke arah Dinar namun gadis itu tampak tidak keberatan sama sekali. Sebaliknya, ia memalingkan muka dan setengah tertawa seolah ada yang lucu.
Gadis ber-snapback itu akhirnya bicara dengan nada santai namun penuh keyakinan. "Coba aja." Kembali ia mengunyah permen karetnya dengan santai.
Beberapa orang termasuk Rio, Reza, dan Yovi menatap Dinar tidak percaya.
"Belagu banget!"
"Tu cewek buta kali ya? Badan Rio kekar gitu mau dilawan."
"Gila! Baru juga kelas sepuluh udah belagu. Dia pikir dia siapa?"
"Oh! Jadi cewek itu tuh Dinar yang itu?"
Rio benar-benar merasa gerah. Tanpa sadar kedua tangannya sudah terkepal meski ia merasa kelu untuk berkata. Sebagai gantinya ia menggulung lengan bajunya hingga menampakkan otot bisep serta otot trisepnya yang terbentuk sempurna namun si tomboi bahkan tampak tak peduli seakan Rio tak ubahnya lawan-lawan yang lain.
Kalau saja Dinar itu cowok, mungkin Rio sudah membuat Dinar babak belur atau semacamnya. Biasanya Rio tidak segan-segan untuk mengerahkan kekuatan otot-ototnya pada siapapun yang menantangnya.
Dan Dinar adalah cewek pertama yang menantang Rio. Di hadapan banyak orang.
Terdengar suara kursi digeret; Rio langsung memilih salah satu meja terdekat dan duduk di salah satu kursi besi. Hanya membutuhkan waktu beberapa detik bagi mereka berdua untuk langsung menjadi magnet perhatian. Orang-orang langsung mengerubungi mereka karena lagi-lagi Dinar akan melakukan adu otot.
Setelah membuang permen karetnya ke tempat sampah terdekat dan duduk di hadapan Rio, Dinar pun menumpukan siku tangan kanannya di meja dan mulai menjabat tangan Rio yang sudah siap.
Adu panco pun dimulai setelah seorang pelayan meneriakkan aba-aba terakhir; Rio tidak dapat mendengarnya dengan jelas karena ia terlalu fokus untuk mengumpulkan tenaganya.
Rio terlalu fokus untuk mengalahkan Dinar.
Gue penasaran seberapa kuat cewek kurus satu ini. Rio masih membatin dengan heran sementara tangan kanannya mulai 'menyerang' dengan perlahan, sengaja menyimpan sebagian tenaganya untuk waktu yang tersisa. Kenapa banyak orang yang bilang Dinar Teresia ini bisa ngalahin semua lawan adu panconya dengan gampang? Ia membatin lagi.
Di tempatnya, Dinar masih terlihat begitu terkendali. Gadis itu bahkan tidak menyeringai atau bahkan menatap Rio, melainkan masih berusaha bertahan.
Sebenarnya, baik Dinar maupun Rio masih sama-sama berusaha untuk melawan.
Penonton di sekitar mereka saling berbisik.
"Udah lewat dua menit, nih," ujar seorang cewek.
"Iya! Udah dua menit, tapi mereka masih bertahan di posisi awal. Gila!"
"Nggak heran sih kalaupun Dinar kalah sama Rio. Sekarang aja—"
"Ssssst!" desis salah satu cowok.
Sejenak Rio teringat kembali perkataan Reza beberapa waktu lalu, "Kalau lo mau ngalahin Dinar, konon sih lo jangan sekalipun liat mata dia. Gue juga nggak ngerti kenapa, yang jelas itu trik supaya menang."
Rio semakin tidak mengerti. Ia penasaran dengan kemungkinan bahwa Dinar bisa menggunakan tenaga dalam atau semacamnya namun bagi Rio perkataan Reza kurang masuk akal. Ia pun teringat lagi sebuah hal tentang Dinar.
"Pokoknya lo harus hati-hati. Lo bisa kan kuasain teknik panco? Saran gue, lo datengin dia secara mendadak jadi dia nggak punya banyak waktu untuk persiapan atau apalah itu." Itu kata Yovi.
Kata 'mendadak' seolah memberi harapan lebih bagi Rio seakan harapannya untuk mengalahkan Dinar sangatlah tipis. Di tengah usahanya untuk kembali menyerang Dinar, pikiran pemuda itu kembali terfokus pada tenaganya meski ia merasa tangannya sudah dibanjiri keringat.
Dinar kini mulai terlihat kewalahan.
"Bagus! Dikit lagi, Yo." Rio dapat mendengar perkataan Yovi samar-samar.
Reza kemudian menambahkan, "Jangan liat mat—"
Lain pendengarannya, lain tatapan matanya. Terlambat. Pada saat yang sama, tanpa sadar Rio membalas tatapan Dinar.
Bagi Rio, semua terjadi selanjurnya begitu cepat. Dalam hitungan detik pikirannya mulai terganggu dan konsentrasinya semakin buyar. Ia bahkan yakin ada yang salah dengan indera pendengarannya; Rio merasa indera penglihatan dan indera pendengarannya seakan berada di dua tempat berbeda secara terpisah satu sama lain. Rio tidak mengerti darimana datangnya suara-suara yang ada di kepalanya, pun ketika sekelebat bayangan demi bayangan mengiringi suara-suara yang muncul secara ganjil di luar kendalinya.
Detik itu juga Rio mengira dirinya akan segera hilang kesadaran. Setelah ia menggeleng-gelengkan kepala untuk mengusir 'gangguan' di tengah konsentrasinya, kedua mata Rio dapat melihat kembali dengan jelas semua yang ada di hadapannya.
Gadis di hadapan Rio kini tampak sedang berusaha keras melakukan sesuatu. Rio tidak mengerti usaha apa yang sedang dilakukan Dinar—sudut-sudut mata serta kening gadis itu berkerut seolah ia sedang berpikir keras—sementara tangan kanannya yang masih menggenggam tangan Rio tampak tidak terlalu bertenaga.
Seharusnya detik itu juga Rio memanfaatkan kesempatan itu. Seharusnya ia 'menumbangkan' tangan milik gadis itu secepatnya. Desisan dan teriakan kecil di sekelilingnya untuk segera mengalahkan Dinar bahkan tidak ia gubris sama sekali. Sebaliknya, ia menatap Dinar penuh tanya.
Di tengah pemikiran singkatnya, hal yang terjadi selanjutnya justru jauh dari perkiraan Rio.
Suara mendenging. Persis seperti suara air mendidih dalam teko. Semakin keras dan semakin mengganggu. Dengan refleks ia memejamkan mata dan menarik kedua tangan untuk menutupi telinganya, berharap dapat menghalau suara itu.
Tapi, suara tersebut justru semakin jelas.
Rio benar-benar merasa semua ini sudah di luar kendalinya. Tanpa dapat dicegah, tubuhnya mulai kehilangan keseimbangan. Sesuatu yang keras menghantam bagian belakang tubuh Rio, disusul rasa sakit. Suara mendenging di kepalanya yang telah berangsur-angsur hilang, kini digantikan oleh rasa sakit di bagian punggungnya. d**a Rio kembang kempis tak beraturan meski kini Rio sudah sepenuhnya tersadar dan mulai dapat mengendalikan pikirannya.
Beberapa suara di sekitar Rio mulai dapat ia dengar dengan jelas.
".... nggak apa-apa?"
"Ya ampun. Kok lo bisa sampe jatoh kejengkang gini?"
"Ada apa sih?"
"Kok bisa?"
"Yo, Yo! Lo nggak apa-apa?"
Tanpa memedulikan orang-orang yang mencoba membantunya untuk bangkit, Rio masih bergeming di tempatnya. Lagi, ia menatap Dinar yang ternyata juga terlihat terkejut dengan alasan yang tidak dipahami oleh Rio. Keduanya hanya bertukar pandangan dengan heran selama beberapa saat.
Di tengah kekalutan itu, pikiran Rio mulai berspekulasi.
Nggak mungkin! Cewek ini....
>>DVSKmenyerang dengan cara lain.
"Nggak usah terlalu dipaksain, Nar." Sebuah suara muncul di pikiran Dinar.
"Gue nggak peduli, Bay. Pokoknya gue nggak akan ngebiarin Rio menang!" balas Dinar.
Dinar mengakui bahwa Rio memang memiliki tenaga yang cukup besar untuk menggoyahkan 'pertahanan' dirinya. Dari segi fisik, Rio memang lawan Dinar yang cukup tangguh sekaligus paling sulit untuk dikalahkan. Si ramping melawan si atletis. Sebuah mukjizat jika Dinar dapat mengalahkan Rio meskipun dalam waktu yang tidak singkat.
Jadi, Dinar pun memulai permainannya.
Ingatan-ingatan.
Masa lalu.
Emosi yang terikat.
Awalnya, Dinar dapat dengan mudah memasuki pikiran Rio. Bukan sebuah hal yang sulit bagi Dinar untuk membagi konsentrasi antara pikiran dan tenaga di saat-saat seperti ini mengingat ia telah terbiasa melakukan hal tersebut. Namun, bagaimana dan secepat apa ia dapat memengaruhi lawannya menjadi tantangan tersendiri bagi gadis itu.
Ada satu hal di luar perkiraan Dinar.
Kenapa semua kenangan Rio samar-samar gini? Gadis itu membatin.
Percakapan telepati. Lagi-lagi dari Bayu. "Pikiran Rio lagi kosong sekarang. Coba lo mulai dari ingatan dia yang baru."
Dinar masih berusaha menemukan kenangan-kenangan dalam ingatan Rio, terutama kenangan terburuk cowok itu.
Jangankan untuk mengalihkan perhatian Rio. Membaca masa lalunya saja bagi Dinar begitu sulit.
"Tenang, Dinar. Seenggaknya lo juga harus tenang dulu. Lo nggak bisa—"
Gadis itu mulai geram. "DIEM LO BAYU!!!" Ia meneriaki Bayu dalam pikirannya.
Nihil. Tak peduli segigih apapun usaha Dinar, ia tidak menemukan apa yang ia cari pada Rio. Semuanya buram. Semuanya kenangan dan ingatan Rio yang ia dapat tidak sejelas dan senyata biasanya.
Sama sekali kejadian yang belum pernah Dinar alami sebelumnya. Baru kali ini gadis itu merasa kesulitan dalam membaca masa lalu lawan.
Detik kemudian, sesuatu mengganggu pikiran gadis itu.
Suara mendenging. Persis seperti suara air mendidih dalam teko. Semakin keras dan semakin mengganggu. Dengan refleks Dinar memejamkan mata dan menarik kedua tangannya untuk menutupi telinganya, berharap dapat menghalau suara itu.
Tapi, suara tersebut justru semakin jelas.
Dengan refleks Dinar bangkit dari kursinya dan beranjak menjauh dari meja di hadapannya. Ia mungkin akan terjatuh seandainya tidak ada orang yang mencegahnya.
Bayu. Dinar yakin yang sekarang berada tepat di belakangnya dan membantunya agar tetap berdiri adalah Bayu.
Suara asing dalam kepala Dinar seketika hilang. Dadanya masih kembang kempis ketika ia kembali membuka mata dan mendapati Rio sudah terjatuh. Pemuda itu tengah menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Kita harus pergi dari sini." Sejenak Dinar mengatur napasnya yang tersengal. "Sekarang." bisiknya pada Bayu.
"Oke, tapi lo nggak apa-apa, kan?"
Dinar mengangguk samar sebagai jawaban dan kemudian meninggalkan tempat itu bersama Bayu.