"Gue, Gilang, Nate, sama lo Finn. Pas berempat!" seru Bayu.
"Gilang?" tanya Finn.
Nate tidak kalah heran dengan kembarannya. "Gilang yang mana?"
"Anak breakdance, sohib gue." Bayu memberi jeda. "Pokoknya nanti kita bikin teammate berempat di game ini! Pasti seru!" serunya sambil mengangkat salah satu DVD game dengan sebelah tangannya.
Sekilas Nate, Finn, dan Bayu memang seolah tampak seperti sekelompok bocah laki-laki yang tengah membicarakan mainan tercanggih yang mereka punya. Duduk lesehan membentuk lingkaran kecil dengan mainan yang ada di tengah-tengah mereka. Bedanya, kali ini yang ada di antara mereka adalah sekumpulan DVD game milik Nate dan Finn.
Kini Bayu tengah berada di 'wilayah' teritori si kembar. Dengan kata lain, berada di apartemen Nate dan Finn.
Semuanya berawal dari yang dikatakan Dinar. Sarah mengusulkan agar sepulang sekolah ia, Bayu, dan Dinar berkunjung ke apartemen Nate dan Finn meskipun itu berarti ia dan Bayu akan mentraktir mereka semua pizza pesan antar. Itulah alasan Bayu tidak perlu memasak makan malam untuk Dinar hari ini.
Jadi disanalah mereka, memenuhi ruang tengah apartemen si kembar. Luas apartemen mereka secara keseluruhan hampir sama dengan luas ruangan kelas di Wijay, hanya saja memang terbagi ke dalam beberapa ruangan seperti kamar dengan dua tempat tidur, dapur, dan ruang tengah. Untuk ukuran cowok, apartemen Nate dan Finn memang bisa dibilang rapi dan bersih sehingga Bayu bahkan mengira mereka menggunakan semacam jasa pembersih apartemen. Ini memang kali pertama bagi Sarah, Bayu, dan Dinar berkunjung ke apartemen si kembar yang berjarak sekitar dua puluh meter dari apartemen milik Dinar. Ketiga cowok itu kini sedang duduk santai tepat di tengah ruangan sementara Dinar sibuk memainkan gitar milik si kembar diiringi alunan suara nyanyian Sarah. Sarah berhenti bernyanyi sejenak.
"Bay! Inget dong, kamu tuh udah senior. Bentar lagi kamu kan bakal UAN. Jangan sampe kecanduan game lagi loh." Sarah memperingatkan.
"Enggak dong, aku kan kecanduannya sama kamu," goda Bayu sambil memain-mainkan alisnya.
Sesaat wajah Sarah merona hingga ia memalingkan mukanya. Detik berikutnya suara bel apartemen menandakan makan malam pesanan mereka telah tiba. Kelimanya langsung menyambut makan malam mereka dengan begitu antusias hingga mereka semua makan dalam diam.
"Yah, nggak abis."
"Taro lemari es gih. Ntar tinggal diangetin."
"Enak aja main masuk-masukin lemari es! Ntar gue juga makan lagi."
"Iya juga sih. Ntar deh abisinnya. Kita nonton dulu kek, apa kek."
Mendengar kata 'nonton' membuat Dinar teringat sesuatu. Tanpa basa-basi ia menyusul Finn yang tengah beranjak menuju dapur kecil yang lebih mirip pantry di ujung ruangan.
"Gila. Sampe lupa minum nih kita," ucap Finn pada Dinar lalu tertawa.
"Hahaha iya juga. Oya Finn. Handycam lo mana? Gue mau liat lagi dong video kemaren." katanya.
Tangan Finn yang tengah sibuk menuangkan minuman dingin ke dalam gelas sempat bergeming sejenak. "Err rusak, Nar."
"Rusak?" tanya Dinar heran. "Kok bisa?"
Sebelah tangan Finn menggaruk tengkuknya. "Ya ... jatoh. Rusak."
Dinar mengernyitkan dahinya dengan heran. Ia pikir ada yang tidak beres dengan semua ini. Mengingat apa yang terjadi hari ini di sekolah ....
Kedua tangan gadis itu terlipat dan kini ia berkata penuh keyakinan. "Pasti Rio, kan?"
Mata Finn membulat hingga pencahayaan lampu dapur dan warna hijau pada matanya tidak dapat menyembunyikan kedua pupilnya yang tampak membesar.
Dinar tertawa karena ekspresi wajah Finn sangat polos, lucu, sekaligus panik. "Lo nggak bisa bohong sama gue, Finn," ia berkata di tengah tawanya.
Pemuda jangkung itu mengangkat bahu. "Er Rio ... dia cuma ngambil handycam gue, kok. Tanya aja Nate." Ia kembali sibuk menuangkan minuman ke dalam gelas.
Dinar baru saja hendak membuka mulut ketika Finn kemudian bertanya padanya.
"Nar, gue boleh tanya sesuatu?"
"Tanya aja." jawab Dinar singkat karena ia sendiri heran Finn tiba-tiba berubah serius.
"Gimana ya? Mmm ... gue penasaran, kok Rio bisa takluk sama lo, Nar?"
Lagi, Dinar tertawa. "Takluk lo bilang?"
"Ya iya. Takluk. Gue tau lo mungkin bakal bilang 'kenapa lo nggak tanya aja sendiri ke orangnya?' Ya tapi kan lo tau itu nggak mungkin." Finn mengangkat bahu. "Gue cuma penasaran aja sih, Nar, kalo lo nggak jawab juga—"
Dinar menghela nafas. "Finn, kalo lo pikir seorang Dinar Teresia itu nggak pernah ditindas sama Novario Alandra, lo-salah-besar." Mata pemuda di hadapan Dinar semakin melebar seolah ia ingin mendengar lebih banyak, tetapi gadis itu mengusulkan agar mereka lanjut berbicara di ruang tengah setelah mengedarkan gelas-gelas minuman.
"Ehm. Jadi gini loh, Finn." Dinar langsung duduk di hadapan Finn dan sengaja bicara lebih keras agar yang lain bisa mendengar dengan jelas. Bahkan Nate tiba-tiba ikut bergabung dengan mereka berdua.
"Sebenernya gue dan Rio itu baru putus beberapa minggu yang lalu." Dinar bicara sambil menatap si kembar.
"Oooh." Nate dan Finn mengangguk mengerti.
"Dan yang mutusin emang gue."
"OOOH."
Dinar mengangkat bahu. "Gitu deh intinya. Jadi ya ....."
"Jadi, Rio itu sebenernya masih ngarep balikan lagi sama Dinar." sambung Sarah tiba-tiba yang langsung diiringi gumaman dari si kembar. "Gitu loh Nate, gitu loh Finn. Ada yang mau ditanyain nggaaak?" Gadis itu langsung bertingkah seolah sedang mengajar murid taman kanak-kanak. Senyumnya juga agak berlebihan sehingga Dinar tertawa melihatnya.
Si kembar dengan bingung bertukar pandangan hingga akhirnya Bayu angkat bicara.
"Kak Sarah, Kak Sarah. Kok Dinar waktu itu mau-mau aja sih pacaran sama Rio?" Tebak sendiri gaya bicara Bayu seperti apa.
Sarah tampak sedang berpikir keras selama beberapa detik. "Mmm jawab jangan yaaaa?"
"Terserah! Gue mau lanjut makan!" jawab Dinar singkat lalu kembali menyantap pizza yang belum tersentuh.
"Ya udah. Dengarkan baik-baik ya temen-temen." Bahkan Nate dan Finn tersenyum dan mengangguk mantap.
"Jadi sekitar satu taun yang lalu, Rio itu nantang Dinar buat adu breakdance. Konsekuensinya, kalau Dinar nggak dateng, dia nggak akan diterima di ekskul breakdance di sekolah. Nah, kalau Dinar kalah, Dinar langsung resmi jadi pacar Rio."
Haha. Bisa banget nih Sarah. Dinar membatin.
"Mmmm,"
"Terus?"
Si kembar tahu bahwa pertanyaan dan jawaban itu semata-mata untuk mereka; Nate dan terutama Finn, merasa lega karena Dinar sama sekali tidak keberatan Sarah memberitahu si kembar mengenai Rio dan Dinar. Kini Finn mulai mengerti maksud Dinar yang ditindas oleh Rio.
Sarah berkata lagi, "tapi tunggu dulu temen-temen! Ada yang bisa nebak kenapa waktu itu Dinar kalah lawan Rio?" tanyanya namun Nate dan Finn hanya menggelengkan kepala. Bayu juga bahkan ikut pura-pura tidak tahu. Di tempatnya, Dinar masih makan dengan lahap seolah tidak mendengar percakapan di sekitarnya.
"Karena waktu itu Dinar nggak enak badan." Saking seriusnya Sarah kini duduk bersimpuh di hadapan Nate dan Finn dan setengah berbisik. "Ketauan banget kan Rio itu sebenernya manfaatin hal itu karena diem-diem suka Dinar? "
"Mmm," hanya itu tanggapan si kembar.
"Ka! Satu pertanyaan lagi kak!" seru Bayu lalu melanjutkan, "kalo putusnya gimana ka? Ceritain juga dong kaaaaak," nadanya kentara merengek.
Tanpa basa-basi Sarah meminta Bayu untuk berpura-pura menjadi Rio. Sarah bahkan meminjam snapback Dinar meski katanya aromanya kurang sedap.
Bayu berusaha meniru gerak-gerik Rio yang angkuh namun justru Dinar sangat terhibur sampai-sampai ia tidak dapat menahan tawa.
Sarah meniru suara ketus milik Dinar. "Lo yakin tim Wijay bakal menang?"
Bayu mendengus. "Yakin dong. Siapa dulu bboy leader-nya." Ia kemudian menaikkan kerah bajunya.
"Cut, cut, cut!" potong seseorang lalu menarik Sarah menjauh dari Bayu. "Gue aja deh biar sekalian Nate sama Finn ngerti." kata Dinar.
"Nih! Biar lo ketularan wangi rambut gue!" Sarah memakaikan topi berwarna biru gelap pada Dinar yang sebelumnya ia pakai. Sarah pun kembali duduk bersama Nate dan Finn sementara Dinar hanya menggumam kata s****n samar-samar.
"Rolling and ... action!" seru Sarah.
Dinar berdeham. "Lo belum jadi bboy leader kecuali lo udah menangin tim lo sendiri, Yo."
Bayu mendengus. "Hah. Nggak usah khawatir lah soal itu."
Dinar menyunggingkan senyum. "Lo yakin banget ya tim kita bakal menang?" tanyanya.
"Ya dong. Siapa dulu. Novario Alandra." Bayu mengangkat bahu. "Lo harusnya bangga punya pacar kayak gue Nar."
"Oh." Dinar mendengus. "Gimana kalo konsekuensi misalkan tim Wijay menang malem ini?"
Bayu menatap Dinar penuh tanya.
"Iya, konsekuensi. Tim Wijay menang, kita putus." ucap Dinar santai.
Ekspresi terkejut Bayu memang agak berlebihan, tapi kali ini gadis itu tidak merasa terhibur. Sebaliknya, ia merasa sedang berbicara dengan Rio.
"Nar! Nggak bisa gitu dong! Kok lo minta putus? Gue salah apa sama lo Nar? Jawab gue, Nar! Nar!"
Tapi Dinar sudah beranjak meninggalkan Ri—Bayu.
Prok! Prok! Prok! Sarah bertepuk tangan diikuti Nate dan Finn.
"Naaaaah! Sekarang ngerti kan Nate, ngerti kan Finn? Ada yang kurang jelas? Ada yang mau ditanyain lagi?" tanya Sarah lagi.
"Ada Kak! ADA!" jawab Dinar sesaat setelah duduk di dekat Nate dan Finn. Senyum jahil terukir pada wajah Dinar.
"Pertanyaan apa, Dinar?"
"Kok kakak mau sih pacaran sama Kak Bayu?"
Bukannya menjawab, Sarah malah mengerucutkan bibirnya. Pipinya yang tampak sewarna dengan buah tomat membuat Dinar tertawa terpingkal-pingkal. Dinar bahkan ber-highfive dengan Nate dan Finn dalam gerakan sekaligus. Bayu bahkan ikut tersipu mendengarnya. Sore itu, begitu banyak tawa yang mewarnai unit apartemen nomor 107.