"SATU APARTEMEN?" ulang Dinar tidak percaya.
"Demi apa lo nggak tau kalian selama ini satu apartemen?" tanya Saskia, tidak kalah heran.
"Sarah?"
"..."
"..."
Saskia menunggu jawaban Dinar sementara ia meminta penjelasan Sarah karena sebelumnya ekor matanya menangkap pergerakan Sarah yang mencurigakan.
"..."
"Sarah!"
Yang ditanya malah cengengesan. "B—bukan ide gue! Sumpah!" Sarah menggelengkan kepala dan mengacungkan dua jari. "Ide Bayu, Nar. Ide Bayu. Hehe." Sarah nyengir. "Kejutaaaaaan," serunya garing.
Dinar menatap Sarah penuh sangsi.
>>DVSK Nate yang jauh lebih keren dari Rio lah, Nate yang seharusnya masuk ekskul breakdance lah, dan kabar-kabar lainnya yang serupa.
Tapi bukan itu alasan Dinar marah pada Bayu. Di saat sebagian besar murid Wijay—khususnya para cewek—mengelu-elukan nama Nate, Dinar memiliki alasan lain untuk membicarakan Nate pada Bayu.
Bukan hanya tentang Nate, tapi juga Finn.
Bayu hanya nyengir. "Kan biar surprise hehehe."
"Surprise?" dengus Dinar. "Oke. Gue emang kaget begitu gue tau ternyata Nate sama Finn itu satu apartemen sama gue. Kejutan dari lo BER-HA-SIL! Tapi inget. Lo utang sesuatu sama gue. Hmm udah lama nih gue nggak makan masakan lo," ujarnya jahil. Kalau saja Bayu tidak bisa membaca pikiran orang lain, mungkin Dinar akan memberi semacam 'kejutan' untuk pemuda itu sebagai balasan. Dinar hendak membalikkan badan sebelum pergi ketika Bayu berkata dengan serius.
"Nar, soal apa yang gue bilang kemarin ...." Ia memberi jeda dan bersitatap dengan Dinar. "Itu bukan berarti hal buruk atau masalah besar, kok." Sebelah tangan Bayu menepuk bahu Dinar, bermaksud meyakinkan. "Oke?"
Dinar pun mengangguk mengerti meski agak ragu sebelum beranjak menuju kantin.
Gue bener-bener nggak ngerti. Pertama, Bayu nggak bisa baca pikiran Nate dan Finn. Kedua, mereka tinggal satu apartemen sama gue. Ketiga, keempat, kelima, dan seterusnya apalagi? Dinar membatin. Kedua kakinya hendak menuruni tangga ketika tangannya ditarik oleh Sarah.
"Nar! Lo harus liat ini!" Sarah memperlihatkan sebuah video pada layar handycam yang dipegangnya. Ditodong seperti itu, mau tak mau Dinar melihat video tersebut.
Awalnya Dinar melihat video itu tanpa minat namun kemudian sebuah lagu yang melatari rekaman tersebut menarik perhatian Dinar.
Layar di hadapan Dinar menampilkan dua cowok tengah melakukan gerakan windmill[1]. Keberadaan Rio membuat Dinar yakin gerakan itu seolah menunjukkan siapa-yang-lebih-lama-melakukannya namun secara mengejutkan Nate melakukan gerakan ringan sebelum melakukan headspin[2] dalam hitungan waktu yang cukup lama. Masih diiringi musik yang sama, keduanya saling membagi ruang dan lantai dengan gerakan masing-masing. Butuh beberapa menit bagi Dinar untuk membuktikan Rio dan Nate memang tidak sedang melakukan battle; musik yang melatari tarian mereka berdua adalah sebuah lagu yang murni tanpa campur tangan khas DJ dalam bentuk apapun, lain dengan musik battle yang tambal-sulam musik ini itu.
Dinar hanya memusatkan perhatiannya pada gerakan-gerakan Nate. Awalnya Nate memang terlihat seolah terpaksa menari dan menjadi pusat perhatian dalam pesta tersebut namun pemuda itu semakin terlihat santai dan menguasai dance floor terutama setelah Rio dengan sengaja meninggalkan Nate untuk menari seorang diri.
Sarah tersenyum puas ketika mendapati Dinar memandang video itu dengan tatapan takjub. "Keren, kan?" tanyanya.
"He killed it!" jawab Dinar. "Pantes aja anak-anak lain pada heboh. Telinga gue sampe nyaris berasap tau nggak dengernya."
"Tapi emang keren kaaan? Gue nyesel deh kemaren nggak dateng."
"Video kemaren ya? Liat, dong." kata Bayu pada Dinar dengan tiba-tiba. Dinar pun menyerahkan handycam itu pada Bayu.
"Ini handycam siapa, Sar?"
"Punya gue hehe," jawab Finn dengan santai yang ternyata berada tidak jauh dari mereka. Bahunya bersandar pada dinding dan kedua tangannya berada di balik saku celananya.
"Finn? Nate mana?"
Finn kemudian mengedikkan dagunya ke suatu arah. Begitu Dinar mengikuti pandangan Finn, ia melihat Nate rupanya sedang menjadi magnet bagi segerombol para cewek. Ia pikir percuma saja memanggil Nate karena suara cewek-cewek itu bagaikan suara kepakan sayap sekumpulan lebah yang hanya akan menyamarkan suara-suara lain di sekitarnya. Bahkan Dinar bisa menyimpulkan di antara cewek-cewek itu ada juniornya, teman seangkatannya, dan malah seniornya juga. Agak aneh memang mendapati senior cewek mendekati junior cowok.
Dalam kasus Nate, hal itu tampak wajar.
Si gadis tomboi baru saja hendak ke kantin ketika akhirnya suara seorang cowok memanggil namanya dengan jelas.
Meskipun Dinar belum sering mengobrol dengan si kembar, tapi Dinar setidaknya sudah bisa membedakan yang mana suara si kembar—suara Nate tidak seberat suara Finn.
"Hei, Nar. Ya ampun gue cari lo kemana-mana tadi tapi gue nggak nemu."
Dinar mengabaikan tatapan cewek-cewek yang sebelumnya mengerubungi Nate. Meskipun tidak ada tatapan meneror atau semacamnya, Dinar yakin tentang dua hal. Pertama, cewek-cewek itu setidaknya cemburu padanya. Kedua, Nate memanggilnya untuk 'menyelamatkan diri' dari gerombolan itu.
"Oya? Mau apa emang?"
"Em ... untuk ... err ..." Nate tampak berusaha keras mencari alasan.
"Oya! Gue udah liat video lo, Nate." Kata Dinar sambil menahan tawa karena ekspresi Nate tadi baginya sangat lucu. Ia kemudian berdeham. "Serius, deh. Gue nggak tau gue harus bilang gaya breakdance lo itu ngingetin gue sama gayanya Taisuke atau Cloud[3], tapi yang pasti itu keren banget. Atau mungkin gaya lo itu adalah perpaduan gaya mereka." katanya.
Kalau tadi Nate bingung hanya untuk mencari alaasan, sekarang dirinya salah tingkah. "Hehe. Oya? Gila. Ketauan banget ya gue ngefans sama Taisuke?" Nate menepuk pelipisnya.
Bukannya menjawab, Dinar malah tertawa terbahak-bahak. Tanpa basa-basi Nate menolehkan kepalanya untuk mencari alasannya dan kemudian ikut tertawa karena kini yang kewalahan karena ulah dan pertanyaan cewek-cewek adalah Finn. Sarah dan Bayu juga bahkan ikut tertawa.
"Nar, err ... kapan-kapan boleh dong gue liat lo breakdance?" tanya Nate.
"Kenapa enggak? Lagian, kenapa lo nggak ikut ekskul breakdance aja sih? Kalo Finn bisa breakdance juga kan?"
Nate hanya menggeleng lemah. "Nggak. Gue lebih minat ikut ekskul lain. Kalo Finn ... dia sebenernya emang bisa, tapi dia lebih suka basket katanya."
Dinar mengangguk mengerti. "Oya Nate. Mulai besok kayaknya gue bakal ke sekolah jalan kaki aja deh, biar bareng kalian."
Nate memandang Dinar tidak percaya.
"Nggak usah kaget gitu. Gue udah tau, kok." jawab Dinar. "Lain kali kalo Bayu minta yang aneh-aneh jangan diladenin."
"Hayooo ngomongin gue ya?" tanya Bayu.
"Iya! Emang!" Kedua alis Dinar terangkat. "Ck. Udah ah, gue mau—"
Kriiiiiiiiiiiiing.
"Tuh kan! Gara-gara lo nih gue nggak jadi ke kantin. Pokoknya nanti malem lo harus masakin gue makan malem yang enak dan bikin gue kenyang. Titik!" ucap Dinar pada Bayu sebelum pergi tanpa menghiraukan Sarah yang memanggilnya.
Bayu hanya mengangguk satu kali. Ia bahkan membungkuk dengan gaya yang berlebihan. "Your Majesty." katanya. Dinar mengabaikannya.
"Bay, sorry ya, gue kemaren keceplosan bilang ke Saskia," ucap Nate menyesal sementara Bayu hanya tertawa.
"Santai aja lagi. Oya, gue ke kelas dulu ya." Bayu pun pamit dan meninggalkan si kembar. Mereka pun kembali ke kelas masing-masing, begitu juga dengan si kembar.
"Oh." Seseorang berseru ketika mereka hendak masuk ke kelas. "Di sini ternyata." Suara itu menghentikan langkah Nate dan Finn. Mereka hanya bertukar pandangan sebelum menatap tatapan yang begitu licik.
"Ada apa, Yo?" tanya Nate dengan mulut setengah terbuka.
"Siniin handycam lo." desaknya pada Finn. Nada bicaranya memang santai, tapi kesan di baliknya jauh dari yang terlihat.
Dengan enggan Finn menyerahkan handycam miliknya pada Rio.
Cowok bertubuh tegap itu tertawa penuh cemooh. "Cuma gini doang? Gue lagi sendirian loh." Rio seolah bangga karena tidak ada satupun antek-anteknya yang menemani, seolah membuktikan ia bukanlah seorang pengecut yang hanya berani keroyokan. "Lagian di lorong ini cuma ada kita bertiga kok. Nggak usah terlalu takut lah ada yang denger." Rio benar-benar menantang Nate dan Finn.
"Lo udah selesai?" tanya Finn. "Gue sama Nate mau ke kelas nih."
Rio malah maju beberapa langkah mendekati si kembar. Ditatapnya mereka berdua secara bergantian. "Gue belum selesai. Seandainya sekolah ini udah sepi, gue bakal tendang ini di depan mata kalian sekarang juga." Rio menekankan kata 'ini' pada barang yang ia pegang. "Denger ya, terutama lo, Nate." Ia menatap Nate tajam. "Gue akui tarian lo itu emang lebih expert dari gue, tapi jangan harap lo bakal dapet ruang di ekskul breakdance di sekolah ini." katanya sinis. "Harusnya kemaren gue nggak usah repot-repot ngundang kalian ke acara pesta ka Egi malah. Dan untuk lo berdua," Ia memberi jeda. "Nggak usah cari-cari perhatian Dinar Teresia. Ngerti?" Ucapan itu telak, tanpa memberi kesempatan bagi si kembar untuk bicara lagi. Rio pun melangkah pergi dengan handycam Finn di tangannya.
"Yang harusnya nggak perlu cari perhatian Dinar Teresia itu lo, Yo." Rio dikejutkan suara dalam pikirannya sendiri begitu ia sampai di ambang pintu kelasnya.
Penasaran, Rio menolehkan kepalanya ke arah kelas Bayu dan menemukan orang yang ia cari sedang bersidekap dan menyunggingkan senyum ke arahnya. Awalnya Rio hendak menanggapi, tapi kedua matanya hanya menatap Bayu dengan tatapan lasernya sebelum akhirnya ia masuk ke kelas.
________________
Keterangan:
[1] windmill: gerakan memutar tubuh dengan posisi kedua kaki di atas (biasanya tubuh bertumpu pada bahu).
[2] headspin: memutarkan seluruh badan dari kaki yang mengarah ke atas hingga kepala sebagai tumpuan badan.
[3] Taisuke dan Cloud : keduanya adalah bboy (break boy) terkenal dan berprestasi. Taisuke berasal dari Jepang, Cloud berasal dari Georgia, Amerika Serikat.