"Kejutaaan!" Bayu, Sarah, dan Dinar berseru kompak tepat setelah lampu dinyalakan Jonathan. Memang klise, tapi tidak dengan menu makan malam yang tersaji di meja makan. Semuanya menu kesukaan pria yang tengah berulang tahun itu. Sapo tahu, onion ring mozarella, dan jus mangga.
"Wah, wah. Kalian semua yang membuat ini?" tanya pria itu. Ia kembali memakan hidangannya dengan lahap.
"Iya dong, Om," ucap Sarah. "Enak nggak, Om? Hehe."
Pria itu mengelap bibirnya sejenak dengan serbet. "Ini bukan enak," katanya. "Ini luar biasa."
Mereka berempat tertawa. Malam ini, rumah bergaya minimalis itu akan cukup ramai. Kalau biasanya hanya ada Bayu dan Jonathan—Dinar tinggal di apartemen dekat SMA Wijay sejak beberapa bulan yang lalu, sedangkan Sarah tinggal di rumahnya—kali ini setidaknya mereka berkumpul dan membawa kehangatan satu sama lain.
Bagi Jonathan, ini sangat luar biasa.
"Jadi," pria itu mulai bertanya. "Berapa lama kalian akan menginap di sini?"
"Hm ... kalau malam besok Dinar belum bisa mastiin, Wa. Lagi banyak kuis." Dinar menjawab pada uwaknya.
Giliran Sarah menjawab. "Belum tau juga, Om. Hehehe."
"Hmmm rasanya ada yang kurang saja. Ya sudah, gimana kalau liburan semester nanti kita liburan?"
Gadis di sebelah Bayu, yang sudah cukup mengenal pria itu, berkata, "Om nggak usah ngerasa berutang gitu. Ini tuh beneran kami semua—"
Jonathan menggelengkan kepala. "Pokoknya, kalian semua berhak liburan nanti. Mau ke mana, hm? Bali? Lombok?"
Bayu menjawab. "Dipikir-pikir dulu deh, Yah. Masih banyak waktu juga buat mikirin liburan."
"Mungkin tadi maksud Om 'kita semua', bukan 'kalian'."
"Hm, itulah masalahnya. Om sendiri masih belum tau. Takut bentrok sama jadwal. Inginnya sih ikut juga."
"Harus dooong."
>>DVSKbreakdance pagi. Ya kali gue harus bangun subuh." Dinar lalu mengaduh ketika sebuah bantal menghantam kepalanya.
"Ya udah, sih, breakdance-nya nanti aja di sekolah. Makanya, jangan sok-sokan nggak mau ikut ekskul." Sarah memukul Dinar dengan bantal lagi. "Sok-sokan nggak butuh ekskul itu. Stres kan, lo."
"Bodo!" gumam Dinar tak peduli. Wajahnya masih menghadap guling.
"Udah ah, gue mau mandi duluan kalo gitu." Sarah melangkah ke kamar mandi yang hanya berjarak lima langkah dari ranjang.
Dinar kembali memejamkan mata. Rasa kantuk sebenarnya sudah hilang sepenuhnya namun ia masih ingin merebahkan diri.
"Oy," Bayu mengetuk pintu kamar Dinar. "Bang—"
"Udaaah." Gadis itu berteriak dengan serak. Dipeluknya guling di hadapannya semakin erat.
Breakdance adalah satu-satunya hal yang dapat membuatnya bersemangat. Benar juga perkataan Sarah, renungnya. Sebenarnya ia amat merindukan kegiatan ekskul itu di sekolah. Berlatih bersama, berpentas bersama, mengajar bersama.
Itu bukan satu-satunya hal yang Dinar rindukan. Ia menggigit bibir. Kedua matanya kembali mengerjap. Kali ini, ia menghadap ke arah langit-langit.
Ah, kamar ini. Perlahan, tangannya bergerak membelai sprei berwarna merah—warna kesukaannya. Beberapa poster bintang hiphop terkenal ditempel di dinding, lampu dinding beraksen minimalis, lemari yang hanya setengahnya terisi, radio tape compo ... betapa ia merindukan semua itu.
Satu yang jadi pertanyaan besar dalam dirinya; apa ia bisa melepas semua rindu itu? Bagaimana?
"Nar!" pekik Sarah yang baru saja keluar dari kamar mandi. Baju seragam sudah ia kenakan, tinggal mengganti celana piama itu dengan rok rempel berwarna abu. "Masih ngelamun juga lo."
"Iya iya, daripada lo berisik, gue mandi." Dinar mulai bangkit dari tempat tidur dan bergegas.
>>DVSKSuch a wasting time. Tapi kan kalo cerita-cerita di sana pasti ada aja tuh."
"Misalnya?" tanya Bayu.
"Misalnya ada yang jadian kek, apa kek, gitu." Ia tersenyum ketika dasinya selesai disimpul. "Vania kan gosipnya lagi pedekate sama cowok ...."
Dinar tak begitu tertarik mendengarkan perkataan Sarah. Ia pun memasang handsfree ke telinga sambil memakan permen karetnya. Bahkan ketika mereka sudah sampai di sekolah, kedua telinganya masih tersumpal. Gadis ber-snapback itu segera meluncur ke toilet begitu sampai di lantai dua.
Sebetulnya, ia tidak pernah mengenakan topi selama kegiatan belajar mengajar. Tak pernah pula memakai jepit atau bandana—aksesoris rambut yang sering ia pakai hanya ikat rambut berbentuk karet. Selalu memakai kaus polos di balik kemeja seragamnya dan mengenakan celana boxer di balik roknya. Itulah gaya Dinar Teresia.
Di hadapan cermin, gadis itu merapikan seragam. Melipat ujung lengan kemejanya sampai terlipat dua kali. Ia begitu santai, tidak seperti Sarah yang terburu-buru ke kelas karena hanya ingin bergosip. Selanjutnya, ia membawa tas sandang bersamanya untuk memasuki bilik toilet.
"Makanya, keren kan? Gila! Parah!" ujar seorang gadis pada temannya begitu memasuki toilet.
"Yoa. Rio aja kalah. Hahaha," ujar yang lain.
Tanpa sadar Dinar mengernyitkan dahi. Antara pada percakapan yang terdengar olehnya dan maksud 'kalah' yang tadi dibicarakan.
Kenapa Dinar harus merasa terganggu mendengar Rio kalah? Tapi apa maksudnya? Kalah oleh siapa? Dinar bertanya dalam hati. Setahu dirinya, Rio tidak punya agenda adu breakdance atau semacamnya. Baik satu lawan satu ataupun tim. Atau jangan-jangan ....
Sayangnya, kedua gadis tadi sudah meninggalkan toilet ketika Dinar mulai memusatkan pendengarannya pada percakapan itu. Agaknya mereka hanya ke toilet hanya untuk bercermin.
Ah, s**l. Dinar membatin kesal. Tidak ada satu orang pun di toilet kecuali dirinya ketika ia membuka pintu bilik kamar mandi. Dinar tahu siapa yang harus ia temui sekarang.
"Dinar!" Seseorang memanggilnya dan langsung menghampirinya yang sedang mencuci tangan di wastafel.
Dinar menatap Sarah dan Saskia secara bergantian. Ia yakin Sarah sengaja membawa Saskia.
Ia curiga ini semua ada hubungannya dengan Rio.
"Ada apaan sih?" tanya Dinar penasaran.
"Lo harush dengherin penjelasan Saskia." kata Sarah dengan nafas tersengal. "Gue sama Saskia daritadi udah cari lo kemana-mana sebenernya."
"Kan udah gue bilang gue mau ke kamar mandi."
"Gue udah cari ke sini tadi dan lo ngga ada. Gue kira lo udah ke kelas."
"Udah, deh. Ada apaan sih ini? Kok perasaan gue mendadak nggak enak?"
Saskia menjawab setelah mengatur nafasnya. "Sebenernya tadi Sarah minta gue jelasin ke lo soal... " Saskia memberi jeda. Ia sempat bingung namun kemudian melanjutkan, "Sebenernya ini bukan berita buruk, serius. Oke? Ini cuma soal kejadian kemaren di pestanya ka Egi. Jadi gini, kemaren Nate sama Finn dateng ke vila ka Egi. Gue sama ade gue awalnya sempet ngobrol sama mereka berdua. Nah, di tengah acara tiba-tiba ada Rio sama satu cowok lain breakdance bareng gitu. Anak-anak langsung heboh begitu mereka tau yang breakdance bareng Rio itu Nate. Anak-anak malah sampe minta Nate untuk breakdance lagi dan lagi karena emang itu keren bangeeeet," tuturnya berapi-api hingga ia menggeleng-gelengkan kepalanya. "Lo bakal lupa bernapas saking kerennya dia di dance floor."
"Hah! Gue kira apaan. Taunya sesuatu yang nggak ada hubungannya sama gue," ujar si tomboi. Sarah hendak bicara namun kemudian Dinar teringat sesuatu. "Sas, lo yakin mereka itu bukan adu breakdance?" tanya Dinar to-the-point mengingat sikap Rio pada si kembar.
Saskia menatap Sarah seolah meminta semacam instruksi. Jelas sekali hal itu tidak membantu karena Sarah tidak hadir dalam pesta malam itu. Saskia menelan ludah.
"Bener kok, Nar. Gue sendiri yang liat Rio ngajak si kembar. Tapi yaa lo tau kan gayanya Rio itu gimana."
Dinar mendengus mendengarnya. Ia tahu Rio tidak akan membiarkan siapapun menganggap orang lain selain dirinya itu hebat. Apalagi Nate atau Finn.
"Kok mereka bisa dateng ke pesta itu sih?" Dinar tahu Egi adalah tipe orang yang terbuka dan pasti akan mengundang seluruh anak Wijay ke pestanya tanpa terkecuali namun tanpa alasan yang jelas ia merasa perlu menanyakan hal itu.
Saskia menjawab, "Nate sama Finn sih bilang mereka nerima undangan dari Salim."Saskia kemudian terkekeh. "Dan Salim ga pandai boong."
"Hahaha. Salim kan orangnya lurus banget. Ketua kelas paling alim se-Jakarta kali ya." celetuk Sarah. "Gue malah curiga Rio yang ngundang mereka, tapi dia ngancem si kembar supaya nggak bilang-bilang ke yang lain soal itu."
"Nah!" Saskia membenarkan. "Oya Nar. Kok lo nggak tau mereka berdua kemaren dateng ke pesta?" tanya Saskia. "Kalian bertiga kan satu apartemen."
Kedua mata Dinar otomatis terbuka lebar. "SATU APARTEMEN?" ulangnya tidak percaya.